• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Duta Budaya atau Duta Kapitalisme? Mengkritik Beauty Pageant di Bali di Tengah Overtourism

Tabitha Angelica by Tabitha Angelica
27 April 2025
in Kabar Baru, Opini
0
0
original artwork belongs to Juliana Naufel

Bali dikenal sebagai pulau surga—alamnya indah, budayanya kaya, dan masyarakatnya ramah. Tapi di balik citra eksotis yang terus dijual ke dunia, ada satu fenomena yang jarang kita bahas: beauty pageant atau kontes kecantikan. Mulai dari Teruna-Teruni, Jegeg-Bagus, Putra-Putri, Miss-Mister, dan berbagai ajang lainnya. Katanya sih, ini bukan sekadar kompetisi kecantikan, tapi juga ajang pelestarian budaya. Tapi kalau Bali sendiri sudah kewalahan dengan overtourism, siapa sebenarnya yang paling diuntungkan? Apakah perempuan Bali yang katanya menjadi representasi keindahan dan budaya, atau justru kepentingan kapitalisme dan investor asing?

Beauty Pageant di Bali: Pelestarian Budaya atau Branding Pariwisata?

“Brain, Beauty, Behaviour” adalah tagline andalan beauty pageant. Bukan sekadar pamer wajah cantik dan tubuh ideal, tapi juga dikaitkan dengan pelestarian budaya. Peserta harus mengenakan busana adat, menghafal sejarah Bali, dan menjadi ‘duta budaya’ dengan memperkenalkan tradisi lokal ke dunia.

Coba lihat lebih dalam. Banyak beauty pageant di Bali disponsori oleh hotel, resort, dan perusahaan besar di industri pariwisata. Yang mereka cari bukan sekadar perempuan berbakat, tapi wajah yang menjual. Ini bukan cuma soal melestarikan budaya, tapi juga strategi branding untuk menarik wisatawan dan investor. Bisa ditebak, yang lebih diuntungkan tentu bukan perempuan Bali, tapi pihak-pihak yang punya kepentingan bisnis di sini.

Beauty Pageant: Membatasi Ruang Kritis Perempuan

Beauty pageant sering diklaim sebagai ajang yang memberdayakan perempuan, tapi benarkah demikian? Kenyataannya, beauty pageant justru membatasi pemikiran kritis perempuan—bukan hanya dalam mengkritisi kebijakan beauty pageant itu sendiri, tapi juga kebijakan pemerintah yang berdampak pada mereka.

Dalam sistem ini, perempuan “diajak” untuk percaya diri, tapi hanya dalam batas-batas yang sudah ditentukan. Mereka harus anggun, pintar, dan berwawasan luas—tapi tidak boleh terlalu kritis. Perempuan yang berbicara terlalu tajam, mengkritik sistem yang menindas, atau mempertanyakan eksploitasi pariwisata, justru dianggap “tidak pantas” mewakili daerahnya.

“Sejauh ini, yang terpilih sebagai pemenang biasanya orang yang sejak seleksi terlihat kalem, tidak banyak komentar. Kalau kelihatan aktif memberikan pendapat justru sering diposisikan tidak akan menjadi finalis,” ungkap salah satu beauty pageant.

Lalu, apa artinya tagline “Brain, Beauty, Behaviour” kalau ajang ini masih menilai perempuan hanya dari visual? Seberapa cerdas atau berbakat pun seorang perempuan, kalau dia tidak memenuhi standar kecantikan yang ditentukan juri, peluangnya kecil untuk menang. Ironisnya, dibanyak ajang, peserta yang terlalu vokal atau berani mempertanyakan sistem justru akan tersingkir lebih dulu.

Perempuan punya banyak kesempatan untuk bisa tampil percaya diri, tidak terbatas pada ajang kecantikan yang justru membatasi mereka. Kepercayaan diri bukan hanya soal berdiri di atas panggung dengan mahkota, tapi juga soal berani menyuarakan pendapat tanpa takut dianggap “tidak feminin” atau “tidak pantas.”

Overtourism dan Komodifikasi Perempuan Bali

Siapa sih yang gak tau kalau Bali lagi ada di titik overtourism. Jalanan makin padat, lingkungan makin rusak, harga tanah dan biaya hidup makin gila karena investasi asing. Tapi di tengah situasi ini, beauty pageant tetap marak, dengan perempuan Bali didandani sebagai ikon keindahan pulau ini. Tapi pertanyaannya, dapat apa mereka?

Yang terjadi malah perempuan Bali dikomodifikasi. Mereka harus tampil ‘sempurna’ dalam balutan budaya Bali dengan memenuhi standar kecantikan global: kulit cerah, tubuh langsing, dan harus bisa bahasa Inggris dengan lancar. Ini semakin memperkuat narasi bahwa Bali harus tetap eksotis dan sesuai selera pasar, bukan berdasarkan identitas asli masyarakatnya.

Beauty Pageant dan Eksklusivitas Kecantikan

Nggak semua perempuan Bali bisa masuk ke standar kecantikan yang ditetapkan beauty pageant. Perempuan berkulit lebih gelap, bertubuh berisi, atau dengan disabilitas sering kali tersingkir. Alih-alih menjadi ajang inklusif yang mewakili keberagaman perempuan Bali, beauty pageant justru semakin mempersempit definisi kecantikan.

Selain itu, ekspektasi terhadap perempuan yang ikut ajang ini juga berat. Mereka harus tampil sempurna, menjaga citra, dan nggak boleh berbuat kesalahan sedikit pun. Beban ini nggak cuma secara sosial, tapi juga mental. Perempuan Bali sudah cukup banyak terikat dengan peraturan adat yang membatasi kebebasan mereka, ditambah dengan beauty pageant yang menuntut mereka menjadi citra ideal yang diinginkan industri pariwisata.

Feminisme dan Masa Depan Beauty Pageant di Bali

Dari perspektif feminisme, beauty pageant seperti ini patut dikritisi, bukan hanya di Bali, tapi secara global. Kalau memang tujuannya untuk memberdayakan perempuan, harus ada perubahan besar dalam sistemnya: hapus standar kecantikan yang diskriminatif. Buka kesempatan untuk semua perempuan, tanpa memandang warna kulit atau bentuk tubuh. Jadikan ajang ini platform yang benar-benar memberi manfaat bagi perempuan, bukan cuma alat pemasaran industri pariwisata.

Atau malah lebih baik beauty pageant seperti ini ditiadakan? Karena pada akhirnya, kontes kecantikan hanya mempersempit definisi perempuan ideal. Peserta tidak punya banyak ruang gerak untuk berpikir kritis, apalagi mengkritik, karena mereka harus menjaga nama baik daerah dan tetap ‘menjual’ Bali ke mata dunia.

Perempuan Bali bukan sekadar ‘wajah’ dari pulau ini. Mereka adalah individu dengan hak, suara, dan kebebasan menentukan bagaimana mereka ingin dipandang. Selama beauty pageant masih menjadi alat eksploitasi pariwisata, kita perlu terus mempertanyakan: Ajang ini benar-benar untuk perempuan, atau hanya untuk kepentingan pasar global? Bukan berarti perempuan yang ikut beauty pageant ini salah. Banyak dari mereka yang benar-benar ingin belajar, berkembang, dan memanfaatkan ajang ini sebagai peluang. Tapi yang perlu kita pertanyakan adalah sistemnya—apakah beauty pageant benar-benar memberikan kebebasan bagi perempuan, atau justru membatasi mereka dalam kerangka yang sudah ditentukan?

tokohpmurah.com vanujacoffee.com sangkarbet sangkarbet chrishondrosfilm.com sangkarbet kampungbet
Tags: duta budayaduta pariwisatakritik beauty pageantOpiniperempuan bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Tabitha Angelica

Tabitha Angelica

Suka banyak hal~

Related Posts

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

17 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Bus Sekolah Gratis di Desa Tembok Barter Sampah Plastik

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

23 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Next Post

Inilah Sarana Banten yang Mencemari Lingkungan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

17 January 2026
Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia