Suntuk sehabis kerja, aku ingin menyempatkan waktu untuk me time. Entah kenapa, tiba-tiba terlintas ingin pergi ke pantai. Sejak dulu, pantai selalu terasa seperti ruang healing. Tempat mengisi waktu akhir pekan, kini menjadi tempat merenung. The art of noticing. Namun setiap kali datang ke pesisir sekarang, ingatan masa kecil ikut muncul bersamaan dengan kesadaran bahwa pantai juga telah banyak berubah.


Pantai Sanur menjadi salah satu yang paling sering kukunjungi. Dulu, aku sering mandi di pantai bersama keluarga. Meski sebenarnya aku tidak terlalu suka berenang, terutama setelah pernah tenggelam karena terbawa arus ombak saat kecil. Sejak itu, aku lebih sering menjadi penikmat pesisir sambil duduk atau berjalan santai.


Sadar atau tidak, kawasan Sanur kini terasa berbeda. Deretan restoran dan coffee shop high-end mulai memenuhi pinggir pantai. Menjual view pemandangan laut sebagai daya tarik utama. Saat memotret di sekitar pukul sepuluh pagi, panasnya sudah terasa menyengat. Aku pun melipir ke sebuah kafe ber-AC sambil menikmati segelas iced long black. Tanpa disadari, aku juga menjadi bagian dari ekosistem baru di sini. Nongkrong di kafe sambil menatap laut dari balik jendela. Padahal dulu kawasan ini masih dipenuhi pohon perindang, tempat orang berteduh setelah berenang.

Suatu sore, aku beranjak ke pantai di area Nusa Dua. Karena jarang berenang, dulu aku lebih suka bermain pasir. Membuat istana pasir, mencari kerang, atau mengamati biota laut saat air surut. Kadang aku membuat kolam kecil dengan aliran seperti sungai di atas pasir. Aku teringat masa kecil ketika aku begitu berani menyentuh apa saja. Sekarang, lebih berhati-hati dan tersadar bahwa tidak semua makhluk laut aman untuk disentuh.



Di Nusa Dua masih terlihat hamparan padang lamun, yang sering disebut sebagai indikator ekosistem laut yang sehat. Namun di balik itu, pembangunan terus berjalan. Deretan hotel dan restoran di pinggir pantai membuat kawasan ini terasa semakin eksklusif.
Di sela perjalanan, ada satu hal yang tak pernah kulewatkan yaitu lumpia Sanur. Dulu harganya hanya tiga sampai lima ribu rupiah. Sekarang sudah sepuluh ribu, bahkan bisa tiga kali lipat jika dijual di kafe. Agak menggelitik, tapi begitulah wajah gentrifikasi yang datang perlahan.


Aku juga menyelipkan siluet anak kecil dan potret hutan mangrove sebagai pengingat kegelisahan lain. Salah satu spot hutan mangrove favoritku masih ditutup sejak salah satu konferensi internasional besar di Bali. Mangrove seolah hanya dijadikan showcase, meski syukurnya beberapa pantai masih memberi akses publik untuk menikmati mangrove.


Perubahan pesisir terasa nyata. Sanur yang dulu ramai saat matahari terbit atau menjelang sore, kini hidup hampir sepanjang malam karena deretan kafe. Di tengah keramaian itu, pantai masih ada sebagai ruang kontemplasi. Tempat masyarakat umum, keluarga, hingga pemancing berbagi ruang, menghidupi ekosistem pesisir dengan cara mereka sendiri.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet SANGKARBET sangkarbet










![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)