
Sejauh ingatan saya, sejak dulu Desa Munduk sangat akrab dengan pariwisata. Bule, tracking, penginapan, dan toko souvenir bukan suatu yang asing saya lihat dari dulu walaupun belum semasif sekarang. Perubahannya sangat terasa memang, apalagi mulai dari tahun 2015 sampai sekarang. Lahan yang dulunya kebun kopi, cengkeh, ataupun padi sekarang mulai banyak beralih fungsi menjadi hotel atau fasilitas pariwisata lainnya dengan sebutan yang beragam.
Melihat dari sejarah Desa Munduk, harusnya tidak asing kalau desa kami dikenal sebagai tujuan wisata. Di beberapa sumber di internet bahkan dari zaman kolonial Belanda, Desa Munduk sudah menjadi tempat singgah bagi wisatawan asing. Zaman kolonial, daerah yang sangat sering disebut adalah Pesanggrahan sebagai destinasi penginapan yang populer. Setelah itu, nama besar Puri Lumbung Cottages juga menjadi destinasi menginap yang populer di Desa Munduk. Apalagi pemilik Puri Lumbung Cottages, Drs. Nyoman Bagiarta, juga merupakan seorang tokoh yang mempopulerkan Munduk sebagai tujuan wisata. Selain Puri Lumbung, di zaman saya tumbuh yang juga terkenal sebagai tempat penginapan atau resto wisatawan asing adalah Lumbung Sari, Ngiring Ngewedang, dan Made Oka Home Stay.

Dalam perkembangannya, Munduk terus melejit sebagai salah satu destinasi wisata yang dicari oleh wisatawan asing. Menurut I Ketut Basma, salah satu guide senior yang ada di Desa Munduk, kunjungan wisatawan ke Desa Munduk terus mengalami peningkatan. Pernyataan itu juga didukung salah satu artikel di repo.undiksha yang menyebutkan pada tahun 2023, yang merupakan tahun pemulihan pandemi, kunjungan wisatawannya mencapai 45 ribu orang, dengan objek wisata unggulan Danau Tamblingan, air terjun, lahan persawahan, dan perkebunan masyarakat.
Kalau dibilang strategis sebenarnya kami tidak yakin dengan itu. Jalan berkelok dan berjarak 3 sampai 4 jam dari kota atau pusat wisata di Bali selatan harusnya menjadi pertimbangan yang panjang untuk menjadikan Munduk sebagai tujuan untuk berlibur, tetapi memang waktu tempuh dan medan yang extreme itu terbayarkan ketika wisatawan sampai di Munduk. Udara sejuk dan tujuan wisata alami menjadi dasar wisatawan untuk datang.
Melihat perkembangan wisata yang sebegitu tingginya, sebagai masyarakat dan pemuda lokal, sebenarnya ada kebimbangan. Pengaruh pariwisata terhadap roda perekonomian di Desa Munduk harus diakui berdampak positif. Dengan banyaknya hotel, villa, resto, dan fasilitas lain penunjang wisatawan juga membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat di Desa Munduk. Hal positif lainnya yang tentu kita rasakan ketika kita berada di lingkungan pariwisata adalah kebiasaan orang untuk belajar berbahasa asing.
I Ketut Basma juga berpendapat, “hal positif yang kita rasakan adalah mental generasi penerus yang tidak takut akan keberadaan wisatawan asing karena sudah terbiasa melihat warga bergaul langsung dengan tourist, hal ini juga akan berdampak baik, contohnya anak-anak kita dapat terus belajar untuk bisa berbahasa asing.”

Di sisi lain, kami juga melihat pengaruh negatif dari pariwisata itu sendiri. Pembangunan yang mengorbankan pohon-pohon yang membuat udara sejuk, pengolahan limbah dan sampah yang belum teratur sehingga menyebabkan sumber air mulai tercemar. Ada juga risiko yang sering kali luput dari perhatian yaitu ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap sektor pariwisata dapat menjadi ancaman apabila jumlah wisatawan menurun.
Ketergantungan masyarakat terhadap pariwisata adalah kondisi di mana ekonomi masyarakat bergantung kepada wisatawan. Selain itu, biaya hidup juga akan ikut meningkat, contohnya seperti harga barang yang naik, harga tanah, dan harga makanan di tempat pariwisata akan lebih mahal dibandingkan tempat lain.
Dari dua sisi tersebut, apakah kita sebagai masyarakat dan khususnya pemuda lokal harus bangga? Atau sedih dengan masifnya perkembangan pariwisata di Munduk? Perlu kajian dan diskusi mendalam kami pikir untuk itu. Bagaimana kami tetap bisa terbuka dengan hadirnya pariwisata, namun juga tetap menjaga bentang alam kami agar tetap terjaga. Dan paling penting, kami tetap menjadi tuan rumah di desa sendiri.
(Tulisan ini merupakan karya peserta Workshop Menangkal Disinformasi Iklim kolaborasi IDJN)
sangkarbet sangkarbet






