
Sanur merupakan salah satu daerah yang diwacanakan menjadi Kawasan Rendah Emisi (KRE). Sejumlah upaya tengah dilakukan untuk mencapai KRE, yaitu pengadaan shuttle, memperluas pedestrian, penggunaan energi bersih, hingga mempertahankan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Perubahan ini tak lepas dari pro dan kontra, baik dari pengunjung maupun dari warga Sanur itu sendiri. Kegiatan Melali Sanur yang diselenggarakan oleh BaleBengong pada 13 September 2025 menjadi momentum untuk melihat sejauh mana perubahan yang terjadi pada Sanur.
Peserta Melali Sanur siang itu dibagi menjadi empat kelompok. Salah satu kelompok berkeliling Sanur untuk merasakan serta mengalami transportasi publik dan pedestrian di Sanur.
Perjalanan dengan shuttle dipandu oleh Nyoman Suparma. Kami dikenakan tarif Rp5.000 per orang selama berkeliling Sanur. Pembayaran hanya dapat dilakukan dengan kartu e-money. Suparma menceritakan bahwa terjadi penurunan jumlah penumpang setelah tarif shuttle berlaku.
Salah satu peserta, Bram, menceritakan selama perjalanan ia bertemu dengan dua orang wisatawan asal Belanda yang ingin mengendarai shuttle. Titik naik dua penumpang tersebut tidak sesuai dengan bus stop.
Saat naik, dua penumpang tersebut tidak tahu bahwa mereka harus membayar menggunakan e-money. Akhirnya, pembayaran dilakukan dengan menggunakan uang tunai. Suparma menawarkan dua wisatawan tersebut untuk membeli e-money miliknya dengan harga Rp30.000 yang di dalamnya masih tersisa saldo Rp4.500.
Dua wisatawan itu pun diturunkan di depan minimarket agar bisa mengisi saldo kartu e-money. Bram mempertanyakan standar operasional prosedur Shuttle Intaran karena pemberhentian penumpang tidak dilakukan di bus stop serta adanya transaksi lain antara penumpang dan pengemudi. Ia mengatakan bahwa dua wisatawan tersebut bisa saja berpikir mereka kena scam, meski harga kartu e-money tersebut terbilang murah.
“Seperti tidak ada sosialisasi yang baik kepada pelaku pariwisata untuk mempromosikan shuttle ini,” nilai Bram. Bram juga menyoroti tidak adanya wayfinding atau petunjuk transportasi publik, sehingga menimbulkan kebingungan.
Setelah naik shuttle, Bram bersama kelompoknya berkeliling Sanur dengan berjalan kaki. Saat itu, trotoar di salah satu bagian jalan tengah diperbaiki untuk diperlebar. “Itu diperbaiki secara bertahap, tanpa memberikan trotoar sementara untuk berjalan kaki,” ujar Bram. Ia menilai hal tersebut malah membahayakan pejalan kaki, padahal mobilitas wisatawan di Sanur banyak yang berjalan kaki.
Selain menikmati shuttle dan berjalan kaki, ada pula kelompok yang menengok Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Sanur. Salah satu RTH yang tersisa di Sanur adalah Jogging Track Prapat Beris di Sanur Kauh.

Tim liputan menemui Wayan Danu, Sekretaris Subak Intaran yang berada di Jogging Track Prapat Beris. Subak Intaran menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya untuk pompa air dan penerangan jalan. Kehadiran PLTS ini disambut baik oleh para petani di Subak Intaran. Namun, Wayan Danu menyoroti bergantinya lahan sawah menjadi tanah kavling.
Hal tersebut juga dikatakan oleh Al dan Deb, dua warga negara asing yang sudah lama menetap di Sanur. “There is too much building and this is getting destroyed (terlalu banyak bangunan dan ini semakin merusak Bali,” ujar Al.
Kurangnya RTH juga disoroti oleh pemilik Sanur Art Gallery, Apel Hendrawan. Yuri yang bercakap-cakap dengan Apel Hendrawan menceritakan bahwa anak-anak, petani, orang tua, turis, hingga penduduk sekitar di Sanur membutuhkan ruang untuk berkumpul.
Pemilik sawah di Sanur saat ini berlomba-lomba menjual tanahnya kepada investor untuk menghasilkan uang cepat. Profesi petani tak lagi menjanjikan, akhirnya sawah yang dimiliki pun dijual untuk dijadikan vila, restoran, hotel, dan akomodasi pariwisata lainnya.
Apel Hendrawan menjelaskan sawah di Intaran dapat dilindungi dengan menjadikan sawah tersebut tempat wisata. Namun, masih banyak perbaikan yang perlu dilakukan, terutama terkait fasilitas mendukung. “Mungkin tempat mereka ngobrol. Mungkin nanti ada edukasinya, harus ada toilet, tempat istirahat,” ujar Hendrawan.
Perawatan sawah juga perlu dilakukan karena jalur air Subak Intaran sudah tidak bagus, apalagi saat ini ada beberapa bangunan yang menghalangi jalan air. Aliran air yang terhambat membuat Subak Intaran rentan banjir, sehingga beberapa petani mengalami gagal panen karena hasil panennya terendam air.
Pengembangan Sanur menjadi KRE merupakan langkah baik. Namun, ada sejumlah hal yang perlu diperbaiki agar KRE ini tercapai di masa depan.
legianbet kampungbet







![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-350x250.jpg)


