
Krisis iklim tidak hanya berdampak pada alam, namun juga ekonomi dan sosial ikut berubah. Tanpa disadari, krisis iklim telah mengubah banyak hal dalam hidup. Di Bali banyak alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan dan villa. Di daerah Canggu hingga Kedungu adalah contohnya. Di mana areal pesawahan semakin sempit dan terhimpit.
Pembangunan dan tata kelola kota yang tidak terkendali juga terjadi di kota madya Denpasar. Banjir yang terjadi pada 13-14 Desember adalah contoh nyata krisis iklim. Hujan yang ekstrem dipicu oleh adanya konsekuensi dari krisis iklim. Selain itu, ketiadaan pohon-pohon besar dan kurangnya resapan juga menyebabkan banjir menjadi tak terkendali.
Krisis iklim yang disebabkan oleh menurunnya kawasan hijau, hilangnya areal pesawahan hingga hilangnya vegetasi turut memperparah krisis iklim. Hal ini dapat menurunkan produksi pertanian karena cuaca ekstem dan kemarau berkepanjangan, sehingga dapat memicu kenaikan harga pangan.
Sebagai bagian dari Kodya Denpasar, rasa-rasanya memang benar bahwa krisis iklim nyata adanya. Perubahan-perubahan dapat dirasakan lewat aktivitas sehari-hari. Seperti misalnya kenaikan suhu yang membuat udara semakin panas akan menyebabkan intensitas menggunakan AC di ruangan semakin meningkat dan menambah biaya konsumsi listrik. Selain itu, tingginya harga tanah juga menyebakan harga sewa kos atau hunian juga akan semakin mahal. Hal ini semakin mencekik perekonomian kelas bawah dan menengah karena tidak dibarengi dengan peningkatan gaji UMR.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan bentang alam Denpasar yang berlangsung cepat sejak era pariwisata berkembang masif di Bali selatan. Alih fungsi lahan dan pembangunan menyebakan Banjir di sejumlah wilayah di Badung dan Denpasar, sehingga mengganggu mobilitas dan menyebabkan kemacetan lalu lintas. Bali sebagai tujuan wisata berbasis budaya dan alamnya berada dalam posisi terancam karena krisis ekologi dan berpotensi menurunkan rasa aman berwisata di Bali. Bencana seperti banjir yang semakin sering terjadi dapat menyebakan kerusakan pada infrastruktur seperti jalan, bangunan, jembatan sehingga memerlukan biaya konstruksi yang besar.
Krisis iklim juga turut menyebakan langkanya minyak berbahan fosil atau BBM, yang membuat harganya naik. Sebagai energi bagi transportasi, industri dan berbagai sektor ekonomi, hal itu dapat menyebabkan naiknya pengeluaran. Seperti misalnya pekerja yang seminggu jatah untuk bahan bakar adalah 60.000 rupiah, karena kenaikan BBM ia harus menaikkan jatah BBM menjadi 80.000 rupiah.
(Ilustrasi ini merupakan karya peserta Workshop Menangkal Disinformasi Iklim berkolaborasi dengan IDJN dan IMS)
Sumber:
https://www.jejakin.com/id/blog/the-impact-of-climate-change-on-the-economy
https://balebengong.id/kota-denpasar-memiliki-banyak-air-hujan-tapi-kehilangan-kemampuan-menyimpan/










