
Sandrayati, musisi berdarah Filipina-Amerika yang kini bermukim di Islandia, kembali hadir dengan merilis ‘arise*’, babak terakhir dari serangkaian lagu yang menjadi penanda menjelang peluncuran album terbarunya, ‘INHABIT’. Album ini dijadwalkan rilis pada 5 September mendatang di bawah bendera Decca Records. Ini bukan sekadar rilis biasa; ini adalah sebuah pernyataan artistik yang mendalam, sebuah perjalanan konseptual yang telah diungkap secara bertahap melalui ‘gelombang’ rilis sepanjang musim panas.
Setiap ‘gelombang’ yang diluncurkan Sandrayati bukan hanya sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah simbolisasi fase siklus yang berbeda, membangkitkan elemen-elemen unik yang terwujud dalam tiga lagu. Lagu-lagu ini, meskipun berdiri sendiri dengan kekuatan masing-masing, secara kolektif membangun pengalaman utuh dari album ‘INHABIT’. Ini adalah pendekatan yang cerdas, membangun antisipasi sekaligus memberikan gambaran awal tentang kedalaman karya yang akan datang.
Setiap kehidupan berputar dalam siklus. Baik itu rotasi bumi yang stabil, pasang surut air laut, perubahan musim, atau siklus tubuh kita sendiri, pola-pola ini terus berlanjut, berputar tanpa henti. Siklus-siklus inilah yang menginspirasi seniman berdarah Indonesia, Filipina-Amerika, dan berbasis di Islandia, Sandrayati, untuk album keduanya yang luar biasa, INHABIT, yang pada gilirannya menandai babak baru yang menarik dalam perjalanan artistiknya.
Tema-tema dalam INHABIT telah bergejolak dalam diri Sandrayati selama bertahun-tahun. Bagi Sandrayati, momen ini menjadi pembukaan yang menarik untuk menjalin hubungan yang berbeda dengan tubuh dan dengan bumi. Ia menulis lagu pertama yang akan muncul di album ini, “Waken”, satu dekade lalu, di bawah cahaya bulan purnama, yang membawanya pada jalur eksplorasi simbolisme alam, siklus, dan kekuatan transformatif cinta serta kreativitas.
“‘Waken’ benar-benar memberiku arah ke mana aku ingin membawa ini, tetapi sejak itu prosesnya sama sekali tidak linier,” katanya. “Aku membiarkan diri terbawa arus dalam hal siapa yang akan bekerja sama denganku dan bagaimana pendekatan kami.” ujar Sandrayati
Sandrayati mengundang seorang seniman yang ia kagumi, SOHN (Christopher Michael Taylor) — musisi kelahiran Inggris — ke studio rumahnya dan ke Studio Silo di Islandia, sekadar untuk melihat apakah mereka bisa menciptakan sesuatu bersama. Keduanya saling menyukai musik satu sama lain, dan ternyata kolaborasi mereka berjalan sangat cocok. SOHN memahami ritme dan suara yang ingin dijelajahi Sandrayati — ia membantunya membangun dasar yang kokoh, tempat berpijak agar bisa lebih bebas secara kreatif dan eksperimental. Sandrayati merasa sangat bersyukur karena mereka dipertemukan.
Sebelum INHABIT, di tahun 2023 Sandrayati meluncurkan album debutnya bertajuk Safe Ground yang memukau pada tahun 2023, diciptakan selama lockdown di Reykjavik bersama pasangannya, komposer Islandia terkenal Ólafur Arnalds. Pandangan Sandrayati terhadap dunia yang mendalam dibentuk oleh orang tuanya, yang keduanya adalah aktivis iklim dan hak-hak adat, dan terwujud dalam lagu-lagu seperti “Suara Dunia”, yang dibawakan dalam bahasa Indonesia dengan falsetto Sandrayati yang melengking, transparan, dan trill yang indah. Lagu tersebut menghormati masyarakat Mollo di Timor Barat atas kemenangan berani mereka melawan operasi penambangan di sekitar Gunung Mutis, rumah suci bagi leluhur mereka.
“Rekaman album pertama Safe Ground terasa seperti langkah awal untuk membangun ruang aman di tengah segala kekacauan. Kemudian melalui INHABIT, aku merasa akhirnya cukup berani untuk mengeksplorasi dan mengungkapkan perasaanku tentang semua tema itu. Album ini juga jadi sangat personal, karena menyentuh langsung bagaimana semuanya mempengaruhi hidup dan cara pandangku terhadap dunia. Aku jelas terinspirasi oleh perspektif feminin — aku ingin benar-benar merasakannya, menikmatinya, dan membiarkannya menggerakkanku.” jelas Sandrayati.
INHABIT akan dirilis dalam empat “gelombang”, mencerminkan tema siklus tersebut dan mengundang pendengar untuk merenungkan koneksi mereka sendiri dengan ritme setiap lagu. Format rilis ini adalah bagian dari gerakan yang lebih besar—yang menekankan keindahan dan kompleksitas pertumbuhan serta transformasi Sandrayati seiring waktu.

Menikmati rilisan album Sandrayati secara bertahap mendorong pengalaman yang lebih mendalam, memungkinkan pendengar untuk menikmati setiap set lagu sambil menghubungkannya dengan tema-tema menyeluruh. Mengeksplorasi pemulihan hubungan pendengar dengan diri mereka sendiri dan dunia.
Bersamaan dengan lagu ‘arise*’, Sandrayati juga merilis single utama berjudul ‘Give In’ yang dilengkapi dengan video musik yang memukau. Video ini sebagian besar direkam sendiri oleh Sandrayati di Islandia, London, dan Bali. Lewat video ini, kita bisa mengintip dunia tempat ia tumbuh. Pemandangan alam Bali yang subur—tempat ia membangun hubungan yang kuat dengan tanah—menjadi simbol dari fase yang digambarkan oleh ‘arise*’: musim semi, udara segar, dan bulan yang terus membesar. Ini adalah cerita visual yang sangat pribadi, yang membawa penonton lebih dekat ke sumber inspirasi Sandrayati.
Dalam kontras yang kuat, video ini juga menampilkan kondisi ekstrem di rumah kaca geotermal Islandia—tempat kehidupan bisa tetap tumbuh sepanjang tahun, meskipun menghadapi banyak tantangan. Sandrayati mengatakan bahwa ia akhirnya merasa lega bisa membagikan karya ini. Ia ingin menunjukkan tempat-tempat dan makhluk hidup yang tumbuh bersamanya, lewat rekaman camcorder rumahan di kebunnya di Bali—tempat ia merasa sangat terhubung dengan bumi, dan bumi pun seolah mengenalnya kembali. Ia juga menjelaskan bahwa video ini mencerminkan kondisi keras di Islandia, tapi juga kekuatan alam untuk terus tumbuh. Baginya, karya ini mewakili musim pertumbuhan dan pembaruan—sebuah persembahan untuk kemungkinan adanya kehidupan baru, apa pun bentuk lingkungannya. Pesan ini menjadi simbol ketahanan dan harapan, dibalut dalam visual yang kaya dan penuh makna.
Sandrayati juga mengungkapkan bahwa mengingat kembali ritme alami tubuh dan planet ini adalah cara untuk membantu manusia hidup lebih selaras. Ia melihat hal itu sebagai benang merah yang menghubungkan kita dengan asal-usul, dan menyebut rahim sebagai simbol yang sangat kuat dalam konteks ini. Menurutnya, memahami ritme-ritme ini secara mendalam adalah bentuk penyembuhan, dan lagu-lagu yang ia ciptakan menjadi jalannya menuju proses tersebut di dalam dirinya. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa musiknya tidak hanya sekadar hiburan, tapi juga media untuk refleksi dan penyembuhan yang mendalam.
Tiga ‘gelombang’ yang telah diperkenalkan ‘INHABIT’ adalah:
- Gelombang 1 – ‘recall’
- Gelombang 2 – ‘release~’
- Gelombang 3 – ‘arise*’
‘INHABIT’ adalah proyek Sandrayati yang paling kaya konsep hingga saat ini, sebuah rekaman yang mengundang pendengar untuk bergerak melalui fase-fase transformasi perasaan. Dengan lagu pembuka dan judulnya, ‘a wild home to / Inhabit’, album ini dengan lembut namun kuat mendesak kita untuk tetap hadir dalam tubuh, bumi, dan momen ini. Ini adalah undangan untuk introspeksi, sebuah pengingat akan pentingnya koneksi dengan diri dan lingkungan.
Daftar lagu untuk ‘INHABIT’ adalah:
- a wild home to
- Inhabit
- La Loba
- Forward
- Give In
- Seafaring
- Ashes
- Waken
- Glasshouse
- Shifting Waters
- Jawline
- Wonder
- Instill
Dengan ‘INHABIT’, Sandrayati tidak hanya merilis sebuah album, tetapi juga sebuah manifesto tentang siklus kehidupan, koneksi dengan alam, dan kekuatan penyembuhan melalui seni. Ini adalah karya yang patut dinanti, sebuah pengalaman mendalam yang akan terus bergema jauh setelah nada terakhir memudar.
sangkarbet kampungbet kampungbet 10










