
Apa arti Sanur?
Sanur dalam catatan sejarah memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang di dalamnya. Di benak Le Mayeur, Sanur menjadi darat pertama untuknya berkesenian dan bertemu istrinya, Ni Nyoman Pollok. Dari perspektif arkeologi, Sanur menjadi tempat penemuan prasasti tua bernama Prasasti Blanjong sejak tahun 917M. Untuk muda mudi Bali, Sanur adalah tempat nongkrong alternatif dengan semua cafe dan pop-up store yang terus bermunculan.
Kali ini, saya akan menarasikan bagaimana arti Sanur untuk Bu Tude (50), salah satu pedagang di pantai Mercure, Sanur. Beliau baru memulai jualan dari tahun 2024 di Pantai Mercure. Walaupun terdengar baru, tapi pengalaman hidupnya menambah insight kita tentang bagaimana Sanur memberikan makna ke orang-orang.

Warung Bu Tude
Bu Tude biasa berjualan di pantai dari jam 09.00 sampai 18.00. Berdagang selalu menjadi pekerjaan utamanya. Sebelum pindah ke pantai ini, beliau sudah berjualan di area kuburan Renon, di mana setiap hari banyak laki-laki metajen atau banjar melakukan pengabenan pada hari-hari baik. “Kadang saya masih ditelpon sama bendesa-nya gek, disuruh jualan kesana kalau desanya ada ngaben. Tapi sekarang kan enggak bisa, udah jualan di sini (pantai),” katanya. Dibanding stan-stan lain yang lebih menjual makanan western, Bu Tude menyajikan makanan yang lebih ‘khas Bali’ seperti Serombotan, Es Daluman, dan Tahu Tek.
*metajen : sabung ayam
*pengabenan : upacara pembakaran jenazah yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali
*bendesa : kepala desa adat

Berpindah untuk Keluarga
“Keputusan ibu pindah jualan karena anak ibu kecanduan tajen gek,” kata Bu Tude sambil menatap kosong keluarga yang sedang bermain bersama di depannya. “Karena ibu jualan di tempat tajen, anak sama suami ibu ikut metajen. Sampai semuanya habis. Bahkan saat dia sakit, semua hartanya ga bisa dijual juga karena sudah tidak punya apa-apa.” Menurutnya, pindah ke pantai akan memisahkan anaknya dari kebiasaan metajen. Kalau ia tetap disana, anak dan suaminya akan terus ikut metajen hingga tak tahu waktu dan lupa dengan uang yang mereka habiskan. “Sekarang dia sesekali aja ikut (metajen) paling pas hari raya bersama temannya,” ungkapnya.

Beristirahat dari Pekerjaan
Yang menarik, banyak perempuan yang menggunakan baju oranye terlihat beristirahat di bawah bayangan pohon. Ada yang bawahannya memakai kamen, ada yang memakai celana. Mayoritas di antara mereka adalah ibu-ibu yang sedang bergosip satu sama lain. “Itu seragam dari desanya gek, kan pantainya dikelola oleh desa,” jawab Bu Tude. Sepengetahuannya, para perempuan ini bekerja sebagai tukang pijat dan spa. Karenanya, banyak kain pantai dan dipan dengan kasur tipis terpasang di pinggir pantai. Di siang hari, mereka memanfaatkan kain pantai untuk tempat tidur-tiduran dan istirahat sambil menunggu tamu datang meminta pijat.
*kamen : kain tradisional untuk bawahan pakaian adat Bali

Berubah untuk Melawan Kebiasaan
“Walau sepi, ibu sing nyesel pindah ke sini gek,” ucap Bu Tude ketika saya tanya tentang perasaannya dengan perubahan tempat jualan yang ia pilih. Ia sadar, penjualannya saat ini jauh lebih sedikit dibanding saat di kuburan. Namun, ia bersyukur karena perpindahan tempat jualan, anak dan suaminya juga perlahan merubah kebiasaan mereka. “Yang penting mereka berubah gek, mau melawan kebiasaan jeleknya. Care demo-demo to, pokoknya yang jelek-jelek harus dilawan,” katanya sambil tertawa.
*sing nyesel : tidak menyesal
*care demo-demo to : seperti demo-demo itu
agen judi bola kampung bet










