
Sore menjelang malam, kumpulan pesepeda menempati sebagian kecil ruas jalan raya. Saat menemui kemacetan, mereka melintas di sela-sela ruang kendaraan. Sekali, dua kali, kelompok pesepeda itu menghadapi bunyi klakson kendaraan yang tak sabar melintas.
Menjelang malam, lampu di sepeda mereka mulai menyala. Memberi terang di tengah jalan yang masih belum usai dengan kemacetannya. Para pesepeda yang jumlahnya lebih dari 10 orang dilengkapi helm.
Mereka tergabung dalam Ajer Gianyar Community Club (Ajgr CC), komunitas sepeda di Gianyar. Melalui akun Instagram @ajgr.cc, komunitas ini mendorong gowes atau bersepeda dari Gianyar ke tempat-tempat lain di Bali. Baru-baru ini, mereka bahkan mengadakan gowes dari Gianyar ke Bedugul. Jaraknya mencapai 50 kilometer.
Panji merupakan salah satu inisiator Ajgr CC. Ketika ditemui seusai kegiatan gowes, Panji mengatakan, tujuan Ajgr CC untuk merangkul semua pesepeda yang ada di Gianyar.
“Jadi kita ajak gowes bareng-bareng,” kata Panji.
Saat ini, Ajgr CC merangkul kurang dari 10 pesepeda di Gianyar untuk bergabung dalam komunitasnya. Namun, mereka juga mengajak komunitas lain untuk gowes bersama. “Jadi biar tambah ramai,” ujar Panji.
Awal komunitas ini terbentuk karena Panji melihat ada beberapa anak muda yang tidak tergabung dalam komunitas mana pun di wilayahnya. “Kebanyakan sekarang kan komunitasnya mungkin terbentuk dari komunitas di banjar, perumahan. Kalau kita tidak tergantung sama komunitas seperti di banjar atau BTN,” jelas Panji.
Panji melihat fenomena tersebut dari teman-temannya yang tidak memiliki teman di daerahnya tinggal. Akhirnya, ia pun menginisiasi Ajgr CC untuk merangkul anak muda yang ingin gowes, tapi tidak punya teman.
“Jadi kita di jalan mungkin lihat orang sepedaan sendiri, kita ajak bareng-bareng di komunitas ini,” kata Panji.
Di Indonesia, sepeda sempat menjadi tren pada masa pandemi Covid-19. Laporan Kompas TV pada tahun 2020, menyebut omzet pedagang sepeda di Jambi mencapai Rp20 juta per hari. Hal yang sama juga terjadi di Denpasar, penjualan sepeda meningkat 30 persen per hari.
Tren sepeda di masa Covid-19 membuat Pemerintah Kota Denpasar berencana menggarap jalur sepeda dari Gedung Dharma Negara Alaya menuju Pantai Sanur. Dilansir dari website resmi Pemkot Denpasar, jalur sepeda mulai digarap pada 15 November 2020. Lintasannya sepanjang 25 kilometer. “Jalur sepeda ini akan terintegrasi dengan angkutan umum yang ada seperti Trans Metro Dewata,” dikutip dari Pemkot Denpasar.
Setahun setelah pandemi, Pemkot Denpasar berencana melanjutkan proyek tahap dua. Rutenya dari Dharma Negara Alaya menuju Jalan Ahmad Yani, Jalan Maruti, Jalan Sutomo menuju Jalan Gajah Mada.
Sayangnya, pembangunan jalur sepeda hanya berhenti di sekitar Taman Kota Lumintang. Jalurnya pun digunakan sebagai tempat parkir kendaraan bermotor.
Dalam skala global, penggunaan sepeda sebagai moda transportasi mengalami peningkatan. Penelitian pada tahun 2022 menunjukkan produksi sepeda naik 102,6 juta unit dalam 53 tahun. Pada tahun 1962, produksi sepeda di dunia sejumlah 20,7 unit. Sementara, pada tahun 2015 menjadi 123,3 juta unit. Penelitian ini mengungkapkan produksi sepeda di dunia lebih banyak 2,4 kali lipat daripada produksi mobil.
Penelitian ini mengungkapkan, di negara berpendapatan rendah, seperti India, kepemilikan mobil dan sepeda sama-sama rendah. Sementara, di negara berkembang, kepemilikan mobil meningkat pesat, sebaliknya kepemilikan sepeda menurun.
Belanda dan Denmark menjadi negara yang kepemilikan mobil dan sepedanya sangat tinggi. Namun, dua negara ini telah mencapai titik jenuh, sehingga masyarakatnya memilih moda yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Meski begitu, penelitian ini mengungkapkan, kepemilikan sepeda tidak memengaruhi aktivitas bersepeda. Banyak negara memiliki banyak sepeda, tetapi masyarakatnya tetap jarang menggunakan sepeda sebagai transportasi sehari-hari.
Ada beberapa faktor yang diungkapkan penelitian memengaruhi penggunaan sepeda. Di Belanda dan Denmark penggunaan sepeda dipengaruhi oleh budaya bersepeda yang kuat. Budaya ini didorong oleh infrastruktur jalur sepeda yang baik, kesadaran lingkungan, dan topografi yang relatif datar.
Faktor lainnya adalah ketergantungan pada mobil. Di negara seperti Amerika Serikat dan Australia, masyarakatnya banyak yang memiliki sepeda. Namun, mobil tetap menjadi moda transportasi utama.
Faktor paling memengaruhi adalah keselamatan lalu lintas. Negara dengan angka kecelakaan lalu lintas tinggi cenderung memiliki penggunaan sepeda yang rendah. Pasalnya, masyarakat menganggap bersepeda bahaya. Temuan ini selaras dengan penelitian yang menunjukkan pembangunan infrastruktur sepeda dapat meningkatkan penggunaan sepeda.
“Sebagai contoh, pengalokasian sementara ruang jalan selama pandemi Covid-19 telah mendorong peningkatan jumlah aktivitas sepeda secara besar dan cepat,” dikutip dari penelitian tersebut.

Penelitian ini mengungkap, jika seluruh dunia bersepeda seperti Denmark, emisi karbon dapat berkurang 414 juta ton CO2 per tahun. Jika seluruh dunia bersepeda seperti Belanda, pengurangan emisi mencapai 686 juta ton CO2 per tahun. Jika angka penelitian itu diibaratkan, angka itu setara 85% dari seluruh emisi CO2 yang dihasilkan Indonesia per tahun. Dari sisi kesehatan, sekitar 0,17 juta kematian dapat dicegah berkat penggunaan sepeda secara global.
Meski penelitian tersebut menunjukkan pola global antarnegara, ada beberapa hal yang relevan dengan kondisi Bali. Kepemilikan sepeda meningkat saat tren terjadi. Namun, penggunaannya menurun ketika tidak disusul dengan infrastruktur yang memadai.
Dilihat dari tren yang terjadi dan terbentuknya komunitas sepeda, masyarakat Bali memiliki kemauan untuk bersepeda. Sayangnya, infrastruktur kerap kali terdesak karena tren semata. Sama seperti yang dilakukan Pemkot Denpasar, ketika tren bersepeda menurun, pembangunan infrastruktur sepeda dihentikan. Padahal, pembangunan infrastruktur sepeda sendiri dapat meningkatkan penggunaan sepeda.
sangkarbet sangkarbet



