
Bicara tentang Desa Pedawa, rasanya ada banyak hal yang bisa diceritakan. Kelas Jurnalisme Warga (KJW) mengenalkan saya pada desa di Bali Utara ini.
Pagi hari suhu di desa tersebut mencapai 17°. Bagi yang terbiasa dengan suhu di Denpasar, suhu dingin di Desa Pedawa seakan menusuk hingga ke tulang. Siang hari pun suhu di sana masih di bawah 20°.
Perjalanan bersama beberapa peserta KJW menyelamatkan kami dari rasa dingin itu. Mereka menjadi pemandu kami selama dua hari berada di sana. Mereka menceritakan banyak hal tentang Pedawa. Hal yang jarang saya lihat pada anak muda desa.
Ketika KJW berlangsung, Wayan Sadyana bercerita tentang banyaknya sumber air di Pedawa, yaitu sejumlah 85 sumber air. Cerita yang begitu menggiurkan, sehingga kami menghabiskan dua hari untuk mengunjungi beberapa sumber air (kayuan).

Tujuan pertama adalah Kayuan Sabih yang lokasinya tak jauh dari Pondok Literasi Sabih. Kami ditemani Meli, salah satu peserta KJW. Kata Meli, kayuan tersebut bisa dikunjungi dengan berjalan kaki, tidak terlalu jauh. Kami pun setuju untuk pergi.
Siapa sangka, jalan menuju kayuan sangat terjal. Jaraknya memang dekat, tetapi jalannya sangat curam. Kami turun dengan ekstra hati-hati, berpegang pada pepohonan yang bisa dijangkau.
Kayuan Sabih memiliki tempat penampungan air seperti bak. Saat itu airnya hanya menetes sedikit demi sedikit. Tidak ada jaring-jaring di atas tempat penampungan air, sehingga daun-daun meluncur bebas di atas air. Di sebelah Kayuan Sabih terdapat jurang, sehingga harus hati-hati melangkah.
Meli menjelaskan bahwa Kayuan Sabih sedikit berbeda dengan sumber air lain di Desa Pedawa. Kayuan ini begitu unik karena airnya lebih banyak mengalir ketika musim kemarau. Air dari Kayuan Sabih menjadi salah satu sarana upacara di Desa Pedawa.
Jalan pulang lebih mudah dilalui dibandingkan jalan menuju kayuan. Meski begitu, napas tetap ngos-ngosan.
Sepulang Meli, kami diajak Agus dan Adit untuk berkeliling Desa Pedawa. Tujuan pertama kami adalah Kayuan Glunggang. Namun, sebelum menuju kayuan, kami mampir ke salah satu rumah anggota Perkumpulan Wanayana Kayoman Pedawa atau yang dikenal dengan Kayoman.

Kayoman merupakan komunitas di Desa Pedawa yang melakukan konservasi pada sumber-sumber air. Di sana kami menemui Kadek. Tawaran kopi tidak bisa kami tolak. Cara minum kopi di Desa Pedawa sedikit berbeda dengan daerah lainnya. Kopi di Desa Pedawa dinikmati bersama gula merah. Namun, gulanya tidak dicampurkan dengan kopi. Gula merahnya dimakan terlebih dahulu, kemudian kopi diminum terpisah. Rasanya menarik. Manis dari gula merah tetap terasa, tetapi pahit dari kopi juga tidak hilang.
Kadek mengajak kami melihat kebunnya. Di sana beberapa tanaman dibudidayakan dari benih menjadi bibit. Beberapa tanaman berhasil tumbuh, sedangkan beberapa tanaman lainnya mati begitu saja. Kadek menjelaskan bahwa ini merupakan kegiatan anggota Kayoman untuk memastikan tanaman yang cocok di Pedawa serta cara perawatannya. Jika tumbuh dengan baik, tanaman di sana akan ditanam di beberapa titik yang membutuhkan.
Puas menyeruput kopi, kami menuju Kayuan Glunggang yang berlokasi tak jauh dari rumah Kadek. Setengah jalan bisa dilewati dengan motor, sedangkan setengah jalan sisanya harus ditempuh dengan jalan kaki. Medan jalannya sama dengan Kayuan Sabih, sama terjalnya.
Berbeda dengan Kayuan Sabih, di Kayuan Glunggang tidak terdapat tempat penampungan air. Air datang dari bambu, langsung mengalir menuju sungai. Ada beberapa batu yang membentuk kotak dan bertingkat. Menurut penuturan Agus, itu adalah bak sebagai tempat penampungan air.
Adit langsung mengeluarkan botol minumnya yang sengaja dikosongkan. Katanya, air dari Kayuan Glunggang sudah pernah diuji kelayakannya. Masyarakat lokal pun kerap mengambil air minum di tempat tersebut. Saya pun tertarik mencicipinya. Rasanya dingin dan segar, lebih segar dari air minum kemasan.
Ada yang menarik dari Kayuan Glunggang. Beberapa batu berwarna kuning seperti belerang. Namun, kata Agus, warna tersebut bukan berasal dari belerang. “Kalau kata orang sini tai yeh (kotoran air),” kata Agus.
Sebagai anggota Kayoman, Agus menjelaskan bahwa beberapa pohon dan tanaman di sekitar Kayuan Glunggang merupakan konservasi Kayoman. Ada satu pohon besar yang roboh karena angin kencang, sehingga dikhawatirkan akan mematikan sumber air di Kayuan Glunggang. Upaya konservasi pun dilakukan oleh Kayoman untuk melestarikan sumber air.

Tujuan berikutnya adalah yeh cacapan semer yang menjadi topik liputan Agus dan Adit. Kayuan Sabih dan Kayuan Glunggang ditempuh melalui jalan setapak, tetapi tidak dengan yeh cacapan semer.
Yeh cacapan semer atau tetesan air dari sumur berlokasi di bawah rumah warga. Medan yang ditempuh cukup sulit karena melalui jalan di tengah perkebunan warga. Setibanya di sana, kami melihat bak penampungan air. Sementara, aliran airnya membentuk sungai.
Yeh cacapan semer yang kami kunjungi saat itu berada di bawah rumah Agus. Kami pun mampir sebentar ke rumah Agus. Keluarga Agus menawarkan kami teh secang. Teh tersebut berbahan dasar kayu secang. Kayunya seperti kayu biasa, tetapi ketika dicampur air hangat, kayu tersebut menghasilkan warna merah.
Melanjutkan perjalanan hari pertama, misi mencari sumber air kembali berjalan. Sebelum itu, Agus dan Adit mengajak kami melihat tradisi unik di Desa Pedawa, yaitu kayeh, daerah lain menyebutnya sebagai melukat.
Kami pun heran dan bertanya-tanya apa yang unik dari melukat. Tak disangka ketika tiba di sana, puluhan orang sedang berkumpul. Ternyata melukat di Desa Pedawa disaksikan banyak orang.

Berbeda dari melukat biasanya yang hanya sekadar membasahi badan, melukat di Pedawa seperti mandi, sama seperti namanya, kayeh. Orang yang kami saksikan saat itu menyabuni badannya dan sikat gigi seperti mandi biasanya. Bedanya, disaksikan banyak orang dalam cuaca yang dingin.
Menurut penuturan warga, kayeh dilakukan dengan perhitungan hari baik. Ritual ini tidak wajib. Biasanya dilakukan berdasarkan janji orang tua. Misalnya, orang tua saya berjanji akan melakukan ritual kayeh ketika saya bisa masuk universitas.
Masyarakat yang datang saat itu tidak berdasarkan undangan, melainkan rasa menyama braya (gotong royong). Mereka tidak hanya menyaksikan, tetapi juga bisa mandi di pancoran sebelah.
Perjalanan pun berlanjut ke destinasi yang sangat kami nantikan, yaitu Kayuan Mumbul. Agus menjelaskan bahwa Kayuan ini sedikit berbeda dari kayuan lain, airnya juga bisa diminum.
Jalan menuju Kayuan Mumbul lebih panjang, terjal, dan tajam dibandingkan tiga sumber air yang hari sebelumnya kami datangi. Di belakang kami berjalan seorang nenek yang membawa tempat air.
Jalan yang kami lalui merupakan jalan setapak. Namun, sedikit licin dibandingkan jalan ke sumber air lain. Kami pun berpegangan pada besi ada di pinggir jalan.

Rasa lelah terbayarkan ketika mendengar aliran air yang cukup deras. Aliran airnya membentuk air terjun kecil. Adit menjelaskan bahwa sungai ini biasanya dijadikan tempat mandi dan mancing oleh anak-anak Desa Pedawa. Sumber air yang bisa diminum terletak di sebelah kiri. Rasanya sama dengan air di Kayuan Glunggang.
Desa Pedawa memiliki banyak sumber air. Jumlahnya 85, tetapi yang ditemukan baru 34 sumber air. Beberapa sumber air mengalir ke rumah warga melalui pipa. “Banyak sumber airnya, tapi susah ke rumah warga,” kata Adit yang masih saya ingat.
Meski sudah ada pipa yang mengaliri air, beberapa warga masih turun langsung ke sumber air untuk mandi dan mencari air minum. Selain itu, yang menjadi masalah saat ini adalah kebersihan di beberapa sumber air. Beberapa sampah plastik sangat mudah ditemukan di beberapa lokasi. Bahkan, ada juga sampah kiriman dari hulu.
Perjalanan itu berakhir dengan napas ngos-ngosan. Namun, lelah terbayarkan melihat jalanan yang masih hijau. Masyarakat Desa Pedawa hidup dengan alam. Jarak antar rumah berjauhan, tetapi tidak menyempitkan jarak kekeluargaan. Justru rasa hangat menyelimuti ketika kami singgah dari rumah ke rumah.
kampungbet kampungbet










