• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, October 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Bugbug, Wilayah Frontier, dan Tubuh yang Dikorbankan

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
17 September 2026
in Kabar Baru, Kolom Matan Ai, Opini
0
0
Pada tanggal 30 Agustus 2023, eskalasi konflik meningkat dan berakhir dengan pembakaran di areal pembangunan Villa Neano. Hal ini mengakibatkan pelibatan aparat yang lebih besar untuk memberikan pengamanan, khususnya di wilayah Desa Bugbug. (©Felixrio Prabowo/BaleBengong)

I Ngurah Suryawan

Apa yang terjadi di Desa Bugbug, Kabupaten Karangasem sejak beberapa tahun lalu sungguh sangat menyesakkan. Berbagai rentetan peristiwa yang terjadi silih-berganti menandai silang-sengkarut permasalahan yang terus berkembang, yang tidak hanya melahirkan aktor baru tapi juga relasi-relasi yang semakin kompleks. Peristiwanya timbul-tenggelem di tengah publik. Salah satu yang menyebabkannya adalah postingan di media sosial yang hadir silih berganti dengan kebisingan berbagai perdebatan dari netizen.

Perdebatan dan perkembangan kasusnya tidak memberikan pemahaman yang mendalam tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa bisa menjadi berlarut-larut? Dan konflik di internal masyarakat bagai bara yang (hanya) menunggu (berbagai) momentum untuk terekspresikan. Pertanyaan “mengapa ini bisa terjadi?” menjadi sangat penting untuk menggali kedalaman “perdebatan ide” yang sebenarnya terjadi dalam kasus Bugbug ini.

Perdebatan ide yang saya maksudkan adalah menggali kedalaman permasalahan dan mendiskusikan pertarungan yang terjadi di balik berbagai konflik yang terus mengharu-biru antar sesama saudara satu desa adat di Bugbug. Kita mungkin akan luput untuk memperhatikan bagaimana emosi dan perasaan warga Bugbug yang hidup dalam keseharian dengan konflik. Hari-hari yang dihabiskan penuh prasangka dan konflik melekat dalam tubuh dan ekspresi mereka.

Guna sedikit menggambarkan situasi yang terjadi di Bugbug, ada baiknya kita belajar untuk melihatkan dari perspektif desa sebagai frontier (garis depan) dan tubuh-tubuh masyarakat di Bugbug yang terus diekspaloitasi dalam rangkaian konflik yang tak berkesudahan tersebut. Desa sebagai frontier merujuk kepada akumulasi kapital dalam wujud moda ekonomi pariwisata yang kini merangsek Bugbug dan merubah landskap alam sekaligus orientasi kehidupan mereka. Wilayah-wilayah baru “ditemukan” dan mendadak berubah menjadi akomodasi pariwisata yang mengangkangi alam dan situs-situs ritual yang sudah ada puluhan bahkan ratusan tahun sebelumnya.

Wilayah desa-desa di Bali kini terus menjadi incaran investasi yang semakin meluaskan akumulasinya untuk mencari wilayah-wilayah baru. Meluaskan akumulasi adalah sifat hakiki dari kapitalisme seiring dengan semakain rakusnya hasrat dari pariwisata untuk merambah dan “menciptakan” wilayah-wilayah baru untuk disulap menjadi destinasi pariwisata. Ini juga yang menjadi salah satu jurusan yang dipelajari di fakultas pariwisata.

Frontier Desa

Wilayah desa yang menjadi garis depan dari pertemuan kapital dan eksistensi komunitas (desa), sejak awal memiliki silang pendapat, yang mempengaruhi berbagai kalangan dalam memandang desa dan program-program yang diintroduksinya. White (2017) memetakan bahwa terjadi tegangan dua visi dalam memandang desa. Visi yang pertama memandang “jiwa” masyarakat atau komunitas desa memiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama yang membuat Masyarakat guyub, gotong-royong dan gemah ripah loh jinawi. Visi kedua memandang komunitas desa adalah wajah dari perbedaan, hubungan-hubungan, dan ketegangan yang saling beririsan antar kelompok sosial di dalam masyarakat—antara elite dan massa, kaya dan miskin, majikan dan buruh, laki-laki dan perempuan, generasi tua dan generasi muda, kelompok etnis atau kelompok keagamaan yang dominan dan minoritas.

Perspektif yang pertama terkait dengan tradisi fungsionalisme dalam sosiologi serta antropologi dan tradisi populisme dalam politik. Sementara itu, perspektif yang kedua lebih berkaitan dengan kerangka ekonomi politik—tradisi yang mengulik “dinamika dan relasi sosial produksi dan reproduksi, properti, dan kekuasaan beserta proses-proses perubahannya secara historis maupun kontemporer. Hal lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah analisis terhadap munculnya diferensiasi sosial di tengah proses “modernisasi” atau komodifikasi masyarakat lokal.

Konteks Indonesia menunjukkan bahwa perspektif pertama dominan berkembang di kalangan pembuat kebijakan, akademisi, teknokrat dan birokrat, serta elite urban. Mereka menggambarkan masyarakat perdesaan sebagai kelompok manusia yang tersusun secara egaliter, homogen, dan terdiri atas masyarakat tanpa kelas. Mereka sama sekali tidak berperilaku individualisme, melainkan oleh nilai-nilai bersama seperti gotong royong, kekeluargaan, dan kerukunan.

Perspektif kedua lebih menekankan pada keterlibatan sebagian besar masyarakat desa di Indonesia dalam sistem ekonomi uang, paling tidak sejak awal abad XX, juga pada proses-proses tak terhindarkan yang mengiringinya berupa diferensiasi sosial dan ekonomi, yang menumbuhkembangkan hubungan-hubungan kapitalis serta kemunculan kelas-kelas agraria, termasuk kelas yang sama sekali tak bertanah di banyak daerah (White, 2017: 18-19). Pada beberapa daerah, hierarki dan kekuasaan tidak hanya berdasar pada penguasaan tanah, tetapi juga pada basis-basis lain yang penting seperti pemilahan antara orang desa “asli” dan pendatang.

Hal lainnya adalah akumulasi kekuasaan ekonomi, sosial, dan politik di tangan segelintir elite desa yang telah menguasai pemerintahan desa, perekonomian desa, dan posisi-posisi lain pemimpin kelompok fungsional seperti kelompok tani, kelompok perempuan, dan lain-lain serta akses atas sumber-sumber kekayaan, kekuasaan, dan peluang yang berasal dari luar. Ketegangan antara elite desa dan orang-orang biasa, antara orang tua dan orang muda, serta antara laki-laki dan perempuan akan ditemukan di dalamnya dalam beragam tingkat menjadi bagian dari tatanan kehidupan sehari-hari.

Diferensiasi sosial yang terjadi di desa inilah yang menyebabkan desa menjadi sangat dinamis sekaligus juga rentan dikooptasi melalui tangan-tangan para elit mereka. Beberapa wilayah di negeri ini, tidak terkecuali di Bali, “ditaklukkan” saat para elit mereka berkongsi dengan pemerintah dan investasi untuk menggadaikan tanah mereka untuk industri ekstraktif dan pariwisata. Wilayah-wilayah desa di Bali akan terus menjadi incaran dari akumulasi kapital akomodasi pariwisata. Tidak terkecuali di Bugbug yang menyasar bukit-bukit untuk disulap menjadi resort-resort mewah.

Kajian yang dilakukan Karib (2025) dengan kasus pertambangan mengungkapkan bahwa kapitalisme dan imperiumnya (struktur kekuasaannya) bekerja dan hanya dapat eksis di wilayah frontier. Tidak ada imperium tanpa frontier, dan tidak ada kapitalisme tanpa pertambangan. Sejarah kapitalisme, imperium, dan pertambangan sering kali membuat kita membayangkannya terjadi ‘di luar sana,’ sebagai kekuatan yang memengaruhi kehidupan kita dari luar. Kita mungkin membaca tentang kedatangan perusahaan asing yang didukung oleh pemerintahnya untuk mengoperasikan pertambangan guna mengekstraksi sumber daya mineral.

Tubuh yang Dikorbankan

Industri ekstraktif seperti pertambangan faktanya mengakar dalam diri dan tubuh kita, namun kita mengabaikannya termasuk dampak resiko besar yang melekat didalamnya.Tubuh dalam kajian kapitalisme telah diidentifikasi sebagai situs akumulasi. Dalam konteks ekspansi modal, perubahan sosial-ekologis tidak hanya terjadi di alam atau lingkungan di luar tubuh manusia. Tubuh juga disebutkan sebagai strategi akumulasi. 1

Pertambangan tidak hanya berlaku untuk sumber daya alam, tapi juga “pertambangan budaya” yang dibungkus pariwisata. Itulah yang terjadi di Bali. Pertambangan pariwisata budaya mulai menggerus lahan-lahan, mengubah struktur sosial ekonomi, dan juga mempengaruhi cara berpikir manusia Bali. Hal-hal itu secara gamblang kita lihat, tapi kita mungkin bisa luput memperhatikan bagaimana tubuh-tubuh perempuan Bugbug, ibu-ibu yang harus hidup dengan konflik di tengah diam dan suara-suara pekrimik (bisik-bisik atau gosip) yang selalu menyeruak dalam senyap. Sedimentasi ingatan atas konflik dan relasi-relasi sosial yang terus-menerus ditata ulang dan dipertanyakan.

Karib (2025) melanjutkan bahwa tubuh kita sendiri merupakan frontier yang mengalami perubahan sosial-ekologis, di samping lingkungan sekitar lokasi akumulasi kapital (pariwisata) berlangsung. Frontier pariwisata tidak hanya mengubah bentang alam, struktur sosial politik, orientasi berpikir, tetapi juga mencakup tubuh manusia Bali yang terus-menerus dikorbankan serta terus berjuang menghadapi deru pariwisata yang tiada henti.

