Sekitar pukul empat sore di hari Minggu, 16 November 2025, saya berjalan kaki dari Pasar Seni Kuta menuju arah Legian. Sepanjang pantai, abrasi dan sampah laut menjadi latar selfie para wisatawan.










Titik terparah tampak di jalur pedestrian seberang Kutabex Hotel hingga depan Beachwalk Mall. Warga dan wisatawan kesulitan melintas karena jalur yang tidak lagi rata. Para pedagang pun kebingungan mencari tempat menaruh payung, kursi, atau bean bag karena permukaan pasir dan beton dipenuhi cekungan. Tangga menuju pantai ikut hilang disapu abrasi, diganti tangga darurat dari tumpukan kayu dan karung pasir.
Padahal pagi itu telah dilakukan beach clean-up. Namun tumpukan sampah masih menunggu di pinggir pantai. Kondisi ini nampak tak jauh berbeda dari akhir tahun 2024 lalu, ketika memasuki peak season tetapi Pantai Kuta justru penuh tumpukan sampah dan kayu.
Mungkinkah solusinya justru mengembalikan vegetasi pantai endemik yang dulu menjaga garis pesisir, sembari mengurangi tekanan pembangunan yang terus mendesak ruang alami pantai?










