• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 20, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Meramban Tanaman Liar di UFF

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
2 June 2025
in Kabar Baru, Kuliner
0
0
Made Masak di Ubud Food Festival 2025

Pagi-pagi di tengah padatnya jalanan Ubud, seorang perempuan menggenggam tanaman berwarna hijau dan setangkai bunga kecombrang. Perempuan tersebut menyebrang menuju venue Ubud Food Festival (UFF) di Jalan Raya Sanggingan, Ubud diikuti beberapa orang di belakangnya.

Rombongan menuju Taman Kuliner yang lokasinya di belakang tenant UFF. Pagi itu pukul 10.00 WITA, pengisi tenant baru menyiapkan jualan. Namun, area belakang sudah ramai. Penonton menopang dagu menunggu koki yang akan tampil bersiap-siap.

Sesi hari itu (30/05) diisi oleh Made Masak, pegiat foraging atau meramban. Di depannya sudah tersedia sekeranjang tanaman yang sebelumnya telah dipetik bersama para penonton di belakang area parkir UFF. 

Sesi meramban dilakukan selama kurang lebih 15 menit dengan jarak kurang dari 1 km. Tanaman yang akan dimasak dipetik secara spontan, tidak direncanakan sama sekali. “Like in the beginning I said, maybe we will find the animal food for human. Some of them is edible to eat (Seperti yang saya katakan di awal, mungkin kita akan menemukan makanan yang biasanya dimakan binatang, tapi beberapa di antaranya bisa dimakan manusia),” ungkap Made Masak.

Sebelum sesi memasak dimulai, Made Masak memperkenalkan tanaman yang ditemukannya ketika meramban. Made Masak menemukan banyak tanaman yang memiliki manfaat baik untuk kesehatan tubuh, salah satunya adalah daun kelor atau moringa. Daun kelor dapat dengan mudah ditemui di pekarangan rumah orang Bali, terutama karena kepercayaan masyarakat Bali yang menganggap daun kelor memiliki kekuatan untuk melindungi keluarga dari kekuatan jahat.

Pengunjung melihat hasil meramban

Pengunjung diberikan kesempatan untuk mencoba tanaman tersebut. Sebuah keranjang dioper-oper agar pengunjung bisa melihat lebih dekat. Di dalam keranjang tersebut ada kecombrang, moringa, andaliman, dan tanaman lainnya. Pengunjung di sebelah saya mencoba satu biji andaliman. “Oh pedas,” ujar pengunjung di sebelah saya setelah mencoba satu biji andaliman. “We call it Balinese green paper (Kami menyebutnya paprika hijau dari Bali),” timpal pengunjung lain yang duduk di dekat kami.

Made Masak memanggil dua orang pengunjung untuk membantunya memasak. Ia menjelaskan bahwa proses memasak dilakukan tanpa minyak. Bahan-bahan tambahan untuk bumbu yang akan digunakan adalah bawang putih, jahe, kunyit, serai, dan tanaman liar.

“So, usually with the spices, I’m not adding the oil because all the spices have their own oil already inside (Jadi, biasanya dengan rempah-rempah saya tidak menambahkan minyak karena semua rempah-rempah sudah memiliki minyak di dalamnya),” terang Made Masak. Ia juga menunjukkan ketumbar yang tumbuh liar dan tidak akan bisa ditemukan di pasaran.

Tanaman liar tersebut langsung dieksekusi oleh Made Masak, dibantu dua pengunjung yang tampak mulai memisahkan daun-daun dari batangnya. Pertama-tama, Made Masak membuat bumbu hijau (green spice paste) dengan bahan bawang merah, bawang putih, batang serai, campuran herba (ketumbar liar, daun laksa, daun mint, kemangi), kunyit, jahe dan lengkuas. Bahan-bahan tersebut dipanggang di atas api sedang dan disisihkan untuk disajikan dalam sup.

Kemudian, Made Masak mulai membuat super green soup. Bahan utamanya adalah talas dan sayuran liar dari hasil meramban. Untuk menambah rasa gurih, ia menambahkan santan kelapa. Made Masak menjelaskan bahwa santan tersebut dibuat oleh dirinya sendiri dari kelapa yang jatuh di sekitar tempat tinggalnya, mengingat harga kelapa yang sedang mahal-mahalnya.

Sembari memasak, Made Masak sesekali mengenalkan beberapa tanaman liar kepada penonton. Misalnya, bunga aster atau daisy yang termasuk edible flowers atau bunga yang bisa dimakan. Maka dari itu, selain menjadi hiasan di atas sup, bunga ini juga bisa dimakan. Ia juga membagikan tips memasak daun kelor. “If you cook longer, it can be taste very bitter and also not good. So, I usually adding the moringa in the end when the food going to be ready (Kalau dimasak terlalu lama, bisa jadi rasanya pahit banget dan kurang enak. Jadi, biasanya saya menambahkan daun kelor di akhir masakan ketika akan matang,” jelasnya.

Super green soup

Sup berwarna hijau pun tampak sudah siap disajikan. Mangkuk-mangkuk kertas kecil dijejer rapi. Sup dituang ke dalam mangkuk tersebut dan di atasnya ditambah santan. Para pengunjung unjuk tangan ketika sup mulai disebarkan.

“Kebetulan saya belum sarapan,” ujar perempuan di sebelah saya sembari tertawa. Warna super green soup buatan Made Masak memang benar-benar hijau seperti namanya. Sup itu disajikan ketika masih hangat, rasanya gurih dan masih ada tekstur daun kelor yang tersisa. Daun kelor yang saya cicipi tidak terasa pahit, rasa kecombrangnya pun sangat kuat. Memang sup yang pas untuk sarapan pagi itu.

kampungbet
Tags: foragingmerambansayuran liartanaman liarUbud Food FestivalUFF 2025
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Warisan Kuliner dan Talenta Lokal dalam Ubud Food Festival 2025

Warisan Kuliner dan Talenta Lokal dalam Ubud Food Festival 2025

20 May 2025
Menyajikan Menu Lokal untuk Lidah Internasional

Kosongkan Perutmu! Ubud Food Festival kembali hadir Juni ini

23 May 2022
Sajian Lokal di Ubud Food Festival

Sajian Lokal di Ubud Food Festival

20 April 2018
Tur Kuliner ke Dapur Tahu Dadong Songkeg dan Bubuh Pejeng

Tur Kuliner ke Dapur Tahu Dadong Songkeg dan Bubuh Pejeng

19 April 2018
Inilah Bumbu Baru Kelezatan Ubud Food Festival 2018

Inilah Bumbu Baru Kelezatan Ubud Food Festival 2018

7 February 2018
Ubud Food Fest, Kisah di Balik Sajianmu

Ubud Food Fest, Kisah di Balik Sajianmu

15 May 2017
Next Post
Adu Balap di Jalan, Janji Sirkuit Ditagih

Adu Balap di Jalan, Janji Sirkuit Ditagih

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia