
Udara dingin, tetapi hati terasa hangat. Itu yang kami rasakan pada Kelas Jurnalisme Warga (KJW) di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Desa Pedawa merupakan salah satu desa Bali Aga karena telah ada sebelum pengaruh Majapahit masuk ke Bali.
Waktu kurang lebih tiga jam kami tempuh dari Kota Denpasar. 15 menit menjelang tiba di Desa Pedawa, jalanan berliku kami lalui. Udara dingin langsung menusuk hingga tulang ketika keluar dari mobil.
Malam itu (18/07) kami tiba disambut Wayan Sadyana dan Made Saja. Begitu tiba, kami langsung disuguhi kopi. Selain untuk menghangatkan tubuh, katanya itu memang tradisi bagi tamu yang datang ke Desa Pedawa.
Wayan Sadyana dan Made Saja merupakan dua orang penting yang berjasa bagi pelestarian adat dan budaya Pedawa. Bersama dua orang lainnya, mereka mendirikan Pondok Literasi Sabih, Sekolah Adat, dan Kayoman. Masing-masing memiliki tugas dan fungsi berbeda.
Pondok Literasi Sabih tentu menjadi tempat belajar banyak hal bagi anak-anak Desa Pedawa. Sementara, sekolah adat merupakan tempat belajar adat, tradisi, dan budaya Pedawa. Lain hal dengan Kayoman yang berfungsi sebagai tempat konservasi tanaman endemik Desa Pedawa.

Kelas Jurnalisme Warga kali ini diikuti sembilan anak muda yang tergabung dalam Pondok Literasi Sabih. Beberapa di antaranya juga tergabung dalam Sekolah Adat dan Kayoman. Ada yang unik dalam KJW kali ini, salah satu pesertanya, Ni Komang Ayu Julia Ningsih, masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar (SD). Meski masih SD, Ayu dibekali kemampuan di atas rata-rata dibandingkan anak seusianya.
Mengawali KJW, Wayan Sadyana selaku pendamping mengenalkan berbagai hal yang bisa ditulis tentang Desa Pedawa, mulai dari sumber air, arsitektur rumah Pedawa, kehidupan pohon aren, bentuk pura yang unik, hingga tabu budaya. Ia berharap KJW ini dapat menghasilkan karya yang bisa dinikmati masyarakat luar Pedawa, sehingga desa ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas.
Kelas penulisan artikel diisi oleh Kardian Narayana atau kerap disapa Cotex, jurnalis asal Buleleng. “Tulis-tulis gen,” kata Cotex kepada para peserta. Ia menekankan bahwa dalam menulis tidak perlu pikir panjang, tulis dahulu, pikirkan belakangan.

Dalam sesinya, Cotex menuturkan bahwa Pedawa memiliki berbagai cerita yang bisa disampaikan. Cerita-cerita di Pedawa diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak terdokumentasikan dengan baik. Maka dari itu, menulis melalui KJW merupakan kesempatan merekam dan menyampaikan peristiwa.
Peserta KJW Pedawa dibagi menjadi lima tim liputan. Masing-masing mengambil topik berbeda, yaitu sumber air, sanggah kemulan, dialek Bahasa Pedawa, pohon aren, dan rumah adat.

Saking semangatnya, beberapa tim liputan menyelesaikan karya mereka di hari pertama. Tim liputan sanggah kemulan langsung mewawancarai orang tua Wayan Sadyana sebagai narasumber. Mereka menceritakan tentang sanggah nganten, yaitu sanggah kemulan berbentuk susunan bambu.
Tim liputan dialek Bahasa Pedawa juga langsung menemui ibu Wayan Sadyana untuk merekam percakapan menggunakan Bahasa Pedawa. Bahasa Pedawa lain dari Bahasa Bali pada umumnya. Keunikan terletak pada penggunaan akhiran “a” dengan pelafalan yang jelas. Misalnya, masyarakat Bali dataran melafalkan suba (sudah) dengan sube, sedangkan masyarakat Pedawa melafalkan suba sebagaimana pengejaannya, yaitu suba. Kerap kali pengucapannya disingkat menjadi ba.

Lain lagi dengan tim liputan sumber air yang membutuhkan tenaga untuk mencapai sumber air. Sumber air yang dipilih untuk diliput adalah yeh cacapan semer. Pasalnya, sumber air ini paling mudah dijangkau masyarakat Pedawa. Yeh cacapan semer memiliki arti tetesan air yang berada di sumur atau tetesan air yang membentuk sumur.
Tema yang cukup berat diangkat oleh tim pohon aren. Tim ini meliput tentang alih fungsi lahan pohon aren menjadi perkebunan cengkeh. Cengkeh memang memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan pohon aren. Namun, secara turun-temurun, Desa Pedawa dikenal dengan pohon aren. Bahkan, adat dan tradisi desa ini erat berkaitan dengan pohon aren.

Selain pohon aren, rumah adat juga semakin langka di Desa Pedawa. Desa Pedawa memiliki tiga tipe rumah adat, yaitu Bandung Rangki, Sridandan, dan Masegali. Masegali sudah punah, sedangkan Bandung Rangki hanya tersisa sebanyak 27 rumah di Desa Pedawa.
Seluruh peserta KJW Desa Pedawa berhasil menuntaskan masing-masing topik liputan. Liputan masing-masing tim mencerminkan pengetahuan mereka tentang desanya sendiri. Meski usia mereka masih di bawah 20 tahun, mereka memiliki pengetahuan yang cukup banyak tentang Desa Pedawa. KJW kali ini tampaknya berhasil menjadi wadah bagi orang muda Desa Pedawa untuk mengenalkan desanya kepada masyarakat luas.
Ke mana KJW selanjutnya berlabuh?
kampungbet kampungbet











Kak, usul
bolehkah tulisan teman2 tentang Desa Pedawa di tayangkan di Bale Bengong?
agar kami juga bisa mendapatkan insight dari beragam topik itu
terima kasih
salam
ario