
Oleh Kulidan Space
Program “Mendokumentasikan Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang dengan Metoda Scanografi” yang dipresentasikan dalam pameran karya. Pameran ini, dibalut dengan judul Herbalova. Herbalova adalah menumbuhkan rasa cinta terhadap tanaman herbal. Tanaman obat atau obat herbal adalah tumbuhan yang memiliki khasiat atau manfaat untuk kesehatan dan pengobatan. Bagian dari tanaman seperti daun, akar, bunga, atau biji, dapat digunakan untuk meredakan penyakit atau meningkatkan kesehatan.
Tanaman obat merupakan salah satu dari tradisi rempah di Nusantara, Bali pada khususnya. Rempah sebagai ilmu pengobatan atau usada termuat dalam sejumlah lontar diantaranya Usada Ila, Usada Rare dan lainnya. Sedangkan salah satu lontar yang khusus membahas tentang tumbuhan sebagai tanaman obat, adalah Usada Taru Pramana.
Menelusuri jejak rempah di Bali tidak hanya menyoalkan tentang perdagangan, tetapi tentang warisan budaya yang masih kita temukan dalam wujudnya berupa pengobatan, kecantikan, kuliner dan lainnya, yang termuat dalam naskah-naskah lontar di Bali. Seperti halnya dengan naskah-naskah lontar yang membicarakan tentang rempah yang tersimpan di Kirtya Liefrinck Van der Tuuk atau kini disebut dengan Gedong Kirtya. Naskah-naskah lontar tersebut, di antaranya Usada Taru Pramana, Usada Buda Kecapi, Rukmini Tattwa, Dharma Caruban, dan lain sebagainya.
Usaha untuk menelusuri rempah di Bali yang termuat dalam naskah-naskah lontar, senantiasa menarik sebagai suatu warisan budaya yang adiluhung. Melalui khazanah naskah lontar, menjadi langkah awal untuk menjelajahi pemanfaatan rempah dalam tradisi masyarakat Bali. Guna Yasa dalam tulisannya yang berjudul “Jelajah Pemanfaatan Rempah dalam Naskah Lontar”, yang dipublikasikan dalam media Tatkala.co menuliskan bahwa : Pembahasan rempah, menitik beratkan pada usaha membumikan dunia literasi khususnya rempah dalam berbagai dunia industri. Dalam pembahasannya, rempah sebagai ilmu pengobatan atau usada termuat dalam sejumlah lontar diantaranya Usada Ila, Usada Rare dan lainnya. Selain itu, lebih lanjut dijelaskan pula tentang pemanfaatan rempah dalam perspektif ganda (bau) yaitu rempah yang digunakan sebagai parfum untuk guna-guna. Hal tersebut termuat dalam Geguritan Megantaka.
RESEP RUMAHAN
Program “Mendokumentasikan Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang dengan Metoda Scanografi” lahir dari ide untuk menggali kembali dan menambah pengetahuan anak-anak tentang potensi dan kegunaan tanaman yang ada di lingkungan sekitar. Program ini disupport oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV, Wilayah Kerja Bali dan Nusa Tenggara Barat. Program ini juga dirancang untuk mendekatkan komunikasi antar generasi, komunikasi anak dan orang tua atau pun kakek dan neneknya. Anak-anakpun secara tidak langsung akan belajar tentang interaksi sosial, ketika mereka meminta tanaman pada teman, tetangga, ataupun tanaman di sawah-sawah yang dilewati saat susur sawah.
Metoda yang digunakan dalam pendokumentasian ini adalah dengan teknik scanogarfi. Apa itu Scanografi? Scanografi / dokumentasi scanografi adalah proses merekam gambar digital dari objek datar menggunakan pemindai (scanner) datar, dengan tujuan menciptakan karya seni yang dapat dicetak. Istilah ini juga dikenal sebagai fotografi pemindai.
Program Pendokumentasian Tanaman Obat Tradisional, yang dilanjutkan dengan pameran ini, dilaksanakan dengan dua tahapan yaitu workshop dan pameran. Untuk workshop, pada hari pertama, anak-anak dikumpulkan di halaman Kulidan Space, kemudian mereka dijelaskan tentang tujuan program yaitu untuk mengumpulkan tanaman obat tradisional yang ditemui selama perjalanan susur sawah di Subak Kulidan. Acara susur sawah ditemani oleh I Komang Adiartha dan Bapak Landep, seorang petani dan penduduk lokal yang memiliki pengetahuan tentang tanaman herbal di Subak Kulidan, Desa Guwang. Menurut penuturan Bapak Landep, dia mengetahui jenis-jenis tanaman itu, dari mendengarkan cerita-cerita dari ayahnya dan juga dari penduduk desa. Banyak tanaman yang sebelumnya dia tau namanya, tetapi tidak tau wujudnya. Untuk mengetahui tanaman yang dimaksud, Pak Landep sering menanyakan dan minta untuk ditunjukan tanaman tersebut dari warga yang berusia lebih tua. Menurut cerita Pak Landep keluarganya pernah membuat sayur yang tidak sengaja terdapat tanaman sejenis perdu yang membuat lancar buang air besar, kemudian dia tau nama tanaman tersebut adalah “tanaman perdu urus-urus” atau lebih dikenal tanaman “kate mas atau daun suduk mentul”.
Setelah selesai susur sawah dan menemukan beberapa tanaman herbal, workshop dilanjutkan dengan pemaparan teknik dan metoda scanografi dalam pendokumentasian objek. Program dilanjutkan dengan melakukan scan terhadap tanaman yang ditemukan selama perjalanan susur sawah. Mengingat pendokumentasian tanaman ini dikaitkan dengan seni rupa, anak-anak diajak “bermain-main” dengan mengkomposisikan tanaman tersebut dengan mainan yang dibawa oleh anak-anak peserta program.
Pada hari berikutnya, anak-anak membawa tanaman obat tradisional yang ada di rumahnya atau yang ada di pekarangan tetangganya. Kegiatan ini, dimaksudkan untuk menghidupkan kembali ingatan akan tanaman yang pernah dipakai oleh orang tuanya atau kakek neneknya saat mereka sakit atau sekedar pencegahan. Salah satu anak mendapat cerita, ketika neneknya membuat loloh kayu manis, saat neneknya sedang batuk atau tidak enak badan. Kegiatan ini juga menghidupkan kembali komunikasi yang intim antara anak dan keluarganya.
Anak-anak langsung diajak menscan tanaman yang dibawa dan dipadukan dengan tanaman yang dibawa teman-temannya, untuk dikomposisikan menjadi sebuah karya visual. Selain tanaman yang dibawa, anak-anak juga bebas mencari tanaman yang ada di sekitar kebun Kulidan. Dalam proses produksi scan tanaman, anak-anak didampingi oleh mentor Vifick Bolang, seorang fotografer professional yang mulai tertarik dengan teknik scanografi saat dia mengikuti residensi di Yogyakarta beberapa tahun silam.
Tanaman obat tradisional yang kami dokumentasikan adalah tanaman yang dibawa anak-anak peserta workshop, cerita para petani dan tetua yang kami tanyakan di desa. Untuk memperkuat pengetahuan, kami mencari referensi dari tulisan jurnal ilmiah SANJIWANI: Jurnal Filsafat Vol. 12 No. 1, Maret 2021. Dengan membaca jurnal tersebut, kami menemukan bahwa salah satu lontar yang membahas tentang tanaman obat adalah lontar taru pramana.
Lontar Taru Pramana adalah naskah kuno Bali yang berisi pengetahuan tentang pengobatan tradisional menggunakan tumbuhan obat. Naskah ini memuat informasi tentang 168 jenis tumbuhan yang bisa digunakan sebagai obat, lengkap dengan cara pengolahannya. “Taru” berarti pohon atau tumbuhan, dan “Pramana” berarti kekuatan atau khasiat, sehingga Taru Pramana secara harfiah berarti tumbuhan yang memiliki khasiat obat.
Lontar Taru Pramana, menjelaskan berbagai cara pengolahan tumbuhan obat, seperti:
Loloh/Jamu: Cairan pekat yang diminum.
Sembar/Simhuh: Ramuan yang dikunyah lalu diludahkan pada bagian yang sakit.
Boreh/Lulur: Ramuan yang dihaluskan dan dibalurkan pada bagian yang sakit.
Tutuh: Ramuan yang diperas atau digiling, lalu diteteskan atau dihirup.
Tempel: Ramuan yang ditempelkan pada bagian yang sakit.
Ses: Ramuan yang dikompreskan pada bagian yang sakit.
Temuan:
Dari program ini kami menemukan sekitar 50an jenis tanaman obat yang ada di Desa Guwang, Sukawati, Kabupaten Gianyar. Tentu temuan awal ini baru berupa dokumentasi tanamannya, tentang manfaatnya kami dapatkan dari studi literatur, baik literatur online ataupun jurnal ilmiah. Untuk pemanfaatan menjadikannya resep dan praktek pengobatan, tentu akan memerlukan pendalaman lebih lanjut.
Simpulan:
Melalui “Pameran Herbalova”, pengetahuan yang semula bersifat lisan dan tersebar mulai terdokumentasi dan divisualisasikan dengan pendekatan kreatif. Lebih dari sekadar program pameran, kegiatan ini menumbuhkan kembali relasi anak-anak dengan tanah, tradisi dan komunitasnya, serta mengangkat nilai-nilai lokal dalam bahasa visual yang baru.
“Herbalova” bukan hanya pameran seni dan dokumentasi, tetapi juga ruang pertemuan antara generasi, tradisi dan teknologi. Melalui keterlibatan anak-anak dan penggunaan media scanografi, tanaman herbal yang dahulu hadir dalam diam kini bersuara melalui visual dan cerita. Program ini merupakan langkah kecil untuk merawat warisan besar “pengetahuan lokal yang hidup di Palemahan Desa”.
I Komang Adiartha
Koordinator Program Dokumentasi Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang melalui Scanografi.

HERBALOVA: menjelajah tanaman herbal dengan scanografi dan imajinasi.
Beberapa tahun silam, saat proses program ‘Cerita Dalam Kaleng’ di Sanggar Anak Tangguh, saya diajak Pak Landep berkeliling Desa Guwang. Menyusuri sawah, turun ke sungai dan memanen buah semangka. Sembari berjalan, Pak Landep sering memperkenalkan tanaman-tanaman ‘liar’ yang kami jumpai, ternyata diantaranya banyak yang merupakan tanaman herbal. Pak Landep adalah seorang petani yang cukup idealis mempertahankan cara tanam organik untuk memproduksi pangan sehat. Saat banyak teman sejawatnya yang beralih ke pupuk kimia, Pak Landep masih bersikeras dengan pemikiran organiknya. Dia banyak mendapat pengetahuan dari bapaknya tentang cara bercocok tanam dan juga semua jenis tanaman beserta kegunaannya. Namun tidak semua pengetahuan itu bertahan lama dalam ingatan, sehingga kemudian muncul kekhawatiran suatu saat nanti akan hilang jika hanya diturunkan secara lisan kepada anak cucu.
Ketika balik ke sanggar, kami bercerita ke Bli Komang Adiartha, kemudian muncul ide tentang pendokumentasian tanaman herbal di desa ini. Bagaimana caranya memperkenalkan tanaman herbal ini ke anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Beberapa kali diskusi, lalu kami bersepakat memakai metode scanografi.
Scanografi merupakan salah satu medium fotografi alternatif. Praktik ‘melukis dengan cahaya’ menggunakan ‘kamera’ scanner. Benda yang diletakkan di atas scanner harus diperlakukan sebagai obyek fotografi bukan hanya benda mati. Hampir sama dengan prinsip fotografi still life, kita mempunyai tantangan untuk menghidupkan obyek / benda yang kita komposisikan di atas scanner. Kemampuan kita dalam berimajinasi, membentuk cerita dan konsep melalui obyek-obyek tersebut merupakan kunci untuk berkarya dalam scanografi.
Setelah anak-anak berkeliling sawah dengan Bli Adi dan belajar tentang tanaman herbal pada Pak Landep, saya mengajak mereka bermain visual. Menyusun daun-daun itu menjadi imaji, lalu dipotret dengan scanner. “Kok bisa ya?” gumam Galang, salah satu peserta, saat menyimak teori scanografi yang saya ceritakan. “Scanografi itu seperti membuat foto, tapi kali ini tidak memakai kamera atau hp kalian, melainkan memakai alat yang namanya scanner ini,” saya menjelaskan dengan memilih bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Di era sekarang, anak-anak tidak familiar dengan alat scanner, rata-rata mereka mempunyai hp dengan berbagai teknologi aplikasi yang canggih. Saat saya mempraktekkan scanografi, anak-anak tampak makin antusias. Kemudian saling berebut untuk mencobanya.
Sebelum mencoba, mereka harus membuat ‘konsep’ karyanya pada selembar kertas putih. Dedaunan itu disusun sedemikian rupa sesuai imajinasi mereka, boleh dipadukan dengan mainan atau benda lainnya. Tahap ini mereka belajar komposisi dan menyusun gagasan visual sederhana mengenai apa yang ingin disampaikan. Setelah konsep visual terbentuk, mereka memindahkan ke scanner. Saya membantu mengoperasikan aplikasi pemindai gambar di laptop. Setelah berhasil membuat karya scanografi, mereka juga presentasi singkat mengenai konsep atau gagasan visual mereka.
Pameran scanografi HERBALOVA ini merupakan bentuk apresiasi atas kemauan dan usaha anak-anak tersebut dalam berproses, belajar dan berkarya bersama selama beberapa hari. Pengetahuan tentang tanaman herbal ini memang tidak akan semuanya bisa ditangkap oleh mereka, tapi setidaknya proses bersenang-senang membuat imaji dari tanaman-tanaman herbal ini menjadi memori yang kelak mungkin akan membuka kesadaran tentang melihat apa yang ada di lingkungan sekitar mereka, tanaman herbal salah satunya. Melengkapi pameran tersebut, kami juga mengarsipkan program ini dalam sebuah buku, menjadi bagian dari upaya pembelajaran, pendokumentasikan dan pengarsipan tanaman herbal di Desa Guwang.
Selamat membaca herbalova, mari merayakan pengetahuan bersama-sama..
Vifick Bolang
Fotografer professional. Fasilitator Program Dokumentasi Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang melalui Scanografi.

Mewarisi Tradisi Tanaman Obat Warisan Leluhur.
Saya tertarik untuk mensupport program ini karena program ini merupakan langkah awal untuk mendokumentasikan tradisi tanaman obat tradisional yang diwariskan secara lisan dan praktek di lingkungan sekitar saya.
Pendokumentasian ini menjadi penting, bagaimana tradisi ini didokumentasikan secara digital, divisualisasikan, sehingga narasi yang dulunya hanya diwariskan secara bertutur dapat diamati secara visual, sehingga keterlibatan indra akan menjadi lebih komplek. Tidak hanya dari telinga menjadi imajinasi, tetapi juga tervisualkan dengan mata.
Program ini, tidak hanya melatih kepekaan rasa akan keindahan, komposisi, kombinasi warna, dan teknik pemindaian digital, anak – anak juga belajar komposisi, proporsi dan menggugah semangat penelitian mereka.
Saya pribadi, lebih tertarik untuk mempraktekan teori ataupun pengetahuan yang saya peroleh dan mengujinya di lapangan. Sebagai contoh ketika banyak orang berdiskusi tentang beras sehat dan organik, saya praktekan langsung dengan menanam padi organik di sebagian lahan garapan saya. Ya, saya tidak terlalu memikirkan setelah panen apakah akan dikonsumsi sendiri ataukah dijual. Yang penting saya praktekkan pengetahuan itu, mulai dari produksi, konsumsi dan rasakan dampaknya dengan tubuh saya.
Dokumentasi tanaman obat dengan scanografi, yang telah berhasil mengidentifikasi lebih dari 50 tanaman, sesuai dengan 126 tanaman yang ada dalam lontar Taru Premana. Pendampingan 16 anak- anak ini, mungkin saat ini dilihat sebagai hal sederhana namun saya yakin selama anak-anak berproses, akan menjadi pondasi pengembangan curiousity anak dan itu adalah pondasi yang utama dalam menentukan arah perkembanganya ke depan.
I Nyoman Landep
Warga guwang dan petani padi. Fasilitator Program Dokumentasi Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang melalui Scanografi.
======================

HERBALOVA
‘Documenting Traditional Medicinal Plants in Guwang Village using Scanography’
Herbalova, is to foster a sense of love for herbal plants. Medicinal plants’ or ‘herbal medicine’, are plants which are beneficial for health and healing. All parts of the plant, like leaves, roots, flowers and seeds can be used to alleviate illnesses and improve health. Medicinal plants are part of the traditional spices of the Indonesian archipelago, particularly Bali. Spices as medicinal knowledge or traditional Balinese herbal lore, are recorded on a number of specially dried palm-leaf manuscripts called Lontar, namely Usada Ila (Healing using herbs and spices), Usada Rare (Healing for children) among others. One Lontar in particular that discusses plants as herbal medicine, is the Usada Taru Pramana.
Tracing the spice trail in Bali is not only concerned with trade, but also about cultural heritage that still exists today. Embodied in practices such as medicine, beauty, cuisine, and more, and is contained in Bali’s Lontar manuscripts.
Similarly, there are other manuscripts that discuss spices, preserved at Kirtya Liefrinch Van der Tuuk, nowadays known as Gedong Kirtya. These manuscripts include Usada Taru Pramana, Usada Buda Kecapi, Rukmini Tattwa, Dharma Caruban and others.
The determination to trace spices in Bali which are recorded in Lontar manuscripts is an enduringly fascinating pursuit, representing a noble cultural heritage. Going through the rich corpus of Lontar texts is the first step in exploring the benefits of spices within Balinese social and cultural traditions.
Guna Yasa, in his article titled ‘Exploring the Use of Spices in Lontar Manuscripts’ published in Tatkala.co magazine writes: The discussion of spices focuses on efforts to ground literacy, specifically spices, within various industries. In his discussion, spices as medicinal knowledge or Usada are contained in several Lontar manuscripts, including Usada Ila, Usada Rare, and others. Furthermore, he also explains the dual purpose of spices, namely their use as scents for mystical purposes. This is documented in the Geguritan Megantaka manuscript.
HOMEMADE REMEDIES
The program ‘Documenting Traditional Medicinal Plants in Guwang Village through Scanography’ originated from the idea of rediscovering and expanding children’s knowledge about the potential and usefulness of plants around them. This program is supported by the Cultural Heritage Preservation Office, Region XV, covering Bali and West Nusa Tenggara Regions. This program is also designed to foster intergenerational communication, encouraging interaction between children and their parents and grandparents. The children will indirectly learn about social interaction as they ask for plants from friends and neighbours, or collect plants found while walking through rice fields.
The method used in this documentation is the scanography technique. What is Scanography? Scanography or scanographic documentation is the process of capturing digital images of flat objects using a flatbed scanner, with the aim of creating artworks that can be printed. This term is also known as scanner photography.
The Traditional Medicinal Plant Documentation Program, followed by this Exhibition, was carried out in two stages: a workshop and an exhibition. On the first day during the workshop, the children gathered in the courtyard of Kulidan Space, where they were introduced to the program’s objective: to collect traditional medicinal plants encountered during a walk through the rice paddies.
The walk was guided by I Komang Adiartha and Mr. Landep, a farmer and local resident possessing valuable knowledge of herbal plants in Subak Kulidan, Guwang Village. According to Mr. Landep, he learnt about these plants by listening to stories from his father and other villagers. Many of the plants were ones that Mr. Landep had heard the names of but didn’t know what they looked like. To identify these plants, he often asked older villagers to show him. Mr. Landep recounted a story from his family: once they cooked a vegetable dish that accidentally contained a type of shrub that helped ease bowel movements. From that experience, he learnt that the plant was called ‘Perdu Urus-Urus’, also known as ‘Kate Mas‘ or ‘Daun Suduk Mentul’.
After completing the walk and discovering several herbal plants, the workshop continued with a presentation on scanography techniques and methods for documenting objects. The program then proceeded with scanning the plants collected during the walk. Since the plant documentation was linked to visual arts, the children were invited to ‘play’ by creatively composing the plants together with toys they had brought to the program.
The following day, the program continued with the children bringing traditional medicinal plants from their own homes or from their neighbours’ gardens. This activity was intended to revive memories of plants once used by their parents or grandparents when they were ill or for preventive care. One child shared a story about how her grandmother would make Loloh Kayu Manis (a traditional herbal drink made with cinnamon leaves) whenever she had a cough or was feeling unwell. This activity also helped to rekindle treasurable communication between the children and their families.
The children were then guided to scan the plants they had collected and combine with those brought by their friends to create compositions for artwork. In addition to the plants they collected, the children were also free to search for plants around the Kulidan garden. During the plant scanning process, the children were accompanied by mentor Vifick Bolang, a documentary photographer who became interested in the scanography technique during a residency in Yogyakarta.
The traditional medicinal plants brought by the children were supplemented with stories gathered from farmers and village elders. To strengthen our knowledge, we also consulted references from the academic journal SANJIWANI: Jurnal Filsafat, Vol. 12, No. 1, March 2021. From reading this journal, we learnt that one Lontar manuscript that discusses medicinal plants is Lontar Taru Pramana which is an ancient Balinese manuscript containing knowledge of traditional medicine using medicinal plants. It provides information on 168 types of plants that can be used as medicine, complete with instructions on how to prepare them. ‘Taru’ means tree or plant, and ‘Pramana’ means power or efficacy, so ‘Taru Pramana’ literally means ‘plants with medicinal properties.’
Lontar Taru Pramana explains various methods of preparing medicinal plants, such as:
Loloh/Jamu: A concentrated liquid taken orally.
Sembar/Simhuh: A mixture chewed and then spat onto the affected area.
Boreh/Lulur: A ground mixture rubbed into to the affected area.
Tutuh: A mixture squeezed or ground, then either dropped as a liquid or inhaled.
Tempel: A mixture placed directly on the affected area.
Ses: A mixture applied as a compress to the affected area.
Findings:
From this program attended by 16 children
, we identified approximately 50 types of medicinal plants found in Guwang Village, Sukawati, Gianyar Regency.
This is an initial stage focused on plant documentation. Information about their benefits was derived from literature studies, both online sources and academic journals. Applying this knowledge into actual recipes and medical practice will naturally require further research and expertise.
Conclusion:
Through the ‘Herbalia Exhibition’, knowledge that was once scattered and oral in nature, is now being documented and visualised through a creative approach. More than just an exhibition project, this activity reconnects children with the land, traditions, and their community, while elevating local values through a new visual language.
The Herbalia program is not merely an art exhibition or documentation project—it is a meeting point of generations, traditions, and technology. Through the involvement of children and the use of scanography, herbal plants that once existed silently are now given a voice through visuals and stories. This program is a small step towards preserving the vast heritage of ‘living local knowledge within the Palemahan Desa or living in harmony with nature of the Tri Hita Karana philosophy.’
I Komang Adiartha
Coordinator Traditional Medicinal Plant Documentation Program in Guwang Village, through Scanography.
sangkarbet kampungbet kampungbet 10






