• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, April 28, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Emas Hitam Kintamani: Anak Muda dan Masa Depan Pertanian

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
10 June 2025
in Berita Utama, Gaya Hidup, Kabar Baru, Pertanian, Sosial
0
0
Oleh Budi Adinanta, Reva Salsa, dan Navika Ajeng Rahayu — Bangli

Di usia 23 tahun, I Kadek Yogi Akas Bimantara, telah mengambil langkah berani. Lahir dan besar di Desa Buahan, Kintamani, pemuda yang akrab disapa Yogi ini kini membangun kedai kopi dengan brand Kopi Danu. Meski baru dibuka Maret 2025, usaha ini sudah mencuri perhatian, terutama di media sosial.

Yogi mengenyam pendidikan setara D1 jurusan Food and Beverage (FnB) di Sekolah Perhotelan Bali (SPB) – Denpasar.  Setelah lulus, ia  mengasah skill-nya di hotel dan restoran kawasan Seminyak sebagai pramusaji. Hingga pada masa, Yogi mengalami tekanan dalam bekerja yang membuatnya merasa tidak nyaman. Berbekal pengalaman itu, ia pun kemudian memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan membuka usaha sendiri. “Saya tidak suka bekerja di bawah tekanan,” ujarnya. 

Keputusan itu, didukung pula oleh para sahabat Yogi. Sehingga keinginan untuk membuka kedai kopi terwujud diawali dari membeli gerobak. Berkat semangat dan pengalaman yang mumpuni selama ia bekerja. Terlebih, penantian panjangnya untuk kesempatan berkarir menjadi kru kapal pesiar tak kunjung datang.  

Tabungan yang ia simpan untuk berangkat keluar negeri itu, akhirnya pria kelahiran 2002 ini mengalokasikan untuk membuka kedai kopi gerobak dorong. Dari usaha awal itu, Yogi memasarkan melalui TikTok dan mampu menembus perhatian penonton di platform media sosial tersebut. Tanpa diduga, pengunjung perlahan berdatangan untuk menikmati kopinya. 

Pada akhirnya, Yogi membuka kedai kopi dengan view Danau Batur. Dengan ukuran dapur sekitar 3×6 meter. Sementara berjajar kursi di sekitar dapurnya memanjang seluas 200 meter persegi di pinggir Danau Batur. 

Dengan segala keterbatasan yang ada, Yogi menunjukkan bahwa memulai usaha baru tidak harus menunggu sempurna. Misalnya, masih menyewa alat pembuat kopi untuk menjalankan usahanya. 

Ia mengaku, rahasia nikmat kedainya yakni menggunakan biji kopi Arabika dari Desa Ulian, Kintamani. Dimana, produksi kebunnya dikelola oleh temannya sendiri. Dalam sehari, Kopi Danu menghabiskan beans 3 – 8 kg perhari. Selain kopi, kedai ini juga menyajikan makanan dan minuman lain. 

Yogi juga membuktikan, kegigihannya dalam berwirausaha. Meski tidak memiliki latar belakang bidang pertanian, ia ingin tetap berkontribusi terhadap rantai nilai kopi di Kintamani dan mampu menyerap tenaga kerja lokal. “Hampir semua pekerja saya dari Kintamani. Ada delapan orang yang bekerja dengan sistem daily worker (DW),” katanya. Posisi yang dibutuhkan termasuk kasir, pramusaji, chef, hingga petugas keamanan untuk parkir.

DW merupakan sistem kerja harian lepas, di mana seseorang dipekerjakan tanpa kontrak jangka panjang dan dibayar berdasarkan jumlah hari atau jam kerja yang dijalani. Sistem ini memberikan fleksibilitas bagi pelaku usaha kecil seperti Yogi, sekaligus tetap memberikan penghasilan bagi warga sekitar. Upah harian biasanya mengacu pada Upah Minimum Regional (UMR) harian, yang dapat dihitung dari pembagian UMR bulanan dengan jumlah hari kerja. Jika dibayar per jam, upah dihitung dengan membagi UMR harian dengan jam kerja standar per hari, misalnya delapan jam. Meski tidak selalu mendapat tunjangan tetap, sistem ini memberi ruang bagi mereka yang ingin bekerja secara fleksibel atau sambilan.

Yogi percaya bahwa tren coffe shop yang menjamur di Kintamani turut meningkatkan minat anak muda terhadap dunia kopi. Hal ini juga dia akui sebagai salah satu solusi untuk mengurangi angka pengangguran. “Kintamani memang sudah banyak rumah makan, tapi coffee shop baru ramai belakangan ini. Ini tentu meningkatkan minat anak muda dan petani kopi,” jelasnya.

Sementara ini, lokasi kedai Kopi Danu masih menempati lahan kosong yang dia sewa. Yogi melihat potensi yang besar di Desa Buahan, baik dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) hingga Sumber Daya Alam (SDA). Ia berharap anak-anak muda bisa lebih kreatif dan mampu menciptakan peluang di kampung sendiri. “Banyak potensi mereka tidak dimanfaatkan. Padahal masih banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan,” tambahnya.

Meski perjalanan baru dimulai, kisah Yogi adalah cermin keberanian, kreativitas, dan dukungan komunitas anak muda di desa. Keluar dari zona nyaman pun bisa menciptakan perubahan nyata. 

Menyeduh Masa Depan

Seperti Yogi, ada sosok lain yang juga memilih untuk memanfaatkan peluang di kampung halaman, memadukan pengetahuan, kegigihan, dan kecintaan terhadap kopi. Dialah I Putu Kurnia Pranata alias Arnol, pemuda yang memulai Tamarillo Hexacafe di tengah pandemi. Keduanya mungkin berbeda latar belakang, namun semangat untuk membangun dari bawah dan menyerap potensi lokal mempertemukan mereka di lintasan yang sama: rantai nilai kopi Kintamani.

Di antara deretan kedai kopi dan kafe yang menjamur di Kintamani, Tamarillo Hexacafe hadir dengan identitas bahan lokal yang menggunakan kopi lokal Kintamani. Di balik kafe ini ada pemilik kafe, I Putu Kurnia Pranata, apoteker muda lulusan Universitas Surabaya.

Pria yang akrab disapa Arnol menjalani tiga pekerjaan sekaligus: apoteker, barista, dan agen real estate. Ia telah menekuni dunia farmasi dan kopi selama empat tahun, sedangkan di sektor real estate baru dijalaninya setahun terakhir. Ketiga bidang ini ia jalani secara beriringan.

Dari ketiga pekerjaan tersebut, barista adalah pekerjaan paling selaras dengan latar belakang pendidikannya sebagai apoteker. “Untuk apoteker sesuai jurusan kuliah, barista itu hobi. Menariknya, keduanya nyambung karena di farmasi ada pelajaran ekstraksi, dan itu berguna juga saat menyeduh kopi,” ungkap Arnol.

Tamarillo Hexacafe berdiri sejak masa pandemi pada 2021. Seperti kebanyakan usaha kecil lain, bisnis ini sempat buka-tutup pada awal berdirinya. Namun seiring waktu, prospek usaha mulai terlihat. “Secara prospek sudah baik. Hanya saja tantangannya di regulasi dan promosi, karena dana sebagai pengusaha masih terbatas,” kata Arnol.

Semua kopi yang digunakan di kafenya berasal dari Kintamani, baik robusta maupun arabika. Beberapa ia sajikan sebagai single origin, dan sebagian di-blend. Namun ironisnya, meski permintaan kopi di daerahnya tinggi, pasokannya justru sulit didapat. “Sekarang permintaan tinggi karena banyaknya kafe, tapi kita malah susah cari kopi. Banyak yang keluar dari daerah,” ungkapnya.

Melihat tingginya permintaan kopi seiring dengan semakin menjamurnya kedai kopi, maka produksi kopi di kebun bisa menjadi peluang. Menurut Arnol, hal ini menjadi potensi bagi anak-anak muda untuk bekerja.

Arnol bersedia menjadi petani kopi di Bangli jika ada kesempatan. “Sektor pertanian sebenarnya bagus, tapi butuh regulasi dan dukungan supaya bisa jalan. Selama ini tidak ada hitung-hitungan, kualitas jadi turun. Padahal, kopi itu seperti emas, tidak mungkin turun harga,” keluhnya. 

Kata Arnol, program penyuluhan langsung ke lapangan sangat penting. Petani membutuhkan pengetahuan dasar seperti tingkat keasaman (pH) tanah, cara panen yang tepat, dan penggunaan bibit unggul.  Anak muda dapat turut berperan dalam hal ini, misalnya dengan turun ke lapangan dan membantu membagikan pengetahuan dan teknologi. “Banyak petani yang memanen asal-asalan, jadi hasilnya tidak maksimal,” tambahnya.

Berani dan Peluang

Bagi Arnol, kendala terbesar sebagai anak muda yang bekerja di banyak bidang adalah membagi waktu dan pikiran. Meski demikian, ia merasa terbantu karena punya tim yang solid di kafenya. Sebagian besar pekerjanya berasal dari Kintamani. 

Ia melihat tren positif di mana maraknya bisnis kafe memicu minat anak muda pada sektor kopi, termasuk dalam rantai nilai dari hulu ke hilir. “Teman-teman staf juga mulai tertarik dan bahkan mungkin nanti buka sendiri. Itu bagus, saya dukung,” katanya.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini pun menilai, geliat bisnis kopi ini bisa menjadi jawaban atas tingginya angka pengangguran di kalangan muda. “Bahkan orang luar juga senang. Di real estate, saya juga bawa misi yang sama: membuka peluang,” ujar Arnol.

Arnol berpesan kepada anak muda agar jangan membatasi diri pada latar belakang pendidikan. “Kalau kuliah di fakultas pertanian, jangan merasa hanya bisa di situ. Kalau mau jadi petani, jadilah petani kekinian. Banyak teknologi seperti penyiraman otomatis,” katanya.

Baginya, menjadi petani modern butuh dua hal, memahami pasar dan punya koneksi yang kuat. Ia juga menyarankan untuk menanam tanaman tanpa pestisida agar lebih mudah menjangkau pasar, khususnya yang sadar lingkungan. “Kalau regulasinya juga bagus, pasti pasarnya terbuka. Yang penting jangan berhenti mencoba,” tutupnya.

Baik Yogi maupun Arnol menunjukkan bahwa peran anak muda tidak hanya di meja seduh kopi, tapi juga bisa menciptakan ekosistem baru yang memperkuat posisi kopi lokal, membuka lapangan kerja, dan menghadirkan gagasan segar di daerah yang dulu didominasi petani berusia lanjut. Perjalanan mereka bukan hanya tentang bisnis, tapi juga tentang mimpi dan keberanian untuk tinggal dan tumbuh di tanah sendiri.

Menjaga Arah Kopi Kintamani

Di sisi lain, pemerintah Kabupaten Bangli melalui Dinas Pertanian terus mendorong pengembangan kopi Kintamani sebagai komoditas unggulan dengan produksi yang meningkat tiap tahun dan luas lahan yang mencapai ribuan hektare. Melalui program edukasi, pelatihan, dan pendampingan petani serta generasi muda, Dinas Pertanian berupaya menjaga kualitas kopi agar tetap kompetitif di pasar global. Sinergi antara pelaku usaha muda seperti Arnol dan dukungan pemerintah ini menjadi kunci keberlanjutan dan regenerasi kopi Kintamani, membuka peluang lapangan kerja sekaligus menjaga kopi lokal agar tetap menjadi kebanggaan daerah.

Jumlah pengangguran di Kabupaten Bangli

Jumlah produksi kopi arabika Kabupaten Bangli

Kabupaten Bangli merupakan daerah agraris, lebih dari 50 persen penduduk Bangli bekerja di sektor pertanian, terutama hortikultura dan tanaman umur panjang. Sebanyak 69,75 persen penggunaan lahan di kabupaten ini dialokasikan untuk kegiatan pertanian khususnya kebun dan tegalan yang ideal untuk budidaya kopi. Kopi arabika dari dataran tinggi Kintamani telah menjadi komoditas unggulan dengan rantai pasok yang melibatkan banyak tenaga kerja, mulai dari petani, pemroses pascapanen, peracik kopi, hingga eksportir. 

Tingginya kebutuhan tenaga kerja dalam rantai nilai kopi tentu seharusnya bisa menjawab masalah pengangguran di kabupaten ini. Dalam periode 2019 hingga 2024, angka pengangguran sempat melonjak dari 1.104 jiwa (2019) menjadi 2.727 jiwa (2020) akibat pandemi, tetapi kemudian menurun secara konsisten menjadi 1.261 jiwa pada 2024. Di sisi lain, produksi kopi mengalami fluktuasi, namun kembali naik dari titik terendah 1.960 ton (2023) menjadi 2.164 ton pada 2024.

Peningkatan produksi kopi ini turut diperkuat oleh pertumbuhan sektor hilir, salah satunya ditandai dengan meningkatnya jumlah kafe. Pada 2025, tercatat ada sebanyak 108 kafe yang tersebar di berbagai wilayah Bangli. Kehadiran kafe-kafe ini tidak hanya menyerap tenaga kerja, tetapi juga mendorong minat generasi muda untuk terlibat dalam industri kopi dari hulu ke hilir. 

Hal ini menunjukkan bahwa sektor kopi bukan hanya bertahan sebagai komoditas pertanian, tetapi juga berevolusi menjadi bagian dari gaya hidup dan ekonomi kreatif lokal. Dengan kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyumbang 27,23 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bangli 2024, kopi semakin menegaskan posisinya sebagai motor penggerak ekonomi daerah dan solusi nyata dalam mengurangi pengangguran, terutama di kalangan muda. Apalagi jika melihat bahwa kopi Kintamani telah mendapatkan tempat istimewa di kalangan pecinta kopi.

Kopi arabika dari Kabupaten Bangli telah lama dikenal sebagai salah satu kopi terbaik di Bali. Dengan sertifikat Indikasi Geografis (IG), kopi Kintamani memiliki kekhasan yang membedakannya dari kopi-kopi daerah lain. Kopi Kintamani memiliki cita rasa yang khas beraroma citrus dan tingkat keasaman yang rendah.

Wayan Sarma, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bangli menyebut, potensi dan kontribusi kopi Kintamani terhadap sektor pertanian lokal pun sangat besar. Di balik pencapaian tersebut, ada peran Distan, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Bangli yang terus mendorong keberlanjutan dan regenerasi sektor kopi. 

Ia menyebut, tahun ini Distan Kabupaten Bangli memiliki luas lahan kopi mencapai sekitar 6.000 hektare. Luasan itu dapat memproduksi rata-rata gelondong merah per tahun mencapai 15.555 ton. Jika dikonversi ke bentuk Hard Shell (HS), hasilnya sekitar 3.000 ton per tahun dengan produktivitas rata-rata 570 kg per hektare. Dari segi tenaga kerja, sektor kopi di Bangli menyerap sekitar 23.000 orang.

“Kopi arabika dari Bangli menyumbang 53 persen dari total yang ada di Bali,” kata Sarma. Selain memenuhi pasar dalam negeri, produk kopi dari Bangli juga telah diekspor ke berbagai negara, seperti Jepang, Malaysia, dan Korea. Produk ekspor umumnya berbentuk HS atau green beans bentuk biji kopi dengan kulit ari yang masih bisa disangrai.

Hingga saat ini, tercatat  36 kelompok pengolah kopi di Bangli, baik dari kelompok subak abian maupun rumah tangga. Subak abian merupakan organisasi tradisional di bidang pertanian lahan kering di tingkat usaha tani pada masyarakat adat di Bali yang bersifat sosioagraris, religius, dan ekonomis. Produk yang petani hasilkan mencakup beragam bentuk: gelondong merah, gelondong hijau (green beans), hingga kopi yang sudah disangrai dan diolah menjadi bubuk, sesuai permintaan pasar.

Pertumbuhan kedai kopi di Kabupaten Bangli maupun luar daerah turut menjadi peluang penting bagi pengembangan pasar kopi lokal. Dengan meningkatnya kesadaran dan minat konsumen terhadap kopi lokal, kebutuhan akan kualitas yang konsisten juga semakin tinggi. “Ini menjadi pasar yang sangat potensial untuk digarap,” kata Sarma.

Namun, Sarma mengingatkan adanya tantangan serius berupa fluktuasi harga kopi di pasar dunia. Ketika harga bagus, banyak petani berbondong-bondong beralih mengusahakan kopi, termasuk mereka yang sebelumnya menanam komoditas lain. “Boleh saja petani ramai-ramai menanam kopi, tapi kualitas tetap harus dijaga. Kalau tidak, ketika permintaan tinggi tapi kualitas turun, harga bisa jatuh,” paparnya. 

Sebagai langkah preventif, Distan melakukan edukasi agar petani tidak hanya mengejar jumlah produksi. Fokus menjaga kualitas produk agar sesuai dengan standar dan kebutuhan pasar global. Upaya edukasi ini dilakukan melalui penyuluh pertanian yang tersebar hampir di setiap desa. “Kami memiliki penyuluh di tiap desa, rata-rata satu penyuluh perdesa. Melalui mereka, kami lakukan pembinaan,” jelas Sarma.

Tak hanya menyasar petani yang sudah berpengalaman, Distan juga aktif mendorong keterlibatan generasi muda. Pendekatan dilakukan melalui pendampingan langsung, pelatihan, serta kerja sama dengan dinas lain seperti Dinas Perdagangan, yang menyediakan pelatihan barista dan pengolahan kopi lewat program Industri Kecil Menengah (IKM).

Ia menekankan bahwa dengan teknologi dan pendekatan modern, bertani justru bisa menjadi pilihan karier yang menjanjikan. Ia pun menitipkan pesan khusus untuk anak muda Bangli. “Jangan gengsi jadi petani. Justru harus bangga karena kita hidup di negara agraris. Apalagi di wilayah seperti Kintamani, Susut Utara, dan Bangli, potensi perkebunan terutama kopi sangat tinggi. Pertanian sekarang tidak lagi identik dengan hal-hal kotor,” ujar Sarma.

Bagi anak muda yang tertarik dan butuh informasi, Sarma menegaskan bahwa pihaknya siap membantu. “Sekiranya butuh pendampingan, informasi, edukasi, kami dari Distan melalui para penyuluh siap mendampingi,” katanya.

Dengan pendekatan menyeluruh dari hulu hingga ke hilir, serta upaya kolaboratif lintas dinas dan komunitas. Distan berharap rantai nilai kopi lokal tak hanya bertahan tetapi berkembang, dan membuka lebih banyak ruang bagi generasi muda untuk berperan aktif di dalamnya.

Potensi Kopi Lewat Inovasi 

Salah satu contoh nyata keberhasilan dari regenerasi dan inovasi di sektor kopi adalah sosok I Wayan Arca, petani kopi dan roaster asal Desa Ulian, Kintamani. Terlahir dan besar di Desa Ulian, Kintamani, I Wayan Arca merupakan sosok petani kopi dan roaster yang punya visi besar untuk memajukan komunitasnya. Pria kelahiran 19 April 1980 ini memilih meneruskan tradisi keluarganya dengan mengelola lahan kopi warisan orang tua, sekaligus menghadirkan inovasi dalam proses produksi dan pemasaran.

Arca terpanggil pulang setelah perjalanan panjangnya mengelilingi dunia. Usai menyelesaikan pendidikan D3 Manajemen Pariwisata di salah satu kampus swasta di Bali, bekerja sebagai kru kapal pesiar, serta pengalaman kerja selama enam tahun di Singapura. Ia memadukan keahliannya dalam bahasa Inggris dan pengetahuan manajemen untuk memperluas jaringan bisnis kopinya, hingga menjangkau pasar ekspor di Inggris dan Kuwait.

Salah satu ujian terberat bagi Arca adalah mengubah pola pikir petani yang sudah terlanjur nyaman dengan kebiasaan lama. Menurut Arca, kesabaran menjadi kunci utama bagi petani muda yang ingin membawa perubahan. Perubahan tersebut mulai membuahkan hasil jika dikerjakan secara konsisten dan mengikuti zaman. “Harus memiliki cara untuk mengubah kebiasaan lama petani,” ujarnya.

Arca mengelola kebun kopi Arabika seluas satu hektar di Desa Ulian dari total 350 hektar kebun kopi. Arca juga memiliki mesin sangrai di lokasi sama. Di Bali bagian selatan, tepatnya di Canggu, ia membuka sebuah toko yang menggabungkan fungsi sangrai kopi, kedai kopi, serta fasilitas olahraga boulder. Semua kopi yang dijual, baik dalam bentuk green bean maupun kopi sangrai, berasal dari desa Ulian. Dengan sistem ini, Arca berupaya menciptakan nilai tambah dari sebuah kopi. Ia juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga lokal, termasuk mengandalkan perempuan di desa itu untuk menyortir kopi, memisahkan biji hijau dan merah.

Produk kopinya telah didistribusikan ke seluruh Indonesia serta diekspor ke luar negeri. “Kalau mau ke Desa Ulian, semua produk ada di sana. Kalau datang ke Canggu, semua juga tersedia di situ,” jelas Arca.

Dalam mengelola kebun, Arca menerapkan prinsip permakultur. Di sana ia menanam berbagai tanaman pendamping seperti jeruk, pisang, kacang, dan alpukat untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Ia pun membeli hasil panen kopi dari para petani untuk diolah sekaligus dipasarkan.

Arca juga melatih anak muda lokal menjadi roaster kopi dengan pelatihan langsung. Ia menegaskan prinsip harga yang adil, yakni sama untuk pasar lokal maupun ekspor, dengan standar kualitas yang sama. “Kamu bayar apa yang kamu beli, kamu dapat apa yang kamu bayar. Saya ingin pasar yang berkelanjutan,” katanya.

Sebelum fokus di kopi, Arca bekerja di bidang pariwisata, pengalaman yang membantunya memahami pasar internasional dan membangun relasi. Ketertarikannya pada kopi tumbuh dari pertemanan dengan pengusaha kopi asal Australia yang memberinya kesempatan belajar lebih dalam. Melihat potensi besar kopi lokal, ia pun memilih jalan ini untuk memajukan desanya.

“Saya melihat prospek kopi sangat menjanjikan. Dari situ saya tertarik masuk ke dunia kopi dan memajukan Desa Ulian,” tutup Arca, dengan keyakinan penuh akan masa depan kopi Kintamani.

Menjaga Kualitas Emas Hitam

Optimisme yang sama juga tercermin di Tambakan Factory, sebuah fasilitas pengolahan kopi yang berlokasi di Kabupaten Buleleng dan telah berdiri sejak Juni 2016. Berfokus pada produksi kopi Kintamani untuk pasar ekspor, pabrik ini menjadi salah satu contoh bagaimana skala industri yang lebih besar juga memainkan peran penting dalam menjaga kualitas dan kontinuitas kopi Bali di pasar global. Pabrik ini telah berjalan selama 10 tahun dan dikelola oleh I Nengah Warsa, seorang petani berusia 57 tahun. Jenis kopi yang ditanam dan diolah meliputi robusta dan arabika, dengan dominasi arabika karena permintaan pasar yang lebih tinggi. Kapasitas pengolahan Tambakan Factory mencapai sekitar 250 ton kopi per tahun.

Tantangan dalam memenuhi kebutuhan kopi ekspor adalah mengikuti standar internasional. Misalnya saat inspeksi mendadak dari konsumen dari Jepang, termasuk pengecekan sumber air untuk memastikan produk benar-benar organik. Kerusakan mesin kerap terjadi akibat masuknya benda asing seperti batu, kayu, atau jambu biji yang tercampur dalam karung kopi. 

Mengubah kebiasaan petani menjadi metode petik merah dan mengikuti standar ekspor bukanlah hal mudah. Pemilik Tambakan Factory memulai pengolahan kopi basah sejak 1999 dan terus mengedukasi petani agar konsisten menghasilkan kopi berkualitas ekspor.

Warsa percaya bahwa dalam lima tahun ke depan kopi akan menjadi “emas hitam” karena permintaan global yang terus meningkat. Bahkan, negara besar seperti Tiongkok mulai serius melirik sektor kopi. Permintaan kopi dari satu provinsi di Tiongkok saja dapat membuat pelaku industri kewalahan memenuhi kebutuhan pasar. 

Inovasi dan keberanian untuk keluar dari pola lama menjadi benang merah dari perjalanan pelaku kopi seperti I Wayan Arca di Desa Ulian dan I Nengah Warsa dari Tambakan Factory. Keduanya menunjukkan bahwa menjaga kualitas sekaligus memperluas pasar tidaklah mustahil jika diiringi komitmen pada standar produksi yang tinggi dan pemberdayaan komunitas lokal. Arca menghadirkan pendekatan baru dengan sistem permakultur dan pelatihan roaster muda, sementara Warsa fokus pada konsistensi mutu demi memenuhi tuntutan ekspor, terutama dari pasar Jepang.

Optimis Ubah Persepsi Petani Muda

Melihat potensi besar Kopi Kintamani yang terus meningkat, terutama dengan permintaan global yang kian tinggi, upaya kolaboratif antara pelaku kopi dan akademisi sangat dibutuhkan untuk menjaga kesinambungan produksi berkualitas dan regenerasi petani muda. Selain inovasi dan edukasi yang dilakukan oleh Arca dan Warsa, dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan teknis, sekolah kopi nonformal, dan penyediaan fasilitas pelatihan intensif di sentra produksi seperti Kintamani akan menjadi kunci keberhasilan. Dengan citra pertanian yang diperbarui dan teknologi yang diterapkan secara kreatif, pertanian kopi tidak hanya dapat menjadi sektor yang “keren” dan menjanjikan, tetapi juga mampu menarik minat generasi muda untuk menjadi penerus yang andal di masa depan.

Fenomena menurunnya minat generasi muda untuk bertani, khususnya dalam sektor kopi, menjadi salah satu fokus akademisi pertanian di Bali. Khususnya, seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dr. I Gede Setiawan Adi Putra. Pria yang akrab disapa Gede melihat pesimis adanya kemajuan petani muda. Ia mengungkapkan, masalah utamanya terletak pada persepsi negatif, kurangnya informasi, tidak tersedianya pelatihan keterampilan yang memadai, dan kurangnya rasa sensasional.

Menurut dosen Program Studi Agribisnis ini, anak muda enggan bertani karena tiga hal utama: tidak tahu, tidak mau, dan tidak mampu. Ditambah dengan image pertanian yaitu “pacul, cangkul, dan lumpur” yang menambah kesan kuno dan dihindari anak muda. 

Kini, dunia digital dan sektor pariwisata semakin menjadi daya pikat yang kuat bagi generasi muda. Pria yang hobi menanam bunga matahari ini mengungkapkan, sektor pariwisata di Bali memang menawarkan income yang menjanjikan. Banyak di antaranya justru memilih menjadi seorang barista, sales, dan driver ojek online dibanding bertani. 

Dosen ini juga menekankan, pertanian kopi akan menjanjikan hasil maksimal apabila dikelola secara profesional. “Kalau income-nya besar, tanpa disuruh pun, anak muda akan turun ke kebun,” katanya. Ia percaya solusi utamanya adalah mengubah perilaku dan persepsi anak muda dengan pendekatan “Tahu, Mau, Mampu.”

Kekhawatirannya jika tidak ada regenerasi yang kuat, dalam 5–10 tahun ke depan Bangli bisa kehilangan petani kopi yang berusia muda. Meski kopi tetap bernilai ekonomis dan pasar tetap ada, kurangnya tenaga kerja terlatih bisa menurunkan kualitas produksi. “Kalau tidak ada penerus, kita bisa tergantung pada impor untuk kebutuhan kopi dalam negeri,” ujarnya.

Meski begitu, ia optimistis. Peran generasi muda tetap bisa diarahkan, terutama pada sektor hilir seperti pengolahan dan pemasaran kopi. Ia menyarankan agar anak muda dilibatkan dalam proses pascapanen, menjadi barista, membuka kedai kopi, mengelola branding kopi lokal, hingga menciptakan varian kopi fermentasi rasa cokelat atau durian. “Kalau mereka senang pegang gadget, ya pakai untuk promosi kopi. Bikin konten, jualan online, bahkan ekspor,” ungkapnya memberi saran.

Dalam hal ini kontribusi pemerintah tetap diperlukan. Mulai dari pendataan petani muda yang telah sukses khususnya dalam sektor kopi, pelatihan teknis budidaya kopi, hingga penyediaan ‘sekolah kopi’ nonformal di daerah sentra produksi seperti Kintamani. Sekolah ini bisa menjadi pusat pelatihan dari hulu ke hilir, termasuk teknik fermentasi modern dan pemasaran digital.

Dosen berusia 47 tahun ini, menyarankan agar desa-desa yang memiliki potensi pertanian tinggi diberikan fasilitas pelatihan yang intensif dan terintegrasi. Ia menjelaskan, dengan langkah seperti itu sektor kopi yang awalnya menurun bisa dinaikkan kembali, dan pemuda akan tertarik menggeluti dunia kopi. “Datangkan ahli, undang ke desa itu,” sarannya kuat.

Terakhir, ia menekankan bahwa perubahan citra pertanian sangat penting. Dengan pendekatan kreatif dan teknologi, pertanian bisa menjadi bidang yang “keren” dan berpenghasilan tinggi. “Bayangkan kalau anak muda bisa jadi spesialis kopi, dari menanam, mengolah, hingga mengekspor. Kalau income-nya besar, mobil pun bisa dibeli dari hasil kopi,” katanya optimistis.

Karya ini merupakan hasil liputan mendalam Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2025 dengan tema “Anak Muda Bicara Kota-kota di Bali”.

Editor & Mentor: Anton Muhajir

hongkongpools

sangkarbet

sangkarbet

sangkarbet

kampungbet

Tags: AJW 2025Banglibaristacoffee shopKintamanikopi kintamanipetani modernpotensi kopi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

TPA Linggasana Overload,  Sistem Pengelolaan Sampah Belum Jelas, TPS Liar pun Meluas

TPA Linggasana Overload, Sistem Pengelolaan Sampah Belum Jelas, TPS Liar pun Meluas

31 July 2025
Cita-Cita Anak Muda Bali dan Upah yang Main-Main

Cita-Cita Anak Muda Bali dan Upah yang Main-Main

14 July 2025
Menyusuri Langkah Lelah Tukang Suun di Pasar Badung

Menyusuri Langkah Lelah Tukang Suun di Pasar Badung

11 July 2025
TAKSU Reuse di AJW 2025: Solusi Cerdas Kurangi Sampah Plastik Sekali Pakai

TAKSU Reuse di AJW 2025: Solusi Cerdas Kurangi Sampah Plastik Sekali Pakai

8 July 2025
Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

Pasar Badung’s Fancy Facade, Tukang Suun Plod, Protection is Flawed

8 July 2025
Anak Muda Bicara Kota-kota di Bali, BaleBengong Rayakan Usia 18 Tahun

Anak Muda Bicara Kota-kota di Bali, BaleBengong Rayakan Usia 18 Tahun

7 July 2025
Next Post
Merespons Minimnya Ruang Seni Publik di Gianyar

Merespons Minimnya Ruang Seni Publik di Gianyar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia