
Oleh LBH Bali WCC
Program TIRTA LESTARI (Transformasi Inklusif Restorasi dan Tata Kelola Air Berkelanjutan di Kintamani) memulai penanaman 500 bibit pohon konservasi dan agroforestri di Desa Buahan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, pada Jumat (30/10). Kegiatan ini merupakan tahap awal dari target penanaman 3.000 bibit secara bertahap di wilayah sasaran program, sebagai bagian dari upaya menjaga fungsi ekologis kawasan hulu dan mendukung perlindungan sumber air melalui pelibatan aktif perempuan dan masyarakat lokal. Seremoni yang berlangsung di Balai Banjar Binyan, Desa Buahan, ini melibatkan kelompok konservasi berbasis perempuan, masyarakat, pemerintah daerah dan desa, aparat keamanan, serta pemangku kepentingan terkait.
Program TIRTA LESTARI dilaksanakan oleh LBH Bali Woman Crisis Centre dalam kerangka proyek CO-EVOLVE 2 (Strengthen Civic Space and Enhance the Enabling Environment and Capacity of Networked Local CSOs to Promote a Just and Inclusive Green Transition in Indonesia), dengan dukungan pendanaan bersama Uni Eropa dan Yayasan Penabulu. Melalui restorasi ekosistem, pengembangan agroforestri, dan pelibatan aktif perempuan serta masyarakat lokal, program ini mendukung transisi hijau yang lebih adil dan inklusif. Program ini juga memperkuat peran organisasi masyarakat sipil dalam mendampingi komunitas, memperluas partisipasi kelompok perempuan, dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam tata kelola sumber daya alam di tingkat lokal.
Kegiatan penanaman pohon ini bertujuan mendukung pemulihan fungsi ekologis kawasan dan menjaga daerah tangkapan air melalui peningkatan tutupan vegetasi, sekaligus mendorong praktik agroforestri yang dapat mengintegrasikan manfaat konservasi dengan potensi penghidupan masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli, Ir. I Wayan Sarma, yang hadir mewakili Bupati Bangli menyampaikan bahwa pemerintah daerah menyambut baik dan mendukung inisiatif masyarakat dalam upaya pelestarian sumber daya alam. “Kami berkomitmen untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan, karena keseimbangan antara peningkatan ekonomi dan kelestarian lingkungan perlu terus dijaga agar alam tidak dieksploitasi secara berlebihan untuk kepentingan ekonomi. Sebagai daerah konservasi dan salah satu sumber air bagi kabupaten/kota lain di Bali, Bangli memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga kelestarian alam dan ketersediaan sumber daya air. Upaya ini perlu dilakukan melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat, dengan tetap memperhatikan kesejahteraan masyarakat yang turut menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Upaya konservasi juga membutuhkan koordinasi lintas sektor untuk menjaga keberlanjutan kawasan hulu. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, pemerintah desa, desa adat, aparat keamanan, dan otoritas terkait diperlukan untuk mendukung perlindungan kawasan serta mencegah aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.
Kapolres Bangli, AKBP Anggun Adhika Putra, S.I.K., M.M., mengapresiasi inisiatif LBH Bali Woman Crisis Centre dan seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan penanaman pohon. Ia menekankan bahwa kegiatan tersebut perlu dilanjutkan dengan pemeliharaan agar memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.
“Penanaman pohon ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi jangka panjang bagi lingkungan dan generasi mendatang. Tantangan seperti perubahan iklim, erosi, dan ancaman terhadap ketersediaan air membutuhkan kepedulian serta aksi nyata dari semua pihak. Melalui pendekatan Green Policing, kami mendorong keterlibatan bersama dalam menjaga lingkungan, termasuk memastikan pohon yang ditanam hari ini dirawat dan dipantau agar dapat tumbuh dengan baik. Kami mengajak masyarakat Desa Buahan dan Kedisan untuk terus berpartisipasi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di wilayahnya,” ujarnya.
Program TIRTA LESTARI dilaksanakan di Desa Buahan dan Desa Kedisan dengan pendekatan konservasi berbasis ekosistem dan partisipasi masyarakat. Salah satu fokusnya adalah memperkuat peran perempuan melalui pembentukan dan pengembangan kelompok konservasi berbasis perempuan yang terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, serta pemeliharaan dan pemantauan kegiatan konservasi.
Direktur LBH Bali Woman Crisis Centre, Ni Nengah Budawati, menegaskan bahwa pelibatan perempuan merupakan bagian penting dari upaya membangun tata kelola sumber daya alam yang inklusif dan berkelanjutan. “Konservasi bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga memperkuat peran perempuan dan masyarakat lokal sebagai penggerak dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Melalui TIRTA LESTARI, kami mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya konservasi, mulai dari perencanaan hingga pemeliharaan dan pemantauan, demi menjaga keberlanjutan sumber air sebagai tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Penguatan peran perempuan dalam Program TIRTA LESTARI diwujudkan melalui pembentukan dan pendampingan kelompok konservasi berbasis perempuan di Desa Buahan dan Desa Kedisan. Perempuan dilibatkan dalam perencanaan kegiatan, penanaman pohon, serta pengembangan rencana kerja kelompok untuk mendukung pemeliharaan dan pemantauan tanaman secara berkelanjutan. Keterlibatan ini diharapkan memperkuat peran perempuan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya alam di tingkat desa, termasuk dalam upaya menjaga keberlanjutan sumber air.
Keberhasilan upaya konservasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga oleh keberlanjutan pemeliharaan dan pemantauannya. Karena itu, pelibatan kelompok konservasi berbasis perempuan dan masyarakat lokal menjadi bagian penting untuk mendukung perawatan bibit serta pemantauan pertumbuhannya secara berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu memastikan bahwa penanaman memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang, khususnya bagi perlindungan sumber air di kawasan hulu Kintamani.
Ni Wayan Rasmini, anggota kelompok konservasi berbasis perempuan, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkontribusi langsung dalam menjaga lingkungan dan sumber air. “Melalui kegiatan ini, kami ingin ikut menjaga lingkungan dan sumber air di desa kami. Menanam pohon adalah langkah awal yang perlu dilanjutkan dengan merawatnya bersama-sama agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Rasmini.
Penanaman 500 bibit ini menjadi langkah awal dari upaya konservasi yang akan dilanjutkan melalui penanaman bertahap, pemeliharaan, dan pemantauan pertumbuhan pohon. Melalui TIRTA LESTARI, LBH Bali Woman Crisis Centre bersama kelompok konservasi berbasis perempuan dan masyarakat lokal mendorong agar perlindungan sumber air di Kintamani menjadi bagian dari upaya bersama yang berkelanjutan, dengan dukungan dan koordinasi para pemangku kepentingan terkait.









