• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 21, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Subak Jatiluwih, Sebuah Harmonisasi Peradaban

Persma Akademika by Persma Akademika
7 April 2013
in Berita Utama, Kabar Baru, Travel
0
3

jatiluwih-01

Oleh Esa Cahya

Menikmati Bali tidak hanya den­gan berhura–hura di kafe atau diskotik.

Tidak juga dengan ber­jemur di pantai-pantai yang su­dah lumrah dilakukan. Namun juga berteman dengan alam dan mengilhami nilai-nilai historis kebudayaan Bali seperti Subak.

Kepenatan akan hiruk pi­kuk kota, membuat perasaan ingin merasakan sesuatu yang berbeda. Sebuah nilai budaya dalam subak mengun­dang saya melakukan perjalanan ini. Menuju sebuah desa bernama Jatiluwih yang memang masih tetap setia dengan subaknya. Selain kare­na indah, subak Jatiluwih merupak­an salah satu maskot subak di Bali dan telah memperoleh penghar­gaan sebagai warisan budaya dunia UNESCO.

Perjalanan menuju sebuah desa di Kabupaten Tabanan ini pun saya lakukan dengan berbagai per­siapan. Diawali mengecek kendara­an, membawa tas berisikan dompet dan kamera digital, saya siap menempuh perjalanan sejauh 48 km dari Kota Denpasar. Perjalanan den­gan waktu dua jam terasa tak melelah­kan.

Di sepanjang perjalanan pun disuguhi dengan pemandangan yang sunyi. Berbeda dengan jala­nan di Denpasar yang kini penuh kemacetan.

jatiluwih02

Perjalanan memang tak semu­lus yang dibayangkan. Jalanan yang berlubang mengintai ketika mele­wati Mengwi. Sedikit halangan itu tetap tak menyurutkan niat saya untuk menengok subak Jatiluwih. Bayangan akan keindahan yang melampaui wisata Puncak di Jawa Barat terngiang–ngiang sudah di pikiran.

Ternyata godaan dan tantangan selama perjalanan terlunaskan setelah tiba di Desa Jatiluwih. Decak kagum menggambarkan penglihat­an saya.

Mini Utopia
Area persawahan yang luas tertata bagus dengan teraseringnya. Gemercik aliran air dari pegunungan menambah kesegaran. Em­busan angin pun mengisyaratkan sosok keelokan sebuah mini uto­pia. Pemandangan seperti ini tidak kalah dengan pantai di Bali bagian selatan yang sekarang didominasi oleh pariwisata gaya barat.

Langkah demi langkah ter­lampaui untuk menjawab pemiki­ran saya akan subak. Pura-pura berdiri tegak menggambarkan rasa syukur subak sebagai karya ciptaan Tuhan. Terdapat bambu yang diran­cang untuk mengaliri air di setiap kotak persawahan. Air tercurahkan dari genangan danau dan beberapa sungai terdekat.

Pembagian air pun diatur sesuai jauh dekatnya persawahan dengan sumber mata air. Lebih mendahulukan areal persawahan yang jauh, menandakan ada kes­etaraan dan keadilan dalam sistem subak. Struktur yang sedemikian rupa bercampur dengan nilai sosial kegotong-royongan masyarakat membentuk harmonisasi yang ham­pir menyentuh kesempurnaan. Ter­cipta dari tangan–tangan manusia dari abad ke-14 yang dipertahankan hingga saat ini.

jatiluwih03Istirahat setelah menyusuri hamparan persawahan pun saya lakukan dengan duduk sejenak di sebuah balkon rumah makan di ujung subak. Secangkir kopi dan hidangan seporsi sate lilit menemani rehat saya sore itu. Sembari menikmati pemandan­gan sawah dan nampak lukisan persawahan Jati­luwih terlihat nyata karya maestro Affandi menem­pel di dinding balkon. Sungguh pemandangan yang menyempurnakan perjalanan saya dalam mempelajari subak.

Perjalanan saya ditutup den­gan rasa syukur dan takjub akan subak. Tidak terduga oleh saya se­belumnya jika subak mempunyai nilai yang patut direnungkan. Jatilu­wih tidak hanya tempat untuk men­curahkan kebosanan pikiran. Tetapi juga belajar akan nilai kebudayaan yang ada di masyarakat Bali, salah satunya subak.

Subak Jatiluwih mungkin hanya satu dari sekian banyak desti­nasi pariwisata yang ada di Bali. Se­buah warisan budaya di dunia yang masih setia dengan nilai historis dan budayanya. Jatiluwih hanyalah salah satu cermin daerah wisata di Bali yang masih tetap berjuang mempertahankan kepribadiannya di tengah pesatnya modernisasi pariwisata di Bali. Tentunya tetap dengan spirit harmonisasi alam yang berbeda dan hanya ditemukan di sini. [b]

Tags: TabananTravelWisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Persma Akademika

Persma Akademika

Pers Mahasiswa Akademika Universitas Udayana - Sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa atau lembaga dalam bidang jurnalistik di Universitas Udayana. Sekretariat : Gedung Student Center Universitas Udayana, Jalan Dr. Goris, Denpasar, Bali. http://www.persakademika.com/

Related Posts

Adu Balap di Jalan, Janji Sirkuit Ditagih

Adu Balap di Jalan, Janji Sirkuit Ditagih

3 June 2025
Melestarikan Tapel Ngandong, Kesenian Unik dari Desa Les Lewat Akses Digital

Kesenian yang Terancam Hilang di Desa Wisata Les

3 January 2025
Menilik Hotel Ramah Lingkungan Mana Earthly Paradise

Menilik Hotel Ramah Lingkungan Mana Earthly Paradise

1 July 2021
Jargon Kontroversial soal Bali Wisata Halal

Jargon Kontroversial soal Bali Wisata Halal

25 January 2021
melukat di bali

Tempat Melukat untuk Menyambut Tahun Baru

25 December 2020
Dampak Pandemi COVID-19 di Desa Angkah

Dampak Pandemi COVID-19 di Desa Angkah

1 June 2020
Next Post
Inilah Pendapat Warga terhadap Kinerja Pemprov Bali

Inilah Pendapat Warga terhadap Kinerja Pemprov Bali

Comments 3

  1. yandi says:
    13 years ago

    Sayangnya rute perjalanan kurang disinggung lebih jujur oleh penulis selain hanya mengungkap spot tujuan. Kontradiktif dengan anugerah adi luhung World Heritage-nya. Saya tidak tahu apakah Anda memang mendapatkan rute yang mulus rupawan, ataukah memang nasib sial bagi saya yang melewati rute yang salah. 🙂

    Reply
  2. Yan Bagia JTB says:
    12 years ago

    Salam dari JTB http://www.ormasjtb.blogspot.com
    Terima kasih sudah menginformasikan Jatiluwih
    semoga terus bisa bekerjasama ! Terima kasih

    Reply
  3. RyGuN says:
    12 years ago

    Hakekat subak sangatlah luas, tidak sebatas hanya sawah namun 5 elemen “Panca Maha Bhuta” (Air, Tanah/bumi, Api, Angin/udara, Ether) adalah kaitan eratnya subak, sesuai konsep Tri Hita Karana (parahyangan, pawongan, palemahan) .
    untuk teman2 Persma Akademika Univ.Udayana ingin mengetahuinya lebih mendalam tentang perjalanan padi-gabah-beras-nasi sekaligus bagaiman hasil pertanian organik (tanpa pestisida), silahkan Umawali (kembali ke uma/sawah), dan mengalami yg alami dalam video berikut ini : http://youtu.be/3lIT6U5cGvA

    Umawali (tabanan ricefield festival) / festival perayaan sawah.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Finansialisasi Desa-desa di Bali

20 January 2026
Mosi Tidak Percaya adalah Pemuda yang Bersuara

Aksi Agustus: Dewan Pers Menugaskan Ahli Pers Memantau Kasus Kekerasan pada Jurnalis di Bali

20 January 2026
Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia