• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, September 11, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Pikiran yang Didisiplinkan

Renaldi Bayu by Renaldi Bayu
25 April 2026
in Kabar Baru, Opini
0
0
Dalam karya-karya yang disuguhkan oleh WD pada pameran kali ini banyak memberi kritik pada “benda” yang seharusnya menjadi alat untuk membantu manusia justru menjadi sesuatu yang memperbudak manusia. Dalam beberapa situasi sering kali nilai fungsi pada sebuah benda bukan menjadi hal yang diperhatikan, namun ada nilai lebih yang seolah muncul ketika memiliki benda tersebut, seperti menaikan kepercayaan diri, status sosial, hingga keinginan untuk terus mengikuti tren. Foto: Teja Artawan.
Saya tidak pernah muak belajar. Masalah muncul ketika cara berpikir tidak punya tempat. Saya memahami negara, ketimpangan, dan struktur sosial. Setiap saya membicarakannya, respons yang muncul justru penarikan. Saya sadar yang dibatasi bukan hanya ucapan, melainkan cara berpikir itu sendiri…

Lingkungan saya tidak pernah secara eksplisit melarang intelektualitas. Tapi tidak juga memberi legitimasi saya untuk benar-benar berpikir. Saya juga boleh sekolah, membaca, dan tau banyak hal, selama semua itu berhenti di kepala. Masalah muncul ketika pengetahuan itu saya bawa ke percakapan sehari-hari. Responsnya dianggap berlebihan, sok pintar, omong besar, bahkan tidak relevan. Larangan tidak pernah diucapkan, tetapi batas tetap bekerja.

Dalam kondisi ini, cara berpikir praktis dan kedangkalan menjadi ukuran diam-diam disepakati. Percakapan semua diarahkan pada pekerjaan, penghasilan, dan kebutuhan sehari-hari yang langsung terasa dampaknya. Hal-hal yang tidak memberikan hasil instan dianggap membuang waktu dan energi. Bahkan ketika mencoba mengaitkan pengalaman sehari-hari dengan sesuatu yang lebih dalam, pembicaraan keseringan berhenti di tengah atau dialihkan ke topik yang lebih ringan. Tidak ada yang membantah, tapi juga tidak ada intensi untuk memperdalam. Itu batas-batas kasatmata tentang apa yang layak dipikirkan berkerja.

Situasi sialan ini pelan-pelan membentuk pendisiplinan yang tidak kelihatan, tapi terasa nyata. Sebuah bentuk governmentality dalam arti yang paling konkret! Tidak ada larangan langsung, tidak ada debat terbuka. Yang muncul justru sikap cuek, diam, jawaban singkat, absurd, atau obrolan yang tiba-tiba dialihkan. Karena semua terjadi secara halus, mekanisme ini malah jadi sangat efektif.

Saya tidak pernah merasa ditekan secara terang-terangan. Tapi ada kesadaran yang tumbuh sendiri. Saya mulai tahu kapan harus berhenti, kapan sebaiknya tidak dilanjutkan. Batas itu tidak pernah dijelaskan, tidak pernah disepakati secara terbuka, tapi selalu terasa di setiap interaksi. Lama-lama, saya tidak perlu lagi diingatkan. Saya sudah menyesuaikan diri bahkan sebelum batas itu benar-benar disentuh.

Saya belajar bukan untuk jadi pintar sendirian! Saya belajar karena ingin mengubah sesuatu, setidaknya memahami apa yang sebenarnya terjadi di sekitar saya. Buat saya berpikir itu harus punya arah. Pertanyaannya sederhana yang sering terlintas. Untuk apa belajar kalau tidak dipakai untuk melihat dan mengubah realitas? Kelamnya pertanyaan seperti itu tidak punya tempat di lingkungan yang lebih memilih stabilitas daripada refleksi.

Kondisi tersebut diperkuat oleh konteks sosial yang lebih luas. Apalagi di Bali yang sering dibayangkan tenang dan harmonis, ada lapisan sejarah yang membuat banyak hal berhenti di batas tertentu. Pengalaman pahit seperti Pembantaian tahun 65 tidak hanya meninggalkan trauma, masih membentuk cara orang bersikap terhadap percakapan yang dianggap berpotensi mengganggu keseimbangan. 60 tahun yang telah berlalu tidak sepenuhnya menghapus jejak tersebut. Jejak itu tetap hadir sebagai referensi diam dalam praktik sosial.

