
Apakah kamu pernah meminjamkan uang kepada kenalanmu? Apakah uangmu pernah tidak dikembalikan? Lantas, bagaimana perasaanmu? Apakah marah, kesal, dan sebal? Apakah pernah terlintas pikiran ‘ya udah gapapa deh nggak dibayar, namanya juga teman’? Hari-hari berlalu dan kenalanmu tidak juga membayar hutangnya, bagaimana perasaanmu?
Manusia diciptakan dengan beragam emosi, dari marah, bahagia, sedih, takut, dan emosi lainnya. Diciptakan dengan banyak emosi, tapi sering pula emosi itu diabaikan. Ini juga berkaitan dengan norma sosial, seperti tidak boleh marah kepada orang yang lebih tua atau laki-laki tidak boleh menangis.
Faridah Rahmah, seorang psikolog di Bali Bersama Bisa menganalogikan emosi yang dipendam sebagai luka sayatan yang disembunyikan. Luka sayatan besar yang dibalut menggunakan kain tebal berlapis-lapis tetap akan memunculkan rasa sakit ketika disenggol. “But you already forget (tapi kamu sudah lupa) di mana letak lukanya, you forget what happened to your hand (kamu lupa dengan apa yang terjadi pada tanganmu). Karena sudah lama kamu tutup dan orang lain nggak tahu kalau kamu punya luka,” terang Faridah.
Ketika marah, orang seringkali menyalahkan emosinya, bukan perilakunya. Saat marah dengan seseorang, perasaan yang muncul adalah ‘kok aku marah ya’ dengan perasaan bersalah. Padahal, marah bukan perilaku, tetapi perasaan. “Jadi itu (emosi) bukan hal yang baik atau hal yang buruk. Hal yang membuat kita manusiawi tentu saja perasaan itu,” ungkap Faridah.
Mencurahkan emosi bisa dilakukan dengan cara yang adaptif dan aman, seperti yang dilakukan di Bali Bersama Bisa. Bali Bersama Bisa (BBB) merupakan organisasi nirlaba yang menyediakan layanan kesehatan mental. Bukan hanya layanan konseling, ada juga support group dan aktivitas fisik dari hari Senin sampai Minggu, seperti journaling, kelas seni, merajut, dan aktivitas positif lainnya.
Aktivitas yang dilakukan oleh BBB ditujukan untuk pemulihan mental dengan pendekatan holistik atau menyeluruh. Pendekatan holistik dalam artian tidak hanya mengandalkan obat dan konseling.
Kesehatan mental menjadi hal yang sering diabaikan oleh masyarakat. Dalam liputan Menelusuri Angka Bunuh Diri di Bali, ditemukan bahwa sepanjang tahun 2018 – 2022, kasus bunuh diri terus mengalami peningkatan. Sayangnya, kasus bunuh diri yang tinggi tidak dibarengi dengan upaya preventif yang maksimal, seperti cedera bunuh diri yang tidak ditanggung jaminan kesehatan hingga minimnya jumlah psikolog di Bali.
Stigma di masyarakat juga menjadi salah satu faktor seseorang ragu untuk ke psikolog, bahkan ketika kondisi mentalnya sudah tidak baik. Faridah menuturkan bahwa seseorang sebaiknya mengobrol dengan psikolog ketika kondisi mental masih baik-baik saja.
“Kenapa? Karena itu meringankan tugas Anda, meringankan tugas saya. Perasaan itu sebegitu pentingnya. Saat kamu punya problem, perasaanmu pasti unwell. Perasaan unwell ini akan berpengaruh terhadap fungsi kognitifmu, fungsi berpikirmu. Jadi mau dikasih wejangan ya mental. Lebih susah prosesnya,” tutur Faridah. Maka, waktu terbaik untuk berkonsultasi dengan psikolog adalah ketika perasaanmu baik-baik saja.
BBB menyediakan konsultasi kesehatan gratis dengan sistem deposito untuk mengamankan jadwal karena kebanyakan klien tidak datang saat sudah membuat janji dengan psikolog. Selain pemeriksaan psikolog, BBB juga membantu merujuk ke psikiater ketika dibutuhkan. Kegiatan-kegiatan harian di BBB juga dapat diikuti dengan gratis.
Perasaan bukan hal kecil. Ketika dipendam, hanya dirimu sendiri yang menyadari bahwa kamu memiliki perasaan tersebut. Perasaan yang dipendam hanya akan menyakiti diri sendiri. Jika kamu tidak ingin berkonsultasi atau konseling, kamu bisa mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh BBB untuk mencurahkan perasaan.
sangkarbet kampungbet








