
Pagi-pagi di tengah padatnya jalanan Ubud, seorang perempuan menggenggam tanaman berwarna hijau dan setangkai bunga kecombrang. Perempuan tersebut menyebrang menuju venue Ubud Food Festival (UFF) di Jalan Raya Sanggingan, Ubud diikuti beberapa orang di belakangnya.
Rombongan menuju Taman Kuliner yang lokasinya di belakang tenant UFF. Pagi itu pukul 10.00 WITA, pengisi tenant baru menyiapkan jualan. Namun, area belakang sudah ramai. Penonton menopang dagu menunggu koki yang akan tampil bersiap-siap.
Sesi hari itu (30/05) diisi oleh Made Masak, pegiat foraging atau meramban. Di depannya sudah tersedia sekeranjang tanaman yang sebelumnya telah dipetik bersama para penonton di belakang area parkir UFF.
Sesi meramban dilakukan selama kurang lebih 15 menit dengan jarak kurang dari 1 km. Tanaman yang akan dimasak dipetik secara spontan, tidak direncanakan sama sekali. “Like in the beginning I said, maybe we will find the animal food for human. Some of them is edible to eat (Seperti yang saya katakan di awal, mungkin kita akan menemukan makanan yang biasanya dimakan binatang, tapi beberapa di antaranya bisa dimakan manusia),” ungkap Made Masak.
Sebelum sesi memasak dimulai, Made Masak memperkenalkan tanaman yang ditemukannya ketika meramban. Made Masak menemukan banyak tanaman yang memiliki manfaat baik untuk kesehatan tubuh, salah satunya adalah daun kelor atau moringa. Daun kelor dapat dengan mudah ditemui di pekarangan rumah orang Bali, terutama karena kepercayaan masyarakat Bali yang menganggap daun kelor memiliki kekuatan untuk melindungi keluarga dari kekuatan jahat.

Pengunjung diberikan kesempatan untuk mencoba tanaman tersebut. Sebuah keranjang dioper-oper agar pengunjung bisa melihat lebih dekat. Di dalam keranjang tersebut ada kecombrang, moringa, andaliman, dan tanaman lainnya. Pengunjung di sebelah saya mencoba satu biji andaliman. “Oh pedas,” ujar pengunjung di sebelah saya setelah mencoba satu biji andaliman. “We call it Balinese green paper (Kami menyebutnya paprika hijau dari Bali),” timpal pengunjung lain yang duduk di dekat kami.
Made Masak memanggil dua orang pengunjung untuk membantunya memasak. Ia menjelaskan bahwa proses memasak dilakukan tanpa minyak. Bahan-bahan tambahan untuk bumbu yang akan digunakan adalah bawang putih, jahe, kunyit, serai, dan tanaman liar.
“So, usually with the spices, I’m not adding the oil because all the spices have their own oil already inside (Jadi, biasanya dengan rempah-rempah saya tidak menambahkan minyak karena semua rempah-rempah sudah memiliki minyak di dalamnya),” terang Made Masak. Ia juga menunjukkan ketumbar yang tumbuh liar dan tidak akan bisa ditemukan di pasaran.
Tanaman liar tersebut langsung dieksekusi oleh Made Masak, dibantu dua pengunjung yang tampak mulai memisahkan daun-daun dari batangnya. Pertama-tama, Made Masak membuat bumbu hijau (green spice paste) dengan bahan bawang merah, bawang putih, batang serai, campuran herba (ketumbar liar, daun laksa, daun mint, kemangi), kunyit, jahe dan lengkuas. Bahan-bahan tersebut dipanggang di atas api sedang dan disisihkan untuk disajikan dalam sup.
Kemudian, Made Masak mulai membuat super green soup. Bahan utamanya adalah talas dan sayuran liar dari hasil meramban. Untuk menambah rasa gurih, ia menambahkan santan kelapa. Made Masak menjelaskan bahwa santan tersebut dibuat oleh dirinya sendiri dari kelapa yang jatuh di sekitar tempat tinggalnya, mengingat harga kelapa yang sedang mahal-mahalnya.
Sembari memasak, Made Masak sesekali mengenalkan beberapa tanaman liar kepada penonton. Misalnya, bunga aster atau daisy yang termasuk edible flowers atau bunga yang bisa dimakan. Maka dari itu, selain menjadi hiasan di atas sup, bunga ini juga bisa dimakan. Ia juga membagikan tips memasak daun kelor. “If you cook longer, it can be taste very bitter and also not good. So, I usually adding the moringa in the end when the food going to be ready (Kalau dimasak terlalu lama, bisa jadi rasanya pahit banget dan kurang enak. Jadi, biasanya saya menambahkan daun kelor di akhir masakan ketika akan matang,” jelasnya.

Sup berwarna hijau pun tampak sudah siap disajikan. Mangkuk-mangkuk kertas kecil dijejer rapi. Sup dituang ke dalam mangkuk tersebut dan di atasnya ditambah santan. Para pengunjung unjuk tangan ketika sup mulai disebarkan.
“Kebetulan saya belum sarapan,” ujar perempuan di sebelah saya sembari tertawa. Warna super green soup buatan Made Masak memang benar-benar hijau seperti namanya. Sup itu disajikan ketika masih hangat, rasanya gurih dan masih ada tekstur daun kelor yang tersisa. Daun kelor yang saya cicipi tidak terasa pahit, rasa kecombrangnya pun sangat kuat. Memang sup yang pas untuk sarapan pagi itu.
kampungbet










