• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, April 27, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Makna Hari Raya Galungan yang Hilang

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
24 November 2025
in Berita Utama, Kabar Baru
0
0
Ornamen penjor yang masih terbuat dari busung

Promo diskon buah menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan membawa saya mendatangi salah satu supermarket di Bali. Betapa terkejutnya melihat supermarket yang ramai di beberapa titik. Pembeli yang kebanyakan perempuan tampak membawa plastik putih sembari melihat buah yang ditumpuk. Apel fuji, jeruk tangold, pear, hingga anggur shine muscat menjadi incaran. Sementara, buah manggis, buah naga, dan buah lainnya sangat jarang dilirik. Mayoritas pembeli mendorong troli berisi bungkusan buah-buah impor.

Sebelum Hari Raya Galungan, masyarakat berbondong-bondong membeli isi dan bahan untuk banten, termasuk buah. Sore itu (17/11) ketika Penyajan Galungan, Pasar Cokroaminoto sesak oleh orang-orang yang berebut buah. Buah-buah yang dijual di Pasar Cokroaminoto tak jauh beda dengan yang saya lihat di supermarket sebelumnya. Apel fuji, jeruk tangold, pear, anggur, hingga ada apel strawberry yang dibungkus rapi dengan plastik.

Salah satu pedagang di pasar menawarkan anggur yang digemari pembeli lain. Dibandingkan kelengkeng yang termasuk buah lokal, stok anggur lebih banyak. Katanya, dia tidak berani menjual banyak kelengkeng. Melirik ke pedagang sebelah ada berbagai jenis jeruk, dari jeruk keprok hingga jeruk australia. Harga jeruk australia tersebut ternyata hampir tiga kali lipat dari jeruk keprok khas Bali.

Fenomena ini bukan hal baru lagi. Buah impor yang datang dari negara Amerika hingga Tiongkok sudah lama digemari di Bali, terutama untuk isi banten upacara. Pada tahun 2014, Antara News membahas fenomena ini dari aspek regulasi.

Perlindungan terhadap buah lokal di Bali dilakukan sejak tahun 2013 dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2013 tentang Perlindungan Buah Lokal. Secara garis besar Perda tersebut mengatur tentang upaya yang harus dilakukan gubernur dalam melindungi buah lokal di Bali, beberapa di antaranya pengembangan sumber daya manusia (SDM), budidaya sumber daya alam (SDA), hingga pengaturan kawasan. Namun, tampaknya peralihan konsumsi masyarakat ke buah impor tak terelakkan.

Buah lokal untuk hari raya

Siang hari ketika Penyajan Galungan, Putri Adnyaningsih bersama ayahnya sedang mengambil buah pisang dari pohonnya. Pohon pisang tersebut berada di belakang rumahnya. Tak hanya pisang, Putri juga mengambil mangga yang sudah matang di pohon mangga belakang rumahnya. Pisang dan mangga hasil kebunnya ia gunakan untuk isi banten Galungan.

Putri tinggal di Ungasan, daerah bukit kapur yang dikenal gersang. Meski gersang, Putri dan keluarga banyak menanam pohon di belakang rumah. Area rumah yang kosong diisi tanah agar pohon dan bunga dapat tumbuh. Hasil dari pohon itulah yang digunakan untuk isi banten.

Sudah sejak dulu mangga dan pisang yang ia tanam sendiri digunakan sebagai isi banten. Selain itu, ia juga mengambil bahan-bahan untuk membuat penjor dari pohon kelapa di belakang rumahnya. “Kalau penjor itu kayak daun plawa itu masih ada, kita tinggal ngalap (metik). Terus beberapa juga kayak kelapa kadang kita nanam juga di sini,” ujar Putri.

Lain halnya dengan Putri yang menanam sendiri, Sri Junantari memilih membeli buah untuk sarana upacara. Meski begitu, Sri konsisten menggunakan buah-buah lokal setiap upacara agama, termasuk saat Galungan. “Tergantung yang lagi musim aja, buah apa yang lagi musim yang itu yang dihaturkan. Terus buah apa yang emang disukai itu yang dihaturkan biar nggak jadi mubazir,” kata Sri.

Sri menyebut banyak kelebihan buah lokal dibandingkan buah impor, mulai dari ukuran hingga harga. Seperti harga jeruk di Pasar Cokroaminoto, Sri mengakui harga buah lokal jauh lebih terjangkau dibandingkan buah impor. Selain itu, buah lokal juga lebih awet dibandingkan buah impor. “Kalau bikin banten banyak ya boncos kalau misalnya semua full pakai impor,” ujar Sri.

Pergeseran makna penjor

Ada yang menarik dari kebiasaan keluarga Sri. Meski tinggal di Denpasar, Sri masih mengikuti bentuk penjor daerah asalnya, yaitu Desa Ulakan, Kabupaten Karangasem. Ia menunjukkan sebuah video penjor yang dibuat oleh keluarganya. Seluruh bahan penjor menggunakan busung, bukan busung ibung atau ental. Hanya saja hiasannya menggunakan sedikit busung ibung berwarna merah untuk mempercantik. “Kami emang suka aja gitu menghaturkan sesuatu yang segar,” kata Sri. Maka dari itu, penjornya baru dibuat di hari Penampahan Galungan, satu hari sebelum Galungan.

Tak seperti penjor di Denpasar pada umumnya, penjor khas Desa Ulakan berisi berbagai macam gantungan, mulai dari sampian, nanas, jagung, kelapa, ubi, dan tumpeng mesuled. Menurut Sri, penjor dari hasil bumi menjadi komitmen manusia menanam kebutuhan manusia. Misalnya, menanam pohon kelapa untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk sarana upacara. “Kalau sekarang kan kebanyakan impor dari luar Bali, nak Balinya udah lupa esensinya,” ungkap Sri.

Galungan dirayakan setiap 210 hari sekali menggunakan perhitungan kalender Bali. Galungan dikenal sebagai hari kemenangan dharma (kebajikan) melawan adharma (kejahatan). Ada yang khas tiap Galungan di Bali, yaitu depan rumah orang-orang diisi janur melengkung yang disebut penjor.

Jurnal Kontestasi Penjor Galungan – Kuningan di Bali Visualisasi Doa Petisi secara Demonstratif untuk Kemakmuran pada Era Masyarakat Tontonan menjelaskan bentuk penjor yang melengkung merupakan simbol Naga Anantabhoga. Penjor bentuknya memanjang, bagian atas lengkungannya menyerupai ekor naga, dan kepalanya masuk ke dalam tanah. Penjor dihiasi janur (ambu) atau daun kelapa muda (busung) dari bawah sampai ke atas, disebut bakang-bakang.

Hiasan pada penjor bukan hanya sebagai aksesoris. Kelapa sebagai tanaman serbaguna memiliki makna kehidupan manusia yang ideal adalah multiguna. Pisang sebagai tanaman tidak mengenal musik memiliki makna rezeki manusia tidak terputus. Tebu sebagai penanda kehidupan yang manis berarti berbahagia. Padi dan umbi-umbian dimaknai bahan makan pokok melambangkan Dewi Sri sebagai sumber kehidupan dan kemakmuran bagi manusia. Ada juga jajan gina sebagai harapan bahwa hidup harus memiliki ge-gina-an atau mata pencarian. Penjor juga dililit dengan kain berwarna putih, kuning, dan hitam yang melambangkan dewa-dewa, yaitu Siwa, Mahadewa, dan Wisnu.

Seiring berjalannya waktu, penjor mengalami banyak perubahan. Penjor yang awalnya hanya diisi oleh hasil bumi, kini dilengkapi banyak aksesoris. Jurnal Kontestasi Penjor Galungan – Kuningan di Bali Visualisasi Doa Petisi secara Demonstratif untuk Kemakmuran pada Era Masyarakat Tontonan menyebut penjor yang tingginya menjulang dan diisi banyak aksesoris sebagai penjor lebay. Penjor lebay ini merupakan buah dari adanya masyarakat konsumsi. Masyarakat konsumsi cenderung menilai kesejahteraan dengan mengacu kepada barang konsumsi yang didapat lewat sistem ekonomi pasar secara instan. Jurnal ini menyimpulkan bahwa penjor lebay digunakan sebagai penanda status sosial seseorang karena semakin mewah penjornya, semakin banyak pula biaya yang dikeluarkan.

Perubahan makna Galungan

Sri dan Putri sama-sama menyadari banyak perubahan yang terjadi dalam menyambut Galungan dari tahun ke tahun. Bukan hanya perubahan bentuk penjor dan maraknya penggunaan buah impor, tetapi juga pergeseran makna Galungan.

Putri menjelaskan bagaimana ia melihat orang-orang di sekitarnya selalu mengeluhkan datangnya Galungan. “Mih Galungan ube paek, Sugihan ube paek (Aduh, Galungan sudah dekat, Sugihan sudah dekat),” kata Putri menirukan keluhan yang kerap ia dengar. Ketika bertanya pada orang yang lebih tua, Putri mengetahui bahwa di zaman dulu orang-orang menyambut Galungan dengan sukacita.

“Menyambut hari raya itu pada dasarnya adalah bagaimana kita bisa mencoba terhubung dengan alam semesta,” kata Putri memaknai Galungan. Banten sebagai sarana upacara seharusnya berasal dari hasil bumi yang ada di sekitar kita. Sebagaimana disebutkan dalam lontar Yajna Prakrti bahwa banten memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sakral, yaitu Sahananing Bebanten Pinaka Raganta Tuwi, Pinaka Warna Rupaning Ida Bhattara, Pinaka anda Bhuvana. Artinya banten sebagai perwujudan diri sebagai manusia, banten sebagai manifestasi Tuhan, dan banten sebagai refleksi dari wujud alam semesta.

Dilansir dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Pinaka anda Bhuvana atau banten sebagai refleksi dari wujud alam semesta mengandung tuntutan agar manusia mencintai alam semesta beserta isinya. Maka dari itu, banten seharusnya dibuat dengan seluruh isi alam semesta sebagai perwujudan alam.

Bahan-bahan banten yang seharusnya diambil dari apa yang ada di sekitar manusia berubah menjadi kebutuhan ekonomi. Pasalnya, masyarakat, terutama yang tinggal di daerah urban, tak lagi menanam buah, bunga, maupun pohon kelapa. Bahan-bahan banten pun kerap didatangkan dari luar, seperti buah impor maupun busung ibung. Akhirnya, timbul rasa berat hati menyambut Galungan.

Kini, Galungan diselimuti kepraktisan hanya untuk menjalankan tradisi dari tahun ke tahun. Namun, esensi Galungan dari tahun ke tahun tak diwariskan seiring dengan berjalannya tradisi.

Tags: buah imporGalunganGalungan dan Kuningangalungan di Balimakna galunganpenjor
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Merogoh Isi Tas (dan hati) di Hari Kemenangan

Merogoh Isi Tas (dan hati) di Hari Kemenangan

21 November 2025
Ketika Penjor Bertemu Kabel Listrik: Menimbang Tradisi, Modernitas, dan Moralitas

Ketika Penjor Bertemu Kabel Listrik: Menimbang Tradisi, Modernitas, dan Moralitas

18 November 2025
Ketika Penjor Makin Banyak Material Anorganik, Biayanya pun Makin Melejit

Ketika Penjor Makin Banyak Material Anorganik, Biayanya pun Makin Melejit

22 April 2025
Musim Panen Pedagang Bunga Canang dan Bungkak Kelapa saat Galungan

Musim Panen Pedagang Bunga Canang dan Bungkak Kelapa saat Galungan

25 September 2024
Parade Ngelawang Galungan

Parade Ngelawang Galungan

23 October 2013
Merayakan Kemenangan dalam Kekalahan

Merayakan Kemenangan dalam Kekalahan

8 July 2011
Next Post
KB Krama Bali Bebankan Perempuan Secara Fisik dan Mental

Perempuan Bali yang Tak Pernah Berhenti

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

26 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
Bakar Sampah Organik: Solusi Praktis atau Ancaman Kesehatan?

Bakar Sampah Organik: Solusi Praktis atau Ancaman Kesehatan?

24 April 2026
Kenapa Isu Publik Bisa (atau Tidak Bisa) Masuk FYP TikTok?

Kenapa Isu Publik Bisa (atau Tidak Bisa) Masuk FYP TikTok?

23 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia