• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Tur Kuliner ke Dapur Tahu Dadong Songkeg dan Bubuh Pejeng

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
19 April 2018
in Berita Utama, Kabar, Kuliner
0
0
foto: luh de

Untuk kali pertama, tur kuliner UFF ke Pejeng. Mencecap tahu dari ratu dapur Dadong Songkeg dan bubuh Pejeng yang diserbu jelang malam.

Sore pukul 14.30, saya melaju dari Denpasar ke arah Ubud untuk mengikuti Food Tour UFF 2018 hari pertama. Jelang pusat Puri Ubud mulai macet, sangat parah karena pesepeda motor saja nyaris diam. Hanya bergerak satu meter dalam beberapa menit sampai pertigaan Jalan Raya Sanggingan, lokasi Festival Hub Ubud Food Fest.

Pukul 4.15, telat 15 menit dan benar saja sudah ditinggal rombongan food tour yang mengarah ke Pejeng, Gianyar. Saya mengutuk diri karena harus kembali menemui kemacetan parah itu. Tantangan lain, menemukan rombongan yang menuju salah satu dapur rumah warga di Pejeng.

Singkat cerita, satu jam kemudian (setelah bolak balik nelp tour guide yang pastinya sedang sibuk memandu) sampailah ke rumah lokasi pembuatan tahu. Aroma ternak dan menyambut depan rumah. Melewati pintu gerbang dan mendapati dapur setengah terbuka yang super sibuk. Sedikitnya 4 perempuan sibuk di posisinya masing-masing dan seorang nenek bertelanjang dada, rambut gimbal menyentuh lantai, dan berdiri mengiris tahu. Dialah Ni Wayan Songkeg, pemilik sekaligus perintis usaha tahu rumahan di Pejeng ini.

foto: luh de

Wajahnya terlihat tenang, tangannya terampil mengiris tahu menjadi kotak-kotak kecil untuk digoreng. Jelang petang, langganannya akan mengambil pesanan rutin tahu goreng ini. Sesekali ia melirik turis-turis yang mengamatinya dan melihat dapurnya dengan seksama ini.

Pemandu tur, Komang Puriana menunjukkan proses pembuatan tahu mulai dari perendaman biji kedelai, dilumatkan dengan mesin, lanjut dimasak di Jambangan, kompor batu besar berbahan kayu bakar. Dua perempuan paruh baya gantian mengaduk bubur kedelai selama 1-2 jam tergantung besarnya api tungku batu ini. Para pekerja Dadong Songkeg ini mengaku sudah bekerja mulai pukul 12 siang, dan berlanjut sampai dini hari nanti.

Pusat perhatian saya bukan tahu dan dapur yang membuat mudah berkeringat ini, tapi sosok dadong. Dengan pelan saya bertanya pada Nyoman Wati, salah satu pekerja apakah dadong bisa diajak ngobrol? “Ya, silakan. Dadong masih mengontrol semuanya di sini,” katanya. Diiyakan Ketut Taweng, anak laki-laki dadong yang juga diperlakukan sebagai pekerja.

Betul saja, ia masih mengecek berapa yang dibeli para pelanggan yang langsung datang ke dapurnya membeli sekotak atau lebih tahu-tahu yang teksturnya lebih padat dibanding tahu-tahu di pasar ini. Satu kotak yang sudah padat dijual Rp20 ribu. Memberikan susuk (kembalian) dan menyimpan uang penjualan. Sambil memotong tahu, ia beberapa kali terlihat mengecek kondisi dapur dan pekerjanya hanya dengan menoleh sebentar.

foto: luh de

Ia ratu dapur. Dadong tak banyak bicara, bahasa tubuh dan kedisplinannya turut bekerja sampai usia senja menjelaskan kepemimpinannya.

“Saya dulu belajar di Tohpati waktu remaja saat bekerja dengan orang,” ia berbisik dalam bahasa Bali. Bisa saja ngobrol lebih panjang, tapi saya tidak tega. Ia sedang sangat serius bekerja, termasuk walau sedang dikunjungi rombongan food tour. Nanti lah datang lagi sambil bawa sambel cocolan tahu ke dapur dadong.

Sampai rumah, Tahu Pedadapan (nama banjar lokasi rumah) Pejeng ini langsung dimasak. Lebih cepat matang dibanding tahu yang biasa saya beli. Bisa jadi karena lebih padat, kandungan airnya lebih sedikit. Kedelainya lebih banyak, dan akhirnya setengah kotak tahu dimasak dalam dua hari, disimpan di kulkas tak basi. Cocol sambel kecap dengan potongan cabe.

Dari rumah dadong, rombongan ke arah selatan kurang dari satu kilometer saja ke  pasar Pejeng. Jelang petang, kios-kios sudah buka, pedagang pakaian bekas pun ramai. Makan bubur beras khas di sini. Ada dua dagang bubuh, buka sore sampai malam.

Kami ke warung pertama milik Nyoman Wardani. Para pembeli terlihat kompak menabur mamie (snack) ke atas bubur yang terlihat sama dengan bubur khas Bali biasanya ini. Bungkus mamie berserakan di kaki-kaki pembeli. Hampir semua rombongan memesan, tak sedikit yang memilih pedas dengan tambahan sambel matah. Kalau makan sebagai sarapan barangkali terasa lebih nikmat.

foto: luh de

Sesendok bubur beras putih kental ditata di piring lalu ditabur base manis, sebutan untuk campuran santan kelapa, bumbu base genep, dan tepung beras. Lalu ditabur saur (serundeng) kering dari parutan kelapa digongseng, saur basah, sayur urab, dan kuah ayam. Sederhana. Satu porsi Rp8000. Jika ingin pedas, ditambah sambel.

foto: luh de

Ternyata bubur yang biasanya dijual pagi, diserbu juga oleh warga Pejeng pada malam hari.

 

Tags: bubuh pejengkuliner balikuliner gianyarkuliner pejengtahu pejengUbud Food Festival
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Mahasiswa menjual Siobak, kuliner khas Buleleng, belajar dari video

Mahasiswa menjual Siobak, kuliner khas Buleleng, belajar dari video

4 July 2025
Meramban Tanaman Liar di UFF

Meramban Tanaman Liar di UFF

2 June 2025
Menghidupkan Jaje Sengait, Melestarikan Pohon Aren Pedawa

Menghidupkan Jaje Sengait, Melestarikan Pohon Aren Pedawa

21 May 2025
Warisan Kuliner dan Talenta Lokal dalam Ubud Food Festival 2025

Warisan Kuliner dan Talenta Lokal dalam Ubud Food Festival 2025

20 May 2025

Warung Nasi Men Rida: Generasi Keempat di Desa Batubulan 

30 January 2025

Sepiring Entil, Segelas Coklat Panas: Kupangkas Dingin Ini

10 December 2024
Next Post
Sajian Lokal di Ubud Food Festival

Sajian Lokal di Ubud Food Festival

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia