• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, December 16, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Kiprah Penjor dari Masa ke Masa

Gita Andari by Gita Andari
1 December 2025
in Budaya, Kabar Baru, Opini
0 0
0

Menyambut hari raya galungan dan kuningan, di jalan-jalan Bali, penjor dengan mata lengkungnya membumbung tinggi. Seakan menunjukkan simbol keagungan yang membelah angkasa. Tapi ketika penjor makin tinggi, dekat kabel listrik, dan dibuat masif demi “tampilan yang mewah” apakah sebetulnya nilai yang ditawarkan? Barangkali dengan mengingat kiprah penjor dari masa ke masa, bisa mengembalikan ingatan kita.

Penjor zaman dulu vs zaman sekarang, apa yang berubah?
(kiri) Jalan di perkampungan Bali, sekitar 1930 (pinterest/Juzzy Blake). (kanan) Warna-warni penjor hiasi Jaba Pura Dalem Gede Desa Adat Dalung (instagram/balikami).

Secara filosofis, penjor bukan sekadar bambu tinggi yang diberi hiasan sembarangan. Penjor dipercayai sebagai lambang gunung. Gunung yang dirujuk pun bukan sembarang gunung, Gunung Agung merupakan puncak suci yang sejak lama menjadi poros spiritual masyarakat Bali (Atmaja, dalam Mudra, 2018).

Lengkungan penjor bukan estetika semata, melainkan simbolisasi Naga Anantabhoga. Sosok naga yang meliuk seperti aliran sungai berkelok, mengalir, lalu bermuara ke laut. Jadi ketika melihat penjor, kita sebenarnya sedang melihat rangkuman mitologi dan kosmologi yang dikemas dalam satu batang bambu.

Penjor yang seharusnya melengkapi rangkaian upacara Galungan kini banyak mengalami perubahan rupa. Hiasannya semakin ramai, pernak-perniknya makin kompleks, sampai-sampai muncul istilah penjor kontemporer untuk menggambarkan gaya baru ini. Akibatnya penjor itu terkesan hanya sebagai hiasan belaka tanpa mengusung makna realitas penjor sebagai bagian dari benda upakara (Mudra, 2018).

Dalam dominasi selera estetika itu, sisi spiritualnya justru sering tersisih. Perkembangan ini sebetulnya juga membuka ruang bagi ekspresi seni, atau tak bisa dipungkiri, juga menjadi ajang unjuk identitas sosial.

  1. Perkembangan Bahan Pembuat Penjor

Bambu dan janur/ ambu masih menjadi bahan utama, namun bahan anorganik makin menjamur.

Berdasarkan wawancara dengan tiga pedagang penjor di Denpasar dan Badung pada 25 November 2025, rata-rata mereka masih menerima pasokan bambu dari beberapa daerah di Bali, seperti Tabanan, Gianyar dan Kintamani, yang dikirim rutin oleh pemasok setiap menjelang hari raya “Ten, dia (pemasok dari Gianyar) langsung ke sini bawa. Setiap hari raya Galungan aja,” ungkap Wayan (nama samaran) seorang penjual tiing penjor di daerah Peguyangan. Untuk satu batang tiing penjor dihargai 40 ribu rupiah. 

Pada sekitar tahun 1990, penjor umumnya masih dibuat dari bambu dan busung, yakni daun kelapa muda. Kini, bahan busung itu banyak digantikan oleh ental atau daun lontar muda yang sudah dikeringkan. Pergeseran ini dilakukan karena ental dianggap lebih awet, mudah dibentuk, dan memberikan tampilan penjor yang lebih rapi serta artistik. Selain itu, diketahui bahwa daun lontar yang dipakai para pedagang penjor di Desa Kapal, Badung, tidak hanya berasal dari Bali, tetapi juga dari luar daerah, seperti Sumba di Nusa Tenggara Timur (Wira, 2012, dalam Mudra, 2018).

Dilansir dari DetikBali salah satu penjual bambu di Kelurahan Kapal, Ni Kadek Ardani, selain mendatangkan bambu dari beberapa wilayah di Bali, ia juga mendatangkan bambu dengan tinggi lebih dari 7 meter dari Jawa.

Meski bambu dan ambu dari pohon enau masih menjadi bahan dasar seperti tradisi lama, penjor masa kini mulai memanfaatkan material tambahan seperti bahan sintetis seperti spon, gabus, atau material plastik.

Fenomena lain yang menarik akhir-akhir ini adalah munculnya tren pembelian tiing penjor melalui marketplace online. Jika dulu masyarakat hanya bisa mengandalkan pemasok lokal, kebutuhan tersebut kini dapat dibeli lewat platform e-commerce karena dianggap lebih praktis. Seperti contoh sebuah unggahan viral di akun instagram @infobali.viral yang disadur dari tt/alter_offc, memperlihatkan sebuah video paket bambu penjor yang dibeli secara online. Harganyapun hanya 12 ribu rupiah, jauh lebih murah dibandingkan yang dijual di pasaran secara langsung. 

Pada masa lalu, perlengkapan penjor umumnya dibuat polos tanpa banyak ornamen karena bahan dasarnya ambu dan daun kelapa memang tidak memberi banyak ruang untuk dihias. Namun kini, penggunaan daun lontar mengubah lanskap kreatif tersebut. Daun lontar memungkinkan para pembuat penjor mengekspresikan kemampuan artistik mereka melalui berbagai motif ukiran, sehingga penjor terlihat jauh lebih dekoratif dan penuh detail. 

Menariknya, bagi generasi sekarang, bentuk penjor yang kaya ornamen ini sering dianggap sebagai standar “penjor Galungan yang bagus”. Padahal, penjor secara esensial dapat dibuat lebih sederhana dan tetap sah secara makna maupun fungsinya sebagai bagian dari upakara.

Pala Bungkah, Pala Gantung, Pala Wija, dan Pelengkap Upakara Lainnya 

Jika bagian sebelumnya membahas bahan fisik batang dan hiasan penjor, maka pala bungkah adalah salah satu unsur isi penjor yang tetap dipertahankan sejak dulu. Pala bungkah merujuk pada kelompok umbi-umbian, seperti ketela rambat, ubi kayu, talas, atau jenis umbi lain sesuai ketersediaan lokal.

Secara filosofi, pala bungkah melambangkan kemakmuran dari bumi serta hasil kerja keras manusia yang tumbuh dari tanah. Tradisi lama menempatkan pala bungkah sebagai salah satu komponen wajib dalam penjor Galungan, bersama pala gantung, pala wija, uang kepeng, dan jajanan.

Meski kini banyak bahan penjor lain mengalami modernisasi dan menjadi lebih dekoratif, komponen isi seperti pala bungkah cenderung tetap tradisional. Kebanyakan keluarga masih membeli atau mengambil umbi-umbian asli, bukan versi imitasi atau hiasan sintetis.

Pala gantung merupakan komponen penjor yang berasal dari kelompok buah-buahan. Jenis yang paling umum digunakan adalah kelapa, pisang, jeruk, dan sebagainya. Unsur ini ditempatkan sebagai bagian penting untuk menyampaikan rasa syukur atas rezeki dan kesuburan.

Kemudian Pala wija adalah komponen penjor yang berasal dari kelompok biji-bijian, seperti padi, jagung, kacang-kacangan, atau benih lain yang umum ditanam masyarakat.

Perkembangan modern tetap memengaruhi aspek ini. Di pasaran sudah mulai muncul paket “komplitan penjor” siap pakai, yang di dalamnya termasuk semua komponen-komponen tersebut, termasuk sesajen/banten, dan sanggah cucuk.

  1. Peran Masyarakat dalam Pembuatan Penjor

Di Bali, terutama di kawasan perkotaan, termasuk desa sekalipun mulai mengikuti arus yang sama. Yang terjadi sekarang adalah lebih banyak orang memilih membeli perlengkapan penjor jadi ketimbang membuatnya dari awal. Pasar dan penjual musiman pun menangkap peluang itu. Hampir semua bagian penjor yang dulu dibuat manual, mulai dari sampian penjor, tamiang, sampai endongan, kini tersedia dalam bentuk paket siap pasang. Tinggal beli, ikat, selesai.

Banyak warga, terutama di wilayah perkotaan, memang sudah jarang membeli bahan mentah seperti ambu (daun enau muda), daun lontar, atau busung untuk kemudian dirangkai sendiri di rumah (Mudra, 2018). Sikap ini, dalam istilah Bali, sering disebut ulah elah alih aluh, kurang lebih berarti “maunya yang gampang, nggak mau repot.” Selama uang ada dan pasar menyediakan semua, godaan untuk membuat sendiri pun menguap begitu saja.

Selain faktor keterampilan, alasan klasik lainnya adalah soal waktu. Banyak orang bekerja dari pagi sampai malam, libur pun sulit didapat. Di tengah jadwal yang padat, maka membeli menjadi pilihan yang dianggap paling realistis.

Penjor dan Risiko Bencana

Berapa standar tinggi penjor seharusnya?

Sebagian sumber lokal menyatakan bahwa penjor yang dipasang secara upacara seperti penjor untuk Galungan, umumnya memakai tiang bambu setinggi sekitar 10 meter.

Akhir-akhir ini di Bali penjor menjadi topik hangat yang ramai menjadi perbincangan setelah Perusahaan Listrik Negara (PLN) menghimbau masyarakat Bali tentang pemasangan penjor dengan jarak aman (minimal 2,5 meter) dari kabel listrik, serta memastikan penjor berdiri kokoh agar tidak roboh saat tertiup angin. 

Dilansir dari NusaBali Manager PT PLN (Persero) UP3 Bali Utara Ela Shinta, Selasa (11/11) menjelaskan, pemasangan penjor saat hari raya Galungan dan Kuningan menjadi salah satu perhatian khusus PLN. Dirinya menyarankan penjor yang dipasang masyarakat menjaga jarak minimal 2,5-3 meter dari kabel atau kawat listrik. Jarak itu diukur dari jarak samping, atas atau bawah kabel. “Kalau bisa di bawah kabel  kalau bisa lebih jauh itu lebih baik,” ujarnya.

Jika dibandingkan dengan data teknis dari PLN, terlihat jelas bahwa penjor “zaman now” berada dalam posisi rawan. Penjor upacara umumnya dibuat setinggi 8–10 meter. 

Sementara itu, dilansir dari website PLN, tinggi kabel di jalan besar hanya sekitar 6 meter, dan di jalan kecil justru lebih rendah lagi, 4–5 meter. Artinya, di banyak kawasan permukiman, tinggi penjor bisa dengan mudah melampaui ketinggian kabel udara. Di sisi lain, tiang listrik tegangan rendah yang umum ditemukan di lingkungan rumah warga memiliki tinggi 7,5 meter, sehingga penjor yang dibuat  sering berada pada level yang sama atau bahkan menjulang melebihi utilitas listrik. 

Kombinasi antara penjor tinggi, dan angin kencang, bisa berisiko pada penjor dapat roboh sewaktu-waktu, tersangkut kabel, atau bahkan menarik jaringan ketika jatuh. 

Di banyak tempat, penjor sekarang masih dipasang kadang sangat dekat dengan tiang atau kabel listrik. Sebagian besar menganggap tradisi yang sudah ada sejak lama tidak seharusnya diotak-atik. Namun ada juga yang menerapkan himbauan karena sadar akan risiko tersebut. 

Mengutip NusaBali, Ketua Fraksi Demokrat–NasDem DPRD Bali, Dr. Somvir, menilai imbauan PLN terkesan “mengatur” tradisi Bali. Menurutnya, meskipun niat PLN mungkin baik, penyampaiannya mendadak dan tidak melalui dialog dengan lembaga adat maupun Parisada. Ia juga menyoroti bahwa persoalan sebenarnya bukan hanya pada penjor, tetapi pada penataan jaringan kabel PLN yang selama ini dianggap semrawut dan mengganggu estetika ruang publik.

Somvir menilai semestinya PLN terlebih dahulu membereskan tata infrastruktur kelistrikan sebelum memberi imbauan yang bersinggungan langsung dengan praktik budaya. “Ini kesannya mendadak dan menyentuh tradisi keagamaan yang sudah berjalan bertahun-tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Nyoman Kenak merespon dengan mengajak umat untuk memasang seperti sebelumnya termasuk enam bulan lalu. Ia juga mengajak dalam pemasangan penjor agar memperhatikan keselamatan diri sendiri dan orang lain. “Saya kira imbauan dari PLN itu baik, tujuannya untuk keselamatan bersama. Namun ke depan mungkin bisa koordinasi dengan pemuka agama atau adat sehingga penyampaiannya bisa lebih manis dan elegan sehingga tidak ramai,” jelas Kenak (NusaBali, 18/11).

Kekhawatiran akan risiko bencana bukan lagi sekadar wacana. Dilansir dari akun instagram @denpasar.viral baru-baru ini momen penjor Bigsize di depan Pura Desa Lan Puseh Kerobokan, terlihat roboh akibat diterjang angin kencang dan hujan deras yang terjadi, pada Rabu 26 November 2025. Sedangkan dari instagram @punapigianyar terlihat sebuah penjor terbakar akibat korsleting menyentuh kabel listrik.

Tangkapan layar video penjor roboh, Rabu, 26 November 2025 (instagram/depasar.viral)

Barangkali menjaga tradisi bukan berarti menolak zaman. Namun merawat tradisi juga tidak harus berarti membesar-besarkan bentuknya sampai mengabaikan keselamatan. Mungkin yang diperlukan bukan hanya bambu yang kuat, tetapi juga sikap yang lentur, seperti lengkung penjor itu sendiri. Lentur untuk menyesuaikan diri, tapi tetap teguh pada akar maknanya.

Referensi

Mudra, I. (2018). Fenomena Langgam Penjor Galungan pada Era Kekinian Bali. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies). 8. 105. 10.24843/JKB.2018.v08.i02.p07. 

Dani, dkk. (2024). Perspektif Penjor Galungan Oleh Masyarakat Hindu di Kota Palu. Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu.  Vol. 15, No. 02.  DOI 10.36417/widyagenitri.v15i2.634

Tags: hari raya di balimakna penjorpenjor bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Gita Andari

Gita Andari

Related Posts

Merogoh Isi Tas (dan hati) di Hari Kemenangan

Merogoh Isi Tas (dan hati) di Hari Kemenangan

21 November 2025
Ketika Penjor Makin Banyak Material Anorganik, Biayanya pun Makin Melejit

Ketika Penjor Makin Banyak Material Anorganik, Biayanya pun Makin Melejit

22 April 2025
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

9 August 2023
Next Post
Industri Rokok Bertanggung Jawab atas Dampak yang Ditimbulkan

Industri Rokok Bertanggung Jawab atas Dampak yang Ditimbulkan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

15 December 2025
Begini Lho Cara Menjelajah Nusa Penida dengan Cara Berbeda

Perempuan dalam Sistem Pewarisan Adat Bali: Terikat Adat, Hak Terbatas

15 December 2025
Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

14 December 2025
Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

14 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia