• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 12, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Erma by Erma
16 November 2025
in Kabar Baru, Opini
1
0
Masifnya pembangunan mempercepat alih fungsi lahan pertanian.

Bali kembali diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir. Dalam sekejap saja air sudah meluap di mana-mana. Jalan tergenang, pohon tumbang, dan di media sosial bertebaran video banjir seperti tayangan rutin yang tak lagi membuat orang kaget. Salah satu yang paling menyayat hati adalah video yang beredar pada 12 November 2025: setelah hujan deras mengguyur area Gianyar, air di pancoran Tirta Empul yang biasanya bening dan digunakan untuk melukat (penyucian dengan air), tampak meluap tinggi dan berwarna kotor kecoklatan.

Di tengah suara gamelan yang mengiringi upacara dan dentuman musik dari beach club, kejadian di Tirta Empul ini seperti pertanda Bali sedang menjerit. Pulau yang dielu-elukan sebagai surga dunia kini tampak lelah menanggung beban pembangunan dan kebanggaan yang tak lagi berpijak pada keseimbangan.

Tri Hita Karana, sebuah konsep spiritual yang katanya menjadi dasar kehidupan masyarakat Bali, kini seolah tinggal slogan. Ia ditempel di mana-mana oleh mereka yang mengeksploitasi pulau ini dengan gimmick sustainability, bahkan diglorifikasi dan diabadikan dalam bentuk menara di sebuah beach club. Miris dan menyakitkan. Jika Tri Hita Karana ibarat napas kehidupan, kini napas itu terasa tersengal dan sesak. Di tengah gemerlap pariwisata, di antara villa, bar, dan lapangan padel baru yang tumbuh setiap bulan, harmoni itu perlahan terkikis. Alam yang dulu disucikan kini menjadi objek jualan; tanah warisan dijadikan lahan parkir; pohon yang dahulu keramat kini ditebang tanpa sungkan; dan air suci mengalir di antara limbah serta beton.

Ironisnya, di saat Bali terasa penuh dengan duka dan luka, kita sibuk dengan renovasi pura dan ritual yang semakin besar, megah, dan mewah. Setiap pura berlomba membuat persembahan utama dengan biaya miliaran rupiah; tidak ada yang salah, karena ini tentu sebagai wujud syukur atas rejeki yang berlimpah dari leluhur melalui berputarnya ekonomi dan pariwisata. Di balik kemegahan itu, saya sering bertanya: untuk siapa sesungguhnya semua ini dilakukan? Apakah ritual besar yang menelan biaya fantastis masih tentang yadnya dan keseimbangan, atau sudah menjadi ajang pembuktian sosial, simbol status, dan kompetisi tak kasat mata antar-desa?

Saya tidak menentang ritual, karena ritual adalah bagian dari identitas dan spiritualitas Bali. Namun ketika makna bergeser, ketika bagaimana pelaksanaannya lebih menonjol daripada apa maknanya, kita kehilangan sesuatu yang sangat esensial. Apakah ritual megah, renovasi pura dengan ukiran emas, atau bale banjar baru yang mewah, lebih penting daripada membersihkan selokan di depan rumah, atau sedikit lebih empati kepada rerame (kerabat) yang sedang kesulitan? Seolah menjaga keharmonisan dengan yang nyata dan dekat tidak lagi dianggap bagian dari kesucian, padahal keseimbangan spiritual justru berawal dari hal-hal paling sederhana: menjaga kebersihan, keharmonisan antar-sesama, empati, dan rasa hormat pada lingkungan tempat kita berpijak.

Berita yang berseliweran tahun ini membuat hati kian miris. Tanah longsor berkali-kali, banjir yang menelan korban jiwa, kasus bunuh diri meningkat, kerusuhan antar warga, dan jalan dan trotoar rusak di wilayah yang katanya menjadi pusat pariwisata dunia. Semua ini rasanya bukan kebetulan, melainkan tanda-tanda ketidakharmonisan yang kita abaikan terlalu lama. Pulau ini “mungkin” masih tampak indah di mata wisatawan, tapi di balik foto-foto Instagram, wisata wellness, atau segelas matcha estetik, ada masyarakat yang hidup dengan tekanan ekonomi, beban adat, dan kehilangan ruang untuk sekadar bernapas.

Image by Niskala Studio 

Saya percaya, Bali tidak sedang hancur; Bali sedang meminta kita untuk berhenti sejenak. Untuk menengok ulang arah langkah kita. Mungkin, wujud syukur sejati bukanlah menambah jumlah upacara atau membuatnya semakin megah, melainkan berani mengembalikan maknanya: bahwa menjaga bumi dan manusia adalah bentuk yadnya yang tertinggi.

Surga tidak akan bertahan di tempat yang kehilangan keseimbangan. Jika kita masih ingin Bali tetap menjadi Pulau Surga, maka kita harus mulai menyucikannya dengan cara yang lebih sunyi: menanam pohon, membersihkan sungai, menghormati sesama, belajar untuk berkata cukup dan mendengarkan kembali suara alam yang pelan, yang sedang memanggil kita pulang.

Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaga satu-satunya pulau yang kita sebut rumah ini?

Jika hanya mengandalkan pemerintah untuk bertindak sepertinya sudah tidak ada harapan.

Tags: BaliBencanaLingkunganOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Erma

Erma

Dwi Ermayanthi (Erma), lahir dan besar di keluarga tradisional Bali, didorong oleh ayahnya untuk belajar di Surabaya sebelum kembali ke Bali untuk bekerja di Ubud Writers & Readers Festival. Pengalamannya selama empat tahun di Surabaya dan bekerja bersama tim yang beragam di festival tersebut mengubah perspektifnya tentang Bali, melihatnya melampaui pandangan tradisional keluarganya. Erma juga merupakan salah satu co-founder dari Littletalks Ubud, sebuah cafe & library yang berlokasi di Jl Bisma Ubud.

Related Posts

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Bus Sekolah Gratis di Desa Tembok Barter Sampah Plastik

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

23 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Sambah Ayunan, Bermain Bersama Mencegah Bala

Patriarki Sebagai Bentuk Ketidakadilan: Patriarki Nggak?

18 December 2025
Data-Driven Marketing vs Feeling-Driven Decisions: Kesenjangan Praktik Pengambilan Keputusan di Perusahaan

Data-Driven Marketing vs Feeling-Driven Decisions: Kesenjangan Praktik Pengambilan Keputusan di Perusahaan

17 December 2025
Next Post
Jelajah Inovasi Desa di Ubud, dari Transportasi Hingga Pedestrian

Komunitas di Bali untuk Isu-isu Publik

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Menelusuri DAS Tukad Badung, Sungai Tengah Kota yang Terbengkalai

Tumpang Tindih Tata Kelola Air di Bali

9 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia