• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 15, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Ketika Penjor Makin Banyak Material Anorganik, Biayanya pun Makin Melejit

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
22 April 2025
in Budaya, Kabar Baru
0
0

Menjelang Hari Raya Galungan, masyarakat Hindu di Bali beramai-ramai memasang penjor di depan pekarangan rumah. Dilansir dari situs Kementerian Agama Provinsi Bali, penjor merupakan simbol persembahan kepada Hyang Betara Gunung Agung, tempat bersemayamnya para Dewa.

Penjor terbuat dari bambu melengkung dilengkapi dengan hasil bumi, yaitu kelapa, padi, pisang, dedaunan, dan lainnya. Dinas Kebudayaan menyebutkan bahwa penjor merupakan simbol dari Naga Basuki yang bermakna kesejahteraan dan kemakmuran.

Masyarakat Hindu Bali biasanya sudah mulai memasang penjor sejak dua hari sebelum Hari Raya Galungan. Pemasangan penjor maksimal dilakukan pada Penampahan Galungan atau sehari sebelum Galungan. Idealnya, penjor dipasang tepat pada Penampahan Galungan, setelah jam 12 siang.

Seiring berkembangnya zaman dan waktu, penjor mengalami berbagai modifikasi. Dari yang bentuknya sederhana berisi hasil bumi, kini hiasannya yang makin diutamakan. Hari Raya Galungan tahun ini jatuh pada tanggal 23 April 2025. Sejak seminggu sebelum Galungan, penjual penjor sudah bermunculan. Bambu-bambu berjejer di depan toko. Penjual sampian pun mulai menjamur, mulai dari sampian berbahan busung ibung hingga ental.

Bukan hanya menjual isi penjor, ada pula yang menjual penjor jadi. Pemesannya maksimal seminggu sebelum Galungan. Dua hari sebelum Galungan, pedagang penjor mulai mengantarkan penjor-penjor pesanan ke tiap rumah.

Sebuah mobil melintas di depan kantor. Mobil tersebut menampung sekitar lima penjor yang akan diantarkan ke pembeli. “Mau beli penjor gek?” tanya penjual penjor ketika saya melintas. Ketika ditanya harga satu penjor, ia menyebutkan Rp350.000 per penjor. Satu penjor tersebut sudah lengkap dengan sanggah, padi, kelapa, pisang, hasil bumi lainnya, serta hiasan berbahan dasar ental.

Di tempat lain, sekitar Jl. Padma, Denpasar Utara, harga satu penjor tidak jauh beda, berkisar Rp350.000 – Rp400.000 per penjor. Bedanya hanya berisi sanggah dan tidak. Ada pula penjual penjor di daerah Kesiman yang memiliki beberapa pilihan jenis penjor. Penjor sederhana dijual dengan harga Rp275.000 per penjor, penjor biasa ditambah gebog seharga Rp300.000 per penjor, dan penjor fullset yang berisi gebog serta sanggah dijual dengan harga Rp350.000 per penjor. Harga-harga penjor tersebut sudah termasuk biaya antar dan pemasangan.

Selain penjor sederhana, ada pula penjor-penjor besar yang berisi hiasan dari styrofoam. “Kalau yang isi gabus itu pernah kita jual Rp1.000.000 di Canggu,” ujar salah satu pedagang penjor di Kesiman.

Di salah satu supplier penjor di Jalan Gunung Mas, Denpasar, ada penjor yang dijual dengan harga di atas Rp5 juta. “Soalnya besarnya di atas 10 meter. Tergantung kerumitan dan request dari pembelinya kak kalau soal harga,” ujar penjual tersebut. Lebih lanjut, penjual tersebut menjelaskan di atas harga tersebut biasanya dibeli untuk acara festival. “Kalau yang paling mahal saya pernah di angka Rp7 juta sampai Rp10 juta kak, untuk salah satu banjar di Kintamani waktu ultah Kota Bangli,” ungkap penjual tersebut.

Penjor sederhana

Dalam lontar Tutur Dewi Tapini, isi dalam penjor pada dasarnya adalah hasil bumi yang masing-masing unsurnya memiliki makna, sebagai berikut:

  • Bambu melambangkan Dewa Brahma
  • Kelapa melambangkan Dewa Rudra
  • Kain kuning dan janur melambangkan Dewa Sangkara
  • Pala bungkah dan pala gantung melambangkan Dewa Wisnu
  • Tebu melambangkan Dewa Sambu
  • Padi melambangkan Dewi Sri
  • Kain putih melambangkan Dewa Iswara
  • Sanggah melambangkan Dewa Siwa
  • Upakara sebagai simbol vibrasi Dewa Sradha Siwa dan Parama Siwa

Berkaca dari isi lontar tersebut, isi penjor seharusnya hasil bumi yang ada di sekitar manusia. Namun, saat ini isi penjor telah banyak dimodifikasi, lebih banyak diisi bahan-bahan anorganik dan residu.

Dalam beberapa himbauan yang diserukan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali pun kerap menyampaikan agar penjor untuk Hari Raya Galungan hendaknya dibuat sederhana sesuai maknanya, bukan dengan hiasan-hiasan yang justru menghasilkan sampah. Sayangnya, sering kali himbauan dan kesadaran masyarakat tidak berjalan beriringan.

tokohpmurah.com vanujacoffee.com sangkarbet sangkarbet chrishondrosfilm.com sangkarbet kampungbet
Tags: Galunganhari raya galungan dan kuningankuninganmakna penjormodifikasi penjorpenjor di Bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Kiprah Penjor dari Masa ke Masa

Kiprah Penjor dari Masa ke Masa

1 December 2025
Makna Hari Raya Galungan yang Hilang

Makna Hari Raya Galungan yang Hilang

24 November 2025
Merogoh Isi Tas (dan hati) di Hari Kemenangan

Merogoh Isi Tas (dan hati) di Hari Kemenangan

21 November 2025
Ketika Penjor Bertemu Kabel Listrik: Menimbang Tradisi, Modernitas, dan Moralitas

Ketika Penjor Bertemu Kabel Listrik: Menimbang Tradisi, Modernitas, dan Moralitas

18 November 2025
Musim Panen Pedagang Bunga Canang dan Bungkak Kelapa saat Galungan

Musim Panen Pedagang Bunga Canang dan Bungkak Kelapa saat Galungan

25 September 2024
Hari Raya Telah Tiba, Siapkan 3M!

Hari Raya Telah Tiba, Siapkan 3M!

12 August 2023
Next Post
Mengenal Tujuh Penulis Muda Perempuan Bali

Mengenal Tujuh Penulis Muda Perempuan Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

14 April 2026
Marak Pembakaran Sampah Terbuka, Risiko Kesehatan Menanti

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Kemandirian Energi Nelayan di Tengah Krisis Minyak Global

Kemandirian Energi Nelayan di Tengah Krisis Minyak Global

13 April 2026
Kontradiksi Kesadaran Lingkungan di Tengah Ketaatan Spiritual

Kontradiksi Kesadaran Lingkungan di Tengah Ketaatan Spiritual

12 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia