
Menyusuri jalan raya penelokan yang dibangun di atas punggung Kaldera Purba, di kawasan pegunungan Kintamani. Masyarakat Batur menggunakan istilah “tundun jaran” atau punggung kuda, yang menggambarkan punggungan atau bentuk lahan geomorfologi yang panjang, sempit, dan tinggi, dengan satu sisi yang curam dan sisi yang lain miring menjauhi puncak.
Secara ilmu kebumian, kaldera adalah kawah vulkanik besar yang terbentuk akibat letusan dahsyat atau runtuhnya bagian gunung berapi setelah letusan besar. Gunungapi Batur merupakan gunungapi strato yang terletak di Pulau Bali yang masuk kedalam kawasan Kaldera Batur yang merupakan Taman Bumi Global Geopark UNESCO pertama di Indonesia.
Siang ini kawah dan tubuh gunung batur tertutup kabut. Bukan hari terbaik untuk ngopi-ngopi di coffee shop, makan ikan mujair nyat-nyat, atau jajan di indomaret dan alfamart yang berlomba-lomba menawarkan view kecantikan gunung batur.
Tetapi siang yang baik untuk melakukan geowisata, karena tidak terlalu terik. Saya mempelajari ilmu geologi ketika kuliah, tetapi tidak mendalami gunung api atau volkanologi, hal ini membuat saya ingin mencoba mengikuti geowisata. Geotour Batur namanya, dipandu oleh Oka Agastya yang bermimpi melalui geowisata untuk mendukung terciptanya ekosistem pariwisata dan berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi lokal di Geopark Batur.
Ketika kami tiba di area Black Lava, tidak ada bedanya dengan “lapangan” atau area yang sering dikunjungi ahli geologi. Hamparan hasil pendinginan lava dengan karakter morfologi permukaan membentuk bukit-bukit kecil, hasil lava yang saling tumpuk-menumpuk akibat proses pendinginan yang cepat.
dari hamparan lava sedingin desa Batur yang ditinggalkan
hanya ada batu tumpuk-menumpuk berwarna kabung
dari gunung api terpotong melintang oleh parang
kaldera menadah tubuh-tubuh yang menaungi rumah
Dalam catatan sejarah, sejak tahun 1804 Gunung Batur telah mengalami erupsi sebanyak 26 kali. Kekuatan tiap letusan bervariasi dan berpengaruh besar pada kondisi per-mukiman Desa Batur. Letusan-letusan tersebut antara lain terjadi pada tahun 1804, 1821, 1849, 1888, 1904, 1905, 1917, 1921, 1922, 1923, 1924, 1925, 1926, 1963, 1965, 1968, 1970, 1971, 1974, 1994, 1995, 1997, 1998, 1999, dan 2000). Letusan yang berdampak besar bagi masyarakat Batur adalah erupsi yang terjadi pada bulan Agustus-September 1926.
“Letusan itulah yang memicu relokasi permukiman Desa Adat Batur beserta Pura Ulun Danu Batur.” Jelas Oka.
membebaskan apa yang menetap
dan tinggal,
melupa dan tanggal

Perpindahan Desa Batur pada tahun 1926 akibat letusan dahsyat Gunung Batur bukan hanya peristiwa geologi, tetapi juga tragedi kultural yang membentuk ulang identitas, solidaritas, dan ingatan kolektif masyarakat Batur.
perpindahan dituliskan pada lontar baru
keyakinan dilarutkan pada danau biru
ingatan disisipkan pada celah-celah batu
kabut putih menjadi latar di belakang altar haru
Proses perpindahan dan pemulihan tidak lepas dari peran desa-desa batun sendi (aliansi lingkaran pertama), yang membantu evakuasi dan penyelamatan benda-benda bersejarah. Aliansi ini juga memiliki hubungan saling kunjung dalam pelaksanaan ritual memperkuat jejaring sosial dan solidaritas antar-desa, yang menjadi modal sosial penting dalam menghadapi perubahan dan tantangan zaman. Perpindahan ini menjadi tonggak sejarah yang membentuk peradaban baru sekaligus memutus kesinambungan ruang fisik dan psikologis dengan desa asal.
pada pergelangan masing-masing kaki
dipersembahkan terikat di atas canang
Masyarakat Batur menemukan kembali titik atau lokasi Pura Ulun Danu Batur lama setelah letusan besar Gunung Batur tahun 1926 yang menenggelamkan desa dan pura lama di bawah aliran lava. Sebelum bencana, keberadaan Pura Ulun Danu Batur terletak di kaki barat daya Gunung Batur, dekat tepi Danau Batur.
tanah liat dan bata,
puing lama membangun yang baru
beras dan bubur,
lapar merapihkan yang belukar
siang dan malam,
menyaksikan yang tergusur dan terbujur ditinggalkan
Penemuan kembali titik Pura Ulun Danu Batur lama sangat terbantu oleh keberadaan foto-foto lama peninggalan Belanda. Foto-foto dan peta sejarah yang diambil dan dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda, seperti Peta Batur tahun 1915, serta dokumentasi visual dari tahun 1800-an hingga awal 1900-an, menjadi bukti penting untuk mengidentifikasi lokasi dan kondisi Pura Ulun Danu Batur sebelum letusan besar 1926. Melalui foto-foto ini, masyarakat Batur dan peneliti dapat melakukan interpretasi mendalam tentang lokasi, struktur, dan nilai budaya Pura Ulun Danu Batur lama, sehingga memudahkan upaya pelacakan dan penandaan titik pura yang kini terkubur di bawah hamparan lava hitam. “Enggak setiap kunjungan geotour kita bisa menemukan titik Pura Ulun Danu Batur lama, titik ini seperti memilih siapa yang diinginkan berkunjung,” cerita Oka.
Penemuan titik ini menjadi peristiwa penting dalam merawat ingatan kolektif masyarakat Batur. Hal ini menegaskan hubungan spiritual dan sejarah masyarakat dengan tanah asal, serta menjadi pengingat atas keteguhan dan solidaritas warga dalam menghadapi bencana dan membangun kembali kehidupan di lokasi baru.
seluruh peristiwa bermalam dibawah telapak
satu kaki menapak kaldera
dan kaki yang lain pada reruntuhan pura
Seiring modernitas, individualisme, dan tantangan literasi budaya, terjadi kesenjangan pewarisan sejarah dari generasi ke generasi. Minimnya catatan sejarah dan dokumentasi memperbesar risiko hilangnya ingatan kolektif tentang peristiwa perpindahan dan nilai-nilai yang menyertainya. Upaya literasi, dokumentasi visual, diskusi, dan media kreatif menjadi sangat penting untuk menjembatani sejarah dan tradisi, serta memastikan warisan budaya tetap hidup di tengah masyarakat yang terus berubah.
setia, membebaskan apa yang menetap
dan tinggal,
melupa dan tanggal
Merawat ingatan atas perpindahan Desa Batur bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga upaya aktif menjaga identitas, solidaritas, dan kesinambungan peradaban. Kegiatan kebudayaan, literasi sejarah, serta pelibatan generasi muda adalah kunci agar nilai-nilai, pengalaman, dan kearifan lokal tidak terputus oleh waktu.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet kampungbet





