
Sehari setelah Natal, 26 Desember 2025, jalan dari Denpasar menuju Pantai Kuta tampak lengang. Kemacetan baru terlihat di dekat Pasar Seni Kuta. Sore itu, mobil dan motor memenuhi jalanan. Beberapa motor yang tak sabar menghadapi kemacetan lantas menaiki trotoar, menganggap trotoar sebagai jalan alternatif.
Cuaca sedang tak bersahabat, terlalu mendung untuk menikmati matahari terbenam. Meski begitu, pengunjung Pantai Kuta masih ramai. Memasuki Pantai Kuta, kursi plastik dengan payung berjejer di pesisir pantai. Sejumlah pedagang menawarkan wisatawan yang datang untuk duduk di kursi tersebut.
Di pesisir pantai terdapat jalan setapak yang kondisinya mengenaskan. Sepanjang jalan Pantai Kuta, paving block di jalan setapak tersebut rusak. Pengunjung yang duduk di pinggir jalan setapak ditegur oleh para pedagang, katanya menghalangi wisatawan lewat. Para pedagang menyuruh wisatawan duduk di kursi yang sudah disediakan, tapi ada biayanya.

Kerusakan jalan setapak di Pantai Kuta diakibatkan oleh abrasi yang semakin parah. Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan mengungkapkan abrasi Pantai Kuta telah terjadi sejak tahun 1980-an. Imbasnya, garis pantai mundur sepanjang 15-20 meter.
Abrasi Pantai Kuta kian parah saat musim hujan. Beberapa kali beredar video fasilitas di pesisir pantai yang tersapu ombak, mengakibatkan kerusakan, termasuk kerusakan jalan setapak.

Menyikapi abrasi di sepanjang perairan Kuta, pemerintah beberapa kali melakukan penambahan pasir. Kebutuhan penambahan pasir dilakukan dengan mengeruk pasir di beberapa pantai yang memiliki struktur pasir serupa dengan pasir di Pantai Kuta.
Pada tahun 2024, Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida memberikan tanggapan terkait keberatan pengerukan pasir yang disampaikan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali. Pada saat itu, pengerukan pasir direncanakan di Perairan Jimbaran dan Tanjung Benoa untuk mengisi Pantai Kuta, Legian, Seminyak, dan Candidasa.
BWS Bali Penida menyampaikan abrasi di sepanjang Kuta diperparah dengan pembangunan yang masif di sepanjang pantai, sehingga daya rusak gelombang meningkat. Hal tersebut diperparah dengan diperpanjangnya landasan pacu Bandara Ngurah Rai, sehingga keseimbangan sedimen terganggu.
Selain Pantai Kuta, Pantai Bingin juga mengalami kerusakan. Bukan karena abrasi, melainkan karena robohnya bangunan di pesisir pantai.
Pada tahun 2019, melalui Google Street View ditampilkan kondisi Pantai Bingin yang masih dipenuhi bangunan cafe dan restoran. Namun, bangunan di pesisir Pantai Bingin telah dirobohkan pada tahun 2025. Pasalnya, bangunan yang berdiri di sana dianggap ilegal, berdiri di atas tanah milik Pemerintah Daerah (Pemda) Badung tanpa izin dan melanggar rencana tata ruang wilayah.
Sebanyak 48 bangunan yang berdiri bertahun-tahun dirobohkan. Melalui wawancara dengan Radar Bali, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali menyampaikan bangunan tertua di Pantai Bingin ada sejak 15 tahun lalu, sekitar tahun 2010.
Ketika berkunjung ke Pantai Bingin pada 30 Desember 2025, tidak banyak kendaraan yang parkir di lokasi parkir. Perjalanan dari parkiran menuju Pantai Bingin membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Sebagaimana pantai di daerah Jimbaran pada umumnya, pengunjung perlu turun ke bawah untuk mencapai pantai.
Namun, lamanya perjalanan dari parkir ke Pantai Bingin bukan karena lokasinya yang jauh, melainkan karena akses pantai yang cukup menantang. Pasca dirobohkannya bangunan di pesisir Pantai Bingin, puing-puing bangunan masih berserakan. Kerangka bangunan yang roboh dibiarkan begitu saja. Akibatnya, akses ke pantai membutuhkan tenaga yang ekstra dan butuh kesabaran.

Saat itu saya datang bersama seorang wisatawan asing. Kami berjalan bersamaan. Beberapa kali kami berhenti karena akses jalan ke pantai tidak bisa dilewati oleh dua orang. Perjalanan sangat hati-hati karena di beberapa sudut ada puing-puing bangunan berupa paku berkarat, batu besar, dan besi.
Di tengah perjalanan, wisatawan tersebut jatuh terpeleset. Melihat akses jalan yang berbahaya, wisatawan tersebut memutuskan tidak melanjutkan perjalanan dan kembali naik. Wisatawan Pantai Bingin sore itu bisa dihitung jari, padahal cuaca sedang cerah.

Menurut penuturan salah satu pedagang di sana, Pantai Bingin memang lebih sepi dari biasanya. Sebelum ada pembongkaran, Pantai Bingin memang dikunjungi lebih banyak wisatawan mancanegara dibandingkan wisatawan lokal. Namun, akses yang sulit membuat pantai ini menjadi lebih sepi. “Nanti katanya mau dibangun lagi ini, tapi ga tau kapan,” kata pedagang tersebut menunjuk reruntuhan bangunan.
Pantai Kuta dan Pantai Bingin merupakan dua pantai di Bali yang mengalami kerusakan, satu disebabkan ulah manusia, satu lagi diakibatkan oleh alam. Sebelum mengalami kerusakan, dua pantai ini ramai dikunjungi oleh wisatawan. Namun, kini terancam eksistensinya karena kerusakan. Padahal, Bali dikenal karena pantainya, baik itu pantai yang terkenal seperti Pantai Kuta maupun pantai tersembunyi seperti Pantai Bingin. Bukan hanya jumlah wisatawan yang terancam berkurang, masyarakat sekitar yang menggantungkan pendapatannya dari aktivitas wisata juga terancam.







