
Pembagian Compost Bag di Kantor Desa Tegal Harum, Denpasar Barat (Kamis, 2/4/2026)
Pemerintah Desa Tegal Harum, Denpasar Barat, mulai mendistribusikan compost bag kepada warga sebagai langkah mendorong pemilahan sampah organik dari skala rumah tangga. Sejak program ini bergulir awal Maret lalu, sebanyak 2.100 unit telah disalurkan dari total target 2.500 penerima.
Penyaluran ini mencakup tiga pola pendanaan, yakni alokasi APBDes, dukungan CSR bagi warga pendatang (non-KK desa), serta penyediaan melalui Koperasi Desa Merah Putih. Selain distribusi sistem jemput bola dari banjar ke banjar, warga yang belum terdata juga dapat mendatangi layanan pembagian di kantor desa setiap Senin hingga Jumat.
Pembagian Dilakukan Bertahap di Kantor Desa
Pada Kamis, 2 April 2026 sekitar pukul 10.00 WITA, suasana pembagian compost bag di Kantor Desa Tegal Harum berlangsung relatif kondusif. Warga datang satu per satu dengan membawa fotokopi kartu keluarga (KK) sebagai syarat pengambilan. Petugas desa terlihat memberikan penjelasan singkat mengenai fungsi dan cara penggunaan compost bag kepada setiap warga sebelum alat tersebut dibawa pulang.

Suasana Pembagian Compost Bag oleh Pemerintah Desa Tegal Harum
Sebagian besar warga tampak memahami penjelasan yang diberikan, meskipun beberapa di antaranya sempat mengajukan pertanyaan terkait cara penggunaan. Petugas kemudian kembali menjelaskan secara rinci hingga warga benar-benar memahami. Kondisi di lokasi juga tidak terlalu ramai karena sebagian besar warga telah mengambil compost bag pada hari-hari sebelumnya.
Compost Bag Jadi Solusi Pengelolaan Sampah Organik
Compost bag merupakan kantong khusus yang dirancang untuk mempercepat proses penguraian sampah organik menjadi kompos secara lebih praktis dan efisien tanpa memerlukan lahan yang luas. Metode ini memungkinkan sampah organik rumah tangga seperti sisa makanan, sayuran, daun, dan kulit buah diolah langsung di dalam kantong dengan bantuan cairan aktivator mikroba.
Dalam penggunaannya, sampah organik yang telah dicacah dimasukkan ke dalam compost bag, kemudian disemprot dengan cairan bioaktivator agar proses pengomposan berjalan optimal. Sampah tersebut perlu dipantau kelembapannya secara berkala hingga dalam kurun waktu sekitar 30 hingga 40 hari dapat berubah menjadi pupuk kompos yang siap digunakan.
Metode ini dinilai lebih praktis bagi masyarakat perkotaan karena dapat meminimalkan bau tidak sedap serta mengurangi risiko munculnya hama selama proses pengomposan.
Perbekel Desa Tegal Harum, I Komang Adi Widiantara, menyebutkan bahwa Desa Tegal Harum menjadi salah satu desa pertama di Kota Denpasar yang menyelesaikan pengadaan compost bag. “Kami termasuk yang pertama di Kota Denpasar, bersama Desa Kertalangu. Desa-desa lain masih terhambat dalam pengadaan compost bag, sementara kami sudah selesai sehingga dapat menyasar warga luar Desa Tegal Harum, termasuk menjual melalui Koperasi Desa Merah Putih,” ujarnya.
Selain dibagikan kepada warga, compost bag juga tersedia untuk pembelian mandiri melalui Koperasi Desa Merah Putih Tegal Harum. Satu unit compost bag berkapasitas 200 liter dijual dengan harga sekitar Rp100.000 per unit, sehingga masyarakat yang membutuhkan tambahan alat dapat memperolehnya secara mandiri.
Widiantara menambahkan bahwa ketersediaan sarana yang telah diberikan kepada masyarakat seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung pemilahan sampah organik dari sumber rumah tangga.
“Sebenarnya tidak ada permasalahan lagi terkait pemilahan sampah organik apabila masyarakat dapat memanfaatkan sarana yang telah kami berikan,” tambahnya.
Kendala Distribusi dan Upaya Sosialisasi
Meski progresnya positif, pelaksanaan di lapangan tetap menemui kendala, terutama soal serapan yang belum merata di setiap banjar. Widiantara menjelaskan bahwa faktor luas wilayah dan kesibukan warga memengaruhi kecepatan distribusi.
“Di beberapa banjar serapannya mencapai 100 persen, tapi ada wilayah yang masih rendah karena aksesnya cukup luas. Selain itu, kesibukan warga juga memengaruhi partisipasi mereka untuk mengambil alat ini,” jelasnya.
Lebih lanjut, Perbekel Desa Tegal Harum menilai bahwa perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah membutuhkan waktu karena masyarakat masih berada dalam tahap belajar memahami pemilahan sampah. “Namanya proses belajar, seiring waktu masyarakat akan terbiasa dan tidak perlu bersikap skeptis terhadap program pemerintah,” tambahnya.
Pemerintah Desa Tegal Harum mengaku terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat secara berkelanjutan untuk mengatasi berbagai kendala tersebut. Sosialisasi dilakukan secara langsung saat pembagian compost bag di banjar-banjar agar masyarakat memahami cara penggunaan serta pentingnya pemilahan sampah organik dari sumber rumah tangga.
Upaya edukasi juga diperkuat melalui pembentukan kader edukasi yang melibatkan kader PKK dan Posyandu. Selain itu, pemanfaatan grup WhatsApp digunakan sebagai media komunikasi antara pemerintah desa dan masyarakat.
Warga Mulai Merasakan Manfaat
Sejumlah warga Desa Tegal Harum mulai memanfaatkan compost bag yang dibagikan oleh pemerintah desa untuk memilah sampah organik di rumah tangga. Salah seorang warga, Rizal, menyebut telah menerima compost bag beserta bahan pendukung seperti obat bakteri dan air gula yang digunakan untuk membantu proses penguraian sampah organik menjadi kompos.
Rizal menilai bahwa keberadaan compost bag sangat membantu masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. “Kantong kompos ini pastinya membantu pemilahan sampah, karena sampah organik bisa dimanfaatkan di rumah sebagai pupuk kompos dan juga mengajarkan masyarakat untuk bercocok tanam,” ujarnya.
Rizal juga menambahkan bahwa dirinya telah terbiasa memilah sampah sejak adanya penyuluhan sebelumnya, sehingga penggunaan compost bag tidak terlalu sulit untuk diterapkan di rumah.
Hal senada disampaikan Sugito, warga lainnya yang merasa terbantu dengan kepraktisan alat ini. “Dulu sampah sering dicampur, sekarang kalau sudah ada kantongnya jadi lebih gampang dipisah sejak dari dapur,” tuturnya. Sugito berharap program ini terus berlanjut agar kebiasaan baik tersebut benar-benar melekat di masyarakat.
Program penggunaan compost bag tidak hanya diterapkan di Desa Tegal Harum. Beberapa desa lain di Kota Denpasar juga mulai mengadopsi program serupa, di antaranya Desa Kesiman Kertalangu, Desa Penatih Dangin Puri, Desa Sumerta Kaja, dan Desa Sumerta Kauh, serta sejumlah banjar di wilayah Denpasar Selatan. Penerapan di berbagai wilayah tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga mulai menjadi pendekatan yang diperluas di tingkat kota.
Referensi:
Nurfaiz, W. M. dkk. (2025). Program Pemberdayaan Masyarakat Surodadi: Pengelolaan Sampah Organik Menjadi Pupuk Kompos dengan Metode Composting Bag. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. https://prosiding.umy.ac.id/semnasppm/index.php/psppm/article/view/1340
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet cerutu4d sangkarbet gimbal4d gimbal4d situs togel situs togel







