• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, March 12, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Refleksi Jalur Pariwisata Bali di Desa Batubulan

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
18 February 2025
in Budaya, Kabar Baru
0
0
Foto bersama KJW Desa Batubulan

Batubulan, sebuah desa di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Desa ini kerap dilintasi orang-orang dari Denpasar yang ingin ke Ubud atau sebaliknya dilintasi para komuter yang bekerja di Denpasar. Apa yang berubah dari desa Barong Dance ini?

Rasa penasarab tersebut membawa tim BaleBengong melaksanakan Kelas Jurnalisme Warga (KJW) di Desa Batubulan. Pagi jam 09.00 WITA (25/01) kami berangkat dari Denpasar ke Puspa Aman Desa Batubulan. Puspa Aman merupakan singkatan dari pusat pangan alami mandiri asri dan nyaman, sebuah lahan yang dikembangkan sebagai penghasil pangan desa untuk meningkatkan gizi keluarga.

Meski udara panas, Puspa Aman saat itu terasa sejuk. Nyiur angin mengundang rasa kantuk. Para peserta duduk menyebar di pojokan. Rasa kantuk lenyap ketika fasilitator memanggil peserta untuk merapat.

Peserta saat itu berjumlah sepuluh orang dari Karang Taruna Sila Chandra Desa Batubulan. Berbeda dari desa KJW sebelumnya, para peserta ternyata belum mengenal satu sama lain. Asal banjar mereka berbeda-beda, mengingat ada 16 banjar berbeda di Desa Batubulan. Namun, tidak semua perwakilan banjar hadir pagi itu.

Materi oleh Luh De Suriyani

Rasa hangat perlahan terbentuk ketika peserta saling mengenal satu sama lain. Seperti biasa, hari pertama diisi dengan mengenal BaleBengong dan dunia jurnalistik. Pengenalan BaleBengong diisi oleh Juniantari. Kemudian, materi dasar-dasar jurnalistik diisi oleh Luh De Suriyani.

Selain pemateri dari BaleBengong, hadir pula pewarta warga asal BatuBulan, I Wayan Willyana atau yang dikenal dengan nama Kaung. Kaung merupakan seorang pemandu wisata yang hobi menulis.

Setelah makan siang bersama, Kaung menceritakan perubahan yang ia lihat di Desa Batubulan selama menjadi pemandu wisata. Pada tahun 90-an, Batubulan adalah jalur utama pariwisata. Masyarakat dari daerah sekitar Batubulan berbondong-bondong mencari pundi-pundi uang dari industri pariwisata di Batubulan.

I Wayan Willyana bercerita tentang Batubulan

Kaung menyebut Desa Batubulan mengalami post power syndrome karena pada tahun 90-an desa tersebut pernah mengalami masa jayanya. Kejayaan Batubulan di sektor pariwisata membawa pengaruh ke adat dan budaya desa tersebut. “Makanya kenapa ritual di Batubulan itu ribet? Karena kita pernah jaya,” ujar Kaung disambut tawa oleh para peserta yang fokus mendengarkan.

Ia menyebut bahwa dulu masyarakat Batubulan memiliki banyak waktu luang dan banyak uang, sehingga hidup mereka sangat santai. Saking banyaknya waktu, pernah ada satu acara desa yang diselenggarakan selama satu bulan penuh dengan 36 cabang perlombaan. “Bayangkan siapa sekarang yang bisa garap event desa selama satu bulan kalau emang nggak berlebih,” ungkap Kaung.

Kaung menceritakan banyak hal tentang Batubulan, mulai dari pergolakan PKI, masa jaya pariwisata, hingga dampak bom Bali terhadap pariwisata di Batubulan. Kisah yang disampaikan Kaung siang itu dapat dibaca di BaleBengong.

Cerita Kaung memberikan ide-ide yang menarik untuk diliput oleh para peserta. Salah satu peserta meliput tentang budaya macobak yang menjadi acuan waktu sangkep dan ngayah di Desa Batubulan. Macobak berasal dari kata mencoba, yang mengacu pada pertunjukan Tari Barong di Desa Batubulan.

Ada pula peserta yang meliput tentang lamak di Desa Batubulan. Berbeda dengan daerah lainnya, masyarakat Desa Batubulan cenderung membuat lamak berukuran panjang. Selain lamak, satu kelompok mengangkat tentang kisah serati di Desa Batubulan. Kisah ini terinspirasi dari lagu Nosstress berjudul Bu Darmi. 

Tentu saja liputan tentang kuliner tidak boleh dilupakan. Kuliner legendaris Warung Nasi Men Rida menjadi pilihan menarik untuk diliput. Mengunjungi warung ini harus pagi-pagi sekali jika tidak ingin melewatkan nikmat nasi campurnya. Selain kuliner, ada satu liputan yang membahas ruang kreatif di Desa Batubulan, yaitu Tegaltemu Space. Ruang kreatif ini memiliki pojok seni yang dikemas seperti mading di sekolah.

Peserta berbagi pengalaman liputan

KJW Desa Batubulan dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada 25 – 26 Januari 2025. Singkatnya waktu membuat salah satu peserta sempat merasa kewalahan. “Mungkin karena waktu yang singkat jadi kurang maksimal,” ungkap Ratna, peserta yang meliput tentang lamak. Meski waktu yang singkat, tak disangka-sangka hasil liputan mereka dipilih sebagai yang terbaik.

Salah satu peserta, Yusan yang meliput tentang tradisi macobak merasa kegiatan KJW membuka ingatannya kembali tentang Tari Barong. Pasalnya, sudah lama sejak terakhir dirinya menonton Tari Barong di Pura Puseh Desa Batubulan.

Peraih video terbaik
Peraih tulisan terbaik

Selain mengenalkan adat dan budaya Desa Batubulan kepada masyarakat di luar desa, KJW ini secara tidak langsung juga membuka ingatan anak muda Desa Batubulan tentang desanya sendiri. KJW ditutup dengan pemilihan peserta terbaik, tulisan terbaik diraih oleh tulisan Perempuan Batubulan Representasi Lagu Nosstress “Bu Darmi”. Ada pula video Postur dan Estetika Lamak di Desa Batubulan sebagai video terbaik.

Meski telah berakhir, KJW Desa Batubulan membuka ruang bagi kawula muda di Desa Batubulan untuk menjadi pewarta warga di desa mereka.

KJW BaleBengong tidak berhenti di sini. Nantikan kami di desa lainnya.

kampungbet
Tags: Citizen Journalismkelas jurnalisme wargaKJW batubulan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Rumah Panggung Loloan makin Hilang

Rumah Panggung Loloan makin Hilang

6 January 2026
Banjir di Banjar Sebual, Warga Bangkit Bersama Setelah Bencana

Banjir di Banjar Sebual, Warga Bangkit Bersama Setelah Bencana

21 December 2025
Beban Tak Terlihat Remaja Bali di Jembrana

Beban Tak Terlihat Remaja Bali di Jembrana

20 December 2025
Menimbang Ulang Pengertian Masyarakat Pesisir dari Pantai Sanur

Menimbang Ulang Pengertian Masyarakat Pesisir dari Pantai Sanur

15 October 2025
Masa Depan Pantai Sindhu dari Kacamata Pemilik Usaha

Masa Depan Pantai Sindhu dari Kacamata Pemilik Usaha

12 October 2025
“Pesuan Kebisan Ragane” Api Jengah Pemuda Intaran Sanur

“Pesuan Kebisan Ragane” Api Jengah Pemuda Intaran Sanur

10 October 2025
Next Post
matan AI

Teror di Pulau Sorga

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
Titik Berburu Takjil di Bali

Titik Berburu Takjil di Bali

6 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia