• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, October 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Menemukan Makna Mis-Registered di Bangga di Bali 

Made Suci Ananda Putri by Made Suci Ananda Putri
17 September 2026
in Kabar Baru, Sosial
0
0

Rasa bangga pada suatu tempat jarang lahir dari kekaguman yang semata. Ia lebih sering tumbuh dari proses mengenali celah kecilnya, lalu memilih untuk tetap bertahan dan merawatnya.

Di Bali, keindahan visual yang dirayakan saban hari oleh jutaan pasang mata beradu langsung dengan denyut hidup warga yang tak pernah sederhana. Kebanggaan hadir melalui cara pulau ini terus dinegosiasikan. Ada ketegangan yang nyata ketika sebuah komunitas bernavigasi di tengah norma sosial yang ada, mencari celah untuk tetap hadir dan saling menjaga tanpa harus mengabaikan realitas di sekitarnya.

Di sebuah sudut ruang yang teduh di kawasan Denpasar Timur pada Sabtu, 29 Agustus 2026, sebuah komunitas berkumpul di acara bertajuk Bangga di Bali. Kegiatan yang diinisiasi oleh salah satu komunitas ragam gender di Bali ini dirancang khusus sebagai ruang aman untuk saling terhubung, belajar, sekaligus merawat daya lenting bersama.

Acara Bangga di Bali meliputi talkshow, instalasi karya, dan peragaan busana. Seluruh rangkaian acara ini hadir sebagai media bagi komunitas untuk mengekspresikan diri sekaligus menjadi ruang aman. Selama talkshow, penulis belajar bahwa sekadar untuk hadir dan eksis saja, ada perjuangan bersama yang harus ditempuh. Sesi ini diisi dengan berbagi pengalaman mengenai cara mempertahankan daya lenting.

Pembahasan mengenai daya lenting (resilience) menegaskan bahwa keberadaan komunitas di Indonesia kerap berhadapan dengan narasi hegemoni. Hal ini terlihat jelas dalam Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara 2025–2029, di mana penyebaran budaya terkait dimasukkan sebagai bagian dari ancaman non-militer. Pelabelan institusional semacam ini mempertegas besarnya tantangan struktural yang harus dihadapi komunitas dalam kehidupan sehari-hari. 

Untuk bertahan di tengah tantangan ini, proses resiliensi tidak dijalani secara konfrontatif, melainkan penuh kesadaran (mindful) serta bertumpu pada perawatan diri (self-care) dan perawatan bersama (collective care). Para pembicara memaparkan bahwa kesadaran ini mencakup kemampuan mengenali batas energi personal: mengetahui kapan saatnya bersuara dan kapan harus mundur sejenak (step back) demi keselamatan psikologis maupun fisik. Mengelola amarah terhadap represi sosial menjadi kunci agar ruang ekspresi dapat berlangsung secara berkelanjutan (sustainable) tanpa memicu kelelahan emosional (burnout).

Perspektif ini beririsan erat dengan temuan akademis mengenai fenomenologi queer dan politics of affect di Indonesia. Sebagaimana ditunjukkan dalam studi Yulida Pangastuti (2025) mengenai navigasi ruang di tengah norma hegemonik, rasa aman bagi komunitas kerap tidak dijamin oleh aturan tertulis, melainkan dibangun secara situasional sebagai felt safety yakni sebuah rasa aman yang diresapi secara afektif dan sensori melalui dinamika relasional.

Hal ini selaras dengan konsep translusen (translucency) dan selective disclosure, di mana individu bernavigasi di antara keterbukaan penuh (visibility) dan penyembunyian (invisibility). Komunitas tidak didorong untuk selalu terbuka di setiap ruang yang berisiko, melainkan mengadopsi taktik kesadaran ruang. Translusensi memungkinkan individu untuk terlihat cukup guna menjangkau sesama dan mengekspresikan otentisitas diri, namun tetap menyimpan lapisan perlindungan agar dapat bernavigasi secara aman di dalam sistem sosial yang ada. Dengan demikian, resiliensi yang mindful dan translusen merupakan sebuah taktis navigasi hidup: merawat daya tahan tubuh dan pikiran agar eksistensi mereka tetap berdaya dan berlanjut. 

Dengan perasaan yang masih terikat pada spirit dari sesi talkshow, saya berjalan menepi ke area di mana instalasi poster dipajang menyerupai museum mini. Salah satu instalasi karya yang menyita perhatian bertajuk mis-registered.

Instalasi mis-registered berasal dari metafora dunia cetak, yaitu ketika lapisan-lapisan warna atau garis meleset/bergeser sedikit dari posisi presisi yang seharusnya, namun sengaja dibiarkan begitu. Karya ini mempertanyakan standar kepatuhan (“tidak tepat menurut ukuran siapa?”), lalu memproyeksikannya pada bagaimana hidup ragam gender kerap dianggap “salah tempat” oleh norma, serta bagaimana sejarah visual ragam gender justru bertahan dan hidup lewat pergeseran-pergeseran kecil, simbol, serta kode yang luput dari register dominan. 

Acara kemudian berlanjut ke peragaan busana, di mana para peserta ragam gender melakukan catwalk dengan penuh percaya diri. Di sela peragaan, mereka merespons dan menjawab berbagai pertanyaan seputar isu sosial, tantangan riil komunitas, hingga pengalaman personal dalam bernavigasi di tengah masyarakat. Perpaduan antara ekspresi seni, busana, dan ketegasan gagasan menjadikan ajang ini panggung advokasi yang hidup.

Melalui perpaduan ekspresi seni dan peragaan busana inilah, esensi rebellion through celebration (perlawanan melalui perayaan) terasa begitu nyata. Kebanggaan tidak ditampilkan sebagai konfrontasi keras, melainkan dirumuskan kembali sebagai keberanian untuk merayakan identitas dan merebut kembali hak hadir di ruang publik. Perayaan ini menjadi bentuk protes yang damai sekaligus kreatif, di mana kebahagiaan dan ketegasan gagasan berjalan berdampingan untuk merawat daya tahan komunitas.

Rangkaian kegiatan Bangga di Bali mencerminkan bagaimana dinamika sosial dan ekspresi identitas berkontestasi di ruang publik kota Denpasar. Acara ini menjadi salah satu penanda dari beragam dinamika kebudayaan dan hak asasi manusia yang terus berkembang, menghadirkan sudut pandang serta ruang dialog bagi keberagaman di Bali.

Tags: bangga di baliragam gender
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Made Suci Ananda Putri

Made Suci Ananda Putri

Related Posts

Keamanan Holistik Jadi Kunci Perlindungan Kelompok Rentan

Keamanan Holistik Jadi Kunci Perlindungan Kelompok Rentan

15 July 2026
Next Post
Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

Bugbug, Wilayah Frontier, dan Tubuh yang Dikorbankan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Transisi ke Kendaraan Listrik adalah Wacana Kapitalistik ?

Pulau Wisata dengan Pasokan Rapuh: Analisis Kapitalisme atas Kelangkaan BBM di Bali

16 October 2026
Pemerintah Lalai, Bali Digerakkan Daily Worker dan Kini Harus Begadang Massal untuk BBM

Pemerintah Lalai, Bali Digerakkan Daily Worker dan Kini Harus Begadang Massal untuk BBM

16 October 2026
Warga Bali Antre Berjam-Jam Demi BBM, Koster Bilang Pasokan Masih Cukup

Warga Bali Antre Berjam-Jam Demi BBM, Koster Bilang Pasokan Masih Cukup

15 October 2026
Ketika BBM Langka dan Rasa Aman Warga Dipertaruhkan

Ketika BBM Langka dan Rasa Aman Warga Dipertaruhkan

14 October 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia