
Kota Kita menggelar acara diskusi dengan tajuk “Menyemai Suara Muda untuk Kota”. Acara diselenggarakan di Ruang Dharma Negara Alaya (DNA) pada (31/08/2025). Acara ini turut menghadirkan berbagai lapisan masyarakat mulai dari Perwakilan Forum Diskusi Transportasi Bali (FTDB), Warga Peneliti Program Youth Urban Participation (YUP), hingga Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Kota Denpasar. Kegiatan ini digelar sebagai upaya pelibatan aktif warga dalam tata kelola kota melalui proses ko-produksi platform digital.
Diskusi dibuka oleh Dyana Wulandari selaku warga peneliti Program YUP yang memberikan pengantar singkat terkait isu yang menjadi prioritas di perkotaan bagi anak muda di Denpasar. Berdasarkan temuannya, terdapat 6 isu di perkotaan yang menjadi perhatian anak muda di Denpasar, di antaranya yaitu pendidikan, kesehatan, pekerjaan & peluang ekonomi, lingkungan, keselamatan dan keamanan.
Berbicara mengenai ruang aman, Ardian selaku penggagas Balinggih berpendapat bahwa alih-alih melapor ke dinas terkait, banyak anak muda lebih memilih untuk mengadu di kanal media sosial dikarenakan belum adanya keterikatan antara masyarakat muda dengan pemerintah kota terkait. “Akhirnya banyak anak muda atau masyarakat yang mengadu di kanal medsos harapannya bisa viral mendapat atensi dari dinas atau pemkot,” ungkapnya. Hal tersebut yang mendasari Ardian untuk membentuk media bernamakan Bali Nggih.
Menanggapi persoalan tersebut, Agus Indra, Kepala bidang Teknologi Komunikasi, mengatakan bahwa terdapat gap komunikasi antara pemerintah kota dengan anak-anak muda. Ia memandang anak-anak muda menginginkan penyampaian dengan gaya santai secara informal. “Saya melihat itu membuat anak muda merasa sungkan dengan pemkot yang terkesan formal,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa pemerintah kota mempunyai Radio Pemerintah Kota Denpasar (RPKD), Joyfull, dan Pengaduan Denpasar (Pro Denpasar) sebagai wadah aspirasi masyarakat. “Biasanya aduan masuk ke kami 1×24 jam bisa langsung ditangani. Kalau berkaitan dengan anggaran bisa dengan proses dahulu. Kita bekerja sama dengan banyak instansi terkait,” jelasnya.
Menyinggung tentang isu kesehatan mental, Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik mengungkapkan akan membuat akses kesehatan mental secara digital guna memudahkan akses dengan layanan konseling. Kemudian terkait isu disabilitas dan peluang kerja, pemerintah menyatakan mempunyai kuota dan akses untuk menyerap pekerja disabilitas. “Terdapat Graha Nawasena sebagai ruang untuk mendapatkan yang mereka sukai. Kami di Denpasar juga mempunyai rumah berdaya untuk skizofrenia,” katanya. Isu sampah yang menjadi sorotan masyarakat Bali dalam sehari-hari tengah dalam proses penggarapan teba modern.
Bagus, perwakilan dari Forum Diskusi Transportasi Bali (FDTB), merupakan salah satu komunitas yang mengadvokasi ketika Trans Metro Dewata (TMD) berhenti permanen. Mulai dari kampanye publik di media sosial, advokasi kepada Dinas Perhubungan, hingga pengadaan konferensi pers yang dihadiri berbagai lapisan masyarakat. Dengan perjuangan yang tak kenal lelah, perjalanan dari pintu ke pintu pada akhirnya membuahkan hasil keputusan untuk TMD kembali beroperasi. Hingga saat ini FDTB sedang mengadvokasikan TMD ke warga lokal supaya lebih menggaet banyak peminatnya. Diskominfo telah membantu untuk mengaktivasi platform kepada dinas-dinas lain untuk mendistribusikan informasi. Merespons terkait ruang kolaborasi, Diskominfo juga memberikan reaksi positif terhadap ajakan kolaborasi dan kerja sama kepada banyak pihak ke depannya.
Selain isu transportasi umum, adapun salah satu peserta diskusi yang menyampaikan keresahannya terhadap keterbatasan akses kaum disabilitas. Aksesibilitas bagi penyandang disabilitas juga perlu diperhatikan. Pasalnya, masih banyak akses pedestrian yang berlubang, sehingga membahayakan keselamatan kaum disabilitas. Akses ibadah menuju pura juga dianggap tidak aman karena sebagian banyak memiliki anak tangga yang banyak. Ada pula akses ke tempat rekreasi yang mobilitasnya belum sepenuhnya mendukung dan mayoritas pengunjung tidak mengetahui fungsi yellow block. Tjok Ima turut menyampaikan keresahannya perihal bermain sosial media dikarenakan takut akan adanya jeratan UU ITE.
“Bisa dilaporkan ke Pro Denpasar terlebih dahulu. Terkait tempat ibadah mungkin bisa dilakukan oleh provinsi karena ini memang tupoksinya provinsi. Tidak perlu khawatir soal bersosial media asal disampaikan dengan beretika. Soal keberadaan koneksi internet sudah tersedia di mana-mana di Denpasar dan saya rasa sudah tidak ada blind spot,” respons Agus.
Adrian berganti menyuarakan pendapatnya, ia mengatakan bahwa beberapa trotoar di Denpasar masih tidak diperhatikan dan banyak diokupasi oleh pedagang emas atau kaki lima. Seharusnya terdapat penanggung jawab yang mengontrol penindakan di trotoar dengan tetap memperhatikan sisi humanis. Ia menganggap orang-orang non disabilitas juga banyak yang belum tahu perihal isu disabilitas, sehingga hanya menganggap yellow block sebagai aksesori mata.
Adrian mengusulkan bahwa dalam hal ini diperlukan media katalisator yang berkolaborasi dengan pemerintah dan tidak dianggap buzzer, sehingga murni untuk menyuarakan dan memfasilitasi komunikasi dua arah antar warga. Ia menilai usaha-usaha advokasi ke pusat akan menjadi jalan yang panjang dan sulit, maka diperlukan warga sebagai media bagi dirinya sendiri untuk mengadvokasikan kepentingan bersama. “Maka saya sarankan, viralkan saja apabila kalian tidak punya akses ke orang berkepentingan dan apabila punya silahkan langsung menunjukkan kesedihannya pada stakeholder terkait,” imbuhnya.
Berbagai isu yang beredar tersebut menjadi catatan bagi Diskominfo karena belum bisa berkolaborasi dengan banyak pihak. “Kami berusaha mengakomodir terkait hal tersebut untuk bisa dijalankan terkait masukan. Terkait dengan transportasi kita harus mampu menginisiasi transportasi publik terkait pengadaan alat transportasi. Yang paling mendasar adalah terkait mindset harus diperbaiki untuk mau menggunakan transportasi publik,” jelasnya Agus selaku Kepala Bidang Teknologi Komunikasi Diskominfo.
kampungbet kampungbet kampungbet sangkarbet










