
Selamat Hari Tumpek Uye, untuk Sampurna
yang belum menjalani kehidupan sempurna
MANU, MANUSA, MANUSIA.
Hutan bukan tanah kosong,
Ketika manusia tidak pernah menjejakan kakinya di sana, tajuk-tajuk rindang itu adalah makhluk hidup yang melindungi jutaan makhluk hidup lain di bawahnya. makhluk hidup yang juga punya nyawa sama layaknya manusia. Dan siapapun yang sedang membakar hutan dengan sengaja, sejatinya mereka telah melakukan pembunuhan massal, yang bahkan terencana.
Pulau Bali memang tidak punya hutan seluas Sumatra, Papua, atau Kalimantan. Luas hutan Bali dari data Badan Pusat Statistik tahun 2023 tidak sampai 1% dari masing-masing hutan di pulau tersebut, tapi pulau kecil kami tetap punya ruang-ruang yang terlihat kosong, namun ia bukanlah tanah kosong. Ruang-ruang yang terlihat kosong tersebut seharusnya tidak diklaim oleh apa yang kita sebut diri kita sendiri makhluk hidup paling sempurna. Manu. Manusa. Manusia.

Kimia dan Fisika menyebut kita, manusia, hanya getaran dari jutaan susunan atom sama seperti triliunan materi di alam semesta. Dalam kacamata biologi, manusia adalah primata dengan tulang belakang yang memiliki sistem saraf dan organ yang kompleks. Sama seperti 6.495 spesies mamalia lainnya di dunia. Hanya karena sesuatu yang kita sebut “pikiran”, kita berpikir manusia adalah penguasa, bebas meletakkan jejak-jejak di “tanah kosong”. Kita seringkali lupa, manusia bukan makhluk soliter tetapi makhluk sosial yang bergantung pada lingkungan, termasuk apapun yang menempati “tanah kosong” itu.
Air, Udara, Tanah, Tumbuhan, Hewan.
TANPA SABAR, LALU MENYEBAR
Sebelum tahun 1960 tidak ada sensus penduduk resmi yang dilakukan pemerintah Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia baru tercatat secara resmi tahun 1961 sebanyak 97,1 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk Indonesia tercatat rata-rata 2% per tahun dan dalam 30 tahun jumlah penduduk menjadi dua kali lipatnya. Pengetahuan dan teknologi yang mulai membuka pikiran manusia membuat kelestarian mereka meningkat. Bali sendiri memiliki jumlah penduduk 1,7 juta ketika pertama kali sensus dilakukan dan diperkirakan saat ini ada 4,5 juta penduduk yang tercatat berdomisili di Bali.
Pertambahan penduduk ini tentunya membutuhkan jumlah akomodasi yang sejalan. Akomodasi ini menyasar pada kebutuhan primer manusia seperti ruang untuk rumah dan usaha yang baru; ruang untuk menumbuhkan makanan bagi tambahan jutaan mulut dan ruang untuk menghasilkan penutup kulit yang modelnya berubah hampir setiap tahun. Lalu, bagaimana manusia memenuhi kebutuhan tersebut?

Secara sederhana, pemenuhan kebutuhan tersebut memanfaatkan sumber daya alam yang berasal dari “tanah-tanah kosong”. Awalnya mereka hanya mengumpulkan dari “tanah-tanah kosong” lalu mengelolanya hingga menetap dan menghasilkan dari “tanah-tanah kosong” itu. Sekilas tidak ada yang keliru, mereka hanya mencari apa yang mereka butuhkan. Tapi jumlah manusia yang terus meningkat, menjadikan “tanah-tanah kosong” semakin terhimpit, menggeser ruang kebutuhan pangan menjadi kebutuhan papan, bahkan semakin bergeser untuk kebutuhan sekunder dan primer.
Ruang kebutuhan pangan atau sebut saja lahan pertanian, di Bali secara lebih spesifik, sudah bergeser 13 ribu hektar selama 20 tahun atau hampir 10.000 lapangan sepak bola hilang dalam dua dekade. Belum lagi “tanah-tanah kosong” atau sebut saja hutan, hanya tersisa 12 hektar di kawasan hilir Bali. Alih fungsi ini semata-mata untuk pemenuhan kebutuhan manusia yang seperti tidak pernah menemui kata cukup.


Manusia mulai mencari tanah-tanah kosong lain, mengamati lalu menetapkan tanah-tanah kosong itu dengan cara yang tidak alami. Seakan entitas-entitas yang menempati tanah-tanah kosong tersebut tak kasat mata bagi manusia. Entah sadar atau tidak, tindakan mencari tanah kosong oleh manusia menjadi ancaman kepunahan bagi 2.432 spesies dari berbagai taksonomi
Lebih parah lagi apa yang mereka tinggalkan sebagai jejak peradaban. Sampah. Air limbah tanah-tanah overdosis. Jasad organisme lain.

Tidakkah manusia masuk dalam kategori invasif?
Lupakan sudut pandang yang selalu mengutamakan manusia. Mari kita lihat dari sudut pandang makhluk hidup yang universal bahwa spesies invasif adalah organisme, baik jenis asli maupun bukan, yang mengolonisasi suatu habitat secara masif dan menimbulkan kerugian besar pada ekologi, ekonomi, maupun sosial.
Mengutip pertanyaan dan pernyataan Jimmy Fallon dan James Cameron dalam sebuah wawancara Tonight Show, ”humans are the scariest animal”, tampaknya semakin meyakinkan hal tersebut.
TUMPEK UYE DALAM TRI HITA KARANA
Satu pernyataan yang menggelitik ketika saya menghadiri sebuah konferensi internasional tanggal 4 September 2026 kemarin. Bagaimana Tri Hita Karana menjadi sebuah konsep yang begitu menarik banyak minat, bahkan hingga keluar Bali untuk disandingkan dengan konsep-konsep keharmonisan alam lain dari berbagai wilayah berbeda. Alasannya, menurut si peneliti, karena Tri Hita Karana sangat menggambarkan keharmonisan sehingga perlu diekstrak dan dijadikan landasan penyusunan regulasi. Ada satu alasan tambahan yang menurut saya, entah ini keberhasilan pemerintah atau justru tamparan bagi penduduk Bali sendiri.

“Setiap saya tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai, kata Tri Hita Karana itu yang saya lihat dan baca. Juga di beberapa kesempatan saya sering melihat kata Tri Hita Karana,” jelas si peneliti, tentunya dalam bahasa inggris yang amat sangat fasih.
Pertanyaan yang muncul di benak saya adalah, ”Bagaimana penerapan Tri Hita Karana itu sendiri di Bali?”. Tidak usah jauh-jauh berutopia untuk menerapkan Tri Hita Karana di seluruh dunia, persempit penerapannya di Indonesia saja terlebih dahulu. Parahyangan untuk hubungan terhadap aspek spiritual, Palemahan untuk hubungan terhadap aspek lingkungan, dan Pawongan untuk hubungan terhadap aspek sosial sesama manusia.

Palemahan sebagai konsep keharmonisan pada aspek lingkungan terkadang di dangkalkan maknanya menjadi sebatas menjaga lingkungan atau bersih-bersih lingkungan. Padahal ada 3.600 ton sampah setiap harinya dihasilkan oleh penduduk Bali. Tukad Badung dan Tukad Mati mengalami pencemaran berat dan pendangkalan.
Tukad Pakerisan, Tukad Petanu, dan Tukad Wos sudah menunjukkan tanda-tanda pencemaran. Lahan-lahan pertanian diubah menjadi hunian dan tempat healing yang juga menyedot sumber-sumber air. Tanpa kita sadari telah mengusir pemilik asli dari tanah-tanah yang tidak lagi kosong. Manusia lupa akan apa isi dalam lingkungan yang sering kali hanya dianggap tanah-tanah kosong. Padahal lingkungan terdiri dari faktor abiotik (tanah, udara, air) dan biotik (tumbuhan, organisme tingkat rendah, dan hewan, termasuk manusia itu sendiri).

Kini yang terjadi di depan mata makhluk yang mengklaim dianugerahi “pikiran”, anjing dan kucing dibuang, dipukuli, dilepasliarkan tanpa penanganan apapun. Hewan-hewan dikandangkan lalu dipertontonkan kepada pengunjung. Belum lagi, jasad-jasad yang mengerikan jika dianalogikan kepada manusia. Gading dan kepala yang dipisahkan dari tubuhnya, kulit yang dilepas dari daging, ratusan peluru di balik bulu-bulu indah, jasad-jasad kaku yang dipatri di dinding. Seakan semua itu terbalik dengan apa yang kita anggap lucu, kemudian viral di media sosial. Anjing kemudian dikenakan pakaian selayaknya manusia, dihaturkan sesajen sedemikian rupa. Apakah hewan-hewan harus ditangkar, dipelihara, dan diternakkan dulu baru perlu sebuah penghargaan?


Jika Tumpek Uye, salah satu tradisi di Bali, pada akhirnya lagi-lagi hanya dirayakan sebagai sebuah performatif untuk timeline di Tiktok atau Instagram, layaknya bagaimana kita hari ini merayakan setiap hari raya sebagai sebuah festival serta semakin jauh akan makna tradisi yang katanya patut dilestarikan dengan menetapkannya sebagai warisan budaya, tidakkah perayaan Tumpek Uye justru menjadi cara eksploitasi baru terhadap hewan?
Sekali lagi, untuk hewan-hewan yang berjuang melawan entitas (yang menyebut dirinya) tertinggi. Selamat Hari Tumpek Uye.









