Oleh Kadek Hendrian Widiana, Ni Kadek Sinta Dwi Utami, I Putu Restu Adi Nugraha — Singasana
Balap merupakan suatu bentuk kompetisi yang melibatkan adu kecepatan antara dua pihak atau lebih dengan tujuan utama mencapai garis akhir dalam kurun waktu tercepat. Dalam aksi ini tidak hanya menguji keberanian, tetapi teknik, dan strategi menjadi tarian tegang dalam satu lintasan.
Banyak anak muda yang menjadikan aksi balap ini sebagai bagian dari hobi mereka, seperti api kecil yang membakar kebosanan dalam kegelapan waktu luang mereka, menyalakan semangat yang terkadang padam oleh rutinitas harian. Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Tabanan (KONI), I Made Nurbawa menjelaskan bahwa ketika aksi balap dilaksanakan di tempat yang seharusnya atau sirkuit resmi, maka balap dapat dikatakan sebagai aktivitas olahraga. Tentunya terdapat disiplin, aturan, dan keselamatan yang sangat dijunjung tinggi, seperti penggunaan helm, sepatu, pelindung badan, lintasan yang standar balap, dan sebagainya. Namun, sayangnya di Kota Tabanan, ruang publik ibarat panggung yang retak, tak ada fasilitas yang memadai bagi remaja penghobi balap tersebut.
Ketika hobi tak punya wadah, adrenalin pun mencari jalan pintas. Ketika itulah jalanan kota berubah jadi lintasan. Saat malam mulai lengang dan lampu jalan menyala redup, deru knalpot memecah sunyi. Para remaja tersebut menyalurkan hobinya di bawah gemerlapnya malam.

Antara asap dan adrenalin
Balap liar bisa diibaratkan seperti dua sisi dari sebuah ban. Satu sisinya menggambarkan semangat balapan yang menggebu, sisi lainnya memancarkan keliaran yang tak bisa ditebak arahnya. Namanya saja sudah liar, langsung mengarah pada adu cepat kendaraan yang berlangsung di lintasan tidak resmi. Aksi ini terjadi di atas aspal jalanan umum, dengan lampu jalan sebagai saksi dan marka jalan sebagai garis start yang tak sah. Biasanya kegiatan ini dilakukan jika langit sudah mulai bertaburan permata sampai menjelang pagi antara pukul 22.00 WITA hingga 03:00 WITA, saat suasana jalan raya sudah mulai kehilangan melodinya. Mereka tampil seperti ikan yang berada di air, mereka sangat merasa nyaman di atas aspal itu. “Sebenarnya balap liar itu ngeri-ngeri sedap, senangnya kita dapat, ketakutannya juga ada,” ujar Yan Kukik, pria berumur 48 tahun dan berprofesi sebagai petani.
Joki balap merupakan sebuah istilah bagi orang yang yang digunakan jasanya dalam mengendarai motor untuk balapan atau dalam bahasa lain dikenal dengan istilah rider. Joki ini dapat berasal dari perwakilan bengkel atau merupakan perseorangan. Seorang joki harus mengetahui kekuatan motor yang akan digunakan untuk balapan, termasuk mengetahui kelebihan dan kekurangan motor tersebut. Joki juga harus memiliki kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan saat mengendarai motor yang melaju seperti angin. Selain itu, untuk membuat rekannya percaya bahwa ia seorang joki maka sangat diperlukan kelihaian dalam mengendarai motor serta keahlian dalam merespon segala sesuatu dengan cepat seperti merespons keadaan darurat.
Nyali besar wajib dimiliki oleh seorang joki, karena biasanya mereka tidak memakai perlengkapan keselamatan saat balapan. Akibatnya, kecelakaan bisa saja terjadi dan nyawa menjadi taruhannya. Jalur balap yang mereka lintasi seperti jembatan dari papan triplek asal bisa nyebrang, soal aman dipikir belakangan.
Selain joki balap, terdapat pula penghobi balap yang menjadi pengendara utama dalam aksi balap liar. Pengendara balap ini merupakan orang yang biasanya memiliki kendaraan sendiri dan langsung terlibat dalam aksi balap dengan memacu kendaraannya saat balapan berlangsung. Berbeda dengan penghobi balap yang menawarkan jasa sebagai joki untuk mengendarai kendaraan milik orang lain. Joki ini tidak selalu memiliki kendaraan pribadi yang digunakan sebagai sarana balap. Singkatnya, peran joki disini mirip seperti ‘joki skripsi’, dimana seseorang dibayar atau diminta melakukan tugas tertentu untuk pihak lain, dalam hal ini mengendarai sepeda motor dalam balapan.

Mereka liar bukan tanpa alasan, mereka juga makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki rasa penasaran tinggi. Dari rasa penasaran ini, lahir ide-ide nekat. Bagaimana kalau motor ini dipacu secepat mungkin? Apakah dapat mengalahkan kecepatan angin? Liar bukan hanya sekadar nakal-nakalan. Akan tetapi, bentuk ekspresi, pencarian jati diri, dan juga seruan diam yang ingin didengar.
“Jika saya biasanya turun ke jalan, buihh biasanya pengendara jalan yang lainnya juga ikut menepi dan menonton, ada juga yang kadang acuh tak acuh terhadap kami kami,” ujar Yan Kukik lagi sambil tertawa. Balap liar, meski berbahaya ia seperti konser band legendaris di tengah kota kecil yang haus hiburan, liar dan gaduh, tapi tetap ditunggu-tunggu.
Menariknya, panjang lintasan yang digunakan untuk aksi balap liar ini sering ditentukan berdasarkan kesepakatan antara kedua belah pihak. Jalur yang mereka pilih bukanlah sirkuit panjang dengan tikungan yang rumit, melainkan jalan lurus yang digunakan secara spontan baik di area yang sepi di malam hari. Jalur yang mereka sepakati tetap menjadi arena yang menantang. Dalam jarak dan pacuan mesin itu, segala sesuatu dipertaruhkan, keberanian, kecepatan, keterampilan, bahkan nyawa.
Kehidupan bagaikan burung hantu
Kehidupan sehari-hari seorang joki tidak jauh berbeda dengan kita, hanya saja mereka seperti burung hantu yang bangun pagi dan menyalakan mesin saat malam tiba. “Paginya itu kek biasa je bangun jam sebelasan lah kalau libur, itu pun dibangunkan sama ibu untuk makan,” ujar Yan Kukik. Keseharian mereka yang terbalik seperti burung hantu dinikmati dalam diam, layaknya benih yang setia menunggu musim hujan tiba.
Terkadang mereka juga melakukan setting berupa persiapan kelayakan motor hingga latihan fisik untuk menguji kecepatan mesin kendaraan yang ditunggangi. Tentu saja hal ini tidak dilakukan sendiri karena mayoritas satu motor memiliki banyak anggota pendukung di dalamnya. Mereka juga biasanya melakukan “lamaran”. Lamaran di sini maksudnya mencari lawan yang layak untuk ditandingkan di jalan. “Yaa kami biasanya tu lamaran di media sosial ataupun secara langsung, tapi tergantung kembali lagi, ada yang balapan juga karena hobi, ada juga karena konflik,” tambahnya.
Menjelang malam, adrenalin mulai merayap di tulang mereka. Mereka mulai memadati jalur yang telah disepakati bersama. Mereka dikerumuni layaknya layar lebar di malam gala. “Kalau dulu pernah sekali nonton, weihh jeg banyak banget yang nonton ampek sempit-sempitan nontonnya,” ujar Wi Tu, siswa berumur 17 tahun yang pernah menyaksikan balap liar secara langsung. Kita tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa sebagian orang juga menyukai balapan liar sebagai hiburan, di sini mereka bisa saling bertemu dan saling menyapa sambil melepas stres.
