
Warga lokal di Pantai Sindhu, salah satu kawasan di daerah pesisir Sanur, menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan bisnis dan melindungi lingkungan di sekitar pantai. Mulai dari persaingan usaha, masalah sampah, pengelolaan parkir, hingga praktik penangkapan ikan ilegal. Hal ini dipandang pemuda Pantai Sindhu sekaligus pemilik warung Mr. Kopi Sanur, Hery Nata (33), sebagai tantangan yang perlu segera mendapatkan solusi.
Menurut Hery, lahan usaha di sepanjang jalur pedestrian Pantai Sindhu dikelola oleh Bhaga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) Intaran bersama dua banjar, yaitu Banjar Sindhu Kaja dan Banjar Sindhu Kelod. Usaha kecil yang dimiliki Hery berada di bawah naungan Banjar Sindhu Kaja, yang juga mengelola konservasi penyu.
“Untuk mendapatkan space di sini susah sekali. Awalnya belum buka, saya sudah bayar setengah biaya sewa agar bisa memegang tempat. Tapi diseleksi sih dari pihak banjar dan mereka memang memprioritaskan orang lokal. Lokal support lokal,” katanya.
Biaya sewa lahan yang dikenakan kepada Hery sebesar Rp1,2 juta per bulan. Meski pendapatan Hery tergolong tinggi karena berbisnis kopi, ia menuturkan bahwa ada beberapa aturan tidak tertulis yang perlu ditaati, seperti tidak boleh memasang penghalang angin berbahan plastik. Hal ini karena akan menimbulkan kesan kotor pada warung kopi miliknya.
Ada beberapa pesaing yang memiliki usaha yang sama dengan Hery. Namun, Hery melihat usaha-usaha tersebut sebagai tanda bahwa geliat bisnis di Pantai Sindhu sangat baik.
Pengunjung Lokal Kerap Buang Sampah Sembarangan
Hery memandang bahwa masalah utama Pantai Sindhu adalah sampah. Ia kerap melihat pengunjung lokal membuang sampah sembarangan, terutama pada akhir pekan.
“Jika ada pengunjung beli jagung di depan, kan bawa plastik tuh. Lalu dibuang sembarangan di pantai. Padahal tinggal diikat dan dibuang ke tempat sampah terdekat,” tutur Hery.
Ironisnya, turis asing yang sering memungut sampah di pantai. “Sering saya lihat mereka setelah mandi, siangnya mungut sampah dari utara sampai selatan, seperti sedotan dan tutup botol. Warga lokal juga ada yang inisiatif. Biasanya mereka membedakan sampah plastik dan rumput laut karena rumput laut bisa ditanam kembali,” tambahnya.
Hery juga menyayangkan tidak adanya penanda tempah sampah. Kalau pun ada, tetap saja ada pengunjung yang buang sampah sembarangan. Terkadang, Hery bersama pemilik UMKM lain di sekitar usaha Hery menampung sampah pengunjung di tempat sampah mereka.
Infrastruktur Parkir yang Kurang Memadai
Parkiran menjadi isu utama lainnya yang dinilai Hery dapat mengurangi prospek bisnis di Pantai Sindhu. Ia melihat bahwa parkir motor yang tersedia di Pantai Sindhu sering penuh karena pegawai Icon mall kerap parkir di sana. Sementara, mobil tidak memiliki akses parkir, sehingga para pengunjung memarkirkan mobil mereka di Icon Mall.

“Kalau saya lihat, tamu itu biasanya bawa guide, turunnya masih susah di Pantai Sindhu. Paling mudah mereka turunin turis di Icon Mall. Ya, cuma macet dan parkir saja, sampai pecalang kewalahan ngurusin parkir,” ujar Hery.
Penangkapan Ikan Ilegal dan Abrasi Pantai
Selain sampah dan parkir, Hery cukup khawatir dengan praktik penangkapan ikan yang merusak terumbu karang. Hery memperkirakan sekitar 10 persen nelayan yang menggunakan praktik tersebut bukan warga lokal. Mereka biasanya menggunakan tombak, linggis, dan bom ikan untuk menangkap ikan—yang pada akhirnya merusak terumbu karang.
“Padahal ada ikan yang tidak boleh diambil, tetap saja ditembak. Pecalang setiap hari patroli, tapi masih ada saja,” ungkapnya.
Abrasi pantai belum menjadi kekhawatiran utama bagi Hery. Kenaikan air di waktu tertentu yang sampai ke gerobak kopinya itu tidak membuat usahanya sepi. Namun, semenjak banjir besar di wilayah Kota Denpasar dan sekitarnya tanggal 10 September 2025, air laut naik sampai ke jalur pedestrian. Hal ini karena pembuangan air di sekitaran pesisir Sanur yang bergantung pada pipa-pipa pembuangan ke laut.

“Air sempat naik ke Jalan Tamblingan, di sebelah Hotel Hyatt, depan 101 Hotel, dan Jalan Bumi Ayu ini banjir. Cuma air ini kan dibuang ke laut. Ombak besar, air naik. Mungkin debit air terlalu tinggi makanya naik,” imbuh Hery.
Meski begitu, Hery optimis Pantai Sindhu tetap memiliki daya tarik. Harapannya diperkuat dengan semakin banyaknya turis-turis yang datang dari kawasan Kabupaten Badung ke Pantai Sindhu dan mampir ke warung kopinya. Ia berharap desat adat dan pemerintah kota lebih serius menangani masalah sampah, infrastruktur parkir, abrasi, dan penangkapan ikan ilegal, sehingga pariwisata di Pantai Sindhu bisa berkembang lebih baik.
(Salah satu karya peserta Kelas Jurnalisme Warga Desa Adat Intaran)









