
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung telah beroperasi puluhan tahun, sejak 1984. Kini, TPA Suwung beroperasi secara terbatas dengan menghentikan praktik pembuangan terbuka (open dumping).
Operasional open dumping yang selama ini dijalankan bertahun-tahun ternyata menyimpan potensi emisi yang besar. Ini diungkapkan dalam Methane Emissions Reduction Initiative for Transparency (MERIT) Conference 2026 bertajuk “From Measurement to Mitigation: Membangun Sistem Pengurangan Metana dari Sektor Sampah yang diselenggarakan oleh Dietplastik Indonesia, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, dan Yayasan Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) Bandung.
Konferensi yang dilaksanakan di Jakarta pada Selasa, 22 September 2026 ini merupakan peluncuran hasil studi proyek MERIT fase kedua. Proyek ini telah berjalan setidaknya satu tahun di tiga wilayah, yaitu TPA Bantargebang di Jakarta, TPA Suwung di Bali, dan TPA Sarimukti di Bandung.
Metana merupakan gas yang berkaitan erat dengan perubahan iklim. Gas rumah kaca ini sangat kuat memerangkap panas di atmosfer bumi. Metana dapat memerangkap panas puluhan kali lebih kuat dibanding karbondioksida. Imbasnya, pemanasan global terjadi secara cepat.
TPA menjadi salah satu penghasil gas metana. Pembusukan sampah organik secara anaerobik di TPA dapat melepaskan gas metana ke udara. Artinya, ketika sampah organik seperti sisa makanan dan sampah kebun terurai dalam kondisi minim oksigen, maka prosesnya menghasilkan gas metana.

Dari data satelit Waste Map, emisi metana terindikasi di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.
“Estimasi dari Waste Map se-Indonesia tuh bisa sampai 177.000 ton per hari jumlah gas metana yang dihasilkan,” kata Zakiyus Shadicky, Project Lead MERIT.
Didin Agustian Permadi, tenaga ahli MERIT menyampaikan, pengukuran, pelaporan, dan verifikasi keberlanjutan perlu dilakukan untuk menghitung potensi emisi metana. MERIT menggunakan sensor Closed Flux Chamber (CFC) di tiga wilayah proyek untuk mengukur emisi metana. Salah satu yang dilakukan adalah mengukur perbedaan emisi yang timbul pada musim kemarau dan musim hujan.
Di TPA Suwung, zona aktif B dan C terukur menghasilkan emisi metana tinggi. Hasil pengukuran menunjukkan, fluks metana musim kemarau atau ketika el nino (2026) meningkat lebih dari 20 kali lipat dibanding musim hujan (2024). Fluks metana yang tinggi pada musim kemarau berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di TPA.
Secara sederhana, fluks metana menunjukkan seberapa banyak dan seberapa cepat gas metana mengalir keluar atau diserap oleh suatu lingkungan. Hasil pengukuran menunjukkan, fluks metana di TPA Suwung lebih tinggi dari TPA Sarimukti. Penyebab utamanya adalah faktor akumulasi lama waktu operasional TPA.
“Suwung itu sebelum 1990 sudah mulai beroperasi dan dibuka. Kemudian Sarimukti baru 2000 sekian. Karena emisi gas metana ini adalah akumulatif dari sampah yang dikirim ke TPA dan tentunya masih ada walaupun sudah terjadi degradasi, tapi masih ada kadar organik di TPA tersebut dan itu terakumulasi dari waktu ke waktu,” jelas Didin.
Di beberapa zona TPA Suwung telah dilakukan penutupan dengan tanah. Namun, Didin bilang, penutupan dengan tanah tidak menjamin emisi metana berhenti. Justru penutupan membuat kondisi semakin anaerobik atau minim oksigen. Porsi sampah organik yang masih ada di bawah tanah akan terus terdegradasi dan menghasilkan gas metana.
Didin memaparkan hasil pengukuran emisi metana di zona tertutup tanah sama tingginya dengan zona yang tidak tertutup tanah, yaitu 28,7 g/jam/m2. Daripada menutup zona tidak aktif dengan tanah, Didin merekomendasikan teknologi biocover. Metode ini merupakan pengelolaan lingkungan berupa lapisan penutup biologis aktif yang dipasang di atas tumpukan sampah TPA untuk mereduksi metana sebelum lepas ke atmosfer. Solusi ini dinilai lebih efektif dibanding penutupan tanah biasa yang diterapkan di TPA Suwung.
Konferensi MERIT hari itu juga membahas prototipe sistem data yang dikembangkan untuk pengelolaan sampah, terutama pengukuran emisi. Pasalnya, Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang selama ini digunakan dinilai belum mampu menjawab kesenjangan informasi pengelolaan sampah dan pengukuran emisi.
“Dalam proyek MERIT, data pengelolaan sampah yang terdigitalisasi dan verifikasi berjenjang, dapat dicatat secara lebih terstruktur, ditelusuri asalnya, dan dikonsolidasikan, sehingga lebih siap digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan,” ungkap Brandon Tjiandra, tim tenaga ahli MERIT.
Pengurangan emisi metana dapat dilakukan dengan mencegah sampah organik masuk ke TPA. Zakiyus bilang, metana dihasilkan dari penumpukan sampah organik di TPA, sehingga mencegah sampah organik masuk TPA artinya mencegah metana terbentuk. Mengurangi timbulan sampah organik masuk TPA sekitar 20% per tahun setidaknya dapat menurunkan produksi gas metana hingga 70% pada 2030.