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa keseharian seorang joki itu memiliki titik tertinggi pada malam hari, dimana semua perhatian akan menjadikannya idola jalan di bawah taburan bintang. Dalam sekejap, suara ban menghantam aspal menjadi simbol perlawanan. Bukan hanya terhadap aturan, tapi terhadap nasib yang kerap tak berpihak. Dan ketika malam perlahan mereda, ketika kota mulai terjaga, para joki kembali menghilang ke balik lorong lorong sempit, menanti malam berikutnya untuk kembali bersinar di jalanan, di bawah langit yang selalu memberi ruang bagi siapa saja yang ingin terlihat. Dalam keseharian, mereka melakukan aktivitas seperti biasa, hanya saja mata mereka seperti menahan air bah dengan daun kering. Kita tidak bisa selalu menuduh bahwa joki selalu melakukan balap liar untuk sebuah pertunjukan kenakalan, tetapi memang ada beberapa orang yang hidup dari hasil balap liar.
Selain itu, salah satu penghobi balap liar ini mengaku setelah melakukan balap liar pada tengah malam, keesokan harinya mereka merasa mengantuk, yang ditandai dengan menguap dan hilangnya konsentrasi saat beraktivitas. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka terutama yang masih duduk di bangku sekolah.
Suara yang sia-sia
Masyarakat setempat sangat merasakan kegaduhan dari aksi sekelompok orang yang tengah menguji kecepatan sepeda motornya di wilayahnya. Deru knalpot menggema, suara mesin menderu tanpa henti, dan kehadiran mereka bagai badai yang datang tanpa diundang. Aksi ini tidak saja mengganggu kenyamanan lingkungan, tetapi juga mengancam keselamatan dan ketenangan batin warga. Mereka, warga setempat, hanya bisa meratap dan pasrah dengan fenomena ini seakan-akan segala himbauan, teguran, bahkan amarah, hanyalah suara yang hilang ditelan angin.
Ini bukanlah akhir, tetapi terus berkembang, bagai menabur benih di tanah tandus, tak ada yang tumbuh, tetapi tetap dilakukan seolah-olah masih ada harapan. Perilaku ini tetap dilakukan dengan menyelinap di sela-sela waktu, memanfaatkan kelonggaran pengawasan. Celah-celah kosong dalam patroli dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para pelaku yang kerap bertindak seolah-olah jalan raya itu milik pribadi. Mereka tak hanya cepat dalam memacu kendaraan, tetapi juga pandai membaca kelemahan sistem.
Aksi ini tak lagi sekadar kegaduhan. Aksi ini telah menjadi sumber keresahan kolektif yang menghantui banyak warga. “Aduh dek, saya bahkan pernah berdiam diri di kamar mandi agar tak terlalu berisik, karena jantung saya memang bermasalah,” tutur seorang pedagang perempuan yang tinggal di dekat jalur tersebut. Sorot matanya menunjukkan rasa lelah dan putus asa. “Dulu saya begitu jengkel, pernah saya menyiram anak-anak yang melakukan aksi balap liar ketika mereka lewat di depan toko saya, tetapi mereka tetap melakukannya,” ujar kembali pedagang tersebut.
Tak hanya dirinya saja yang merasakan, pedagang atau toko lain sepanjang lintasan balap liar juga merasakan karena suaranya yang saking menggelegar dan membuat bising di telinga masyarakat. Menjelang tengah malam, suara bising dari knalpot terdengar memecah keheningan di kawasan bypass K24. Meskipun hanya dua motor yang melintas secara beriringan, dentuman knalpotnya terdengar begitu nyaring dan mengganggu. Fenomena seperti ini ternyata bukan hal baru bagi warga sekitar. Sepasang suami istri pedagang martabak asal Lumajang yang berjualan di sekitar lokasi mengaku sudah sering menyaksikan aksi serupa, terutama saat larut malam, sekitar pukul 23.00 WITA ke atas. Terlebih pada malam minggu, suara motor yang meraung-raung seperti menjadi hal yang lumrah. Saat itu, pedagang martabak sudah bersiap-siap untuk menutup lapaknya karena waktu sudah malam. Ia mengaku bahwa suara bising tersebut cukup mengganggu, tapi karena dirinya memang hendak tutup membuat gangguan itu tidak berlangsung lama.
“Sebenarnya cukup mengganggu si apalagi suaranya yang keras, ya kebetulan juga saya sudah mau tutup jadinya tidak terlalu lama merasakannya,” tutur pedagang tersebut. Pedagang ini pun sedikit heran dengan aksi tersebut yang tetap dilakukan meski memanfaatkan Jalan Bypass yang diposisikan sebagai jalur utama. “Kalau di Banyuwangi yang balapan sudah ada jalan yang memang disediakan untuk balapan dan jauh dari keramaian, jadinya kegiatan mereka tidak mengganggu masyarakat,” ujar kembali pedagang martabak di sekitar area Bypass K24.
Selain itu, aksi ini kerap menimbulkan keresahan bagi pengguna jalan yang melintas di malam hari karena merasa takut dan gelisah akan lajunya kuda besi yang melintas saat balapan. Ditambah dengan area ini menjadi lintasan mobilitas kendaraan bermuatan berat sehingga sangat membahayakan aksi uji kecepatan ini karena dapat menimbulkan kecelakaan dan memperlambat mobilitas pengiriman barang yang dibawa oleh kendaraan seperti truk.
Pelaporan yang dilakukan masyarakat sudah menjadi upaya umum untuk menggagalkan aksi ini, sehingga menimbulkan adanya patroli dari pihak berwenang. Namun, kecerdikan para penghobi balap liar dalam menghindari operasi dan bertindak di saat yang tidak terduga membuat segala upaya yang dilakukan seolah menanti pelangi di malam hari.
Tanggapan dan tindakan kepolisian Tabanan
Tanggapan dari pihak kepolisian, aksi balap liar biasanya mengalami peningkatan signifikan saat musim liburan sekolah. Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari situasi di mana anak-anak muda, khususnya remaja, sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Anak-anak muda ini kerap mengalami kekosongan aktivitas. Tanpa kegiatan yang terarah, mereka cenderung mengisi waktu luang dengan perilaku menyimpang, salah satunya yaitu balap liar. Pada usia yang emosional dan penuh energi, risiko terjerumus dalam kegiatan berbahaya pun semakin tinggi.
Menyikapi peningkatan kasus balap liar, Kepolisian Tabanan telah menyalakan “senter kewaspadaan” melalui patroli rutin “blue light” yang menyisir jalur Bypass K24 setiap malam. Patroli ini berjalan tanpa henti, baik saat ada laporan maupun sebagai langkah pencegahan. Tujuannya adalah memantau aktivitas di sepanjang jalur, mengidentifikasi kelompok yang berpotensi melakukan balap liar, dan memberikan tindakan tegas sesuai prosedur.

Selain patroli, polisi juga memperluas pendekatan edukatif di lingkungan sekolah. Tim penyuluh lalu lintas secara berkala mengunjungi SMA dan SMK di Tabanan untuk memberikan materi tentang bahaya balap liar, tata cara berkendara yang benar, dan konsekuensi hukum jika terlibat dalam kegiatan ilegal di jalan raya. Metode yang digunakan meliputi presentasi interaktif, diskusi kasus nyata, dan simulasi kecelakaan agar siswa memahami risiko secara langsung. Langkah penegakan dan edukasi ini diharapkan saling mendukung. Penertiban di lapangan menurunkan ruang gerak pelaku balap liar, sementara penyuluhan di sekolah membentuk kesadaran jangka panjang.
Harapan di balik deru mesin balap liar
Di balik deru knalpot dan stigma “trouble maker” yang melekat pada pelaku balap liar, tersimpan satu suara nyaring namun sering terabaikan: mereka hanya butuh ruang. “Kalau ada sirkuit, semuanya akan jauh lebih terstandarisasi,” ujar seorang remaja penggemar balap dalam kanal Youtube (channel: Tolet mana?). Menurut mereka dengan adanya sirkuit resmi tidak hanya berpengaruh dalam hal fasilitas tapi juga tentang keselamatan, dengan adanya sirkuit akan mewajibkan setiap pembalap menggunakan perlengkapan keselamatan, seperti menggunakan helm, jaket pelindung, celana khusus balap, dan perlengkapan lainnya yang dapat menjamin keselamatan mereka.
Sebaliknya, saat di jalan raya, perlengkapan keselamatan kerap diabaikan. Risiko kecelakaan menjadi bayangan nyata yang setiap saat bisa berubah menjadi tragedi. Banyak pelaku balap yang menanggung konsekuensinya, baik resiko kecelakaan maupun stigma sosial.
Bagi para penghobi balap yang menyalurkan hobinya ke ranah yang positif, sering kali mereka mengikut perlombaan resmi. Dalam persiapan perlombaan tersebut, sempat beberapa kali para penghobi balap yang serius ini akan melangsungkan latihan ke sirkuit yang ada di Bangli.
Sirkuit Landih yang ada di Bangli merupakan sirkuit yang memiliki panjang lintasan sekitar 410 meter dan lebar yang bervariasi antara 23 hingga 40 meter, tempat ini menjadi wadah bagi para pecinta kecepatan. Sebagian orang mungkin melihat bahwa itu hanya lintasan aspal, tetapi bagi para penghobi balap, sirkuit itu merupakan ruang untuk mereka berekspresi dan sebagai wadah dalam menyalurkan hobi secara positif serta sebagai tempat yang dapat lebih menjamin keselamatan.

Meskipun pembangunan sirkuit itu belum sepenuhnya rampung dengan standarisasi modern, seperti belum adanya lampu start, toilet, atau fasilitas pendukung yang memadai, tetapi antusiasme dari komunitas balap sudah terlihat sejak awal. Menariknya sirkuit yang berada di Kabupaten Bangli ini tidak dikenakan biaya penggunaan sirkuit, sehingga memungkinkan para penghobi balap dapat mengakses sirkuit dengan mudah dan tanpa biaya. Kondisi ini dikarenakan tidak adanya sistem pengelolaan resmi yang mengatur aktivitas di di area sirkuit secara terstruktur. Namun di sisi lain, hal ini berdampak pada minimnya pendanaan yang berujung pada penyediaan fasilitas standar sehingga dapat menghambat pembangunan sirkuit yang optimal.
Berdasarkan cuplikan kanal YouTube dari channel Tolet Mana? dengan pembahasan “Keluhan Pembalap di Tabanan”, salah seorang anak muda mengatakan bahwa sirkuit Landih di Kabupaten Bangli masih banyak kekurangan seperti belum adanya lampu start, toilet, dan fasilitas pendukung lainnya. Mereka hanya diberikan lahan untuk balapan. Sayangnya, karena faktor jarak yang cukup jauh antara Tabanan dengan Bangli menyebabkan para penghobi balap dari Tabanan yang ingin berlatih kerap mencari jalan pintas yang efisien waktu, yaitu dengan memanfaatkan jalan raya sebagai wadah mereka untuk berlatih.
Salah satu penghobi yang kami wawancarai yakni Ketut Caturx, pria berusia 27 tahun, menyampaikan harapannya dengan tegas. “Harapan saya adalah semua kabupaten harus mempunyai sirkuit, termasuk Kabupaten Tabanan. Dengan begitu, kita tidak perlu melakukan aksi balap di jalan raya umum lagi,” ungkapnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Yan kukik dengan ekspresi serius, yang menyatakan bahwa mereka sebagai pebalap melakukan aksi tersebut karena tidak adanya ruang. “Beri kami ruang yang aman dan resmi di bawah pengawasan pemerintah supaya hobi ini bisa tersalurkan tanpa adanya anggapan menjadi trouble maker,” ujar Yan Kukik.
Penuturan kembali salah seorang penghobi balap di channel “Tolet Mana?” yang mengungkapkan bahwa Turah Cheki yang merupakan pembalap drag bike asal Tabanan, Bali kerap melakukan setting motor di salah satu jalan raya Desa Babahan, hal ini dikarenakan minimnya akses ruang publik yang bisa mereka manfaatkan untuk menguji kecepatan motor mereka. Selain itu, meskipun sudah ada sirkuit di Bangli, keterbatasan akan mobilitas dan waktu menyebabkan pembalap asal Tabanan ini kesulitan untuk menyalurkan bakat yang dimiliki.
Berangkat dari hal tersebut, dapat dikatakan bahwa sirkuit bukan hanya sekedar fasilitas yang dinanti oleh pelaku balap, tapi juga sebagai pondasi untuk membangun budaya balap yang disiplin, sesuai aturan, dan menjunjung tinggi keselamatan. Dengan kata lain, mereka memandang bahwa sirkuit merupakan solusi konkret yang dapat diwujudkan untuk mengurangi aksi balap liar sekaligus mendukung adanya perkembangan dalam bidang otomotif ke arah yang positif.
Kehadiran harapan ini menghasilkan titik terang melalui aksi yang dilakukan oleh pegiat otomotif yang berasal dari Tabanan, Turah Cheki dengan teman-temannya mengadakan audiensi dengan Bupati untuk mengusung wacana pembangunan sirkuit resmi yang sudah terstandarisasi. Hasil audiensi ini menghasilkan respons cepat dari bupati dengan adanya lanturan kata bahwa tahun depan Kabupaten Tabanan akan memiliki sirkuit.
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tabanan, Made Nurbawa mengatakan sebelumnya sudah ada komunikasi dengan Bupati Tabanan, I Made Sanjaya terkait lokasi sirkuit. Bupati Tabanan mengatakan “sudah ada” namun tidak menyebutkan detailnya. Sebelumnya memang sudah ada konsep kasar yang dibahas, tetapi sayang prosesnya terhenti di tahap konsep. Dokumen Desain Induk (DID) yang berisi analisis teknis lokasi, drainase, pengamanan, dan estimasi anggaran tidak pernah rampung.
Bulan lalu, KONI mengajukan surat permohonan pembangunan sirkuit melalui BRIDA untuk mempercepat proses, tetapi belum ada kejelasan mengenai lahan potensial maupun sumber pendanaan. Pemerintah daerah sama sekali belum memberi tahu titik lokasi yang akan direncanakan untuk dijadikan sirkuit. Padahal penataan ruang menjadi kunci agar sirkuit tidak sekadar luas tanah dikali panjang lintasan, melainkan berfungsi sebagai wadah kegiatan komunitas otomotif yang terorganisir. Tanpa dasar administratif SK Bupati maupun studi kelayakan, proyek ini tetap terdampar di permukaan gagasan. Sejauh ini, komitmen verbal “ya, nanti akan ada” belum diiringi langkah konkret, yaitu tidak ada DID, tidak ada lahan resmi, dan tidak ada anggaran pasti.
“Kalau nantinya memang ingin membuat sirkuit, ya harus dibuatkan terkait DID-nya terlebih dahulu. Agar terbayang terkait pendanaan itu, kalau masih belum ada rancangan DID bagaimana mewujudkannya?” ujar I Made Nurbawa selaku ketua umum KONI Tabanan.
Dengan pernyataan tersebut diperlukan penyelesaian DID dalam waktu terukur, penetapan lokasi melalui kajian penataan ruang, dan alokasi dana yang jelas di APBD agar terwujudnya sirkuit yang diimpikan oleh penghobi balap liar.









![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)
