• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, June 11, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

Oka Agastya by Oka Agastya
11 June 2026
in Berita Utama, Lingkungan, Opini
0
0

Pagi itu, pukul sepuluh, matahari sudah mulai tegas menyinari aspal Jalan Gajah Mada. Di salah satu koridor perdagangan tertua di Kota Denpasar ini, hiruk-pikuk pedagang dan klakson kendaraan berpadu menjadi simfoni khas pusat kota yang tak pernah benar-benar tidur. Tapi bagi kami, tim kecil yang terdiri dari saya, Bandem (Nuturang) dan Sekar (Balebengong) bergerak dari arah Bukit Selatan Coffee Shop menuju timur, ada hal lain yang lebih menarik perhatian dari sekadar keramaian pasar: jejak-jejak yang ditinggalkan oleh sebuah bencana yang belum lama terjadi, dan tanda-tanda senyap dari sebuah krisis yang jauh lebih tua.

Di sepanjang tembok-tembok pertokoan, samar-samar masih terbaca bekas lumpur yang mengering, garis horizontal tipis berwarna cokelat pucat, seperti tato paksa yang ditinggalkan air. Di sela-sela grendel pintu besi, ada kerak tanah yang menempel. Itulah artefak dari banjir besar 10 September 2025, ketika curah hujan ekstrem sebesar 251 milimeter menghantam Denpasar dalam hitungan jam dan mengubah Jalan Gajah Mada menjadi sungai dadakan yang mengalir dari barat ke timur menuju Tukad Badung.

Kami berhenti sejenak di depan sebuah toko. Penjaganya mengkonfirmasi apa yang sudah kami duga: air datang dari arah barat, bukan dari sungai yang meluap. Analisis pasca-bencana memang menunjukkan bahwa sekitar 58 persen DAS Badung dan 86 persen DAS Mati sudah tertutup kawasan terbangun, sehingga sebagian besar air hujan menjadi limpasan permukaan (surface runoff) ketimbang meresap ke tanah. Inilah pangkal masalahnya: banjir Denpasar bukan semata soal sungai yang tidak mampu menampung debit air ia adalah cerminan dari bagaimana kota ini telah memutus hubungannya dengan tanah di bawahnya.

Masuk ke kompleks Pasar Kumbasari, percakapan kami terhenti ketika seorang petugas parkir menghampiri dan berbagi cerita. Dengan tenang, beliau menunjuk ke arah lantai dua dan berkata bahwa pada subuh pagi banjir itu, genangan air hampir mencapai lantai dua bangunan sekitar tiga meter dari tempat kami berdiri saat itu. Bukan angka yang kecil.

Ini menarik untuk direnungkan secara ilmiah. Dalam konteks manajemen risiko bencana, ada konsep yang disebut disconnection between people and their environment, terputusnya hubungan kognitif antara manusia kota dengan sistem alam yang menopang mereka. Di Pasar Kumbasari, Tukad Badung yang mengalir di sisinya hampir tidak terlihat dari dalam bangunan. Tanpa visibilitas sungai, tidak ada rasa urgensi, tidak ada intuisi bahaya. Ironisnya, bangunan pasar itu sendiri dirancang cukup kokoh, namun minim papan petunjuk evakuasi. Ketika banjir tiba, masyarakat menjadi rentan bukan karena tidak ada jalan keluar, tapi karena tidak tahu ke mana harus pergi.

Ini adalah vulnerability dalam pengertian paling harafiah bukan absennya infrastruktur, melainkan absennya pengetahuan.

Dari Pasar Kumbasari, kami bergerak ke Pura Taman yang berada di dalam kompleks Pasar Badung. Di sini, kami menemukan sesuatu yang jarang dibicarakan dalam diskusi tata kota modern: sebuah bulakan.

Bulakan adalah metode tradisional Bali untuk menampung air rembesan (seepage water) dari sungai atau akuifer dangkal, dengan cara membuat lubang di tanah atau batuan yang memungkinkan air meresap dan terkumpul secara alami. Dalam terminologi hidrogeologi modern, ini sangat mirip dengan konsep scoop hole atau collector well skala mikro yang memanfaatkan gradien hidrolik alami antara muka airtanah dan permukaan tanah di sekitar tebing sungai.

Pura Taman beji di tengah Tukad Badung.

Di pura ini, terdapat singkapan batuan yang diduga merupakan tuf, lapili, atau material endapan lahar produk dari aktivitas vulkanik Gunung Buyan, Beratan dan Batur Purba di masa lampau. Batuan piroklastik seperti ini memiliki porositas dan permeabilitas yang relatif baik, memungkinkan air sungai meresap melalui pori-porinya dan mengisi kolam bulakan. Air inilah yang kemudian digunakan sebagai tirta yakni air suci untuk keperluan upacara Hindu Bali.

Kenampakan bulakan yang berada di Pura Taman Beji Pasar badung

Dalam kepercayaan Hindu Bali, tirta bukan sekadar air fisik; ia adalah kekuatan sakral yang melambangkan kemurnian, kehidupan, dan keseimbangan spiritual. Hampir di setiap upacara Bali, tirta memainkan peran sentral dari persembahyangan harian hingga ritual siklus kehidupan. Maka, keberadaan bulakan di dalam kompleks pura bukan sekadar infrastruktur air, ia adalah titik pertemuan antara geologi, ekologi, dan spiritualitas dalam satu entitas yang tak terpisahkan.

Perjalanan berlanjut ke utara, menyusuri Jalan Kartini, berbelok menuju terminal lama di kawasan Pasar Wangaya. Di sinilah momen yang paling mengesankan dan sekaligus paling memilukan dalam perjalanan hari itu terjadi.

Turun ke tebing sungai, kami menemukan sebuah mataair. Ia mengalir keluar dari dinding batuan yang sudah dilapisi semen, pada ketinggian sekitar satu meter di atas muka air sungai. Debitnya tidak kecil saya perkirakan antara 1 hingga 2 liter per detik, cukup untuk memenuhi kebutuhan puluhan kepala keluarga jika dikelola dengan baik. Dalam klasifikasi Meinzer (1927), debit sebesar ini masuk dalam kategori mataair kelas VI–VII, yang masih cukup signifikan untuk dimanfaatkan secara domestik.

Kenampakan mataair di dekat terminal Pasar Wangaya yang sudah tidak terawatt lagi.

Namun kondisinya memprihatinkan. Di sebelahnya berdiri sebuah tebe modern dan kurang dari 10 meter ke arah selatan, terdapat toilet masyarakat. Zona perlindungan mataair (springhead protection zone) yang seharusnya bebas dari sumber kontaminasi dalam radius minimal 30 meter, dalam kasus ini sudah terlanggar secara serius. Selain itu di hari berbeda kami juga melakukan pengukuran Ph dan Tds sebagai screening awal menemukan hasil Ph 6,8 dan Total Dissolved Solids (TDS) 283 ppm pada dasarnya termasuk kondisi baik dalam nilai baku mutu air bersih Permenkes 2023, namun ini hanyalah awal screening masih tetap dibutuhkan analisis laboratorium terkait bio, kimia dan fisik air yang keluar dari mataair ini.

Kami lalu berjalan lebih jauh ke utara, dan menemukan mataair kedua di Pura Taman Beji Desa Adat Denpasar. Secara geologi dan hidrogeologi, kedua mataair ini hampir identik. Elevasi muka airtanah serupa sekitar 5 meter. Debit berkisar di angka yang sama, 1–2 liter per detik. Litologi batuannya pun kemungkinan besar berasal dari formasi yang sama.

Tapi nasibnya berbeda ibarat bumi dan langit.

Pura Taman Beji terawat dengan baik. Mataairnya dijaga, dibersihkan, dikunjungi secara rutin oleh masyarakat yang datang mengambil tirta untuk keperluan upacara. Ada orang yang bertanggung jawab. Ada ritual yang mengikat manusia pada tempat ini. Sementara mataair di dekat Pasar Wangaya yang secara geologis adalah saudara kembar dari mataair di Pura Beji perlahan tenggelam dalam ketidakpedulian, terkepung oleh polusi dan dilupakan oleh memori kolektif kota.

Kenampakan mataair di Pura Taman Beji Desa Adat Denpasar yang terawat.

Perbedaan ini bukan soal geologi. Ini soal governance, tentang siapa yang merasa bertanggung jawab atas sepercik air yang keluar dari perut bumi.

Mengapa begitu banyak mataair dan bulakan muncul di kawasan Pasar Badung dan sekitarnya? Jawabannya ada di dalam peta hidrogeologi Pulau Bali.

Kawasan Denpasar bagian tengah-selatan, mencakup area di sekitar Tukad Badung, merupakan zona discharge yakni daerah lepasan airtanah. Dalam siklus hidrogeologi, air hujan yang jatuh di kawasan pegunungan (zona recharge) akan meresap ke bawah, bergerak secara lateral melalui akuifer, dan akhirnya muncul kembali ke permukaan di zona yang lebih rendah. Ketika perjalanan horizontal itu bertemu dengan singkapan batuan di tebing sungai, air terdorong keluar sebagai mataair.

Kondisi ini semakin kritis mengingat muka airtanah di sebagian wilayah Bali telah turun hingga 50 meter dalam satu dekade terakhir, sementara pariwisata mengonsumsi lebih dari 65 persen pasokan air tanah bersih yang tersedia setiap tahunnya. Dalam konteks ini, mataair-mataair kecil di pinggiran Tukad Badung bukan sekadar fenomena geologi, mereka adalah proxy indicator kesehatan airtanah kota. Ketika debit mataair menyusut, itu adalah sinyal bahwa akuifer di hulunya sedang tertekan. Ketika mataair mengering sepenuhnya, itu bukan lagi peringatan itu sudah menjadi diagnosis.

Di sebelah barat sungai, dominasi bulakan menunjukkan bahwa air rembesan dari Tukad Badung mengisi akuifer dangkal lokal secara lateral. Di sebelah timur, dominasi mataair menunjukkan bahwa tekanan hidrostatik dari sistem airtanah yang lebih dalam mendorong air keluar melalui rekahan dan pori-pori batuan tuf. Dua mekanisme berbeda, satu kisah yang sama: bumi di bawah Denpasar masih menyimpan air, dan ia menunjukkannya kepada kita jika kita mau melihatnya.

Konservasi Sosio-Religius: Warisan yang Sedang Kita Sia-siakan

Saat kami berdiri di parkiran Pura Taman Beji, seorang penjaga motor berbicara dengan suara yang ringan tapi pesannya berat. Dahulu, kata beliau, kawasan ini dipenuhi pancoran dan mataair. Orang-orang datang untuk mandi, mencuci, mengambil air minum. Kini, ketika kami bertanya apakah air dari mataair ini masih diminum, jawabannya datang dengan cepat dan pasti: “Sudah tidak. Kami pakai air mineral isi ulang.”

Ada dua kemungkinan yang bisa kita baca dari jawaban itu. Pertama, ketidakpercayaan terhadap kualitas air yang barangkali bukan tanpa alasan, mengingat studi pada sumur-sumur di sekitar kawasan urban Denpasar menunjukkan adanya indikasi polusi di akuifer dangkal, mencerminkan tantangan ganda: bukan hanya deplesi, tapi juga ancaman kontaminasi. Kedua, ada pergeseran nilai, di mana mataair kini hanya dipandang sebagai entitas sakral semata, bukan sumber daya yang bisa dan boleh dikonsumsi secara langsung.

Padahal, nenek moyang kita punya cara cerdas untuk menjembatani keduanya. Pura Taman atau Pura Beji yang dibangun di atas atau di sekitar mataair bukan sekadar ekspresi religius. Ia adalah sistem konservasi sosio-religius yang brilian, sebuah mekanisme community-based groundwater governance yang sudah berjalan berabad-abad sebelum istilah itu ada dalam literatur ilmiah. Dengan menjadikan mataair sebagai ruang sakral, leluhur kita membangun “pagar tak terlihat” yang melindungi zona catchment dari eksploitasi berlebihan. Tidak ada yang berani membuang sampah ke tempat yang dianggap suci. Tidak ada yang berani membangun di atasnya. Tidak ada yang berani mengekstraksi airnya secara berlebihan.

Ini bukan takhayul. Ini adalah kearifan ekologis yang dikemas dalam bahasa spiritual dan ia bekerja dengan sangat efektif selama ratusan tahun. Masyarakat memandang pelestarian pura beserta mata airnya sebagai kewajiban moral dan spiritual sekaligus, menjadikan pura sebagai pusat kesatuan komunitas.

Yang terjadi hari ini adalah erosi ganda dimana erosi fisik akuifer oleh ekstraksi berlebihan dan perubahan lahan, dan erosi kultural dari relasi manusia dengan air itu sendiri.

Banjir dan Mataair: Dua Wajah Satu Krisis

Ironi terbesar dari hari survei kami yaitu kota yang baru saja dilanda banjir dahsyat ternyata juga kota yang mataairnya perlahan menghilang. Bagaimana bisa? Bukankah banjir berarti air melimpah?

Pura taman yang berada di jalan kresek, masih terlihat tumpukan sampah dan plastic pasca banjir September 2025

Inilah yang sering disalahpahami. Banjir dan krisis airtanah bukan dua masalah yang berlawanan, keduanya adalah gejala dari penyakit yang sama kegagalan siklus hidrologi perkotaan. Ketika tutupan lahan diubah menjadi aspal dan beton, air hujan tidak lagi punya waktu untuk meresap. Ia langsung berlari sebagai limpasan permukaan, menumpuk di saluran drainase yang tidak mampu menampungnya, dan menjadi banjir. Pada saat yang sama, karena air tidak meresap, tidak ada recharge yang masuk ke akuifer. Muka airtanah turun. Mataair mengering.

Para peneliti dari Universitas Gadjah Mada menemukan bahwa penurunan debit mataair memiliki dua pemicu utama: perubahan fungsi lahan di daerah hulu, dan inefisiensi penggunaan air. Di Denpasar, keduanya hadir bersamaan, dengan intensitas yang diperparah oleh tekanan pariwisata dan pertumbuhan kota yang tidak terkendali.

Banjir Jalan Gajah Mada dan mataair yang mengering di dekat Pasar Wangaya, pada hakikatnya, adalah dua ujung dari sebuah kontinum yang sama. Mereka adalah cara bumi berteriak kepada kita bahwa ada sesuatu yang salah secara fundamental dalam cara kita mengelola ruang dan air.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Ketika kami kembali berkumpul sambil menikmati sisa pagi yang sudah berubah jadi siang, pertanyaan itu menggantung di udara: apa peran kita?

Jawaban pertama, yang paling mendesak, adalah monitoring. Mataair-mataair di tepi Tukad Badung terutama yang masih aktif seperti di Pura Taman Beji berpotensi dijadikan sebagai eco-socio-religious indicator, indikator kesehatan airtanah kota Denpasar yang berbasis pada entitas yang sudah dijaga secara kultural. Ukur debitnya secara berkala. Uji kualitas airnya, parameter fisik, kimia, dan biologis. Jika debit menurun atau kualitas memburuk, itu adalah early warning system yang tidak membutuhkan sensor mahal atau algoritma kompleks. Mataair itu sendiri adalah sensornya.

Bulakan di salah satu pura taman di Tukad Badung

Langkah kedua adalah integrasi tata ruang. Zona lepasan airtanah (discharge zone) di sekitar Tukad Badung perlu diakui secara formal dalam dokumen perencanaan kota RDTR, RTRW sebagai kawasan yang memerlukan perlindungan khusus. Tidak ada bangunan baru dengan basement yang memotong akuifer. Tidak ada saluran drainase tertutup yang memisahkan muka jalan dari tanah di bawahnya.

Langkah ketiga, dan mungkin yang paling krusial, adalah rekonsiliasi budaya. Menghidupkan kembali kesadaran bahwa mataair dan bulakan bukan hanya warisan leluhur dalam pengertian sentimental, tapi juga infrastruktur hidrologi yang masih sangat relevan. Komunitas adat (desa adat) yang selama ini menjaga pura-pura taman dan pura beji adalah de facto manajer airtanah dan peran mereka perlu diakui, difasilitasi, dan diintegrasikan ke dalam sistem pengelolaan air kota. Termasuk tidak hanya menjaga ritualnya saja, namun juga mulai kembali memaknai esensi ritual itu sendiri dan hubungannya terhadap aksi nyata ekologis di Bali.

Karena pada akhirnya, mataair yang tidak dijaga adalah cerita tentang sebuah kota yang lupa cara minum dari tanahnya sendiri. Dan kota yang lupa cara minum, cepat atau lambat, akan kehausan meski sesekali terendam banjir hingga menuju kota dengan kebangkrutan sumber daya air.

Banjir dan hilangnya mataair di Denpasar adalah cerminan dari perubahan ruang perkotaan yang sedang tidak baik-baik saja. Mataair di Pura Taman Beji dan bulakan di Pasar Badung bisa menjadi indikator penanda nyata, kasat mata, yang menghubungkan manusia dengan kondisi hidrologis kotanya.

Pertanyaannya sederhana: apakah kita masih mau melihatnya ?

Referensi:

  • Cole, S. (2012). A political ecology of water equity and tourism: A case study from Bali. Annals of Tourism Research, 39(2), 1221–1241.
  • IWAES Jaya (1997; updated 2016). Groundwater Quality Assessment Near Suwung Landfill, Denpasar, Bali. Internal Technical Report.
  • Meinzer, O.E. (1927). Large Springs in the United States. USGS Water-Supply Paper 557.
  • Nurul Iftitah / Kementerian Kehutanan RI (2025). Analisis Tata Guna Lahan DAS Badung dan DAS Mati Pasca Banjir 10 September 2025. Kompas.id, 14 September 2025.
  • Urban Water Atlas (2021). The Waters of Badung, Indonesia. urbanwateratlas.com
  • Wibowo et al. (2024). The importance of riparian vegetation in maintaining springwater quality in Yeh Penet watershed, Bali. Biodiversitas, 25(5): 2051–2062.
  • Yastika et al. (2020). Monitoring of coastal subsidence, Kuta sub-district, Badung, Bali. Remote Sensing (referenced in KLHS, 2010 update).
Tags: BaliBanjirdampak banjir denpasarDenpasarLingkunganMataair
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Oka Agastya

Oka Agastya

Seorang pencerita bumi dan praktisi manajemen bencana

Related Posts

Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Hilangnya Pesisir Bali: Memahami Akar Krisis Abrasi dan Jalan Keluarnya

4 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026

Mall Baru akan Bermunculan, Warga Bali Khawatir Ruang Hidup Kian Sesak

27 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Next Post
Janji Menteri LH: Tindak Kerusakan Mangrove Hingga Benahi Tata Kelola Sampah

Janji Menteri LH: Tindak Kerusakan Mangrove Hingga Benahi Tata Kelola Sampah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Janji Menteri LH: Tindak Kerusakan Mangrove Hingga Benahi Tata Kelola Sampah

Janji Menteri LH: Tindak Kerusakan Mangrove Hingga Benahi Tata Kelola Sampah

11 June 2026
Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

11 June 2026
Pembangunan Infrastruktur Energi tidak Responsif pada Masyarakat Rentan

Pembangunan Infrastruktur Energi tidak Responsif pada Masyarakat Rentan

10 June 2026
Ketika Sungai Mati Membawa Banjir dengan Material Pasir dan Batu

Perencanaan Desa Tangguh Bencana di Karangasem

10 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia