
Di tengah menjamurnya tren working from café (WFC), kafe tak lagi sekadar tempat menyeruput kopi atau berbincang santai, namun berubah menjadi ruang kerja alternatif sekaligus ruang sosial sebagai spot nongkrong. Namun, seiring pergeseran fungsi tersebut, tidak sedikit yang justru merasa sulit menemukan tempat yang benar-benar tenang. Kerap kali suasana kafe dipenuhi musik yang terlalu keras, obrolan huru hara tanpa jeda, serta asap rokok yang tak terbendung. Bagi sebagian orang, terutama yang membutuhkan ruang sunyi untuk berkonsentrasi atau sekadar menyendiri, suasana seperti ini tentu bukan pilihan ideal.
Beberapa waktu lalu, saya mencoba salah satu kafe dengan suasana khas otentik Jepang yaitu Komeda’s Coffee. Bukan kali pertama, sesekali namun bisa dibilang cukup langganan karena saya pribadi sangat menikmati suasananya. Pada suatu malam minggu, saya memutuskan untuk mengunjungi Komeda’s Coffee untuk mengedit sambil membaca buku. Sebuah kegiatan social recharge di tempat yang pas.

Meski hampir seluruh kursi terisi malam itu, suasana di dalam kafe terasa begitu tenang dan tertata. Tidak ada suara gaduh, tidak ada musik berlebihan, dan tentu saja bebas asap rokok karena tempat ini full indoor dengan pintu masuk genkan, ruang pemisah antara area dalam dan area luar rumah khas Jepang yang biasa digunakan untuk melepas alas kaki. Bedanya, di area genkan Komeda’s Coffee terdapat display replika makanan sebagai gambaran menunya. Di Jepang sendiri, ini disebut shokuhin sampuru, seni replika makanan untuk memberikan gambaran visual tentang menu kepada pelanggan, terutama bagi yang tidak bisa membaca tulisan Jepang atau ingin melihat langsung ukuran dan tampilan hidangan mendekati aslinya.
Lonceng kecil berbunyi sembari saya memasuki ruangan. Pelayan akan mengarahkan ke meja dan kursi yang tersedia. Di meja telah terdapat buku menu yang tersusun rapi layaknya rak di sudut meja belajar. Terdapat pula akses wifi, colokan listrik di setiap meja, serta tombol bel panggilan pelayan untuk melakukan pesanan. Sebuah oase yang terasa seperti surga kecil bagi para introvert dan pencinta suasana hening.
“A cozy place that feels like your home away from home,” seutas kalimat yang menyambut di bagian depan buku menunya. Komeda’s Coffee didirikan pada tahun 1968 di Nagoya, Jepang. Di Bali, kafe ini baru hadir sejak awal 2023 dan kini memiliki dua cabang, satu di Jalan Dewi Sri, Kuta, dan satu lagi di Jalan Raya Sesetan, Denpasar.
Yang membuat Komeda’s berbeda dari banyak kafe lainnya adalah adanya bilik satu orang, ruang kecil yang menyerupai focus room. Bilik ini memberikan suasana privat dan personal yang menurut saya jarang ditemui di kafe-kafe lainnya di Bali. Jam operasionalnya pun sangat fleksibel, buka pukul 07.00 hingga 23.00 pada hari kerja, dan hingga pukul 02.00 dini hari pada akhir pekan. Waktu yang ideal bagi yang ingin memulai hari di pagi hari maupun bagi yang lebih produktif di malam hari.
Sesuai dengan akar Jepangnya, Komeda’s Coffee menawarkan menu minuman dan makanan khas negeri sakura. Kopinya cenderung light dan bersahabat di lidah, tidak terlalu pahit atau asam. Terdapat juga pilihan lain seperti matcha yang cukup pekat, kinako (minuman dari bubuk kedelai), cream soda, dan lainnya. Pilihan hidangannya mulai dari toast, sandwich, hotdog, karaage, hingga dessert seperti zenzai dan dango.
Menurut salah satu sahabat karib asal Bali yang kini tinggal di Jepang, harga menu di Komeda’s Coffee Bali bahkan mengikuti rate Yen ke Rupiah, jadi terasa “masuk akal” jika dibandingkan dengan harga di Jepang langsung. “Sama persis kayak di sini,” komentarnya melalui foto yang saya unggah di Instagram story. Interiornya pun dibuat sama persis.
Salah satu hidangan yang menurut saya comforting yaitu Spaghetti Napolitan, spageti dengan saus tomat manis gurih, yang seketika mengingatkan saya pada film series First Love. Napolitan menjadi makanan favorit salah satu karakter utama pada series tersebut. Tak kalah menarik adalah Doria, menu nasi panggang berbalut saus krim keju dan tomat seperti bumbu bolognese. Saya belum pernah melihat menu ini di tempat lain di Bali, dan ternyata menjadi menu yang comforting pula. Dua makanan tersebut tidak terlalu berempah sehingga sangat cocok untuk anak-anak. Pilihan makanan penutup yang menjadi signature mereka adalah Shironoir, yaitu gabungan es krim vanilla dengan French Danish pastry yang cocok dinikmati sambil sharing.



Komeda’s menarik bukan hanya dari menunya, tetapi juga atmosfer yang dibangun. Mereka menyediakan rak buku yang berisi majalah, komik, hingga novel berbahasa Jepang. Bagi saya yang belum sepenuhnya fasih membaca kanji, membaca di sana tetap menyenangkan. Menikmati visual dari majalah dan ilustrasi dalam buku menjadi hiburan tersendiri.
Ruang kafe ini mengingatkan saya pada nuansa dalam novel Funiculi Funicula, mengisahkan kafe yang bisa membawa pengunjungnya kembali ke masa lalu. Di Komeda’s, saya memang tidak kembali ke masa lalu secara harfiah, namun saya diberi kesempatan untuk berhenti sejenak dari dunia luar dan tenggelam dalam waktu milik saya sendiri. Lima jam berlalu nyaris tanpa terasa. Pengalaman malam itu cukup menjadi healing sekaligus meninggalkan perandaian. Andai ada tempat lainnya yang serupa. Tempat yang menjadi ruang publik bersama dengan suasana tenang, bilik fokus, dan harga yang lebih terjangkau.
sangkarbet kampungbet





