• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, September 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Opini Warga tentang Kawasan Rendah Emisi di Sanur

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
18 September 2025
in Kabar Baru, Lingkungan
0
0
Bus stop di Pantai Mertasari

Sanur merupakan salah satu daerah yang diwacanakan menjadi Kawasan Rendah Emisi (KRE). Sejumlah upaya tengah dilakukan untuk mencapai KRE, yaitu pengadaan shuttle, memperluas pedestrian, penggunaan energi bersih, hingga mempertahankan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Perubahan ini tak lepas dari pro dan kontra, baik dari pengunjung maupun dari warga Sanur itu sendiri. Kegiatan Melali Sanur yang diselenggarakan oleh BaleBengong pada 13 September 2025 menjadi momentum untuk melihat sejauh mana perubahan yang terjadi pada Sanur.

Peserta Melali Sanur siang itu dibagi menjadi empat kelompok. Salah satu kelompok berkeliling Sanur untuk merasakan serta mengalami transportasi publik dan pedestrian di Sanur.

Perjalanan dengan shuttle dipandu oleh Nyoman Suparma. Kami dikenakan tarif Rp5.000 per orang selama berkeliling Sanur. Pembayaran hanya dapat dilakukan dengan kartu e-money. Suparma menceritakan bahwa terjadi penurunan jumlah penumpang setelah tarif shuttle berlaku.

Salah satu peserta, Bram, menceritakan selama perjalanan ia bertemu dengan dua orang wisatawan asal Belanda yang ingin mengendarai shuttle. Titik naik dua penumpang tersebut tidak sesuai dengan bus stop. 

Saat naik, dua penumpang tersebut tidak tahu bahwa mereka harus membayar menggunakan e-money. Akhirnya, pembayaran dilakukan dengan menggunakan uang tunai. Suparma menawarkan dua wisatawan tersebut untuk membeli e-money miliknya dengan harga Rp30.000 yang di dalamnya masih tersisa saldo Rp4.500.

Dua wisatawan itu pun diturunkan di depan minimarket agar bisa mengisi saldo kartu e-money. Bram mempertanyakan standar operasional prosedur Shuttle Intaran karena pemberhentian penumpang tidak dilakukan di bus stop serta adanya transaksi lain antara penumpang dan pengemudi. Ia mengatakan bahwa dua wisatawan tersebut bisa saja berpikir mereka kena scam, meski harga kartu e-money tersebut terbilang murah.

“Seperti tidak ada sosialisasi yang baik kepada pelaku pariwisata untuk mempromosikan shuttle ini,” nilai Bram. Bram juga menyoroti tidak adanya wayfinding atau petunjuk transportasi publik, sehingga menimbulkan kebingungan.

Setelah naik shuttle, Bram bersama kelompoknya berkeliling Sanur dengan berjalan kaki. Saat itu, trotoar di salah satu bagian jalan tengah diperbaiki untuk diperlebar. “Itu diperbaiki secara bertahap, tanpa memberikan trotoar sementara untuk berjalan kaki,” ujar Bram. Ia menilai hal tersebut malah membahayakan pejalan kaki, padahal mobilitas wisatawan di Sanur banyak yang berjalan kaki.

Selain menikmati shuttle dan berjalan kaki, ada pula kelompok yang menengok Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Sanur. Salah satu RTH yang tersisa di Sanur adalah Jogging Track Prapat Beris di Sanur Kauh.

Melali Sanur di Subak Intaran. Foto oleh: Sri

Tim liputan menemui Wayan Danu, Sekretaris Subak Intaran yang berada di Jogging Track Prapat Beris. Subak Intaran menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya untuk pompa air dan penerangan jalan. Kehadiran PLTS ini disambut baik oleh para petani di Subak Intaran. Namun, Wayan Danu menyoroti bergantinya lahan sawah menjadi tanah kavling.

Hal tersebut juga dikatakan oleh Al dan Deb, dua warga negara asing yang sudah lama menetap di Sanur. “There is too much building and this is getting destroyed (terlalu banyak bangunan dan ini semakin merusak Bali,” ujar Al.

Kurangnya RTH juga disoroti oleh pemilik Sanur Art Gallery, Apel Hendrawan. Yuri yang bercakap-cakap dengan Apel Hendrawan menceritakan bahwa anak-anak, petani, orang tua, turis, hingga penduduk sekitar di Sanur membutuhkan ruang untuk berkumpul.

Pemilik sawah di Sanur saat ini berlomba-lomba menjual tanahnya kepada investor untuk menghasilkan uang cepat. Profesi petani tak lagi menjanjikan, akhirnya sawah yang dimiliki pun dijual untuk dijadikan vila, restoran, hotel, dan akomodasi pariwisata lainnya.

Apel Hendrawan menjelaskan sawah di Intaran dapat dilindungi dengan menjadikan sawah tersebut tempat wisata. Namun, masih banyak perbaikan yang perlu dilakukan, terutama terkait fasilitas mendukung. “Mungkin tempat mereka ngobrol. Mungkin nanti ada edukasinya, harus ada toilet, tempat istirahat,” ujar Hendrawan.

Perawatan sawah juga perlu dilakukan karena jalur air Subak Intaran sudah tidak bagus, apalagi saat ini ada beberapa bangunan yang menghalangi jalan air. Aliran air yang terhambat membuat Subak Intaran rentan banjir, sehingga beberapa petani mengalami gagal panen karena hasil panennya terendam air.

Pengembangan Sanur menjadi KRE merupakan langkah baik. Namun, ada sejumlah hal yang perlu diperbaiki agar KRE ini tercapai di masa depan.

legianbet kampungbet
kampungbet judi bola kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet

Tags: Desa Intarankawasan rendah emisikelas jurnalisme wargaruang terbuka hijauSanurShuttle IntaranSubak IntaranTransportasi Publik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Sejarah Desa Guliang Kangin, Dulunya Hutan Belantara

Sejarah Desa Guliang Kangin, Dulunya Hutan Belantara

3 September 2026
Kayoan Bunderin, Mata Air Bersejarah yang Dijaga Sekaa Kayoan di Desa Bebandem

Kayoan Bunderin, Mata Air Bersejarah yang Dijaga Sekaa Kayoan di Desa Bebandem

23 August 2026
KJW Desa Adat Guliang Kangin, Desa Penuh Sejarah

KJW Desa Adat Guliang Kangin, Desa Penuh Sejarah

20 August 2026
Harmoni Alam dan Budaya di Kastala Trekking Karangasem

Harmoni Alam dan Budaya di Kastala Trekking Karangasem

15 August 2026
Pupuk Organik Cair Desa Kastala untuk Pertanian Berkelanjutan

Pupuk Organik Cair Desa Kastala untuk Pertanian Berkelanjutan

11 August 2026
KJW Menumbuhkan Rasa Kepemilikan Wilayah Sendiri

KJW Menumbuhkan Rasa Kepemilikan Wilayah Sendiri

8 August 2026
Next Post
Banjir Besar Tahun Ini Memicu Kritik Warga akan Tata Kelola Kota dan Sampah

Banjir Bandang Bali: Ketika Krisis Kebijakan Daerah Bertemu Krisis Iklim

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Merekatkan Partisipasi dan Demokratisasi ala Orang Muda melalui Inisiatif Suaka

Merekatkan Partisipasi dan Demokratisasi ala Orang Muda melalui Inisiatif Suaka

19 September 2026
Tomy Wiria, Aktivis Bali Tidak Diam, Diputus Bersalah 6 Bulan Pengawasan

Tomy Wiria, Aktivis Bali Tidak Diam, Diputus Bersalah 6 Bulan Pengawasan

19 September 2026
Konflik Agraria di Tengah Hari Tani Nasional

Konflik Agraria di Tengah Hari Tani Nasional

18 September 2026
Trekking Koneksi Hulu dan Hilir untuk Mendalami Masa Depan Air di Bali

Trekking Koneksi Hulu dan Hilir untuk Mendalami Masa Depan Air di Bali

18 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia