
Rhizoma Indonesia ungkap hasil riset awal potensi dampak sosial-ekonomi, biodiversitas, dan iklim terhadap rencana pembangunan PLTGU di Desa Celukan Bawang. Organisasi yang bergerak dalam bidang riset dan advokasi lingkungan, menggelar kegiatan “Diseminasi Hasil Riset Awal dan Pemutaran Film terkait Rencana Pembangunan Pembangkit Gas Celukan Bawang, Bali” pada Sabtu, 19 September 2026, pukul 12.30 – 18.00 WITA, bertempat di Berbagi Ruang dan Kopi, Jl. Astasura No. 91, Peguyangan Kangin, Denpasar Utara, Bali.
Rencana PLTGU Celukan Bawang (PLTGU Jawa-Bali 6) berkapasitas 450 MW akan dibangun di atas eks-lahan rencana PLTU batubara ekspansi yang batal terealisasi pada 2018 lalu. PT PLTG Celukan Bawang bersama Electric Power Development Co. Ltd (J-Power) telah menandatangani perjanjian pembangunan bersama untuk proyek ini dan studi rona awal oleh konsultan lingkungan telah dilaksanakan pada 17 September – 17 Oktober 2025.
Rhizoma Indonesia menilai penting untuk melakukan penelitian independen mengingat pengalaman masyarakat pada rencana pembangunan PLTU tahap dua pada 2018, dimana partisipasi masyarakat dinilai belum menjadi prioritas dalam proses perencanaannya. Kegiatan ini menjadi ruang publik pertama untuk menyampaikan temuan awal dari penelitian “Penilaian Persepsi Masyarakat dan Analisis Potensi Dampak Rencana Pembangunan PLTGU di Desa Celukan Bawang, Bali”. Riset ini menggunakan asumsi berdasarkan rona awal lingkungan lokasi tapak, PLTU batu bara eksisting dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PLTGU Jawa 1 di Cilamaya, Jawa Barat.

Temuan penelitian ini menunjukan bahwa masyarakat tidak mendapatkan informasi sama sekali terkait rencana proyek, minimnya partisipasi dan keterlibatan publik dalam proses sosialisasi studi rona awal yang dilakukan oleh pihak pengembang. Para nelayan menunjukan kekhawatiran terhadap dampak potensial terhadap lingkungan dan mata pencaharian mereka.
Sementara dampak terhadap bidoversitas, lokasi rencana pembangunan pembangkit gas yang bersebelahan langsung dengan PLTU batu bara eksisting hanya berjarak 7 km dari kawasan konservasi laut di sebelah timur dan 14 km dari kawasan konservasi laut sebelah barat yang telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 122 tahun 2023 tentang Kawasan Konservasi di Perairan wilayah Buleleng. Keberadaan terumbu karang dan mamalia laut lumba-lumba menunjukan kawasan ini memiliki nilai ekologis penting untuk dilindungi.

“Secara keseluruhan data kemunculan lumba-lumba telah memberikan data ilmiah yang memadai. Kawasan ini memiliki nilai ekologis yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan ruang laut,” kata ahli penanggap, I Made Jaya Ratha, dari Cetasi.
Temuan terkait dampak iklim satu titik kebocoran emisi fugitif bisa melepaskan gas metana 112.500 gram per detik pada ,skenario menengah. Hasilnya, hanya dalam 10 menit sekitar 67,5 ton gas metana sudah bisa lolos ke udara. Ini setara dengan berat puluhan ekor gajah, lenyap ke atmosfer dalam hitungan menit.
Acara dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter berjudul “Celukan Bawang: Zona Pengorbanan Energi Bali” garapan sutradara Rai Astrawan. Film ini mengangkat suara dan perspektif warga serta berbagai pemangku kepentingan terkait rencana pembangunan PLTGU di Celukan Bawang, dengan dihadiri perwakilan masyarakat nelayan Celukan Bawang.
Dengan berbagai potensi dampak sosial – ekonomi, biodiversitas dan ancaman perubahan iklim, apakah gas masih menjadi pilihan untuk menuju Bali mandiri energi? Melalui riset ini, kami ingin menyingkap bahwa gas akan membawa Bali menemui jalan buntu menuju mandiri energi dan mempertajam perubahan iklim.






