
Ngopi di teba. Itu yang saya rasakan ketika menginjakkan kaki di Tempo Dulu Kopi. Kedai kopi ini berlokasi di Jl. Noja No. 23, Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar. Lokasinya cukup untuk kendaraan pribadi lewat, parkirannya pun luas.
Dari luar tidak tampak seperti kedai kopi hits di Kota Denpasar. Namun, ketika masuk ke dalam, pepohonan hijau langsung menyapa. Daun-daun dari pepohonan berjatuhan dan mengering. Meski cuaca sedang panas-panasnya, tetapi udara di Tempo Dulu Kopi tetap sejuk alami karena rindangnya pepohonan.

Begitu masuk, pengunjung bisa langsung menemukan area kasir untuk memesan makanan dan minuman. Harga kopinya bisa dibilang di bawah rata-rata harga kopi di cafe biasanya. Dengan selembar uang Rp20.000, pengunjung sudah bisa menikmati segelas Americano.
Ada banyak pilihan tempat yang bisa diduduki. Bangunan yang menyatu dengan dapur dilengkapi meja panjang yang cocok digunakan untuk Work From Cafe (WFC) atau diskusi kelompok bersama teman. Stop kontak hanya tersedia di tengah, tapi jumlah colokannya cukup banyak. Di balai itu juga ada meja dan kursi pendek. Spot ini lebih cocok digunakan untuk nongkrong ramai-ramai daripada membuka laptop.


Halaman Tempo Dulu Kopi juga dilengkapi meja dan kursi kecil. Ada juga tempat duduk yang melingkari pohon. Berhadapan dengan kasir, ada balai kecil yang berisi meja dan kursi pendek. Ada juga bale bengong di tengah halaman.
Sebelum menjadi Tempo Dulu Kopi, tempat itu dulunya adalah Warung Makan Celagi. Akhirnya, menjadi Tempo Dulu Kopi karena inisiasi Restu, seorang pecinta kopi dan fotografi asal Nusa Lembongan. Ide itu tercetus ketika dirinya mendapatkan mata kuliah kewirausahaan. Awalnya ia masih memasarkan kopi racikannya lewat stand di beberapa acara.
Semangat wirausahanya membuat Restu berpikir untuk membuka coffee shop. Sayangnya, saat itu ia hanya memiliki semangat, belum memiliki modal. Restu pun melihat peluang pada warung makan milik dosennya. “Akhirnya kita sharing profit. 2020 awal kita tes buka (Tempo Dulu Kopi), cuma bukanya sore dari pulang kuliah, dari jam 4 sampai jam 12 malam,” ujar Restu.


Seiring berjalannya waktu, Warung Makan Celagi sepi pengunjung dan gulung tikar. Akhirnya, seluruh tempat di sana dialihfungsikan untuk Tempo Dulu Kopi. Naasnya, Covid melanda di tahun 2020, tepat baru tiga bulan kedai kopi itu beroperasi. “Kita libur April, Mei, Juni. Juli kita buka lagi. Juli buka dengan branding yang sama, cuma jam operasionalnya sampai jam 8 malam,” ungkap Restu. Tempo Dulu Kopi pun tumbuh perlahan, hingga akhirnya memiliki cukup modal untuk membeli tambahan mesin pembuat kopi.



Tempo Dulu Kopi mengusung konsep desa dengan gaya bangunan semi outdoor di tengah rimbunnya pepohonan. Ketika awal buka, kedai kopi tersebut sempat menggunakan alang-alang sebagai atap yang memancarkan kuatnya suasana desa. Namun, biaya perawatan yang cukup mahal membuat Restu mengganti alang-alang dengan spandek. “Kalau dari luar kan bagus nih, vintage,” ungkapnya.
Setiap mengunjungi kedai kopi tersebut, saya selalu menemukan muda-mudi. Ada yang datang beramai-ramai sepulang sekolah, kuliah, dan kerja. Ada pula yang datang sendiri dengan laptopnya.
Selain tempat nongkrong, kedai kopi ini juga cocok menjadi tempat kumpul nonformal yang santai. Bisa juga digunakan sebagai venue pernikahan. Tempo Dulu Kopi akan menjadi tempat berlangsungnya Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) yang dilaksanakan pada tanggal 28 Juni 2025. Ada diskusi, pasar sadar, dan acara menarik lainnya yang bisa disaksikan. Jangan lupa datang ya!
kampungbet







![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)

