
Biasanya, dalam masyarakat kita, tawa selalu dikaitkan dengan kebahagiaan—entah karena menang undian, mendapat rezeki, atau sedang jatuh cinta. Tapi sebenarnya, tidak semua tawa lahir dari kesenangan. Ada tawa yang justru lahir dari duka yang terlalu dalam. Tawa yang muncul saat kita tak tahu lagi harus melakukan apa selain menertawakan kesialan sendiri.
Tak semua orang punya keberanian untuk tertawa seperti itu. Banyak dari kita takut disebut tidak waras. Padahal, tertawa bisa menjadi pelepasan. Seperti ada tekanan besar di dada yang luruh saat tawa pecah. Ada kelegaan yang muncul tanpa bisa dijelaskan.
Saat kanak-kanak, kita bisa tertawa paling bebas dan lepas. Bisa menangis, bisa tertawa sampai tak bisa berhenti. Tapi begitu dewasa, ekspresi semacam itu mulai dikekang. Kita dituntut untuk sopan, tampil tenang, tidak berlebihan. Seolah tawa harus dipelihara di ruang tertutup.
Kita kehilangan rasa humor.
Di usia dewasa, kita menjadi bangsa yang terlalu gampang tersinggung. Semua harus dibicarakan dengan serius, diperdebatkan dengan penuh kemarahan, dikelola lewat aturan. Bahkan tawa pun mulai dilembagakan, diatur, ditakar kelayakannya. Apakah pantas disebut seni? Apakah melanggar etika?
Beberapa waktu lalu, pelawak Bali legendaris, I Nyoman Subrata alias Petruk, menjadi sorotan di Pesta Kesenian Bali. Beredar kabar ia tak diikutsertakan dalam PKB 2025 karena gaya humornya yang kasar dan blak-blakan. Pelawak yang sudah puluhan tahun menghibur rakyat itu tiba-tiba dipersoalkan karena gaya bahasanya.
Gubernur Bali membantah kabar pelarangan itu. Keputusan tidak tampilnya Petruk disebut berasal dari pertimbangan kurator, bukan karena intervensi politik. Kurator menyampaikan bahwa semua seniman diimbau menjaga etika berbahasa di panggung, tanpa ada larangan khusus terhadap siapa pun.
Namun perdebatan tetap terjadi. Beberapa tokoh mengaitkan absennya Petruk dengan preferensi politik. Beberapa lainnya menyebut ini bentuk penyeragaman gaya budaya Bali. Gaya humor Petruk yang khas—ceplas-ceplos, keras, tapi menghibur—dianggap tidak layak ditampilkan di panggung PKB.
Padahal, di daerah seperti Buleleng atau Jembrana, gaya berbahasa seperti itu lumrah. Kata-kata seperti “bangsat” atau umpatan lainnya justru menjadi bagian dari keakraban. Tertawa karena bahasa kasar bukan berarti mendukung kekerasan verbal, melainkan karena ia hadir dalam konteks komedi, bukan permusuhan.
Jika standar bahasa hanya mengacu pada kesopanan ala istana, bukankah itu menyingkirkan identitas budaya rakyat?
PKB adalah ajang yang besar. Di panggung itu, Bali ingin tampil elegan. Tapi jika elegan berarti membungkam keragaman cara berekspresi, maka ada yang keliru.
Tertawa bukan hanya soal lucu. Ia juga tentang keberanian menertawakan hidup yang tak sesuai harapan. Osho, tokoh spiritual asal India, mengatakan bahwa tawa bukan sekadar hiburan, tapi revolusi batin. Ia adalah gerbang menuju kesadaran. Tertawa, bagi Osho, bukan lawan dari tangis. Ia adalah jalan keluar dari penderitaan yang tak bisa lagi ditangisi.
Bagi banyak orang, tertawa adalah satu-satunya cara agar tidak gila di tengah hidup yang kacau. Ketika semua terasa berat, menertawakannya bukan tanda putus asa. Justru itu tanda paling jujur bahwa kita belum menyerah. Bahwa kita masih bisa berdamai dengan kenyataan.
Sayangnya, kita makin takut tertawa. Takut dianggap tak sopan. Takut menyinggung. Takut dinilai tak punya empati. Kita mengukur segala sesuatu dengan kepantasan. Bahkan tawa pun harus punya tujuan, harus bermoral, harus mendidik.
Di panggung seni, humor menjadi barang mewah. Apalagi humor yang kasar, yang subversif, yang menggoda logika. Padahal itulah humor yang sesungguhnya, yakni menyentuh absurditas hidup dan membuat kita menertawakan kepalsuan dunia ini.
Petruk bukan sekadar pelawak. Ia adalah suara dari rakyat. Lawakannya tidak sekadar membuat tertawa, tapi juga menyentil. Ia tidak tampil dengan busana mewah, tapi ia hadir bersama pengalaman rakyat kecil. Menertawakan harga sembako. Menertawakan birokrasi. Menertawakan politik. Dan menertawakan dirinya sendiri.
Jika panggung seperti PKB tak memberi ruang bagi jenis humor semacam itu, lantas kepada siapa panggung itu ditujukan? Apakah PKB hanya milik seniman dengan estetika yang rapi, sopan, dan bisa diterima semua kalangan? Atau apakah ia juga memberi tempat pada ekspresi yang datang dari jalanan, dari sawah, dari pasar?
Kita kehilangan rasa humor karena kita terlalu ingin tampil baik. Terlalu takut pada kekacauan. Terlalu ingin semua terlihat bersih, padahal hidup tak pernah benar-benar rapi.
Tertawa adalah pengingat bahwa kita manusia. Bahwa kita tak bisa mengontrol segalanya. Bahwa kadang satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah menertawakan semua ini. Karena hidup, pada dasarnya, memang sedang bercanda.
Dalam tradisi Timur, kehidupan disebut sebagai Leela: permainan ilahi. Tuhan bukan hanya penguasa yang muram. Ia juga Maha Bercanda. Maka mengapa kita terlalu tegang menjalaninya?
Jika suatu hari kita mendapati diri sendiri tertawa di tengah masalah, jangan buru-buru merasa bersalah. Jangan takut dianggap gila. Bisa jadi, justru di saat itulah kita paling waras. Karena kita sudah cukup jujur untuk menerima hidup, apa adanya.
Dan barangkali, panggung semestinya memberi tempat untuk semua jenis tawa. Dari yang halus sampai yang kasar. Dari yang rapi sampai yang sembrono. Karena semua punya tempat. Semua punya nilai. Dan semua adalah bagian dari wajah kebudayaan kita yang utuh. (*)
*) Penulis adalah seorang wartawan lepas, penyair, dan esais, tinggal di Denpasar-Bali.
sangkarbet kampungbet









