• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, May 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

TPA Suwung Ditutup, Apakah Bali Siap?

Vivit Arista Dewi by Vivit Arista Dewi
19 May 2026
in Kabar Baru, Lingkungan
0
0

Focus Group Discussion bertajuk “Dibalik Penutupan TPA Suwung, Siapa Diuntungkan?” digelar di Gedung BPKSDM Kota Denpasar, Lumintang, Sabtu (16/5).

TPA Suwung tak lagi mampu menampung beban sampah Bali yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Bau menyengat yang dulu hanya terasa di sekitar kawasan TPA kini bahkan disebut telah mencapai wilayah Denpasar. Di tengah kondisi tersebut, rencana penutupan TPA Suwung memunculkan pertanyaan besar: apakah Bali benar-benar siap meninggalkan sistem lama pengelolaan sampahnya?

Persoalan tersebut dibahas dalam diskusi publik bertajuk “Di Balik Penutupan TPA Suwung, Siapa yang Diuntungkan?” yang menghadirkan Ketua Komisi III DPRD Bali, I Nyoman Suyasa; Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani; akademisi Universitas Warmadewa, I Nengah Muliarta, serta penggagas Teba Modern, I Wayan Balik. 

Menurut I Nyoman Suyasa, persoalan sampah tidak hanya terjadi di Bali. Namun, sebagai destinasi wisata dunia, segala persoalan di Pulau Dewata akan mendapat sorotan lebih besar. TPA Suwung dinilai sudah tidak lagi mampu menampung volume sampah Bali yang terus meningkat setiap tahun. Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani menjelaskan bahwa selama ini Suwung masih menggunakan metode open dumping atau pembuangan terbuka yang kini menjadi sorotan pemerintah pusat. Kondisi tersebut menyebabkan berbagai persoalan lingkungan, mulai dari bau menyengat, lindi, hingga pencemaran yang meluas sampai wilayah Denpasar.

I Made Dwi Arbani, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) Provinsi Bali, memaparkan tantangan pengelolaan sampah dalam diskusi publik terkait penutupan TPA Suwung di Denpasar, Sabtu (16/5).

Menurutnya, Bali juga termasuk daerah yang mendapat sanksi terkait tata kelola TPA yang belum sesuai standar. “Dulu bau TPA hanya terasa di sekitar sana, sekarang sampai Denpasar karena pola pengelolaannya masih salah,” ujarnya.

Ketua Komisi III DPRD Bali, I Nyoman Suyasa menilai kapasitas TPA Suwung sebenarnya sudah tidak memadai sejak lama. Namun, hingga kini Bali dinilai belum memiliki sistem pengganti yang benar-benar siap. Di tengah dorongan pemerintah agar masyarakat mulai memilah sampah dari sumber, infrastruktur pengelolaan sampah masih menjadi tantangan.

Akademisi Universitas Warmadewa, I Nengah Muliarta mengatakan masyarakat sering diminta memilah sampah, tetapi belum mendapat kepastian mengenai pengelolaan setelah sampah dipisahkan. “Masyarakat diminta memilah, tapi bingung dibuang ke mana,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa yang dihentikan sebenarnya adalah metode open dumping, bukan operasional TPA secara keseluruhan. Namun, minimnya TPS dan TPST yang memadai membuat proses transisi pengelolaan sampah di Bali dinilai belum berjalan optimal.

Dari Budaya “Buang dan Lupakan” hingga Mencari Solusi Baru

Persoalan sampah di Bali juga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat yang masih mengandalkan pola “kumpul-angkut-buang”. Setelah sampah diambil petugas dan retribusi dibayar, persoalan dianggap selesai. Penggagas Teba Modern, I Wayan Balik, bahkan menilai kondisi tersebut selama ini menguntungkan masyarakat yang tidak peduli terhadap lingkungan dan pemerintah yang hanya berfokus mengangkut sampah tanpa membangun perubahan perilaku.

“Yang diuntungkan adalah masyarakat yang cuek dan pejabat yang malas,” ujarnya. Menurutnya, persoalan utama sampah bukan terletak pada bendanya, melainkan cara pandang masyarakat terhadap sampah itu sendiri. “Sampah itu bukan masalah benda, tapi cara pikir,” katanya.

I Wayan Balik memperkenalkan sistem Teba Modern yang diterapkan di Desa Adat Cemenggon. Sistem tersebut mengandalkan pemilahan sampah dari rumah tangga melalui dua tong sampah, pengolahan organik menggunakan teba modern, bank sampah untuk sampah anorganik, serta pengelolaan residu secara terpisah.

Menurutnya, desa adat memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan baru masyarakat terkait pengelolaan sampah. “Sampah tidak perlu narasi, yang diperlukan aksi,” tambahnya.

Apakah Bali Sudah Siap?

Penutupan TPA Suwung menjadi penanda bahwa Bali tidak lagi bisa mengandalkan pola lama pengelolaan sampah. Berbagai solusi mulai disiapkan, mulai dari pembangunan waste to energy, pengelolaan berbasis sumber, hingga penerapan sistem seperti Teba Modern di tingkat desa adat.

Namun, proses transisi tersebut masih menghadapi banyak tantangan, terutama kesiapan infrastruktur dan perubahan kebiasaan masyarakat. Pertanyaan mengenai apakah Bali siap pun belum sepenuhnya terjawab.

Meski demikian, para narasumber sepakat bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi ditunda. Pengelolaan sampah dinilai membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat di tingkat rumah tangga.

Tags: Bali Darurat Sampahpengelolaan sampahsampah baliTPA Suwung
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Vivit Arista Dewi

Vivit Arista Dewi

Menulis untuk yang tak sempat diucap

Related Posts

Harapan Pemulung di Hari Buruh, Semoga TPA tidak Ditutup

Harapan Pemulung di Hari Buruh, Semoga TPA tidak Ditutup

5 May 2026
Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

29 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

26 April 2026
Bakar Sampah Organik: Solusi Praktis atau Ancaman Kesehatan?

Bakar Sampah Organik: Solusi Praktis atau Ancaman Kesehatan?

24 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
Next Post

Tiga Chef Muda Bali Bicara Tantangan Pangan Lokal

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Tiga Chef Muda Bali Bicara Tantangan Pangan Lokal

19 May 2026

TPA Suwung Ditutup, Apakah Bali Siap?

19 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia