• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Love Scamming, Rayu Manis Berujung Penipuan

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
12 July 2025
in Berita Utama, Kabar Baru, Teknologi
0
0
Was it truly love? Ilustrasi oleh: Aiko Yoshina via Wikimedia Commons

“Hi, I’ve always thought you’re very charming. Can we be friends?” Bagaimana tanggapanmu ketika menerima pesan tersebut? Apakah kamu akan membalasnya?

Ada juga pesan berikut yang datang dari akun berbeda. “Hello, I think you have great taste. Can we be friends?” Apakah kamu akan menanggapinya?

Ketika mendengar kasus love scamming yang baru-baru ini terjadi di Bali, saya teringat dua pesan di atas yang masuk ke direct massage X saya tahun lalu. Melihat foto profilnya saja membuat curiga bahwa pesan tersebut berasal dari penipu. Namun, tidak semua orang mengenali bahwa pesan-pesan tersebut berasal dari penipu. Ada beberapa yang membalasnya karena penasaran, beberapa lainnya membalas karena membutuhkan teman.

Love scamming merupakan penipuan berkedok asmara. Love adalah emosi atau perasaan cinta, sedangkan scamming adalah perilakunya. Fenomena love scamming tidak hanya terjadi di satu platform media sosial. Love scamming paling mudah ditemukan di aplikasi kencan. Aplikasi kencan merupakan platform paling ampuh ketika ingin mencari teman atau bahkan pasangan. Beberapa orang yang bertemu lewat aplikasi kencan menemukan keberhasilan dalam hubungannya hingga menikah.

Rayu di aplikasi kencan berujung pemerasan

Faridah Rahmah, psikolog Bali Bersama Bisa yang juga kerap mendampingi korban love scamming menyebutkan bahwa kebanyakan korban love scamming berusia 19 – 30 tahun bertemu pelaku di aplikasi kencan. “Kalau di dating apps trennya one night stand, FWB (Friends With Benefits),” ujar Faridah. 

One night stand artinya cinta satu malam atau hubungan seksual yang hanya terjadi sekali dengan seseorang. Sementara, FWB merujuk pada hubungan pertemanan yang melibatkan hubungan seksual, tanpa adanya ikatan emosional dan komitmen.

Dengan modal swipe kiri dan swipe kanan, pengguna bisa memilih siapa yang tepat untuk diajak ngobrol. Jika ngobrol sudah nyambung, tinggal menentukan titik bertemu untuk saling mengenal lebih jauh.

Menggunakan Tinder lebih mudah, foto apa pun bisa dipasang yang penting menarik. Bahkan, saya pernah menemukan foto member BTS di aplikasi tersebut. Entah itu memang foto member BTS atau kebetulan saja wajahnya mirip.

Ada beberapa alasan seseorang menggunakan Tinder, ada yang sekadar ingin punya teman, ada juga yang serius mencari pasangan. “Dulu aku main Tinder gara-gara aku kerja di Kalbar, di sana nggak punya teman. Nah, gara-gara itu dah main Tinder,” ujar salah satu pengguna Tinder. “Iseng-iseng aja sih, mungkin iya juga kesepian,” ungkap pengguna Tinder lainnya ketika ditanya alasan menggunakan Tinder.

Setelah menggunakan Tinder, saya menyadari ada satu kesamaan yang ditunjukkan para pengguna, yaitu ajakan untuk bertemu dalam waktu singkat. Hanya bertukar pesan beberapa jam mereka sudah menawarkan ajakan untuk bertemu. Ajakan yang tampak menarik ketika seseorang benar-benar membutuhkan teman. Namun, harus selalu waspada karena banyak pula kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang bermula dari aplikasi kencan.

Korban love scamming sebut saja Cici, sedangkan pelaku sebut saja Dani. Cici mengenal Dani dari aplikasi kencan. Ketika berbincang lewat aplikasi, Dani menawarkan Cici untuk menjadi model fotografi. Dengan iming-iming tersebut, Cici tertarik hingga diajak ke Jakarta.

Cici menghabiskan banyak biaya untuk pergi ke Jakarta. Beberapa hari kemudian, Dani mengancam foto-foto Cici akan disebarkan. Foto-fotonya diubah menjadi foto intim. Jika Cici tidak ingin foto tersebut disebarkan, ia harus membayar sejumlah uang.

Faridah yang saat itu mendampingi Cici memastikan korban sudah berada di tempat yang aman. “Keselamatan emosionalnya terancam, keselamatan jiwanya juga terancam. Apabila ketahuan oleh keluarganya yang keluarganya cukup kaku gitu, dia yang disalahkan,” ungkap Faridah. Sebagai psikolog, Faridah mendampingi Cici secara psikologis. Pasalnya, love scamming juga menimbulkan dampak bagi kesehatan jiwa korban.

Dampak yang paling banyak terjadi pada korban love scamming adalah Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres pasca trauma. Ada pula gangguan emosional, seperti yang diungkapkan Faridah. “Tiba-tiba nangis, tiba-tiba sedih, tiba-tiba stres, tiba-tiba merasa nggak ada makna buat hidup, tiba-tiba rasanya pengen menaklukkan dunia,” tutur Faridah.

Ketika korban menghadapi love scamming, pelaku akan terus menarik ulur perasaan korban. Korban dibombardir dengan perasaan cinta, perlakuan yang manis, ucapan buaya darat yang menyenangi korban. “Mayoritas klienku bukannya mereka nggak tahu kalau itu tuh gombalan. They knew it, but still enjoy that because this what they are craving for (mereka tahu itu, tapi mereka menikmatinya karena itu yang mereka inginkan),” terang Faridah. Akhirnya, setelah perilaku scamming muncul, timbul pula gangguan emosional, krisis kepercayaan diri, dan kepercayaan terhadap orang lain.

Love scamming berujung deepfake

Love scamming tidak hanya terjadi pada anak muda, orang dewasa pun bisa menjadi korban love scamming. Sebut saja namanya Bunga, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) berusia 50-an tahun di Bali. Bunga merupakan korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) berulang. Kasus KDRT-nya didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali Women Crisis Center (BWCC).

Dua tahun setelahnya, Bunga menemui Ni Nengah Budawati, Direktur LBH BWCC sambil menangis. Usut punya usut, Bunga ternyata menjadi korban love scamming. Setelah berpisah dengan suaminya, Bunga menjalin hubungan asmara dengan seseorang yang dikenalnya lewat media sosial, sebut saja namanya Leo.

Ketika berkenalan di media sosial, Leo mengaku sebagai pejabat di Mabes Polri, foto profilnya tampan dan gagah, begitu kata Budawati. Bunga juga kerap melakukan panggilan video dengan Leo, sehingga tidak ada kecurigaan yang muncul. Suatu hari, Leo tiba-tiba mengirimkan video intim ke Bunga. Dalam video tersebut tampak wajah Bunga, tetapi seingatnya ia tidak pernah merekam video seperti yang ditunjukkan Leo.

Seperti yang terjadi pada Cici, Bunga pun diperas untuk mengirimkan sejumlah uang agar videonya tidak tersebar. Bunga pun merasa frustasi, tidak tahu harus melakukan apa. Budawati menemui Bunga yang saat itu tengah mencoba bunuh diri. Ia mencoba berbicara dengan Bunga dan menenangkannya. Sebagai kuasa hukum Bunga, Budawati menyelidiki identitas pelaku. 

Setelah ditelusuri, pelaku menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk membuat wajah dirinya serupa dengan pejabat di Mabes Polri ketika melakukan panggilan video. Begitu pula dengan video intim Bunga yang digunakan sebagai ancaman. Kasus ini masuk dalam deepfake, yaitu modus KBGO dengan menggunakan teknologi AI. Metode ini digunakan untuk memanipulasi media, seperti gambar dan audio. Dalam kasus seperti itu, Budawati menjelaskan bahwa pihaknya mengusahakan agar pelaku tidak lagi mengancam korban.

Budawati menyebutkan bahwa korban love scamming tidak pandang usia dan pendidikan, siapa pun bisa menjadi korban. “Buktinya ada (korban) yang udah mau lansia, pensiun. Kebanyakan ada yang orang-orang pintar kok,” ungkap Budawati.

Kasus love scamming seperti yang dialami oleh Cici dan Bunga kemungkinan bagian dari sindikat love scamming, seperti yang baru-baru ini terungkap di Bali. Pada Senin, 9 Juni 2025 lalu, Polda Bali menangkap 38 orang tersangka love scamming jaringan internasional yang beroperasi di Bali.

Dilansir dari Tempo.co, para tersangka merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang bertugas sebagai operator. Para operator yang beroperasi di Bali bekerja di bawah kendali seseorang di Kamboja berinisial VV. VV memberikan nama dan nomor calon korban kepada operator.

Kemudian, para operator bertugas mengirimkan pesan kepada calon korban. Mereka berpura-pura menjadi perempuan dengan menggunakan foto profil dan nama perempuan. Sindikat love scamming ini menyasar Warga Negara Amerika Serikat melalui aplikasi pesan Telegram. Para korban dihubungi dengan modus butuh teman mengobrol, salah sambung, hingga berniat menjadi mitra bisnis. Sebelumnya, tersangka telah memetakan profil calon korban untuk memilih strategi tepat mendekati korban.

Ketika korban termakan rayuan tersangka, percakapan akan dialihkan ke VV di Kamboja melalui sebuah link Telegram khusus. Dilansir dari Tempo.co, jika korban mengklik link yang dikirim tersangka, otomatis akan terunduh data pribadi korban. Sindikat ini terungkap karena adanya aktivitas mencurigakan di salah satu rumah di Jalan Nusa Kambangan, Kota Denpasar.

Tipu rayu di dunia nyata

Love scamming bukan hanya berupa pemerasan, deepfake, atau melalui daring. Love scamming juga bisa terjadi di dunia nyata dengan memanfaatkan emosional seseorang.

Seperti yang dialami oleh seorang laki-laki berusia 30-an, sebut saja namanya Nala. Nala sudah menikah, tetapi hubungan rumah tangganya sudah retak. Ia pun bertemu seorang perempuan dan memutuskan untuk serius pada perempuan tersebut. Nala pun meninggalkan istrinya. Namun, ketika diajak ke jenjang lebih serius, perempuan tersebut mengatakan tidak ingin menikah.

Baru belakangan diketahui banyak kebohongan-kebohongan. Perempuan tersebut memang mengaku sudah memiliki pasangan, tetapi dia mengaku bahwa pasangannya di luar negeri dan ia diperlakukan dengan tidak baik oleh pasangannya. “Tapi ternyata dia memanfaatkan pacarnya yang ada di luar negeri secara materil. Awalnya klienku yang pria ini tidak datang dengan keluhan tersebut. Perkara hubungan percintaan romansa yang rumit ini baru terjadi saat sudah lebih dalam masalahnya,” jelas Faridah. 

Dalam kasus Nala, love scamming terjadi ketika perempuan tersebut menjalin hubungan dengan dua laki-laki dan memanfaatkan kedua laki-laki tersebut secara materil dan emosional.

Love scamming dari kacamata psikologis dan sosiologis

Selama berpraktik sebagai psikolog di Bali, Faridah menyebutkan bahwa kebanyakan korban yang datang belum menyadari dirinya korban love scamming. Awalnya klien datang dengan keluhan tidak bisa tidur atau gangguan lainnya. Setelah ditelusuri lebih lanjut, mereka merupakan korban love scamming.

Ada beberapa kesamaan yang ditemukan oleh Faridah selama mendampingi korban love scamming, yaitu rasa percaya diri rendah, self resilience (ketahanan diri) lemah, dan fungsi keluarga yang hilang. “Fungsi dari keluarga terutama figur bapak itu kabur, terganggu, dan hilang,” ungkap Faridah.

Faridah menjelaskan bahwa figur ayah memainkan peran dominan, terutama pada anak perempuan. Ketika peran tersebut tidak terpenuhi, mereka akan mencari penggantinya. “Istilah bare minimum itu tidak dikenal. Konsep lelaki baik yang layak dan ideal untuk saya adalah yang bisa kasih sayang waktu 24/7. Ini yang saya temuin,” ujar Faridah. Padahal, secara logika tidak ada seseorang yang bisa menemani seharian. Jika diibaratkan, mereka yang rentan mengalami love scamming tidak mengenal istilah red flag.

Sementara itu, secara sosiologis, love scamming bukan sekadar penipuan individu atau moralitas pribadi,tetapi juga masalah sosial yang lebih kompleks. “Dewasa ini banyak individu yang merasa kesepian, sehingga hubungan online menjadi pelarian. Pelaku love scamming memanfaatkan perasaan kesepian sebagai komoditas untuk mendapatkan keuntungan melalui koneksi emosional,” terang Bagus Ardiyansyah, sosiolog Universitas Udayana. Ini sejalan dengan yang disampaikan Faridah bahwa korban rentan secara internal, seperti kesepian dan kebutuhan afeksi.

Tekanan sosial juga memiliki peran besar dalam love scamming. Seseorang dianggap berhasil ketika telah memiliki pasangan, menikah, dan memiliki anak. Bagus menjelaskan bahwa tekanan sosial ini bisa memperbesar kerentanan seseorang terhadap tipu daya emosional.

Mendampingi korban love scamming terbilang cukup sulit. Mereka telah kehilangan kepercayaan diri hingga muncul pikiran irasional seperti, “nanti nggak ada yang mau lagi sama aku”. Faridah biasanya akan membantu meningkatkan kembali kepercayaan diri klien dengan cara reshaping the concept of self love (membentuk kembali konsep mencintai diri sendiri). “Dengan masuk melalui asumsi mereka bahwa mereka jelek, bahwa mereka tidak cukup. Kemudian diajak oh kalau memang kamu ngerasa kurang, terus fisik yang ideal seperti apa? Bisa nggak usahain itu?” terang Faridah. Dari situ mereka diharapkan untuk bisa mencintai dirinya sendiri.

Love scamming ibaratnya lingkaran setan yang tidak ada hentinya. Mereka datang memberikan kasih sayang dan harapan, perasaan ditarik ulur, hingga akhirnya dimanfaatkan. Pelaku memanipulasi emosi korban seolah-olah mereka dicintai dengan tulus. Ketika menyadari bahwa dirinya merupakan korban, pikiran-pikiran irasional pun memenuhi kepala. 

Di dunia maya maupun di dunia nyata, sama-sama susah membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang penipuan. Kunci utamanya adalah mencintai diri sendiri, membangun kepercayaan diri, membentuk ketahanan diri. Hal ini memang tidak mudah, tetapi bisa dilakukan.

Apabila kamu sedang atau pernah mengalami love scamming, kamu bisa mendapatkan pendampingan hukum di lbhbwcc@gmail.com dan mendapatkan pendampingan psikolog secara gratis di BISA Helpline.

sangkarbet kampungbet
Tags: aplikasi kencandating appsDeepfakekasus love scammingkesehatan mentallove scamminglove scamming di Balipemerasan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Serbuan Konten AI: Ketika Membedakan Asli dan Palsu itu Melelahkan

Serbuan Konten AI: Ketika Membedakan Asli dan Palsu itu Melelahkan

28 November 2025
Situasi Kekerasan Berbasis Gender Online: DeepFake dan Kekerasan Seksual

Situasi Kekerasan Berbasis Gender Online: DeepFake dan Kekerasan Seksual

4 October 2025
ODS Memamerkan Karya untuk Melawan Stigma

Membaca Ulang Mead dan Kesehatan Mental Orang Bali

14 August 2025
Pendekatan Holistik untuk Kesehatan Jiwa

Pendekatan Holistik untuk Kesehatan Jiwa

26 June 2025
Aksi Bali Mengkritisi Kebijakan Bias Gender dan Tolak RUU TNI

Gerakan Kesadaran Neurodiversitas untuk Keberagaman dan Melawan Stigma

21 June 2025
ODS Memamerkan Karya untuk Melawan Stigma

“Kena Mental”, Humor dan Stigma

28 June 2024
Next Post
Halte dan Wayfinding sebagai Solusi Keberlanjutan Transportasi Publik

Halte dan Wayfinding sebagai Solusi Keberlanjutan Transportasi Publik

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia