
Hari raya Galungan dan Kuningan adalah momen sakral di Bali, datangnya hari tersebut berarti perayaan kemenangan Dharma atas Adharma.
Momen ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat silahturahmi antar keluarga, kerabat, dan masyarakat, serta waktu untuk menata kembali hubungan manusia-tuhan-alam dan tak lupa diri sendiri.
Dari segi tradisi, banyak persiapan yang dilakukan untuk menyambut hari kemenangan yang datang setiap enam bulan sekali. Penjor, banten (persembahan), buah-buahan, jaje (kudapan), daging, dan segala kebutuhan upacara telah direncanakan.
Meski sebagian besar bisa didapatkan dari alam, bambu, busung, buah-buahan, namun tidak semuanya terjangkau apalagi gratis. Sudah menjadi tradisi di hari kemenangan, bukan hanya dharma yang menang, tetapi juga kesempatan merogoh hasil ekonomi yang lebih besar.
Kenaikan harga bahan pokok dan keperluan upacara bukan perkara baru.
Maka “Tas” yang kita buka di hari raya ini bukan sekadar untuk membeli perlengkapan upacara, modal makan-makan bersama, atau membeli baju baru, tetapi juga untuk memeriksa kondisi hati kita. Seberapa sanggup kita bisa merogoh isi tas dengan ikhlas?
Dilansir dari Indo Bali News, bank sentral di Bali memetakan sejumlah komoditas yang paling mendorong inflasi, seperti beras, telur, dan daging ayam. Selain itu, ada komoditas musiman yang rutin naik setiap periode hari raya dalam lima tahun terakhir, seperti janur dan bunga persembahan, cabai merah dan rawit, pisang, jeruk, hingga daging babi.
Data mencatat cabai merah besar rata-rata mencapai Rp51.425 per kilogram, naik 3,61 persen, dengan harga tertinggi di Tabanan (Rp59.444/kg) dan Denpasar (Rp54.333/kg). Cabai rawit merah juga naik sekitar 5 persen menjadi rata-rata Rp29.988/kg.
Biaya persiapan hari raya yang semakin meningkat, barang tentu bagi keluarga berpenghasilan rendah atau menengah akan cukup membebani.
Dengan melihat realita tersebut, barangkali sudah saatnya kita renungkan isi tas, bukan cuma dari “berapa rupiah yang saya habiskan” tetapi “apa yang saya bawa dalam hati saya.”
Kesadaran bahwa memberi bukanlah sekadar transaksi
Tradisi upacara, banten, buah, jaje, daging, semua itu berbentuk “memberi” dalam artian memberi persembahan kepada Sang Hyang Widhi.
Bila kita melihat bahwa esensi memberi adalah hati yang tulus. Saat harga tinggi, kita mungkin hanya bisa membeli lebih sedikit, tetapi sedikit itu (bila rasa syukurnya banyak) maka nilainya lebih besar.
Kita merayakan Galungan bukan karena “apa yang saya punya” tetapi “apa yang saya rasakan”. Ketika kita mengalahkan keakuan (harus beli ini, harus beli itu) maka kita memaknai hari kemenangan secara lebih dalam.
Dengan demikian, tas kita tidak hanya untuk “memenuhi ritual” tetapi juga memperluas kiprah kasih. Ini juga mengokohkan nilai Dharma, bukan hanya sebagai kemenangan atas Adharma, tetapi kemenangan hati atas keakuan.









