• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 1, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Ba(ng)li Sold?

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
5 February 2026
in Kabar Baru, Kolom Matan Ai, Opini, Politik
0
0

I Ngurah Suryawan


Sketsa Bangli Sold karya Made Kenak Dwi Adnyana

Sketsa Bangli Sold karya Made Kenak Dwi Adnyana

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kawasan pegunungan Bali menjadi sasaran empuk dari para investor, yang dengan sekuat tenaga “menemukan” wilayah-wilayah baru ekspansi kapital mereka. Salah satunya adalah kawasan pegunungan Kintamani yang menjadi titik tuju investasi besar setelah jenuhnya wilayah pesisir. Landskap pemandangan yang lengkap yaitu Gunung Batur, Danau Batur, kaldera yang indah,dan cuaca yang sejuk menjadikan kawasan Kintamani (Cintamani) sangat menjanjikan.

Sejatinya, sebelum menjadi wilayah incaran investor, wilayah Bangli, Sukawana, Kintamani, dan Batur adalah salah satu situs penting peradaban air dan pengetahuan di Balidwipa (Pulau Bali). Catatan dari Ariana (2015; 2017; 2020) secara elaboratif menarasikan bahwa Batur adalah jantung dari peradaban air Bali. Sebagai jantung peradaban air Bali, Batur menduduki posisi titik pusat, sekaligus vital, dalam kesleuruhan ekosistem maupun tatanan sistem kehidupan masyarakat Bali (spiritual, ritual, dan sosial).

Danau Batur adalah sumber air tawar di Bali yang mengairi Danau Beratan, Buyan, dan Tamblingan. Batur dengan demikian menjadi titik simpul penting peradaban Bali yang berpusat orientasi pada siklus aliran air. Peradaban air yang dilakoni oleh Batur tersebut terjaga, terlakonkan dalam kehidupan sehari-hari yang mencipta pandangan hidup dan kehidupan itu sendiri.

Bangli sendiri dalam catatan sejarah adalah pusat peradaban kuno di Balidwipa. Wilayah Cintamani menjadi pusat peradaban spiritual dan peradaban rohani Bali. Di atas tanah yang kini menjadi Kabupaten Bangli telah tercatat otentik dalam Prasasti 001 Sukawana A-1 bahwa pernah berdiri “kampus besar perguruan tinggi kerohanian” model Bali Kuno yang berupa pertapaan dan pesraman (Sumarta, 2015).

Bangli adalah salah satu wilayah di Balidwipa yang menjadi sumber peradaban Bali Kuna. Sejak berabad-abad lalu, saat Bali dan manusianya masih bertumpu pada budaya agraris, aliran-aliran air berikut sumbernya tentu sangat dijaga dan dihormati. Bagi petani, air adalah nyawa. Tanpa air, kekacauan sosial menjadi nyata. Ekonomi akan runtuh, kedaulatan negara juga akan terganggu.

Upaya yang ditempuh untuk menjaga air dan sumbernya beragam dilakoni, mulai dari konservasi nyata dengan menjaga kawasan resapan air di sekitarnya hingga melakoni ritual-ritual yang dipercaya mampu memelihara energi air. Praktik pertama sudah dapat kita telusuri dalam catatan-catatan prasasti zaman Bali Kuno. Jabatan Hulu Kayu, yakni petugas yang mengurus kehutanan di masa pemerintahan Maharaja Jaya Pangus menjadi salah satu bukti kebijakan konservasi pemerintah kala itu (Ariana, 2015; 2020).

Namun apa lacur, budaya pemulian air dan menjaga hutan kini pastinya mulai tergerus secara perlahan-lahan. Budaya air di hulu Bali yaitu di Kintamani, Batur, Sukawana dan wilayah pegunungan Bali lainnya mulai tergantikan dengan budaya jalan beton dengan orientasi di kaki pulau Bali yaitu Bandara Ngurah Rai Tuban sebagai pintu masuk datangnya wisatawan. Tidak hanya itu, Bali terus-menerus membuka dirinya dibujuk dan dirayu oleh investasi kapital yang dibawa oleh industri pariwisata. Tentu tidak semua bujuk rayu itu mendatangkan kebahagian.

Bujuk Rayu Investasi

Bangli di tahun 2025 lalu dikejutkan oleh rencana proyek investasi kapal pesiar bertenaga ramah lingkungan dan wahana infrastruktur pariwisata lainnya yang mendukungnya yaitu olahraga air bertenaga listrik, kereta wisata listrik, sky capsule, dan rail bike. Terkhusus kapal pesiar ini memanfaatkan energi terbarukan, seperti hidrogen, gas alam cair (LNG), dan energi surya. Fasilitas baru ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Kabupaten Bangli dengan investor Korea. Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta bangga bahwa ini adalah bukti bahwa daerahnya, Bangli, memiliki potensi yang menarik bagi investor. Bagi Sedana Arta, cara ini, dengan mendatangkan investor, adalah sebagai solusi untuk pariwisata masa depan yang lebih berkelanjutan, mengurangi jejak karbon, dan memungkinkan eksplorasi destinasi ramah lingkungan di Danau Batur.

Kerjasama tersebut ditandai dengan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh badan usaha milik daerah Kabupaten Bangli, PT Bukthi Mukthi Bakthi (BMB) dan investor asing asal Korea Selatan, PT GMS Invest Internasional, di ruangan Bupati Bangli. Penandatanganan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada revitalisasi ekonomi daerah, melalui pengoperasian kapal pesiar dan olahraga air bertenaga listrik, kereta wisata listrik, sky capsule, dan rail bike di Danau Batur.

Pemerintah Kabupaten Bangli menyambut baik investasi ini yang menjadi bukti bahwa Bangli memiliki potensi yang menarik bagi investor. Tujuannya untuk meningkatkan daya saing dan pendapatan daerah. Terkhusus untuk proyek kapal pesiar ini, selain pengoperasian kapal pesiar bertenaga listrik yang ramah lingkungan, aktivitas lainnya nanti yang berada di Danau Batur adalah pengembangan serta pengoperasian kompleks olahraga air rekreasi, dengan memanfaatkan kapal listrik yang dilengkapi teknologi baru dari Korea. 1

Jauh sebelumnya, pada September 2017, masyarakat di kawasan Danau Batur diusik dengan rencana masuknya investor untuk proyek kereta gantung. Pada saat itu, beberapa wilayah di kawasan Danau dan Gunung Batur diincar sebagai lokasi dari pembangunan kereta gantung tersebut.Calon investor dikabarkan telah melakukan uji kelayakan terhadap lokasi yang diincar. Pada saat itu dikabarkan calon investor berasal dari Budapest, Hongaria. Proyek ini memperkirakan pada akhir 2017 sudah mendapatkan lokasi yang pasti untuk pembangunan.

Rencana pembangunan kereta gantung rencanya dimulai di Restoran Madu Sari, melewati Bukit Payang, black lava, sampai di lokasi pendakian di Gunung Batur. Lokasi tersebut tentunya nanti melalu uji kelayakan. Pemda Bangli dikabarkan juga telah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), terkait jalur yang bisa dilalui kereta gantung agar lokasi konservasi tidak terganggu.2 Hingga kini, proyek kereta gantung tidak terealisasi.

Tidak hanya rencana saja, investasi di kawasan kaldera Batur seolah tidak berhenti begitu saja. Yang sempat menghebohkan adalah aksi penghadangan dua alat berat ekskavator milik PT Tanaya Pesona Batur (PT TPB) yang sejak 3 Juli 2023 meratakan pekarangan dan lahan pertanian warga yang setuju terhadap pembangunan taman rekreasi. Para petani di Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang yang menolak pembanguan taman rekreasi tersebut melakukan penghadangan karena wilayah yang berdekatan.

Cikal bakalnya adalah penerbitan izin usaha oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) pada tahun 2022 di kawasan hutan tersebut seluas 85,66 Ha kepada PT TPB berdasarkan Perizinan Berusaha Sarana Wisata Alam (PB SWA) Nomor 02202013614380001. Perusahaan ini akan membangun leisure park atau taman rekreasi dengan fasilitas wisata seperti penginapan, glamping, amfiteater untuk pagelaran seni, pemandian air panas, dan fasilitas lainnya. Pada 25 Oktober 2023 sekitar pukul 21.50 Wita, dua alat berat ekskavator milik perusahaan diangkut dan keluar dari area tempat tinggal warga.3

Bujuk rayu investasi akan terus mengincar Batur dan wilayah pegunungan Bali secara perlahan-lahan. Berbagai usaha akan dilakukan untuk menjadikan wilayah-wilayah baru untuk dikapitalisasi, tidak terkecuali situs-situs peradaban air yang menjadi perjalanan peradaban Balidwipa. Wilayah-wilayah baru menjadi prasyarat untuk menggerakkan roda kapital dengan intensifikasi sekaligus diversifikasi kapital di berbagai bidang.

Kapitalisasi Ruang

Apa yang terjadi di Bangli, Batur, dan kawasan pegunungan Bali dalam kajian sosio-spasial dengan perspektif marxisme, menunjukkan bahwa bahwa ruang adalah area dan alat yang berfungsi melestarikan tatanan ekonomi-politik. Ruang adalah produk politik dan instrumen bagi perubahan sosial ekonomi sehingga ruang itu tidak netral dan pasif (Lefebvre, 1991). Apa yang terjadi di kawasan Kintamani dan Batur pada khususnya adalah kontestasi (perebutan) kuasa atas ruang dari investor/kapitalis (pengusaha), negara (pemerintah), dan masyarakat (desa adat dan warga termasuk organisasi masyarakat sipil di dalamnya).

Hasrat pemerintah untuk menampilkan diri semenarik mungkin di hadapan kapital (baca: investasi) bukan tanpa sebab. Pencarian dan eksploitasi ruang-ruang di kawasan pariwisata melibatkan berbagai macam kepentingan. Ruang sebagai produk politik mengakibatkan praktik tata ruang tidak pernah bebas dari keberpihakan aktor yang membuat regulasi tata ruang. Keberpihakan atau ketidaknetralan aktor-aktor dalam menjalankan kuasanya tercermin dari kebijakan yang dibuat oleh regulator (pemerintah).

Cita-cita pertumbuhan dan pendapatan daerah, apalagi untuk mensejahterakan rakyat tidak berada di ruang hampa (makna dan kepentingan). Perluasan ruang-ruang pariwisata tidak hanya berkaitan dengan tujuan pertumbuhan. Konteksnya adalah terjadinya berbagai macam pengaturan yang menyebabkan terjadinya konflik maupun kolaborasi termasuk tentang kemungkinan yang akan menentukan tingkat dan kualitas investasi dalam kegiatan pembangunan ruang itu.

Keterlibatan pemerintah berupa pemberian ijin pengelolaan kepada investor dan pembebasan lahan, pembangunan fisiknya, dan masyarakat yang tergusur oleh investasi yang masuk menjadi sebuah kombinasi dari penataan ruang yang sebenarnya lebih tepat disebutkan penyingkiran ruang bagi mereka yang lemah yaitu komunitas atau masyarakat yang jauh sebelumnya berada di lokasi tersebut.

Sikap pemerintah yang tidak netral atau berpihak kepada investasi ditunjukkan dengan mengundang bahkan menjemput investor. Pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk merangkul investastor, selain tentu saja investor sendiri juga membutuhkan pemerintah untuk mendukung kemauannya dalam pembangunan industri yang telah direncanakan baik itu dalam bidang pariwisata, manufaktur, maupun perdagangan.

Kelas-kelas kapital yang berkolaborasi dengan pemerintah berusaha terus-menerus untuk menghasilkan keuntungan berupa uang dengan mengkapitalisasi ruang. Ruang akan diproduksi dan direproduksi dengan membangun ruang-ruang kapital baru. Kepentingan pemerintah terhadap kapitalis adalah sebagai investasi sekaligus mesin penggerak pertumbuhan pembangunan daerahnya agar mampu bersaing dengan kabupaten lain yang sudah lebih dahulu “berkembang” dengan mengandalkan pariwisata.

Pandangan ini menekankan bahwa perkembangan atau keterbelakangan suatu daerah (Bangli) disebabkan karena tidak adanya aliran investasi dari kelompok kapital yang berfungsi memproduksi keuntungan, mendistribusi aliran kapital, dan mengkonsumsi ruang dengan serakus. Hal ini harus dilakukan untuk memastikan sirkuit kapital terus berjalan.

Daftar Pustaka

Aminah, Siti. 2015. “Konflik dan Kontestasi Penataan Ruang Kota Surabaya,” Masyarakat: Jurnal Sosiologi: Vol. 20: No. 1, Article 5. DOI: 10.7454/MJS.v20i1.1092.

Ariana, I Ketut Eriadi. 2020. Ekologisme Batur. Singaraja. Penerbit Mahima.

Ariana, I Ketut Eriadi. 2017. “Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul: Analisis Semiotik” (Skripsi). Denpasar. Universitas Udayana.

Ariana, I Ketut Eriadi. 2015. “Aliran Air dan Tanggung Jawab Peradaban: Membaca Sistem “Pasihan” Pura Ulun Danu Batur.” makalah dalam Bali Tempo Doeloe #21 “Jejaring Budaya Masyarakat Pegunungan Bali di Bentara Budaya Bali, Sabtu, 27 April 2019.

Harvey, David. 2001. Spaces of Capital: Towards a Critical Geography. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Harvey, David. 1985. The Urbanization of Capital: Studies in the History and Theory of Capitalist Urbanization. Oxford UK: Blackwell.

Lefebvre, Henri. 1991. The Production of Space. translate by Donald Nicholson-Smith. Cambridge MA: Blackwell.

Sumarta, I Ketut. 2015. Batur Jantung Peradaban Air Bali. Bali: Wisnu Press.

1 Lihat: https://www.detik.com/bali/berita/d-8132458/gandeng-investasi-korea-danau-batur-siap-jadi-destinasi-kelas-dunia dan https://www.tempo.co/hiburan/danau-batur-akan-punya-kapal-pesiar-ramah-lingkungan–2073889 (diakses 20 Januari 2025).

2 Lihat: https://www.nusabali.com/berita/18712/investor-sedang-uji-kelayakan (diakses 19 Januari 2025).

3 Lihat lebih lengkap: https://bali.idntimes.com/news/opinion/proyek-taman-rekreasi-twa-gunung-batur-ditolak-petani-c1c2-01-cj822-819977 (diakses 23 Januari 2026).

sangkarbet sangkarbet sangkarbet legianbet sangkarbet
Tags: investasi di balimatan aiwisata bangli
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Putra Bali yang menjadi dosen di Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat. Menyelesaikan Doktor dalam bidang Ilmu-ilmu Humaniora (Antropologi) di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Melanjutkan penelitian pascadoktoral dalam bidang ekologi budaya dan transformasi masyarakat Marori dan Kanum di Merauke, Papua (2016 – 2017) dalam program ELDP (Endangered Languages Development Programme) SOAS London bekerja sama dengan ANU (Australian National University). Menekuni studi tentang ekologi budaya, politik identitas, genealogi kekerasan, dan gerakan sosial di tanah Papua. Penulis buku Jiwa yang Patah (2012), Mencari Sang Kejora: Fragmen-Fragmen Etnografi (2015), Papua Versus Papua: Perpecahan dan Perubahan Budaya (2017).

Related Posts

matan AI

Mengapa Kaum Terdidik Bungkam (di Bali)?

25 March 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menginjeksi Gerakan Kewargaan Bali

24 December 2025
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Blabar Bali dan Ekonomi Politik Keserakahan

27 November 2025
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Serangan di Pulau Serangan

3 February 2025
matan AI

[Matan Ai] Menyimpan Rakyat dalam Deretan Statistik

13 January 2025
Next Post
kataraga gamelan kontemporer bali

Kataraga Meramu Bambu, Besi, dan Pipa Menciptakan Resonansi Baru Musik Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

30 April 2026
Ruang Temu Diaspora Bali di Jepang

Ruang Temu Diaspora Bali di Jepang

30 April 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

29 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia