• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, February 12, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru Kabar

Menyulap Sampah Botol Plastik Menjadi Eco-brick

Herdian Armandhani by Herdian Armandhani
28 February 2018
in Kabar, Lingkungan
0
1
Proses pembuatan eco brick saat peringatan Hari Peduli Sampah Nasional. Foto Herdian Armandhani.

Jangan buru-buru buang botol plastik yang sudah habis dipakai.

Lebih baik dimanfaatkan ulang menjadi menjadi barang baru yang lebih bermanfaat. Eco-brick atau batu bata ramah lingkungan hanya salah satunya. Tidak hanya mengurangi sampah plastik tetapi juga bisa membuat produk berguna dan cantik.

Minggu, 23 Februari 2018 lalu, beberapa komunitas memperingati Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada 21 Februari 2018. Mereka mengadakan kegiatan bertema “Cerita Konservasi Hari Peduli Sampah Nasional” di Fountain Stage, Beachwalk Shopping Centre, Kuta.

Komunitas yang tergabung adalah Komunitas World Wildlife Fund for Nature (WWF) Bali, Komunitas 60+ Earth Hour (EH) Bali, Komunitas Marine Buddies Bali, dan Komunitas Maine Debries Bali.

Acara diskusi dan talkshow dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama mengahadirkan Diskusi Kopi Laut yang mengangkat masalah mengenai cara kreatif menyikapi sampah. Sesi kedua merupakan workshop seni mengolah sampah membuat Eco-brick dari botol plastik.

Sesi workshop ini begitu menarik. Pasa sesi ini anggota dan relawan dari Komunitas Earth Hour Bali memberikan praktik langsung ke peserta Cerita Konservasi untuk mengurangi sampah dengan metode recycle (mengolah kembali sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat).

Sebelumnya Komunitas Earth Hour Bali sudah mempersiapkan puluhan botol air mineral bekas ukuran 600 ml. Botol-botol bekas yang sudah dibawa selanjutnya akan dibuat beberapa Eco-brick yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Berbekal lem tembak, selotip dan kreatifitas para anggota Komunitas Earth Hour Bali, botol-botol air mineral disulap menjadi sebuah bangku yang eksotis.

Seorang anak mencoba ecobrick yang dibuat selama peringatan Hari Peduli Sampah Nasional. Foto Herdian Armandhani.

Untuk membuktikan kekuatan dan daya tahan bangku Eco-brick, seorang peserta Diskusi dan Talkshow berusia 4 tahun diminta untu duduk diatas bangku yang terbuat dari botol air mineral bekas. Dan ternyata botol-botol ini tidak penyok dan sangat kuat untuk diduduki bahkan sekalipun orang dewasa yang mencobanya.

Para peserta pun bertepuk tangan dengan Eco-brick buatan para anggota Komunitas Earth Hour Bali.

Eco-brick yang dibuat menyerupai bangku duduk ini bila dipermak lebih cantik lagi bisa dichat dengan warna-warna dan gambar sesuai dengan selera. Bahkan bila ditekuni Eco-brick dapat dijual dan menjadi sebuah industri kreatif dalam sebuah inovasi pemanfaatn sampah plastik.

Koordinator Komunitas Earth Hour Bali yaitu Sutan Tantowi Dermawan mengungkapkan bahwa Eco-brick merupakan solusi kreatif untuk pemanfaatan sampah plastik seperti dari botol air mineral. Diharapkan melalui demo Eco brick masyarakat bisa lebih sadar bahwa sampah plastik bisa dikurangi dengan mengolahnya kembali menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis.

“Jangan buru-buru membuang botol plastik ke tong sampah, sampah plastik bisa dikurangi dengan mengolah kembali menjadi Eco-brick. Sampah bisa diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis dan memiliki harga jual yang tinggi bila kreatif mengolahnya,” jelas Sutan.

Sebelum membuat bata ramah lingkungan, para peserta juga mengikuti diskusi kopi laut. Pembicaranya adalah Imam Musthofa (Sunda Banda Seacape and Fisheries Leader WWF Indonesia), I Gede Hendrawan (Coastal and Enviromental Oceanography Researcher Universitas Udayana), dan I Ketut Wisada (Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Denpasar).

Sesi diskusi kopi laut banyak membedah permasalahan lingkungan yang ada di perairan Bali dan solusi tepat untuk mengurangi sampah di pulau ini yang notabene merupakan daerah destinasi Pariwisata yang begitu padat. [b]

Tags: KomunitasKutaLingkunganWWF Indonesia
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Herdian Armandhani

Herdian Armandhani

Blogger, Citizen Journalist, Traveller.

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

21 November 2025
Next Post
Pesta Busana Terbesar Bali Kembali Lagi

Pesta Busana Terbesar Bali Kembali Lagi

Comments 1

  1. El siregar says:
    8 years ago

    Perlu kampanye buat, recycle/reduce/reuse.
    Di Lombok, di tepi kali Jangkok ada ‘bank sampah’ di kampung budaya (rumah warna-warni). Bawa sampah yang berguna, mereka beli.

    Bekas apa saja jadi ‘work of art’.
    Ban mobil jadi hand-bag, seperti yang ada di toko mewah.
    Bekas bungkus kopi jadi dompet.
    Imagine that!

    Kini sudah dapat pesanan dari luar negeri.
    Kita perlu saling ‘asih/asah/asuh’!
    Tak ada salahnya kalau sekian ribu botol besar plastik dibuat jadi yacht, berlayar antara Kusamba (Bali) – Ampenan (Lombok).
    Why not?
    The sky is the limit.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Catcalling bukan Pujian, Ketika Ruang Publik tak Lagi Aman Bagi Perempuan

Catcalling bukan Pujian, Ketika Ruang Publik tak Lagi Aman Bagi Perempuan

10 February 2026
Melindungi Sawah, Mempertahankan Jati Diri Bali

Bali untuk Belajar, tapi tidak bagi Anak-anaknya

9 February 2026
Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia