
Ketika krisis air terjadi, dampaknya dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat. Air merupakan kebutuhan dasar manusia yang wajib dipenuhi. Pemakaiannya pun tak lepas dari kehidupan sehari-hari, untuk mandi, minum, mencuci, dan memenuhi kebutuhan lainnya.
Namun, secara tingkat kerentanan, perempuan lebih rentan merasakan dampak krisis air dibandingkan laki-laki. Budaya patriarki yang membebankan perempuan dalam kerja-kerja domestik membuat perempuan lebih merasakan sulitnya akses air bersih. Kegiatan memasak, mencuci, hingga membersihkan rumah tidak bisa dilakukan tanpa air.
Situasi ini juga terjadi pada perempuan pedagang di Pasar Badung. Pedagang di Pasar Badung yang didominasi oleh perempuan membutuhkan air lebih banyak untuk membersihkan kios dagangnya, terutama para penjual daging.
Untuk menghilangkan aroma amis sisa daging, sejumlah pedagang menyiram kiosnya yang berlapis lantai dengan air. Air itu diambil dari toilet yang ada di setiap lantai Pasar Badung. Pada siang hari ketika daging jualan sudah habis, para pedagang pun mencuci wadah bekas daging di toilet pasar.
Perempuan dan air
Kerentanan perempuan tak hanya terjadi dalam ranah domestik dan mencari nafkah, tetapi pada kesehatan reproduksi. Hal ini disampaikan oleh Luh Putu Upadisari atau kerap disapa Sari ketika ditemui di klinik miliknya.
Klinik kesehatan Sari berdiri di pojok kecil Pasar Badung melalui Yayasan Rama Sesana. Selama bertahun-tahun ia memberikan layanan kesehatan pada pedagang dan buruh di Pasar Badung, terutama layanan kesehatan reproduksi.

Kesehatan reproduksi tak lepas kaitannya dengan sanitasi. Berbeda dengan laki-laki, perempuan membutuhkan air lebih banyak untuk menjaga kebersihan di area reproduksi. Pasalnya, perempuan mengalami menstruasi, kehamilan, dan pasca melahirkan yang juga membutuhkan air bersih. Selain itu, sehari-hari perempuan juga harus membersihkan organ reproduksinya setelah buang air.
“Kalau misalnya mereka (perempuan), personal hygiene-nya berkaitan dengan organ reproduksi tidak menggunakan air bersih, potensi untuk terjadinya infeksi saluran reproduksi menjadi tinggi,” ujar Sari, salah satu Ashoka Fellow di kawasan Bali, ketika ditemui di kliniknya pada Selasa, 20 Januari 2026.
Infeksi ini menyebabkan ketidaknyamanan, terutama memudahkan penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) karena adanya infeksi campuran. Infeksi pada organ reproduksi juga dapat menurunkan daya tahan tubuh, juga terjadi penurunan absorpsi makanan bergizi dan anemia. Meski tak terlihat, infeksi organ reproduksi menyebabkan efek domino yang berlangsung terus menerus jika tidak segera disadari.
Puluhan tahun melayani kelompok rentan
Melihat rentannya perempuan terhadap masalah reproduksi, terutama pada pekerja pasar, Sari memberikan edukasi kesehatan reproduksi dan memberikan layanan kesehatan di Pasar Badung. Hal ini telah ia lakukan selama 23 tahun, terhitung sejak tahun 2003.
Pada awal kedatangannya di Pasar Badung, Sari gencar memberikan edukasi kesehatan pada ibu-ibu. “Kalau cebok kita menyarankan kalau toilet umum kotor, jangan pakai sembarang air,” kata Sari.
Puluhan tahun bergulat di Pasar Badung membuat Sari melakukan banyak hal. Selain edukasi, Sari juga menyediakan layanan skrining untuk deteksi kanker leher rahim, kanker payudara, dan infeksi menular seksual. Respons yang datang pun positif, terlebih pada awal kerjanya ia mendapatkan donatur, sehingga dapat memberikan layanan kesehatan gratis.
Ia ingat betul pada tahun 2005, sebelum Pasar Badung berdiri megah, Sari dan timnya turun langsung di malam hari. “Jadi saya ingin menjangkau pedagang malam karena itu lebih berisiko,” jelas Sari. Di gang-gang kecil ia membawa tempat tidur kecil dari lantai 4, lokasi kliniknya, ke lantai paling bawah. “Waktu itu saya banyak menemukan kasus-kasus serius, misalnya infeksi menular seksual banyak di ibu-ibu,” imbuhnya.
Banyak perempuan yang datang karena selama ini mereka tidak tahu harus ke mana. Informasi mengenai layanan kesehatannya terdengar dari telinga ke telinga dan datang dari mulut ke mulut.
Tertatih, tapi tetap melayani
Setelah kebakaran di Pasar Badung tahun 2016, Yayasan Rama Sesana hanya mendapatkan ruang kecil di pojok lantai bawah Pasar Badung. Terhitung sejak gedung baru berdiri, Yayasan Rama Sesana tak lagi segencar dulu. Tidak ada lagi donatur, tenaga kesehatan pun hanya dua bidan.
Meski begitu, klinik Yayasan Rama Sesana tetap memberikan edukasi dan layanan kesehatan reproduksi pada para pekerja dan pengunjung di Pasar Badung. Layanan diberikan dengan membayar seikhlasnya.
Umur yang sudah mencapai lanjut usia membuat gerak Sari terbatas dalam melakukan advokasi. Ia sudah tak segencar dulu lagi untuk turun langsung ke pasar. Kini, pedagang dan pengunjung langsung yang mendatanginya ke klinik.
kawijitu kawijitu kawijitu kawijitu









![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)