
Pukul 02:00 WITA, dini hari, ketika lampu-lampu kamar sudah padam, alarm dari handphone berbunyi. Made bangun, menahan diri untuk tidak memejamkan mata beberapa menit. Tubuhnya terasa berat bangun dari kasur. Meski begitu, Made tetap memaksakan diri untuk bangun.
Guyuran air dingin di wajah membuat matanya tersadar dari kantuk. Ia bergegas mengambil tas dan kunci motor. Tak lupa jaket berlapis ia kenakan, menghadapi dinginnya udara pagi buta.
Pelan-pelan ia berjalan melewati kamar agar tak membangunkan anak-anaknya yang masih tertidur lelap atau malah masih berusaha memejamkan mata. Sesekali ketika anak-anaknya masih begadang, mereka akan meminta ikut. Namun, Made kerap menolak. “Benjep kiap nyen (nanti kamu ngantuk),” kata Made.
Karung berisi bunga pacar ia naikkan ke motor. Kadang motornya dipenuhi karung bunga hingga bertumpuk-tumpuk. Bunga-bunga itu titipan dari para tetangga yang bertani bunga pacar. Dititip untuk dijual di pasar.
Motor pun melaju pelan menuju utara. Meski menggunakan jaket tebal, kaos kaki, dan sarung tangan, rasa dingin tetap tak tertahankan. Jalanan lengang, tak ada kendaraan yang melintas. Perasaan horor yang menghantui bukan karena desas-desus makhluk halus, tapi karena motor mogok. Tak heran tiap hari ia meminta anak-anaknya memastikan bensin motor sudah terisi penuh, oli sudah diganti berkala, dan motor sudah diservis.
Lengangnya jalanan membuat waktu tempuh ke pasar hanya 15 menit. Pasar Mambal dini hari itu sudah ramai. Jalanan penuh sesak. Motor, mobil, dan orang-orang saling berdesakan. Di Pasar Mambal, setidaknya ada puluhan perempuan seperti Made, bangun dini hari menjajakan dagangannya. Ada juga yang membeli barang-barang untuk dijual.
Made langsung menaruh karung bunga di bawah, menawarkan pada langganan yang lewat. Made bertanya harga bunga pacar kepada beberapa pedagang dan pembeli untuk memutuskan berapa layaknya bunga itu dijual. Entah siapa yang menentukan harga bunga pacar pertama kali, tapi kabar itu disebarkan dari mulut ke mulut. Pemandangan pembeli dan penjual bertengkar karena harga sudah biasa, bukan hal baru.
Karung bunga sudah kosong, Made pun berpindah tempat. Kini, ia berkeliling menemui pedagang langganannya. Made merupakan ibu rumah tangga yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang banten dan canang. Setiap hari ia pergi dini hari ke Pasar Mambal untuk membeli barang dagangan, kadang ia juga membeli bunga, ceper, buah, kelapa, dan barang lainnya.
Kira-kira selama satu jam ia berdesakan dengan orang-orang yang pekerjaannya kurang lebih sama dengannya. Pergi dengan motor penuh barang, pulang pun motornya masih penuh dengan barang.
Tiba di rumah, Made akan tidur beberapa jam lagi, sekitar 2-3 jam sebelum ia membuka warung. Dalam sehari, waktu tidurnya tak lebih dari 7 jam. Terkadang jika pesanan banten menumpuk, ia hanya bisa tidur 3-5 jam.
Made merupakan cerminan perempuan Bali, sosok tangguh dan pekerja keras. Sebelum berjualan, Made memang tekun terkait urusan sarana upacara. Kini, kemampuannya ia jadikan sebagai pemenuhan kebutuhan ekonomi karena suaminya tak lagi bekerja.
Sejak dulu, perempuan Bali dikenal lebih pekerja keras dibanding laki-laki. Perempuan Bali, terutama yang sudah berumah tangga, lebih memilih bekerja di sektor informal. Pasalnya, waktu kerja lebih fleksibel, sehingga bisa membagi waktu antara pekerjaan, mengurus rumah, dan kehidupan sosial masyarakat.
Dalam budaya Bali, perempuan tak hanya menjalankan peran ganda, tapi peran berlapis. Perempuan dituntut bisa melakukan segalanya dalam satu waktu, mengurus rumah, menghasilkan uang, menyiapkan upacara, menghadiri pertemuan banjar, dan memenuhi urusan adat yang tak ada habisnya.
Bekerja di sektor informal menjadi pilihan. Tak jarang juga perempuan Bali bekerja di proyek pembangunan, dari mengecat hingga ikut mengangkat barang berat. Kebutuhan masyarakat terhadap sarana upacara juga memberikan peluang untuk perempuan Bali mencari pundi-pundi kehidupan. Banyak perempuan yang berdagang, menjual canang, menjual banten, dan bertani bunga. Pekerjaan yang tampaknya fleksibel, tapi berat dijalankan. Pekerjaan yang membuat mereka terus bergerak dan jarang beristirahat.









