• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Jargon Kontroversial soal Bali Wisata Halal

Odeck Ariawan by Odeck Ariawan
25 January 2021
in Kabar Baru, Opini
0
0
Turis dari beragam identitas menikmati Tanah Lot pada Juli 2019. Sebagai destinasi wisata, Bali terbuka untuk setiap agama. Foto Anton Muhajir.

Ide tentang wisata halal di Bali kembali jadi kontroversi.

Naiknya Sandiaga Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memicu kontroversi lama. Kontroversi itu adalah Sandiaga Uno pernah menyampaikan ide tentang wisata halal di Bali. Karena berseliweran di sosial media, serba tidak jelas dan merambat ke mana-mana, saya berusaha menjernihkan beberapa poin.

Kalau memang ini dipakai sebagai jargon, ini bisa jadi kontraproduktif karena tidak benar atau bohong, yang justru akan mengecewakan wisatawan. Kontroversi jargon Bali sebagai wisata halal, memang benar mengganggu karena tidak sesuai dengan logika. Kalau boleh saya sarankan untuk dipertimbangkan.

Politisi yang sengaja menggiring arah narasi topik nasional ke arah politik identitas, bukan untuk kita tetapi untuk memuaskan pemilihnya, yang merasa identitas itu penting. Karena saya bukan politisi, saya tidak akan membahas soal ini lebih jauh.

Yang perlu kita lakukan adalah menjawab dengan jawaban berlogika menurut ilmu pariwisata.

Dasar orang berwisata adalah plesiran, refreshing, melihat sesuatu yang baru, mengalami sesuatu yang baru, baik tempat, manusia, dan budayanya. Itu dasar pemikirannya. Jadi bukan jenis wisatawan yang menentukan daerah tujuan wisata.

Pariwisata itu satu kata, tapi bisa berarti macam-macam, terkadang orang mencampur-adukan di antaranya sehingga membingungkan dan kacau balau.

Satu daerah tujuan wisata, sesuai dengan namanya tempat dengan segala isinya baik alam, manusia dan budaya tempat tujuan, berdasarkan wilayah atau spesifik tempat. Aset (alam, manusia, budaya) dari tujuan wisata inilah yang kemudian digali dan dilengkapi yang kemudian menjadi sebuah produk wisata, yang kemudian dipasarkan dengan jargon, misalnya wisata budaya Bali.

Jadi produk yang dijual adalah produk yang sesuai dengan asetnya. Bukan produk marketing mengikuti aset yang ada. Tidak mungkin kita jualan sate kambing kalau kita pelihara babi.

Wisatawan adalah orang dari berbagai jenis identitas. Tujuannya bepergian untuk refeshing, melihat tempat, budaya, manusia yang baru, untuk melepas penat dan sesuatu yang baru yang dilihat. Kalau orang Bali berwisata di Bali sekalipun, pasti mencari sesuatu yang berbeda, setidaknya tempat, objek.

Fasilitasi Destinasi

Destinasi wisata yang baik akan memenuhi fasilitas kebutuhan wisatawan. Apapun identitasnya. Ini ditentukan oleh dua hal, kebutuhan pasar dan budaya setempat, meskipun pasarlah sebagai penentu. Biasanya fasilitas itu sudah tersedia di Bali. Sebagai tujuan wisata internasional, Bali sudah memiliki banyak fasilitas besar, dari bandara, hotel dan daerah tujuan wisata.

Rancunya pemahaman ketika melengkapi fasilitas, dibuat menjadi jargon marketing pariwisata yang dibicarakan justru jargonnya. Bukan soal fasilitasnya. Aset pariwisata Bali bukanlah produk halal, karena budaya dan adat istiadat di Bali tidak memungkinkan untuk dijual sebagai produk halal. Kalau itu dilakukan, justru menjadi pemasaran yang bohong. Wisatawan akan kecewa.

Kalau Bali dipasarkan sebagai Bali. Sesuai dengan alam manusia dan budayanya, tetapi memiliki fasilitas yang lengkap untuk semua identitas agama, itu benar. Kalau wisatawan ke Bali dengan berwisata halal, datang ke tempat-tempat halal saja. Namanya tur halal. Tak masalah. Memang sudah ada yang demikian.

Jadi, menurut saya, permasalahan utamanya karena rancunya pemahaman dan komunikasi yang tidak memisahkan antara Bali sebagai destinasi, jenis wisatawan dengan produk tournya dan kelengkapan fasilitas.

Intinya jenis wisatawan, yang memerlukan fasilitas tertentu, tidak bisa sebagai jargon produk daerah tujuan wisata, karena tidak benar.

Maaf kalau ada yang salah kata. Mudah-mudahan berguna. [b]

kampungbet
Tags: BalihalalWisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Odeck Ariawan

Odeck Ariawan

Warga negara yang prihatin dan tinggal di kampung di Bali.

Related Posts

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Memanen Air Hujan dan Biogas, Teknologi Tepat Guna bagi Petani Bali yang Terabaikan

Ketimpangan Sumber Daya di Balik Krisis Air Tanah Bali

12 November 2025
Next Post
Garam Kusamba: Memanen Air Laut Mengandalkan Terik

Garam Kusamba: Memanen Air Laut Mengandalkan Terik

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia