
Kemarahanku Salah Alamat
Beberapa tahun belakangan ini, aku semakin dekat dengan orang tuaku. Walaupun awalnya sulit bagiku untuk bisa berdamai dengan luka yang pernah ada, setelah belajar dan bertemu banyak orang, perlahan aku mulai memahami bahwa orang tuaku juga adalah korban dari sistem negara.
Aku memiliki dua saudara dan kami semua perempuan. Jadi satu-satunya laki-laki di rumah kami hanya Papa.
Saat aku duduk di bangku SMP, Papaku mengalami kecelakaan dua kali dalam satu tahun secara beruntun. Kejadian itu membuat kondisi ekonomi keluarga kami memburuk. Saat itu kami sekeluarga yang asal dari Bandung pindah ke Bali, tinggal di rumah kontrakan, tidak menggantungkan ekonomi kepada kakek-nenek, dan tidak memiliki warisan berupa rumah atau yang lainnya.
Pada saat itu yang lumpuh bukan hanya Papa, tapi kami sekeluarga ikut lumpuh dari segi ekonomi.
Aku baru benar-benar tersadarkan ketika usiaku sudah menginjak 25 tahun.
Tentunya, aku pernah melewati masa-masa ketika aku kesal dan selalu menyalahkan kondisi finansial orang tuaku, terutama saat berumur 21–23 tahun. Saat itu aku masih menggebu-gebu mencari jati diri, mencoba hal baru, dan mengenal lingkungan baru.
Dengan perasaan yang sama menggebu-gebunya, aku menyalahkan banyak hal.
Aku menyalahkan mereka karena tidak memberikanku uang jajan. Aku menyalahkan mereka karena tidak bisa membiayai aku untuk menyelesaikan studi S1 yang membutuhkan biaya cukup besar karena aku mengambil kuliah design.
Di umur yang sama, aku juga mendapatkan kabar bahwa aku harus menjalani pengobatan untuk penyakit jantung bawaanku.
“Siapa yang Sakit, Bu?”

Selama kurang lebih tiga tahun aku bolak-balik berobat ke RS Sanglah menggunakan BPJS. Tentu saja, selama proses pengobatan itu aku melewati banyak hal yang perlahan ikut mengubah pandanganku terhadap dunia.
Beberapa kali Mamaku mengantarku untuk pemeriksaan rutin.
Mungkin bagi sebagian orang, berinteraksi dengan orang asing cukup bisa mengurangi rasa penat, terutama saat sedang mengantre. Mamaku yang terbilang cukup friendly dan punya rasa empati tinggi sering sekali membuka obrolan dengan sesama pasien yang sedang rawat jalan.
“Siapa yang sakit, Bu?”
Kalimat pertama yang hampir selalu diucapkan setiap kali mau memulai obrolan.
Ada yang menjawab anaknya, dirinya sendiri, atau orang tuanya.
“…saya tinggal di Nusa Penida. Tiap seminggu sekali kalau mau kemoterapi, saya PP ke Denpasar dari jam 3 subuh,” ucap seorang pasien kanker payudara ketika ditanya tinggal di mana.
“…saya tiap mau check-up selalu berangkat jam 1 subuh ke Sanglah dari Singaraja. Soalnya saya nggak ngerti cara daftar online, nggak ada sinyal, nggak punya HP,” ucap seorang ibu yang sedang rawat jalan.
Beberapa kali aku tidak bisa menahan air mata mendengar apa yang mereka alami.
Aku hanya menguping pembicaraan Mamaku dengan pasien tersebut karena aku tidak sanggup menatap mata ibu itu. Rasa marah dan sedih yang tidak bisa kutahan akhirnya keluar dalam bentuk tangisan.
“Kenapa Mama gak nawarin dia buat bantu daftarin online?” tanyaku.
“Oh iya sih, Mama gak kepikiran,” jawabnya.
Rasanya, dengan energi yang tidak seberapa ini, aku ingin membantu semua orang yang kesulitan mendapatkan nomor antrean hanya karena pendaftarannya harus dilakukan secara online.
Bayangkan, beberapa orang harus menahan rasa sakit, berangkat dari rumah sejak dini hari, menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk berobat, kemudian menunggu berjam-jam lagi sebelum akhirnya bisa pulang.
Sejak saat itu aku juga semakin bingung kenapa negara ini seperti sangat terobsesi membuat berbagai akses layanan publik menggunakan aplikasi atau sistem online, sementara warganya sendiri belum sepenuhnya teredukasi soal penggunaan handphone.
Aku sadar hal itu justru dari sesuatu yang kelihatannya sangat sepele.
Ketika membantu orang tua untuk daftar online, handphone mereka lemot banget. Puluhan tab masih terbuka di browser. Banyak aplikasi yang sebenarnya sudah tidak dipakai dan bisa di uninstall, tapi mereka tidak tahu caranya. Bahkan mereka mungkin tidak tahu bahwa hal-hal seperti itu bisa memengaruhi kinerja handphone mereka.
Bagi generasiku, mungkin menutup tab, membersihkan penyimpanan, uninstall aplikasi, membuat akun, mengingat password, atau mengunggah dokumen terdengar sangat sederhana.
Tapi sederhana bagi siapa?
Bagaimana dengan orang yang bahkan tidak punya handphone yang memadai? Tidak punya sinyal yang stabil? Tidak mengerti cara mengisi formulir online? Atau bahkan tidak tahu harus menekan tombol apa ketika aplikasi tiba-tiba error?
Teknologi yang seharusnya mempermudah malah bisa menjadi lapisan kesulitan baru bagi orang yang sejak awal tidak pernah dipersiapkan untuk menggunakannya.
Proses penyembuhanku sendiri sangat lama. Kurang lebih butuh waktu dua tahun untuk benar-benar bisa kembali beraktivitas dengan normal.
Tetapi ternyata penyembuhan itu hanya terbatas pada kesembuhan fisik.
Sampai saat ini aku rasa psikisku masih terguncang akibat bertahun-tahun menghadapi birokrasi rumah sakit yang rumit sekaligus menyaksikan perjuangan sesama pasien yang kutemui.
Sehari sebelum melakukan operasi bypass jantung—operasi bedah dada—aku sekamar dengan seorang perempuan berusia 26 tahun berinisial D yang memiliki down syndrome. Ia juga memiliki beberapa kondisi kesehatan lain seperti diabetes, jantung bocor, dan beberapa penyakit yang sekarang sudah hilang dari ingatanku.
D adalah perempuan yang suka menggambar dan sangat dekat dengan ibunya.
Ia memiliki kebutuhan dan pola respons yang berbeda. Apabila ada halaman buku gambarnya yang berubah atau tidak sesuai dengan yang ia inginkan, D bisa mengamuk hebat. Hal yang sama terjadi ketika ibunya harus pergi bekerja untuk berjualan nasi keliling.
Ibunya bahkan harus diam-diam meninggalkan D agar D tidak tantrum.
Aku memperhatikan D sering minum minuman kemasan rasa kacang hijau dan susu cokelat. Papaku sempat memberi tahu Ibu D mengenai kandungan gula dari minuman yang sering diminum D.
“Tapi kalau beli susu yang lain harganya lebih mahal. Soalnya setiap saat dia selalu minta susu cokelat, jadi saya hanya sanggup membelikan susu dengan merek ini,” ucap Ibu D.
Kami hanya terdiam.
Dan lagi-lagi, aku hanya bisa meneteskan air mata.
Kebetulan saat itu seseorang yang menjagaku akan datang ke kamar inap. Aku berinisiatif meminta dibelikan susu merek lain yang menurutku lebih baik sebanyak lima kotak.
Ibu itu sangat berterima kasih kepadaku dan D juga terlihat sangat bahagia.
“Ibu ngurusin D sendiri?” tanyaku.
“Iya. Soalnya suami saya udah pergi ninggalin saya karena dia gak mau ngurus D. Kakaknya D juga gak mau interaksi sama saya karena malu dengan D,” jawab Ibu D.
Aku hanya bisa mengumpat dalam hati.
Saat itu aku sangat marah kepada sistem rumah sakit di negeri ini.
Bayangkan saja, setelah bertahun-tahun menggunakan fasilitas rumah sakit yang menurut pengalamanku masih memiliki banyak kekurangan, tiba-tiba ada berita tentang rumah sakit berskala internasional yang dibangun di Sanur.
Aku marah.
Dalam pikiranku saat itu, bukannya memperbaiki fasilitas yang sudah ada dan memperluas akses kesehatan ke daerah-daerah yang masih kekurangan, malah membuat yang baru. Itu pun lagi-lagi dibangun di kawasan perkotaan.
Padahal masih banyak daerah yang belum memiliki fasilitas kesehatan yang memadai.
Harus Ada yang Jatuh Dulu?
Pada tahun yang sama, aku juga pernah mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Hang Tuah, Sanur.
Saat itu aku sedang bekerja dan hendak membeli beberapa barang untuk kebutuhan pekerjaan. Di jalan terdapat tonjolan pada aspal yang membuatku kehilangan keseimbangan dan terjatuh hingga kepalaku benjol dan berdarah.
Seseorang mengambil fotoku dan kondisi aspal tersebut lalu mengunggahnya ke Instagram @denpasarviral.
Ketika sudah sadar, aku melihat postingan tersebut.
Keesokan harinya jalan itu sudah diperbaiki dan diposting pada akun yang sama.
Lagi-lagi aku hanya bisa mengumpat.
Karena kejadian yang berturut-turut menimpa kesehatanku, pada akhirnya aku harus kehilangan dua pekerjaan sekaligus berhenti berkuliah.
Bagaimana Kalau Mereka Ingin Melakukannya?
Tahun 2026 aku cukup intens menghabiskan waktu bersama orang tuaku.
Saat ini mereka aktif mengikuti kegiatan lansia setiap pagi di Denpasar. Ditempat yang sama selain kegiatan senam, ada kegiatan lain seperti melukis, menggambar, belajar bahasa Mandarin, dan sebagainya.
“Eh, ada temen Mama tahu kecelakaan. Ditabrak orang pas mau nyebrang ke tempat senam. Mana orangnya tuh udah umur 60-an, sampai tulangnya patah terus darahnya berceceran,” cerita Mamaku dengan penuh emosi.
“Aduhhh, jangan dah cerita yang serem-serem,” responku setiap kali Mama menceritakan sesuatu yang mengerikan karena aku tidak sanggup membayangkannya.
Tapi dalam pikiranku cuma ada satu: andai negara bisa menyediakan transportasi umum dan ruang kota yang lebih aman dan memadai, mungkin risiko kejadian seperti itu terhadap lansia bisa dikurangi.
Bahkan setiap kali kami sekeluarga mau membuat jadwal untuk berlibur, pasti saja sulit menemukan lokasi yang ramah lansia.
Banyak tempat wisata yang mengharuskan pengunjung menyusuri tangga, bebatuan, atau tanjakan.
Kadang Mamaku mengirimkan postingan tempat wisata yang ia temukan dari media sosial. Setelah itu tugasku membuka Google Review dan mencari tahu: aksesnya bagaimana? Banyak tangga atau tidak? Jalannya aman atau tidak untuk Mamaku yang kondisi kesehatannya sudah mulai menurun?
Dan lagi-lagi, ujung-ujungnya kami menikmati liburan hanya dengan pergi ke mall.
Sebagai orang yang jauh lebih suka menikmati alam, aku sebenarnya sangat malas kalau harus jalan-jalan ke mall yang menurutku membosankan.
Aku bahkan sempat kepikiran dengan masyarakat Hindu di Bali yang kehidupannya sangat dekat dengan berbagai upacara adat dan ritual keagamaan.
Kalau ruang di sekitar kita saja belum benar-benar ramah terhadap lansia dan penyandang disabilitas, bagaimana mereka mengikuti semua itu?
Bagaimana seorang lansia yang sudah kesulitan berjalan harus melewati tangga, jalan yang tidak rata, atau lokasi yang aksesnya sulit hanya karena ia ingin tetap hadir dalam sebuah upacara?
Bagaimana dengan penyandang disabilitas yang ingin ikut sembahyang, datang ke pura, mengikuti prosesi, atau sekadar hadir bersama keluarganya?
Mungkin tidak semua orang harus mengikuti setiap ritual dengan cara yang sama. Mungkin juga selalu ada penyesuaian yang bisa dilakukan.
Tapi pikiranku justru berhenti pada pertanyaan yang lebih sederhana: bagaimana kalau mereka ingin melakukannya?
Bagaimana kalau seorang lansia masih ingin datang sendiri, sembahyang bersama keluarganya, mengikuti prosesi, dan merasa menjadi bagian dari kehidupan sosial dan spiritual yang sudah ia jalani sepanjang hidupnya?
Kenapa keinginan untuk tetap berpartisipasi harus menjadi semakin sulit hanya karena tubuh seseorang sudah tidak sekuat dulu?
Aku rasa aksesibilitas sering dibicarakan hanya sebatas ramp, kursi roda, atau toilet khusus. Padahal bagiku persoalannya jauh lebih besar dari itu.
Aksesibilitas juga tentang apakah seseorang masih diberikan kesempatan untuk tetap menjadi bagian dari kehidupan di sekitarnya.
Untuk beribadah.
Untuk berkumpul.
Untuk pergi ke tempat yang ia sukai.
Untuk mengikuti tradisi.
Untuk tetap merasa bahwa kota, desa, dan ruang tempat ia tumbuh juga masih dibuat untuk dirinya.
Karena menjadi tua atau memiliki keterbatasan fisik seharusnya tidak membuat seseorang perlahan kehilangan akses terhadap kehidupannya sendiri.
Tapi mau bagaimana lagi?
Ketika banyak ruang publik dan tempat wisata belum benar-benar ramah bagi lansia dan penyandang disabilitas, lagi-lagi kami yang harus beradaptasi dengan sistem.
Semua kejadian itu lama-lama seperti menjadi sebuah akumulasi frustrasi.
Bukan satu kejadian besar yang membuatku marah.
Tapi terlalu banyak kejadian kecil yang terjadi berulang kali dan perlahan dipaksa terlihat normal.
Kemarahanku Akhirnya Punya Alamat.

Pasien yang harus berangkat tengah malam hanya karena tidak bisa mendaftar secara online. Orang tua yang kebingungan menggunakan aplikasi. Jalan yang baru diperbaiki setelah seseorang mengalami kecelakaan. Lansia yang kesulitan mencari akses transportasi dan ruang publik yang aman. Keluarga yang harus terus-menerus menyesuaikan diri dengan keadaan.
Semua itu seperti menjadi endapan kemarahan yang terkumpul sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.
Dan cerita yang paling gong di tahun 2026 datang dari tempat yang selama ini kami sebut rumah.
Kami tidak diperbolehkan melanjutkan sewa rumah kontrakan yang sudah kami tempati sejak tahun 2014 karena pemilik rumah ingin menggunakan lahannya sebagai SPPG.
Setelah lebih dari satu dekade tinggal di sana, lagi-lagi kami yang harus pindah. Lagi-lagi kami yang harus menyesuaikan diri.
Rasanya benar-benar seperti ketidakadilan ini tidak pernah berhenti menimpa keluarga kami.
Dulu aku sering marah kepada orang tuaku.
Aku marah karena mereka tidak mampu memberikanku kehidupan seperti yang aku inginkan. Aku marah karena tidak punya uang jajan seperti orang lain. Aku marah karena kuliahku tidak bisa diselesaikan. Aku marah karena rasanya hidup kami selalu lebih sulit.
Selama bertahun-tahun aku sibuk mencari siapa yang harus disalahkan di dalam rumah, sampai akhirnya aku sadar bahwa sebagian dari masalah kami memang tidak pernah lahir dari rumah itu tapi berasal dari negara.