Pariwisata seperti juga pertambangan, tidak hanya sebagai bagian dari kapitalisme global, tetapi juga sebagai sesuatu yang melekat dan merasuki tubuh kita dan sekaligus terpatri di tubuh kita sendiri pada masa kini. Ekstraksi melalui pariwisata adalah tindakan mengambil sesuatu, khususnya melalui usaha atau kekuatan. Pariwisata memerlukan keterlibatan dua tubuh: manusia dan bumi. Ekstraksi dialami oleh keduanya.

Pariwisata mengekstraksi tubuh para pekerja (pariwisata), yang pada gilirannya, mengekstraksi material dari tubuh bumi. Pada momen inilah kita menyadari bahwa pariwisata mentransformasi tubuh manusia menjadi mesin. Oleh sebab itulah sering disebutkan bahwa bentuk pertama kecerdasan buatan yang diciptakan oleh kapitalisme adalah kerja yang dilakukan oleh tubuh manusia. Tubuh manusia melalui kerja berfungsi sebagai mesin yang dikembangkan oleh kapitalisme awal.2

Saya merefleksikan silang-sengkarut konflik yang terjadi pada masyarakat Bugbug bisa menjadi cermin dari meluasnya akumulasi kapital dengan mengeksploitasi wilayah frontier desa untuk akomodasi pariwisata. Pada sisi lain, saat perluasan kapital berlangsung membuat kita melupakan tubuh-tubuh masyarakat yang selalu dilupakan bahkan dikorbankan dalam narasi konflik yang terjadi. Kita disadarkan bahwa akumulasi kapital bernama pariwisata mengorbankan tubuh manusia dan tubuh alam yang selalu dikeruk. Demikianlah kapitalisme bekerja dengan berbagai wajahnya, bisa pariwisata, budaya, bahkan yang tampak begitu mulia dan luhur. Tidak terkecuali tubuh kita yang dijadikan mesin demi memuluskan perluasan-perluasan kapital yang bekerja di sekitar kita, dalam keseharian, bahkan kita akrabi, dan melekat pada diri kita.

Daftar Pustaka

White, Ben. 2017. “UU Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa: Pertarungan Visi dan Wacana dalam Penelitian dan Kebijakan.” Wacana: Jurnal Transformasi Sosial, 36, 15-28.

Karib, Fathun. 2025. “Imperium, Tambang, dan Tubuh Kita”, 28 April 2025 dalam Inside Indonesia Edition 159, Jan-Mar 22025.

1 Lihat: https://www.insideindonesia.org/editions/edition-159-jan-mar-2025/edition-159-jan-mar-2025-indonesian/imperium-tambang-dan-tubuh-kita (diakses 5 September 2026).

2 Lihat: https://www.insideindonesia.org/editions/edition-159-jan-mar-2025/edition-159-jan-mar-2025-indonesian/imperium-tambang-dan-tubuh-kita (diakses 5 September 2026).

Tags: konflik desa bugbugkonflik di baliOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Putra Bali yang menjadi dosen di Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat. Menyelesaikan Doktor dalam bidang Ilmu-ilmu Humaniora (Antropologi) di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Melanjutkan penelitian pascadoktoral dalam bidang ekologi budaya dan transformasi masyarakat Marori dan Kanum di Merauke, Papua (2016 – 2017) dalam program ELDP (Endangered Languages Development Programme) SOAS London bekerja sama dengan ANU (Australian National University). Menekuni studi tentang ekologi budaya, politik identitas, genealogi kekerasan, dan gerakan sosial di tanah Papua. Penulis buku Jiwa yang Patah (2012), Mencari Sang Kejora: Fragmen-Fragmen Etnografi (2015), Papua Versus Papua: Perpecahan dan Perubahan Budaya (2017).

Related Posts

Bali dan Banjir: Apakah Kita Serius Menata Kota?

Kesalahpahaman dalam Penganggaran Mitigasi Bencana di Bali

25 September 2026
Negara yang Meminta Kami Terus Beradaptasi

Negara yang Meminta Kami Terus Beradaptasi

16 September 2026
Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Gotong Atas, Royong Bawah

8 September 2026
Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

6 September 2026
Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Angka Perceraian bukan untuk Diturunkan, Apa yang Ada di Baliknya?

17 August 2026
Next Post
Trekking Koneksi Hulu dan Hilir untuk Mendalami Masa Depan Air di Bali

Trekking Koneksi Hulu dan Hilir untuk Mendalami Masa Depan Air di Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Konservasi Ruang Airtanah Berbasis Ruang Kesakralan: Sebuah Kontemplasi Eco-Sosial-Religius di Bali

Infrastruktur Komputasi vs. Neraca Air: Mengukur Jejak Ekologis Data Center di Bali

12 October 2026
Private: [Indepth Report] The Last Dragonfly

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

12 October 2026
Keberanian Memimpin Diri, Menguasai Ruang Hidup Sendiri

Keberanian Memimpin Diri, Menguasai Ruang Hidup Sendiri

11 October 2026
JANGAR Membaca Masa Depan melalui Raja Pasir

JANGAR Membaca Masa Depan melalui Raja Pasir

10 October 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia