Tim ahli geologi yang didukung BMKG Wilayah III dan Undiksha terjun langsung ke Dusun Sorga Mekar setelah retakan tanah sepanjang puluhan meter menganga di antara rumah-rumah warga. Yang mereka temukan lebih serius dari yang dibayangkan.

Pagi itu tanah di Dusun Sorga Mekar, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, terlihat terbuka. Sebuah rekahan sepanjang hampir 13 meter menganga di halaman warga, membelah fondasi rumah, memuntir jalan semen yang selama ini dilalui setiap hari. Sebagian tanah ambles hingga 40 sentimeter — hampir setinggi lutut orang dewasa. Kejadian itu bermula dengan senyap: retakan kecil pertama kali muncul pada 11–12 Februari 2026, tumbuh pelan-pelan, lalu meledak jadi bencana nyata ketika hujan deras mengguyur panjang pada 27 Februari 2026. Warga yang panik segera melapor ke BPBD Kabupaten Buleleng.
Merespons laporan tersebut, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Bali menggerakkan timnya. Pada 6 Maret dan 9 Maret 2026, para geolog turun langsung ke lapangan — bukan hanya membawa mata terlatih, tetapi juga perangkat geolistrik untuk membaca apa yang tersembunyi jauh di bawah permukaan tanah. Mereka bekerja bersama dukungan teknis BMKG Wilayah III untuk data curah hujan, serta Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang turut memperkuat kapasitas tim.
Koordinat bencana tercatat pada titik 8.235023°, 114.912946°, di ketinggian 120 hingga 133 meter di atas permukaan laut. Secara geomorfologis, Dusun Sorga Mekar bertengger di bentangalam denudasional struktural — perbukitan berlembah yang morfologinya dibentuk oleh kontrol dua sesar besar: Sesar Pupuan dan Sesar Seririt yang berpotongan di kawasan itu. Lerengnya landai bergelombang dengan kemiringan 12 hingga 18 derajat — cukup untuk membuat tanah bergerak jika kondisi bawah permukaannya melemah.

Itulah yang persis terjadi. Di bawah lapisan tanah tempat warga berpijak, tim menemukan batuan penyusun yang didominasi tuf vulkanik hasil erupsi purba Gunungapi Jembrana — batuan yang telah mengalami pelapukan intensif selama jutaan tahun hingga berubah menjadi massa lempungan yang plastis dan licin ketika jenuh air. Ketebalan lapisan tanah pelapukan di lokasi ini mencapai dua hingga lima meter. Tidak ada batu keras yang kokoh di bawah rumah-rumah warga itu, yang ada hanyalah material lunak yang menunggu satu kondisi: kejenuhan air yang melampaui ambang batasnya.
“Retakan selebar 52 sentimeter bukan sekadar kerusakan fisik. Bagi geolog, itu adalah tanda tangan — konfirmasi bahwa tanah sudah aktif bergerak dan bidang gelincir di bawahnya sudah terbuka.”

Tim memetakan tujuh titik pengamatan (LP-1 hingga LP-7) yang tersebar di zona terdampak. Di LP-1, retakan membelah jalan masuk pemukiman dengan arah N 180° E, membentuk dua rekahan memanjang sepanjang 3,80 meter dan 11,90 meter. Di LP-2, bukaan retakan mencapai 52 sentimeter dengan penurunan vertikal tanah setinggi 40 sentimeter — cukup dalam untuk menjebak kaki seseorang. Di LP-3, yang merupakan mahkota longsor, tanah turun secara bertahap: 17 sentimeter, lalu 25 sentimeter, dan di titik terdalam mencapai 90 sentimeter. Di LP-5, rekahan tunggal membentang sepanjang 31,80 meter ke arah barat daya — hampir selebar sebuah lapangan bulu tangkis. Keseluruhan area terdampak membentang sepanjang 62 meter dengan lebar 30 meter.

Untuk mengonfirmasi kondisi bawah permukaan, tim menggelar dua lintasan pengukuran geolistrik: GL-1 sepanjang 60 meter dengan penetrasi hingga kedalaman 30 meter, dan GL-2 sepanjang 30 meter dengan penetrasi 15 meter. Hasil pengolahan data menunjukkan nilai resistivitas yang berfluktuasi antara 3,26 hingga 21,66 ohm — angka yang mengindikasikan variasi litologi dari batupasir vulkanik, tuf, hingga lapisan soil jenuh air. Yang paling krusial: anomali nilai resistivitas rendah teridentifikasi pada kedalaman sekitar 6 meter di lintasan GL-1 dan 4 meter di GL-2. Inilah yang oleh tim diinterpretasikan sebagai bidang gelincir — batas antara massa tanah yang bergerak di atas dan batuan dasar yang relatif lebih stabil di bawahnya.

Dengan seluruh data lapangan di tangan, tim melakukan analisis kestabilan lereng menggunakan metode Infinite Slope. Hasilnya menghasilkan angka yang tidak bisa diabaikan: Faktor Keamanan (FK) = 1,03. Dalam skala kestabilan lereng, angka ini masuk kategori kritis — berada tepat di ambang batas antara “bertahan” dan “longsor”. Batas aman minimum untuk kawasan permukiman adalah FK 1,5, dan lereng ini berada jauh di bawah angka itu.
Lebih mengkhawatirkan lagi, perhitungan lanjutan dengan memperhitungkan tekanan air pori menunjukkan bahwa lereng akan runtuh (FK turun menjadi 0,98) jika muka air tanah naik hanya setinggi satu meter di atas bidang gelincir. Artinya, dibutuhkan akumulasi curah hujan sekitar 250 mm untuk memicu kondisi tersebut. Angka itu bukan tidak mungkin terjadi — data BMKG dari Stasiun Celukan Bawang mencatat curah hujan harian mencapai 175 mm/hari pada 22 Februari 2026, hanya beberapa hari sebelum gerakan tanah terjadi. Dan ada faktor yang lebih berbahaya dari sekadar total curah hujan: retakan-retakan yang kini menganga di permukaan berfungsi layaknya jalan tol bagi air hujan — mengalirkan langsung air ke bidang gelincir tanpa harus menunggu tanah jenuh terlebih dahulu.

Jika hujan dengan intensitas lebih dari 50 mm per jam turun kembali, air tidak perlu meresap melalui pori tanah. Ia akan langsung masuk ke dalam rekahan, menciptakan tekanan hidrostatik yang mendorong massa tanah senilai hampir 18 ribu ton ke arah utara-timur laut — tepat ke arah permukiman warga yang rumahnya berjarak hanya satu hingga dua meter dari mahkota longsor.
Laporan akhir IAGI Bali menyampaikan dua jalur rekomendasi secara tegas. Untuk jangka pendek: seluruh rekahan harus segera ditutup menggunakan material kedap air untuk memutus jalur infiltrasi langsung ke bidang gelincir. Warga dianjurkan memasang patok pemantau di kedua sisi retakan, dan jika lebar retakan bertambah lebih dari dua hingga lima sentimeter dalam satu hari, evakuasi mandiri harus dilakukan tanpa menunggu instruksi. Data curah hujan dari BMKG juga bisa digunakan sebagai indikator peringatan dini: hujan lebat-sedang yang berlangsung lama adalah sinyal untuk bersiap mengungsi.
Untuk jangka panjang, laporan ini secara eksplisit menyatakan bahwa solusi struktural seperti pembangunan dinding penahan tanah konvensional kemungkinan besar tidak akan efektif mengingat massa tanah yang terlibat sangat besar dan bidang gelincirnya sangat dalam. Rekomendasi utamanya adalah audit kelayakan hunian terhadap rumah-rumah yang berada di jalur lintasan longsor, dan jika pemantauan menunjukkan pergerakan aktif yang terus-menerus, opsi relokasi ke area yang lebih stabil harus segera direncanakan. Area bekas longsor direkomendasikan untuk dialihfungsikan menjadi zona hijau dengan penanaman vegetasi berakar tunggang dalam seperti rumput Vetiver untuk memperkuat kohesi tanah secara alami.
Laporan ini dikirimkan kepada Bupati Buleleng dengan tembusan ke Kepala Badan Geologi KESDM, PVMBG, BPBD Buleleng, Camat Seririt, Kepala Desa Lokapaksa, hingga Kepala Lingkungan Dusun Sorga Mekar — rantai koordinasi kebencanaan yang lengkap, sebagai bentuk pengabdian ilmu kebumian untuk keselamatan warga.
“Di bawah tanah tempat mereka tidur setiap malam, ada bidang gelincir yang menunggu satu skenario: hujan yang cukup lama dan cukup lebat.”
Di Dusun Sorga Mekar, retakan itu masih ada. Tanah itu masih bergerak, perlahan, diam-diam. Yang berubah setelah kedatangan tim IAGI Bali adalah satu hal penting: warga kini tahu apa yang sedang terjadi di bawah kaki mereka. Dan para geolog itu tahu bahwa pengetahuan, dalam situasi seperti ini, adalah bentuk pertama dari mitigasi bencana.
(Laporan desiminasi Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Bali)









![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)