Pengalaman berulang kemudian mengubah disposisi saya. Saya mulai menahan diri sebelum berbicara, membaca situasi, menimbang apakah perlu jujur sepenuhnya atau cukup menyesuaikan. Bukan karena saya tidak punya pikiran, tapi karena saya sudah tahu ujungnya. Percuma! Cara bicara disederhanakan, kompleksitas dipangkas, bahkan kadang cara berpikir ikut dijajah, supaya tidak terlihat terlalu berbeda. Tidak ada paksaan langsung, tapi saya tetap bergerak dalam pola yang sama. Sadar pendisiplinan sudah bekerja dari dalam diri sendiri.

Lingkungan ini juga membentuk kondisi yang membuat orang tidak merasa perlu refleksi lebih jauh. Hidup dianggap cukup dipahami dengan bekerja, memenuhi kebutuhan, dan menghindari hal-hal yang rumit. Semua berjalan berulang tanpa banyak dipertanyakan. Upaya membawa percakapan ke arah yang lebih dalam, lebih luas, jarang berujung pada dialog terbuka. Percakapan digeser, dipersempit, atau dibiarkan berhenti begitu saja.

Tentu saya pernah mencoba mengikuti pola itu sepenuhnya. Saya berhenti membawa percakapan berat dan memilih bicara sesuai arus. Interaksi jadi lebih mudah, tidak ada lagi jarak yang terasa. Namun di balik itu, ada kehilangan yang tidak bisa saya abaikan. Saya tidak lagi mengekspresikan cara berpikir yang sudah saya bangun. Rasanya seperti mencemooh pikiran sendiri…

Saat ini, pendekatan yang saya ambil lebih selektif. Tidak semua ruang digunakan untuk menyampaikan seluruh spektrum pemikiran. Saya memilih konteks dan lawan bicara yang memungkinkan percakapan berkembang. Saya juga menerima bahwa tidak semua orang perlu memahami cara berpikir tersebut. Penyesuaian ini bukan suatu bentuk kemunduran. Strategi untuk menjaga keberlanjutan proses berpikir tanpa terus berbenturan yang tidak produktif.

Terakhir saya masih hidup di lingkungan yang sama. Batas itu masih ada. Tidak semua orang akan mengerti cara saya berpikir, dan tidak semua lingkungan akan menerima itu. Tapi satu hal tidak berubah. Saya tidak akan mengecilkan pikiran saya hanya supaya terasa cocok!

sangkarbet sangkarbet sangkarbet
Tags: Opinipikiran kritis
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Renaldi Bayu

Renaldi Bayu

Renaldi Bayu is a student at Udayana University specializing in critical social sciences, with a focus on sustainability and contemporary social phenomena, combining empirical analysis and philosophical reflection in the study of modern society.

Related Posts

Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Gotong Atas, Royong Bawah

8 September 2026
Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

6 September 2026
Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Angka Perceraian bukan untuk Diturunkan, Apa yang Ada di Baliknya?

17 August 2026
Menguji Akses Publik di KEK Kura Kura Bali Hasil Reklamasi Serangan

Menilai Distribusi Ekonomi Mall Baru

10 August 2026
Merayakan Kesenian Tradisi Bali

Internalisasi Nilai “Eda Ngaden Awak Bisa”

30 July 2026
Next Post
Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Proyek Gas dalam Mimpi Bali Mandiri Energi

Proyek Gas dalam Mimpi Bali Mandiri Energi

11 September 2026
Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

11 September 2026
Megaproyek Bali Barat dan Utara: Beberapa Sempat Lenyap, Lalu Muncul Lagi

Megaproyek Bali Barat dan Utara: Beberapa Sempat Lenyap, Lalu Muncul Lagi

10 September 2026
Perkuat Kapasitas Individu untuk Tangguh Bencana

Perkuat Kapasitas Individu untuk Tangguh Bencana

10 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia