• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 1, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Tradisi Unik dalam Rangkaian Tahun Baru Saka

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
24 March 2026
in Budaya, Kabar Baru
0
0

Dalam rangkaian menyambut Tahun Baru Saka, beberapa daerah melaksanakan tradisi unik. Tradisi ini dijalankan secara turun-temurun dan diyakini masyarakat memiliki kisahnya tersendiri. Seiring berjalannya waktu, beberapa tradisi menjadi daya tarik wisata di suatu daerah, sehingga kerap dinanti-nantikan pelaksanaannya. Berikut beberapa tradisi yang dilaksanakan sebelum dan setelah Nyepi di sejumlah daerah.

Magebeg-gebegan

Megebeg-gebegan godel merupakan tradisi di Desa Pakraman Dharma Jati Tukad Mungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Sebagaimana namanya, tradisi merupakan perebutan daging godel atau anak sapi oleh para pemuda yang berasal dari empat banjar.

Tradisi ini dilakukan setelah upacara caru tawur kesanga di Catus Pata (perempatan agung) untuk menyeimbangkan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Sebelum diperebutkan, daging godel digunakan sebagai pecaruan terlebih dulu. Godel yang telah digunakan sebagai caru dan direbut dalam magebeg-gebegan, lantas dikonsumsi bersama-sama.

Tradisi ini menyimpan sejarah keberadaan Desa Dharma Jati. Dilansir dari jurnal Penguatan Identitas Budaya dan Ketahanan Masyarakat Melalui Tradisi Magebeg-Gebegan, desa ini sebelumnya mengalami sejumlah tantangan, seperti kesehatan masyarakat yang menurun, masalah ekonomi, Tukad Mungga yang meluap, hingga gagal panen. Para tetua desa pun menerima pawisik (pesan spiritual) dari leluhur yang menyarankan mereka untuk memulihkan kedamaian dan keseimbangan desa menggunakan anak lembu pada bulan kesanga. Ritual itu pun terus berlangsung hingga kini dan dilanjutkan dengan simbolis memperebutkan kepala sapi.

Magoak-goakan

Kata magoak-goakan diambil dari nama goak atau burung gagak. Burung gagak merupakan spesies burung yang agresif dan penuh semangat saat mengejar mangsa. Magoak-goakan merupakan permainan yang berasal dari Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. 

Permainan ini awalnya dimainkan saat Nyepi, kemudian dialihkan ke hari Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi). Dalam sejarahnya, magoak-goakan dimainkan untuk menghormati Raja Buleleng, Ki Barak Panji Sakti, atas jasanya memimpin rakyat Buleleng.

Jurnal The Analysis of the History and Culture of the Balinese Traditional Game “Megoak-Goakan” Towards the Preservation of Sustainable Tradition menjelaskan gerakan goak yang agresif saat mengejar mangsa menjadi metafora untuk semangat pasukan buleleng dalam melawan penjajah. Permainan ini melibatkan dua tim yang berbaris memanjang sambil berpegangan di pinggang. Pemain paling depan disebut kepala goak, sedangkan paling belakang disebut ekor goak. Permainan berakhir ketika kepala berhasil menangkap ekor.

Siat yeh

Dalam Bahasa Indonesia, siat berarti perang, dimaknai sebagai peperangan batin manusia antara pikiran baik dan buruk. Sementara, yeh berarti air, simbol sumber kehidupan yang harus dijaga dan dihormati. Tradisi ini mencerminkan penghormatan terhadap sumber air dan keyakinan bahwa pertemuan dua mata air membawa energi positif.

Siat yeh dilakukan di Catus Pata Banjar Teba, Desa Adat Jimbaran, pada Ngembak Geni atau sehari setelah Nyepi. Desa Adat Jimbaran memiliki dua sumber air, yaitu Pantai Suwung (air rawa) di sisi timur dan Segara (laut) di sisi barat.

Berdasarkan Siat Yeh: An Appreciation to Water Source, dalam pelaksanaannya warga dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengambil air dari Suwung, sedangkan kelompok kedua mengambil air di Segara. Air dibawa menggunakan kendi. Kemudian, dicampurkan sebagai simbol penyatuan dua sumber mata air, yaitu lautan dan daratan. Setelah dicampur, air digunakan untuk saling menyiram antarwarga. Kegiatan saling siram dimaknai sebagai bentuk pembersihan diri dari energi negatif sekaligus mempererat kebersamaan.

Omed-omedan

Tradisi ini paling dikenal oleh masyarakat, bahkan menjadi daya tarik wisatawan di Banjar Kaja, Sesetan, Kota Denpasar. Omed-omedan berasal dari kata dasar omed yang berarti tarik, sehingga omed-omedan berarti tarik-menarik.

Awalnya, tradisi ini merupakan ritual tolak bala. Pada abad ke-17, sekitar tahun 1900-an, Anak Agung Made Raka, Raja Puri Oka menderita sakit keras menjelang Nyepi. Dilansir dari situs resmi Denpasar Tourism, banyak tabib yang gagal menyembuhkan Sang Raja. Raja yang putus asa pun tak mengizinkan orang-orang menemuinya.

Masyarakat yang ikut sedih menggelar acara hiburan untuk menghilangkan duka raja lewat permainan omed-omedan. Namun, tak disangka raja sembuh begitu menyaksikan kegembiraan rakyatnya dalam omed-omedan. Sejak saat itu, tradisi ini rutin diadakan setiap tahun.

Tradisi ini sempat dihentikan karena dianggap tidak pantas, ada sumber yang mengatakan berhenti tahun 1979, tetapi ada juga yang mengatakan tradisi ini berhenti 1984. Menurut kepercayaan masyarakat, sejak tradisi omed-omedan berhenti, banyak kejadian aneh muncul. Akhirnya, warga pun tetap melanjutkan tradisi ini.

Mebuug-buugan

Mebuug-buugan merupakan tradisi di Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Mebuug-buugan berasal dari kata buug yang berarti tanah atau lumpur. Tradisi ini digelar usai Nyepi menggunakan lumpur di kawasan hutan mangrove. Mebuug-buugan dimaknai sebagai cara pembersihan diri dari segala kotoran lahir batin, sekaligus simbol kembalinya manusia ke alam setelah sehari penuh menyepi.

Menurut jurnal Reconstruction of Meguug-Buugan Tradition as Revitalization of Local Wisdom in Kedonganan Traditional Village, Kuta District, Badung Regency, tradisi ini sempat ditiadakan sejak tahun 1965 dan direkonstruksi kembali oleh masyarakat sekitar pada tahun 2014. Faktor penyebab hilangnya tradisi ini adalah perubahan sosial, politik, dan melemahnya perhatian terhadap tradisi lokal.

Pada tahun 2014, tradisi ini direkonstruksi karena adanya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya identitas budaya lokal. Bahkan, tradisi ini dikaitkan dengan isu pelestarian lingkungan, khususnya hutan mangrove yang menjadi lokasi utama kegiatan.

Nyakan diwang

Dalam Bahasa Indonesia, nyakan berarti memasak, sedangkan diwang berarti di depan rumah. Nyakan diwang merupakan sebuah tradisi di Desa Pakraman Banjar, Kabupaten Buleleng setiap Ngembak Geni. Sesuai namanya, sehari setelah Nyepi, masyarakat memasak di luar rumah, berinteraksi dengan tetangga, dan bertukar makanan.

Tradisi ini dipercaya sebagai pembersihan rumah, terutama dapur agar keluarga terbebas dari leteh (kotor). Selain itu, juga untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga. Dilansir dari jurnal Kajian Sosial Budaya terhadap Tradisi Nyakan Diwang sebagai Rangkaian Upacara Hari Raya Nyepi di Desa Pakraman Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, tradisi ini dimulai pukul 05:00 pagi. Laki-laki mempersiapkan tungku dan kayu bakar, sedangkan perempuan menyiapkan beras, air, dan peralatan masak. Nyakan diwang tidak menggunakan kompor modern, melainkan menggunakan kompor tradisional.

Memasak dilakukan di luar rumah, sembari duduk bersama keluarga dan tetangga. Masakan disantap bersama pada pukul 07:00 pagi. Setelah kulkul berbunyi, warga membersihkan peralatan dan jalan desa. Aktivitas normal kembali pada pukul 10:00 pagi.

sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet
Tags: Nyepitahun baru sakatradisi di balitradisi Nyepi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
Nyepi Bukan Hanya Sekali, Ini Ragam Nyepi di Pulau Bali

Nyepi Bukan Hanya Sekali, Ini Ragam Nyepi di Pulau Bali

1 March 2026
Tradisi Ngejuk Wadak Simbol Ketahanan Pangan di Mengani

Tradisi Ngejuk Wadak Simbol Ketahanan Pangan di Mengani

16 April 2025
Enam Ogoh-Ogoh Ini Angkat Isu Sosial di Bali

Refleksi Kritis setelah Nyepi : Judol dan Pinjol sebagai Bhuta Kala Baru

13 April 2025
Next Post
Pro dan Kontra Konsep Mebanjar bagi Sekaa Teruna Teruni Bali

Pro dan Kontra Konsep Mebanjar bagi Sekaa Teruna Teruni Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aku Dede, Ini Ceritaku dengan Difabel Sensorik Netra

Refleksi Hari Buruh Bagi Orang dengan Disabilitas Netra 

1 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
Aksi Hari Buruh Masih Menyoroti Ketidakadilan bagi Pekerja Pariwisata

Aksi Hari Buruh Masih Menyoroti Ketidakadilan bagi Pekerja Pariwisata

1 May 2026
Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

30 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia